Bealif

“Pagi Del.” sapa Xavian yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu rumah Adel.

“Hai, pagi-pagi banget datengnya. Tidur dulu nggak papa tauk, semalem lo nyampe jam sebelas. Masih capek 'kan?”

“Del, gue bukan kerja yang pake banyak tenaga. Biasa aja kok. Masih bisa kalo buat ketemu lo.”

Jemari Adel berhenti bergerak, dia yang semula sedang mengerjakan laporan untuk akhir tahun segera menoleh ke arah Xavian. “Gombalin gue ya?”

“Gue ketemu lo buat bahas nikahan, emang itu gombal?”

“Oalah, nggak jadi deh.” gumam Adel malas. Mereka malah lebih mirip orang WO yang sedang rapat. Biasanya kalau pasangan umumnya akan menambahkan bumbu-bumbu cinta, lain halnya dengan mereka yang sibuk berdiskusi. Serius sekali. Adel merasa itu seperti meeting untuk membahas akan melepas saham atau tidak.

“Buat lo.” kata Xavian setelah mengulurkan sebuah paper bag.

“Wow, hal manis!” seru Adel bahagia. Dia mengambil paper bag itu dan melihat isinya.

“Vitamin? Slime?”

“Iya, jaga kesehatan. Lo sibuk banget, berat badan lo turun kan? Makan yang bener Del, masa gue harus ingetin? Nggak usah diet, lo udah oke banget. Kalo mau diet, makan sayur sama buah yang banyak. Nggak lucu lo tumbang pas hari H.”

“Gue makan kok, cuma ini kerjaan nyita pikiran banget. Nggak usah diingetin, kalo laper ya makan. Oh ya, slimenya buat apa?”

“Nggak usah menutupi fakta kalo lo sering liat video orang main slime di youtube.”

Adeline menjerit dalam hati, bisa tidak sih Xavian biasa saja. Dia yang tadinya duduk di lantai, berpindah ke sisi Xavian. Dilihatnya lekat-lekat wajah lelaki itu.

“Ciuman yuk Xav?”

Xavian mendorong dahi Adeline menggunakan telunjuknya. “Jadi gimana, udah final ya keputusannya? Biar gue urus undangan buat temen kerja.”

“Xav ...”

“Kalau MUA udah ada Del? Perlu gue tanyain kenalan gue nggak?”

“Xav, gue mau nyium lo! Kalo nggak peluk aja deh. Aduh, kalo nggak peluk ya pegang tangan gue coba. Xav! Jangan ketawa!”

“Xav, lo tuh ngeselin banget sih. Pelukkkk!”

“Nggak nggak, jangan deket-deket. Udah sana kerja lagi. Gue pesenin jco nih.”

“Aaaa jco? Oke gue kelarin kerjaan dulu abis itu kita makan jco sambil liat hometown cha cha cha.”

#Ciuman Ditolak

Adeline melintasi halaman. Dia membuka pagar dengan wajah setengah mengantuk. Jam satu pagi dengan muka bantal, dia menemui Xavian yang entah sejak kapan ada disana.

“Gila, lo ngapain disini?” tanya Adeline sebal.

“Gue nggak tau harus kemana lagi Del.”

“Basi.”

“Lo kenapa bisa tau gue disini?”

“Gue baca chat lo, denger suara mobil lo. Jangan geer, gue tadi kebangun doang.”

Xavian tersenyum lebar, dia merapikan rambut Adel yang cukup berantakan. “Iya gue nggak geer. Gue percaya.”

“Yaudah sana pulang, istirahat. Udah tau capek, masih aja lakuin hal nggak guna.”

Adeline berkata jujur. Dia tadi memang bangun untuk buang air kecil setelah itu dia iseng membuka ponsel, nampaklah pesan panjang yang dikirim Xavian. Bohong jika dia tidak luluh. Tadi dia sempat menangis, lalu tak lama terdengar deru mobil milik Xavian. Perasaannya membuncah. Dia bahagia sekarang ini. Tapi gengsi.

Xavian memijat pelipis, lelaki itu menghembuskan napas berat beberapa kali. Tubuhnya lelah, beban pikirannya banyak dan dia belum makan sejak tadi siang.

“Masuk.” perintah Adeline.

“Gue pulang aja. Kalau udah siap ngobrol kasih tau gue ya Del?”

Tangan Adeline terulur untuk menahan lengan calon suaminya. “Gue udah siap ngobrol.”

Xavian menurut, dia mengikuti Adeline berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di balkon lantai dua, dekat kamar Adeline.

“Ngobrol disini aja, gue males ngidupin lampu ruang tamu. Ntar bibi keganggu.”

“Tante kemana?”

“Ke Bandung, lagi sibuk di sana.”

Xavian menatap bola mata wanita yang dia dambakan menjadi istrinya. Mungkin malam ini pertemuan terakhir mereka sebelum semuanya selesai.

“Mau nikah kapan Xav?” tanya Adeline tenang.

“Kita masih lanjut?”

“Emang salah satu dari kita ada yang ngakhirin?”

Adeline mendengus kesal lalu melanjutkan. “Lo plin plan.”

“Kita nikah bulan depan, gimana?”

“Lo udah cinta sama gue Xav?”

“Belum.”

“Gue juga belum. Jadi, gue setuju kita nikah bulan depan.”

Xavian hampir tertawa, ini aneh sekali. Mereka tidak saling mencintai tapi memutuskan menikah. Mengingat segala masalah yang timbul, dia bisa menyimpulkan ada 20% persen rasa cinta yang belum diakui. Nanti setelah menikah, semoga 80% persennya lagi hadir.

“Lo ganteng malam ini, mau ciuman nggak?”

Alis Xavian berkerut bingung. Kemudian dia menggeleng. “Nggak.”

“Lo nolak gue? Calon istri lo? Wah parah.”

“Kalo kita lakuin itu sekarang, gue yakin kita bakalan berakhir di kamar lo. Jadi, gue pulang sekarang ya Del.”

“Xav? Serius? Ciuman tipis juga nggak papa.”

“Gue tau lo habis nonton drama. Nggak usah berharap cerita kita mirip.”

“Xav? Beneran nggak mau?”

“Del, gue pamit ya. Bilang sama tante kalo gue setuju lo itu bahaya banget. Jangan ngajak ciuman cowok lain. Oke? Amankan diri lo dari pergaulan bebas.”

Sial. Adeline malu sekali. Padahal di drama yang dia tonton, percakapan barusan akan berakhir dengan ciuman yang manis.

“Lo udah terlanjur ambil cuti, gue jadi nggak enak.”

“Seriusan, gue nggak papa Xav. Eh, sebel dikit sih. Hehehe gue kira kita bisa kemana gitu.” kata Adeline, dia menenggak air mineral yang baru saja diberikan oleh Xavian.

Mereka sedang berhenti di depan minimarket. Setengah jam lagi tiba di rumah Adeline. Sepanjang perjalanan tadi Adeline lebih banyak tidur. Maklum, mereka tengah malam pulang dari puncak.

“Oh ya, masalah nikah-”

“Kenapa Xav? Lo tiba-tiba ragu?”

“Bukan itu. Tapi kita sama-sama tau perasaan masing-masing.”

Hujan turun begitu deras. Adeline cepat-cepat menutup kaca jendela yang tadi dia buka.

Mata sendu Xavian menatapnya penuh keputus asaan.

“Xav, ini tuh baru berapa jam setelah gue setuju mau nikah sama lo. Seakan-akan sekarang lo itu ragu. Kalo mau batalin, yaudah sekarang aja.”

“Tapi Xav, gue nggak ngerti deh. Kok lo tiba-tiba begini.” ujar Adeline sedikit emosi. Bahkan sekarang air matanya meremang. Dia ingin sekali menangis. Merasa dipermainkan.

Xavian mengeratkan genggamannya ke setir mobil. Ingin sekali jujur pada Adeline. Dia tiba-tiba takut dimasa depan hubungan mereka penuh masalah karena waktunya yang banyak tercurah untuk perkerjaan. Apalagi malam ini dia melihat raut wajah kecewa calon istrinya.

#Tolak Atau Terima

“Adem ya disini, nggak banyak yang dateng jadi khidmat banget.” bisik Adel di dekat telinga Xavian.

Xavian yang diajak bicara hanya mengangguk singkat. Dia tidak terlalu fokus karena sejak tadi parfum yang dipakai Adeline mengganggu indra penciumannya. Aromanya ringan, manis dan cocok dengan suasana sore itu. Hasrat di dalam diri Xavian bergejolak ingin lebih dekat dan menghirum dalam-dalam aroma yang begitu candu.

“Xav, ih kok diem aja.”

“Kan tadi gue ngangguk.”

“Ya masa cuma ngangguk padahal gue susah-susah ngomong.”

“Mulai deh bawelnya, ngambekan banget.”

“Nggak ngambek.” timpal Adeline begitu ketus. Dia berpindah posisi membelakangi Xavian. Untung saja mereka sedang berdiri cukup jauh dari tempat acara.

“Kok beneran marah?” tanya Xavian dengan suara beratnya. Dia tersenyum tipis, merasa gemas pada wanita yang kini menghindarinya.

“Iya Del, acaranya bagus. Suasananya juga oke banget bikin tamu-tamu nyaman. Makanan sama minumannya enak. Konsepnya oke.”

Gagal marah, itulah yang dialami Adeline. Bagaimana Xavian dengan sabar menghadapi dirinya yang mudah berganti suasana hati, membuat Adel mau tidak mau luluh. Ah, indah sekali, dia sebenarnya hanya butuh ini. Orang yang memeluknya dengan kesabaran agar emosinya lekas reda.

“Ayo pindah tempat. Udah bebas acaranya. Leon milih tempat ini biar yang dateng bisa sekalian refreshing.”

Adeline mengangguk semangat. Dia benar-benar suka acaranya. Tidak banyak tamu yang datang dan beberapa orang menyapanya dengan ramah. Tidak disangka tadi Winata dan istrinya menyapa Adel lebih dulu, mereka bahkan sempat bertukar nomor.

Mereka duduk di bangku panjang menghadap ke hutan pinus yang lebih lebat.

“Gue cuma pake kemeja doang, nggak bisa romantis ngasih jas buat lo.”

Adeline terkekeh, entah untuk keberapa kalinya hari ini. “Santai aja Xav, orang nggak sedingin itu juga.”

“Oh ya Del, masalah yang gue ketemu sama Rachel itu udah selesai kan? Gue nanya aja, takutnya masih ada yang ganjel.”

“Udah Xav, sorry ya waktu itu gue emosi. Jujur aja gue gampang banget cemburu. Kayaknya mantan lo ngechat aja udah bisa bikin kita berantem.”

“Kok ngelamun Xav?” tegur Adel bersamaan dengan tangannya yang mengguncang bahu Xavian.

Kicauan burung dan semilir angin membuat mereka terdiam. Sialnya, pandangan mata Adeline terkunci pada Xavian yang tengah menatapnya. Sebuah sorot mata baru yang tidak pernah dia sebelumnya. Alis tebal Xavian tampak indah didukung rambutnya yang ditata rapi ke belakang. Mata yang selama ini Adeline lewatkan, ternyata begitu dalam dan menenangkan.

“Adel, gue serius ngajak lo nikah.”

Adeline menunduk memutus kontak mata yang tadi sempat terasa intim. Batinnya langsung dipenuhi rasa bimbang. Dia tau benar Xavian sejak awal bermaksud serius, begitupun hari ini. Bahkan nada suaranya berbeda dibandingkan satu jam tadi ketika masih berkumpul dengan banyak orang. Inilah Xavian yang sebenarnya.

“G-gue beneran nggak pantes buat lo Xav. Xav, gue cewek paling nyebelin. Mantan-mantan gue pergi karena itu, mereka nggak bisa bertahan lebih dari setengah tahun.”

“Kalo gue bilang bisa bertahan, lo percaya nggak?”

Adeline menggeleng.

“Jadi, ini artinya lo nolak gue ya?”

Dipejamkan matanya rapat-rapat, Adeline harus mencari jawaban. Secapatnya. Dia tidak boleh membuat keputusan yang salah. Dia sudah berkali-kali patah, kalau hari ini dia harus patah lagi-

“Gue mau Xav, ayo kita nikah.” serunya tertahan. Dia bahkan hampir berteriak, takut lelaki itu mengenyahkan tawaran barusan.

Xavian tersenyum sendiri sementara mereka berdua terdiam menikmati atmosfer aneh yang tiba-tiba datang.

“Buat sekarang gue cuma ada gelang ini.” kata Xavian, mengajak Adeline berbicara setelah sekian menit mereka diam.

Gelang itu sempurna melingkar di pergelangan tangan Adel. Ada gantungan daun maple juga ukiran huruf X.

“X itu artinya cium?” tanya Adeline, lalu dia terdiam berpikir sebentar.

“Menurut lo artinya cium?”

Adeline mengangguk.

Xavian mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum. Tangannya menepuk-nepuk lutut. Dia gemas sekali dengan Adeline yang tak menyadari arti huruf X adalah Xavian. Tapi yasudahlah, itu tidak penting.

“Mau cium sekarang atau nanti habis nikah?”

Andai saja Xavian tahu, pertanyaan barusan bukannya membuat Adeline sebal malah membangkitkan gejolak aneh. Adelime meremas dressnya, dia kemudian melempar jawaban. “Ngaco banget sih kalo nanya. Lo perlu kursus ngomong.”

Mereka kembali ke penginapan secepatnya sebelum malam turun. Di tengah perjalanan Adeline mendapat pesan singkat dari Fanya bahwa dia dan Joan akan menjalani sidang perceraian bulan depan.

Shit.

Adeline meremas ponselnya.

Acara dimulai pukul dua lebih lima belas menit. Xavian dan Adeline datang lebih awal untuk menyapa Leon dan calon istrinya. Mereka berbincang sebentar dengan Winata tidak lupa ada Dery juga.

“Lo sendirian Der?” tanya Adel yang sudah cukup akrab dengan Dery karena interaksi mereka disosmed juga chat.

“Iya. Mau ngajak gandengan, dianya lagi di luar kota.”

“Eh udah ada? Kirain belum.”

“Ada, friendzone doang.”

Adeline terkikik, dia jadi ingat kisahnya dengan Joan dulu. Mereka juga terjebak friendzone tapi hanya Adel yang jatuh cinta. Mirisnya sekarang hubungan persahabatannya menjadi hambar seolah terlupakan.

“Buru-buru gih diseriusin, friendzone banyak yang sad ending.”

Dery mengangguk, “aman kalo itu. Udah mau gue tembak ntar pas dia pulang.”

“Lo sendiri sama Xavian gimana Del? Jangan bilang temen doang ya, gue nggak percaya.”

“Hehehe ya gitu, tapi bukan sekedar temen kok.”

Dery mengangguk paham, tak lama Anna dan Theo datang dari pintu masuk.

Mobil yang mereka tumpangi melaju dalam kecepatan aman di Tol Jagorawi. Alunan lagu Blank Space milik Taylor Swift mengiringi perjalanan yang baru berlangsung setengah jam.

“Del, gue baru inget. Gue nggak ngasih tau dresscodenya.”

“Aman Xav, gue udah nanya Dery.”

Xavian menghembuskan napas lega. “Tapi kok lo jadi akrab banget sama Dery?”

“Lucu orangnya, gue sering ngakak gara-gara meme yang dia kirim.”

“Gue nggak lucu ya?”

Adeline tersenyum kecut, jawabannya iya tapi dia masih punya hati untuk tidak mengatakan itu.

“Lucu nggak lucu yaudah sih, biasa aja kalo gue. Temenan ya temenan, nyambung kok kita ngobrolnya.”

“Oh oke.”

“Xav, lo tau nggak gue itu kpopers?”

“Tau, case hp lo aja keliatan banget gimana sukanya lo sama V.”

“Kok lo tau V?”

“Kebetulan tau.”

Adeline masih penasaran. “Biasanya nih, cowok pada menghindar pas tau gue kpopers.”

Xavian menoleh ke samping. “Kenapa emangnya? Lo nggak akan dapetin mereka juga. Mustahil.”

“Ih, kok gitu sih? Jahat banget.”

Setelah itu mereka terkekeh, sadar bahwa topik tersebut tidak ada untungnya diperdebatkan.

“Berangkat ya Ma.” pamit Adel pada ibunya.

“Iya hati-hati. Jangan tidur bareng ya sebelum nikah.”

“Iya Ma, aku inget kok. Tenang aja, anak mama masih terjaga bersih dan tapi.”

Xavian sontak tersenyum, ada-ada saja kata yang keluar dari bibir Adel. Wanita itu sungguh banyak bicara, mudah berubah mood, gampang emosi kalau lapar, sebal kalau lupa membawa lipstik atau lipgloss dan kenapa Xavian hafal itu semua?

“Nak Xavian, kalau Adel godain kamu jangan mau ya?”

Adel melotot pada mamanya, bisa-bisanya berucap seperti itu.

“Iya Tante. Aman kok.”

“Bener ya Xav, soalnya Adel suka lupa diri. Tante takut kamu kenapa-kenapa.”

“Maaa, aku cewek loh. Masa malah ngomong gitu ke Xavian.”

“Ya liat aja, Xavian kalem gitu disandingin sama kamu yang aktifnya minta ampun. Udah sana, keburu siang nanti macet.”

“Daaa Mamaku cintaku sayangku.” teriak Adel dari dalam mobil.

#Mobil Atau Selingkuh?

Satu minggu berselang, selama hari-hari itu Xavian tidak tenang dengan segala yang dia lakukan. Pikirannya diliputi rasa bersalah. Dia mengakui ini semua salah, sejak awal tidak ada ketegasan.

Seharusnya dia memberikan kepastian pada Adeline, entah wanita itu mau menikah dengannya atau tidak yang pasti dia harus mengatakan bahwa Adeline yang dipilihnya.

Seharusnya dia mengatakan dengan tegas pada Rachel. Mereka tidak lagi ada ikatan, semua selesai setelah Rachel memilih Theo.

Seharusnya dia mengatakan pada Anna bahwa apa yang dilakukannya selama ini hanya bentuk perhatian sesama teman. Dia memiliki wanita pilihannya sendiri yaitu Adeline.

Akhirnya, dia hanya bisa menghela napas dalam-dalam sambil memandangi langit malam dari parkiran bandara. Sudah pukul sembilan, Xavian belum mau beranjak. Kopi panas dan udara malam menemaninya merenung.

Pernikahan Leon seminggu lagi. Kalau tetap begini, mungkin keinginannya membawa Adeline ke puncak bisa gagal. Dia tidak menghubungi Adel setelah kejadian itu. Mungkin akan sangat mengganggu bila dia terus menerus mengirim pesan.

“Xavian.”

Bukannya menoleh, si pemilik nama malah makin terlihat sendu. Dia merasa bahkan saat ini suara Adeline sudah menjelma menjadi halusinasinya. Bagaimana bisa suaranya terdengar di bandara pada malam hari pula.

“Xavian?”

Lagi, terdengar suara nyaring khas Adeline.

“Lo tidur ya?”

Akhirnya Adeline menepuk bahu Xavian yang masih mendongak menatap langit. Lelaki itu sangat terkejut, dia hampir melompat. Mirip orang yang baru saja melihat hantu.

“Adeline? Ini beneran lo?”

“Ya iya ini gue, masa hantu!”

“Ngapain disini? Sama siapa? Mau flight?”

“Mau ketemu lo.”

“G-gue? Serius?”

Adeline mengangguk, dia lalu bersandar di mobil Xavian. Lebih tepatnya mobil yang sebentar lagi menjadi miliknya.

“Kok lo kenal Rachel? Kalian deket? Pacaran? Pdkt?”

Pertanyaan itu akhirnya Adel tanyakan setelah berhari-hari menahan. Sejujurnya dia penasaran juga.

“Rachel mantan gue Del, putus waktu dia selingkuh sama Theo. Kemarin dia ngajak ketemu, katanya ada masalah. Gue nggak tega jadi gue setuju buat ketemu. Tapi sumpah, gue nggak maksud gimana-gimana.”

Xavian meletakkan kopinya di kap mobil. Kedua tangannya terangkat. “Demi Tuhan, beneran Del gue itu serius sama lo. Gue sama Rachel udah nggak ada apa-apa. Gue sama Anna sekedar rekan kerja dan gue nggak tau kenapa dia bikin tweet kayak gitu.”

“Lo udah ngomong sama Anna kalo kalian sebatas temen?”

“Belum.”

“Pantes, dia juga mana tau kalo lo nggak suka digituin.”

“Del masih mau temenin gue ke nikahannya Leon kan?”

“Hm, ya. Tapi mobil lo beneran jual ke gue ya?”

“Bawa aja dari sekarang kalo lo ragu.”

“Terus ke puncaknya pake apa?”

“Gue udah pesen yang baru. Paling tiga hari lagi nyampe.”

“Beli apa?”

“Tebak.”

“Mercy?”

“Bukan.”

“Jeep Wrangler?”

Xavian tampak berpikir. “Itu keren juga ya Del, gue malah nggak kepikiran.”

“Serius nih Xav, lo beli mobil apa?”

“Gue bilang tebak, kalo bener ntar lo orang pertama yang gue ajak nyobain.”

“Audi?”

“Betul.” jawab Xavian sambil memberikan dua jempol.

“Jangan bilang RS4 Avant? Lo pesen dari kapan kalo beneran itu?”

Adeline terbengong-bengong, dia menatap tidak percaya sosok di sampingnya.

“Dery yang pesen, dia tiba-tiba pengen ganti. Jadi ya ke gue akhirnya.”

“Eh jawab dulu, beneran? Itu gue nyebut jenisnya udah lengkap ya.”

“Iya Del, beneran.”

“Gue nggak jadi marah kalo gini. Asem banget lo Xav, kenapa model yang lo pilih kesukaan gue semua.”

Xavian terkekeh, dia heran juga kenapa Adeline bisa secepat itu melupakan pembicaraan mereka barusan.

“Del, nikah yuk?”

“Ih, kenapa sih malah ngajakin nikah. Yang tadi aja belum selesai, lo mau apain Rachel sama Anna?”

Hah, ternyata Adel tidak lupa. Dia hanya sebentar mengesampingkan masalah itu. Setelahnya kembali marah-marah menyalahkan Xavian yang tidak tegas. Tapi Xavian bertanya-tanya juga, kenapa Adel semarah tadi?

“Jadi, kenapa nih lo dateng ke rumah gue?” Adeline menepikan gelas dan teko yang telah kosong. Xavian benar-benar meminum semua itu. Tak lupa memuji bahwa tehnya cocok diminum tiap pagi.

“Nggak papa sih Del, mau main aja. Keganggu ya?”

“Nggak kok, beneran enggak. Tapi heran aja, soalnya kata Om Devan, dia kalo pulang kerja tuh capek banget.”

“Oh itu, penerbangan gue akhir-akhir ini deket kok jadi ya biasa aja. Lebih capek pas sekolah.”

Adeline merasa tertarik. Dia segera memusatkan perhatiannya pada Xavian. “Kok bisa gitu? Kenapa?”

“Pas sekolah nggak dapet gaji.”

Sontak wanita itu melempar bantal yang tadi ada di pangkuannya. “Yeee kalo itu mah gue juga ngerasain.”

Ponsel Xavian berdering nyaring, lelaki itu segera mengecek nama yang tertera di layar ponselnya.

“Del, gue angkat telfon dulu ya? Disini boleh nggak?”

“Iya iya, silakan. Gue ambil minum sama cemilan dulu.”

Setelah beranjak pergi dari ruang tamu, Adeline menengok sebentar ke belakang. Dia melihat tamunya sedang tertawa, mungkin yang menelepon adalah temannya. Kemudian terlihat raut wajah bahagia muncul, Adeline menduga ada berita besar.

Dua orang itu kembali bersama di ruang tamu. Adeline masih menunggu Xavian selesai bicara. Dia melihat ke luar jendela. Menikmati rintik hujan yang tinggal tipis-tipis.

“Gue lepas diatas 800 gimana?”

“Nggaklah, diatas satu mana laku. Males gue nunggunya, keburu pengen ganti.”

“Yaelah Der, lo juga ngapain beli seri yang gue mau. Ngeselin lo ya. Gue udah berbulan-bulan pengen yang itu. Nggak asik banget kalo mobil kita samaan.”

“Lo dari dulu suka Mercy kenapa sekarang nglirik Audi. Beneran emosi gue.”

“Terserah lo. Nggak deh, lo coba tawarin ke temennya Leon. Oke gue tunggu.”

Adeline menoleh setelah Xavian mematikan telepon. “Mobil lo mau dijual?”

“Iya, tapi nggak tau juga. Mobil yang gue pengen udah keburu dibeli Dery.”

“Eh, kena berapa?”

Xavian meletakkan ponselnya. Dia menatap mata Adeline yang kini tampak berbinar. “Gue lepas 800 atau kurang dikit.”

“Hah? Itu seri 3 yang touring kan? Serius lepas harga segitu?”

“Ya nggak papa, biar cepet laku aja. Hehehe.”

“Hehehe? Lo ketawa, wah bener-bener deh. Gue aja kalo gitu yang ambil.”

Xavian terkesiap. “Serius?”

“Seriuslah, gue udah nahan-nahan nggak beli apa-apa.”

“Jual mobil lo dulu?” tanya Xavian memastikan. Dia mengambil segelas cokelat hangat yang tadi Adeline sajikan.

“Iya, selakunya juga sih. Orang udah lama banget.”

“Yaudah jual dulu aja, ntar kabarin gue kalo udah.”

“Jadi lo lepas berapa?”

“Seharga mobil lo.”

Napas Adeline tidak beraturan. Memang yang duduk di sebrangnya adalah orang gila. Bisa-bisanya santai berucap seperti itu. Padahal harganya berbeda jauh sekali. Jelas saja Xavian pasti rugi.

“Nggak ah, lo gitu. Gue beneran punya duitnya Xav.”

“Yaudah, tambah 300 aja. Sama lo temenin gue ke nikahannya Leon. Gimana?”

“Nikahannya dimana?”

“Puncak.”

“Nginep?”

“Iya.”

“Sekamar?”

“Ya nggaklah Del. Gue juga masih waras.”

Xavian keluar dari mobil. Dia cepat-cepat berlari menerjang hujan. Sore itu cuaca sedang muram, matahari tidak lagi terlihat dan angin kencang beberapa kali melintas.

“Baru gue mau jemput pake payung.”

“Nggak usah, deket doang.”

“Tapi baju lo basah.”

“Iya sih, dingin juga.”

“Nah itu tau.”

“Del, bikinin teh dong. Gue juga mau ngabisin satu teko.”

Adeline mendongak menatap Xavian yang kini menjulang dihadapannya. Padahal Xavian tau benar kalau teh buatannya tidak enak. Pernah satu kali saat mereka bertemu di rumah Om Devan, dengan jahil omnya itu bercerita kalau teh buatan Adel selalu hambar atau terlalu manis.

“T-tapi teh buatan gue nggak enak.” ucapnya sedikit tergagap karena sekarang angin menerbangkan rambutnya dan entah sejak kapan jemari Xavian menyingkirkan helaian rambut diwajahnya.

“Gimana kalo ngobrolnya di dalem aja Del? Lo cuma pake kaos. Dingin banget.”

“Hehehe oke, ayo.”

Adel mengigit bibirnya kuat-kuat. Sial sekali, momen remeh seperti itu bisa membuatnya berubah jadi linglung. Padahal bisa saja Xavian cuma jengah melihat rambutnya berantakan.