Bealif

Xavian keluar dari mobil. Dia cepat-cepat berlari menerjang hujan. Sore itu hujan cukuo deras. Sedikit berangin dan mendung menyelimuti kota.

“Gue baru mau jemput pake payung.”

“Nggak usah, deket doang.”

“Tapi baju lo basah.”

“Iya sih, dingin juga.”

“Nah itu tau.”

“Del, bikinin teh dong. Gue juga mau ngabisin satu teko.”

Adeline mendongak menatap Xavian yang kini menjulang dihadapannya. Padahal Xavian tau benar kalo teh buatanbya tidak enak. Pernah satu kali saat mereka bertemu di rumah Om Devan, dengan jahil omnya itu bercerita kalau teh buatan Adel selalu hambar atau terlalu manis.

“T-tapi teh buatan gue nggak enak.” ucapnya sedikit tergagap karena sekarang semilir angin menerbangkan rambutnya dan entah sejak kapan jemari Xavian menyingkirkan helaian rambut diwajahnya.

“Ngobrolnya di dalem aja gimana Del? Lo cuma pake kaos. Dingin banget.”

“Hehehe oke, ayo.”

Adel mengigit bibirnya kuat-kuat. Sial sekali, momen remeh seperti itu bisa membuatnya berubah jadi linglung. Padahal bisa saja Xavian cuma jengah melihat rambutnya berantakan.

Jeffery melirik Adeline yang terus tersenyum sejak perjalanan pulang. Dia merasa curiga karena akhir-akhir ini sahabatnya itu terus melihat twitter dan sesekali menceritakan topik aneh.

“Hiduplah seperti Larry? Emang Larry siapa sih Jeff?”

“Lobster di kartun spongebob.” jawab Jeffery.

“Penjaga pantai itu ya?”

“Iya. Kenapa sih?”

“Hehehe nggak papa, tadi abis baca tweet orang.”

Adilne kembali sibuk dengan ponselnya. Sekarang dia memandangi foto Xavian di tempat gym. Tampak lelaki itu terlihat gagah berpose di depan cermin. Senyum Adeline muncul, dia sontak mengingat percakapan mereka di gerai mcd.

“Jeff, menurut lo kalo cewek pusingin kalori yang dimakan itu gimana?”

“Ya wajar, emang kalo makan harus mikirin kalori kan?”

Adeline terdiam. Jawaban milik Jeffery dan Xavian jauh berbeda. Sepertinya Xavian tidak seperti cowok umumnya, menurut sudut pandang Adel.

“Kemana besok?”

Xavian menghembuskan napas, dia terlihat lelah karena seminggu ini sering pulang balik Bali Jakarta. Tidak lupa ada Anna yang terus mengganggunya dengan pertanyaan tidak penting.

“Cuma Jogja sama Bangka.”

“Oalah, deket nggak perlu nginep.”

“Nginep kayaknya, gue dua hari di Bangka.”

Hendery meletakkan segelas kopi panas di meja yang memisahkan dia dan Xavian. “Gue yakin lo bukan capek kerja sih. Mikirin si switi kan?”

“Switi siapa sih anjir.”

“Weh, sok lupa. Ya gue nggak tau switi sembilan apa switi ann.”

Xavian melihat sekeliling. Di tempatnya dan Hendery bertemu hari ini banyak orang berlalu lalang. Sore ini mereka memang janji untuk menghabiskan sore bersama. Hendery hendak mengurus beberapa berkas dan butuh saran dari Xavian.

“Gue nggak deket sama Anna.”

“Terus kalo Adel?”

“Biasa aja, cuma gue kelepasan ngajak dia nikah.”

“Teler lo Xav? Itu lo nglamar dia bego.”

“Nglamar apaan? Pas itu gue kepikiran permintaan mama, katanya gue harus cepet nikah. Pusing banget anjir, tiap ketemu gue disuruh nikah. Emang kenapa sih kalo 28 tahun belum nikah?”

Hendery menggaruk kepalanya, diapun menggeleng. “Gue juga 28 tahun, belum nikah. Ya nggak gimana-gimana sih, daripada gue nikah sama sembarang orang.”

“Tapi kayaknya gue mau nikahin Adel.”

“Sumpah, lo salah makan kayaknya Xav. Pacaran enggak, pdkt enggak, kenal juga baru, masa segitu yakinnya mau lo nikahin.”

“Nggak tau, tapi dari cerita Pak Devan kayaknya Adel orang yang tepat.”

“Pikirin baik-baik deh, soalnya profesi lo aja berisiko banget.”

“Mau drive thru mcd nggak?”

“Boleh Xav, lo laper ya?”

“Nggak sih, cuma pengen minumnya aja. Sama nugget juga.”

Adel mengernyit, dia memandang wajah Xavian yang tidak berekspresi apa-apa. “Ini maksudnya gue suruh beliin?”

“Iya, ongkos jalan.”

“Dih, padahal cowok.”

“Nggak mau nih?”

Adel terkekeh, dia menepuk lengan Xavian yang hendak mengambil dompet. “Mau, biar gue aja yang bayar.”

“Mbak, dua ice lemon tea, nugget satu sama ayam spicy dua. Ayamnya dada sama paha ya mbak.”

Mobil Xavian parkir di halaman gerai mcdonals, mereka makan dalam diam. Xavian tampak tenang menikmati minuman dan nugget sedangkan Adel terburu-buru makan ayam, sejujurnya dia lapar.

“Laper banget Del?”

“Iya, kalo begadang sampe jam segini gue pasti kelaperan.” Adel menuding perutnya.

“Gue besok bakalan gendut sih, tapi yaudahlah orang laper.”

“Masih aja berpikiran gendut itu buruk.” repson Xavian heran.

“Bukan, ini bukan karena gue insecure. Takut baju pada nggak muat, sayang duit gue buat beli baju. Mending nabung, soalnya mobil gue udah minta diganti.”

“Oalah, masuk akal juga alasannya. Tapi lo masih bisa olahraga dan makan sekali dua kali dijam segini nggak bikin lo langsung gendut kok Del.”

Tadinya Xavian ingin memberikan label pada Adeline bahwa wanita itu seperti seumumnya, takut gendut dan selalu ribut masalah kalori. Tapi setelah pembicaraan itu, dia cukup paham. Kadag meributkan berat badan dan kalori adalah hal yang wajar.

“Lo besok kerja Xav?”

“Gue berangkat malem, ini tadi baru nyampe terus nganter lo.”

“Eh, kok nggak pake seragam?”

“Tadi mampir dulu ke rumah mama.”

“Oalah. Oh ya, masalah yang makan bareng Om Devan waktu itu jangan dibawa serius ya. Beneran deh, Om Devan emang hobi jodoh-jodohin gue.”

“Udah gue bawa serius sih. Mau nikah nggak Del?”

“Kertas lo taruh aja di map belakang. Ada map kosong.” ucap Xavian sambil menunjuk kursi belakang.

Adeline buru-buru membuka pintu belakang dan menemukan map berwarna biru muda. Segera dia selipkan kertas itu disana lalu membawa map tadi ke kursi depan, dia duduk di sampinga Xavian sambil menghembuskan napas lega.

Tepat setelah dia memasang sabuk pengaman, hujan turun cukup deras.

“Untung aja ada lo, makasih ya xav.”

“Sama-sama, tapi maaf nih kalo gue kepo. Lo ngapain jam segini di daerah sini?”

“Tadi gue mau ke apart temen minta tanda tangan sekalian main, tapi ternyata dia di Surabaya. Mana gue cuma bawa hp sama kertas ini. Dompet juga sih cuma nggak ada uang cash.”

“Lo tau nggak Del kalo itu bahaya? Biasanya lo pake mobil.”

“Iya, gue oon banget. Gue salah.” gumam Adel, dia membuang pandangan ke luar jendela. Sifatnya yang keras kepala benar-benar bisa berakibat buruk pada dirinya.

“Gue bukannya ngomel, lagian kita juga nggak sedeket itu. Tapi ya gimana, liat cewek jam segini dipinggir jalan ngeri juga Del. Apalagi kalo lo naik taksi atau grab.”

Xavian melaju dengan kecepatan sedang, setelah berucap panjang lebar seperti tadi dia tidak lagi bicara. Menurutnya, malah tadi itu kelewatan. Mereka benar-benar tidak sedekat itu untuk saling memberi perhatian.

“Gue ngeselin banget ya Xav?”

“Ya kalo lo cewek gue, ngeselin sih Del.”

“Lo kalo jadi cowok gue, pasti dua bulan langsung minta putus. Kalo ngga lo pasti selingkuh nyari cewek yang lebih kalem dan nurut.”

“Nggak tau sih kalo itu, belum nyoba.” jawab Xavian dengan tenang.

#Mbak Sweetynine

Adeline sudah dua jam berada di rumah Devan. Dia sedang sibuk mengedit foto untuk diposting ketika seorang lelaki mengetuk pintu masuk. Sontak Dira, istri Devan segera bangkit dari duduknya.

“Nak Xavian, udah lama banget nggak main ke sini.”

Xavian tersenyum canggung, dia tidak menduga ada orang lain disana. Seorang wanita yang memakai topi dan kini sedang menatapnya dari atas hingga bawah. Dia tidak tahu saja, Adeline sedang menduga-duga apakah dia pernah bertemu dengan sosok itu sebelumnya. Tidak asing tapi Adeline juga tidak merasa mengenalnya.

“Xavian, apa kabar?” sapa Devan yang baru saja selesai menuruni tangga.

“Baik Pak.”

“Ayo duduk, makan malamnya baru disiapin sama Dira.”

“Om aku ke dapur ya, bantuin tante.”

“Eh, nggak nggak. Kamu kesini aja Del, temenin Xavian. Biar om yang bantuin tante di dapur.”

“Tumben.” celetuk Adel, dia lalu duduk di sebrang Xavian.

Tidak ada yang membuka pembicaraan. Kalau Adeline, dia memang enggan mengakrabkan diri lebih dulu. Apalagi melihat tampilan Xavan yang terlihat kaku.

“Kerja Mbak?” tanya Xavan basa basi.

“Iya Mas.”

“Di penerbangan juga?”

“Bukan, saya di kantor. Cuma staff keuangan.”

“Oh.”

Hanya diakhiri kata itu, mereka kembali dalam keheningan. Adeline menangkap om dan tantenya mengintip dari ruangan makan. Mereka tersenyum senang saat melihat dua orang itu kembali memulai pembicaraan.

“Mbak sweety kan ya?” tanya Xavan sok tau.

“Hah? Sweety?”

“Sweetynine?”

Adeline terkekeh kecil, dia tidak menyangka ternyata yang sejak tadi berada dihadapannya adalah pemilik akun Xavians. Pantas saja dia tidak asing dengan wajahnya yang sempat dia duga sebagai anak band.

“Iya Mas, itu saya. Sempit banget ya dunia ini, bisa-bisanya kita ketemu di rumah Om Devan.”

“Iya Mbak, saya minta maaf ya kemarin sempet bikin ribut masalah uname.”

“Hehehe nggak papa mas, santai aja. Lagian emang mirip kok unamenya meski dn beda jauh.”

“Iyasih mbak, saya juga heran kenapa bisa berkali-kali gitu. Sampe Dery kepoin akun Mbak Adeline.”

“Oh yang lucu itu ya? Hehehe saya udah mutualan sama dia. Isi akunnya cuma lawakan.”

“Mau mutualan sama saya nggak Mbak?”

Adeline terkikik dalam hati, jarang-jarang ada orang yang langsung klik dengan dia. Maksudnya dalam perbincangan ringan seperti malam ini.

Lima belas menit kemudian Devan, Dira, Adeline dan Xavan makan bersama. Mereka menikmati ayam bakar saus madu, semur daun singkong dan sambal goreng kentang.

“Del tau nggak, semua masakan ini kesukaan Xavian.”

“Nggak tau Tante, kan baru ini ketemu Mas Xavian.”

Devan melongo. “Kok manggilnya Mas, kalian udah sedeket itu Del?”

“Ya aku harus panggil gimana Om?”

“Biasanya kamu manggil nama kayak pas ketemu Theo dulu.”

“Ih, ngapain sih bahas dia. Males.”

Dira menepuk lengan Devan, memberi kode untuk tidak membahas hal itu. Dia paham benar, butuh waktu lama untuk Adeline bangkit dari masalah itu.

“Ya udah bahas Xavian aja, jadi gimana Xav? Adel menarik nggak?”

Xavian melotot tak percaya, pertanyaan itu harus dijawab apa?

“Menariklah, iya kali aku nggak menarik.” celetuk Adeline yang langsung membuat suasana tegang kembali cair. Diam-diam lelaki yang duduk di sampingnya mengucap syukur, jawabannya Adeline menarik tapi dia terlalu cupu untuk mengatakannya.

“Del, Xavian ini asli Jogja terus ngerantau ke sini.” jelas Devan.

“Oh orang sana. Deket Tamansari nggak Mas?”

Xavian mengangguk. “Deket, belakang Tamansari. Tinggal jalan aja kalau mau kesana.”

“Ih seru, pengen banget kesana. Dulu pernah pas study tour doang.”

“Kesana aja Mbak, nanti bisa mampir ke rumah saya. Tapi ibu saya kadang di rumah yang disini sih.”

“O, ada rumah juga disini? Berarti masih tinggal sama ibunya Mas Xavan?”

“Nggak sih Mbak, saya di apart. Nyari yang deket bandara.”

“Oh, iya sih mending gitu daripada kejauhan.”

Mereka asik berbincang sedangkan Dira dan Devan merasa misi mempertemukan dua orang itu berhasil.

#Mbak Sweetynine

Adeline sudah dua jam berada di rumah Devan. Dia sedang sibuk mengedit foto untuk diposting ketika seorang lelaki mengetuk pintu masuk. Sontak Dira, istri Devan segera bangkit dari duduknya.

“Nak Xavian, udah lama banget nggak main ke sini.”

Xavian tersenyum canggung, dia tidak menduga ada orang lain disana. Seorang wanita yang memakai topi dan kini sedang menatapnya dari atas hingga bawah. Dia tidak tahu saja, Adeline sedang menduga-duga apakah dia pernah bertemu dengan sosok itu sebelumnya. Tidak asing tapi Adeline juga tidak merasa mengenalnya.

“Xavian, apa kabar?” sapa Devan yang baru saja selesai menuruni tangga.

“Baik Pak.”

“Ayo duduk, makan malamnya baru disiapin sama Dira.”

“Om aku ke dapur ya, bantuin tante.”

“Eh, nggak nggak. Kamu kesini aja Del, temenin Xavian. Biar om yang bantuin tante di dapur.”

“Tumben.” celetuk Adel, dia lalu duduk di sebrang Xavian.

Tidak ada yang membuka pembicaraan. Kalau Adeline, dia memang enggan mengakrabkan diri lebih dulu. Apalagi melihat tampilan Xavan yang terlihat kaku.

“Kerja Mbak?” tanya Xavan basa basi.

“Iya Mas.”

“Di penerbangan juga?”

“Bukan, saya di kantor. Cuma staff keuangan.”

“Oh.”

Hanya diakhiri kata itu, mereka kembali dalam keheningan. Adeline menangkap om dan tantenya mengintip dari ruangan makan. Mereka tersenyum senang saat melihat dua orang itu kembali memulai pembicaraan.

“Mbak sweety kan ya?” tanya Xavan sok tau.

“Hah? Sweety?”

“Sweetynine?”

Adeline terkekeh kecil, dia tidak menyangka ternyata yang sejak tadi berada dihadapannya adalah pemilik akun Xavians. Pantas saja dia tidak asing dengan wajahnya yang sempat dia duga sebagai anak band.

“Iya Mas, itu saya. Sempit banget ya dunia ini, bisa-bisanya kita ketemu di rumah Om Devan.”

“Iya Mbak, saya minta maaf ya kemarin sempet bikin ribut masalah uname.”

“Hehehe nggak papa mas, santai aja. Lagian emang mirip kok unamenya meski dn beda jauh.”

“Iyasih mbak, saya juga heran kenapa bisa berkali-kali gitu. Sampe Dery kepoin akun Mbak Adeline.”

“Oh yang lucu itu ya? Hehehe saya udah mutualan sama dia. Isi akunnya cuma lawakan.”

“Mau mutualan sama saya nggak Mbak?”

Adeline terkikik dalam hati, jarang-jarang ada orang yang langsung klik dengan dia. Maksudnya dalam perbincangan ringan seperti malam ini.

Lima belas menit kemudian Devan, Dira, Adeline dan Xavan makan bersama. Mereka menikmati ayam bakar saus madu, semur daun singkong dan sambal goreng kentang.

“Del tau nggak, semua masakan ini kesukaan Xavian.”

“Nggak tau Tante, kan baru ini ketemu Mas Xavian.”

Devan melongo. “Kok manggilnya Mas, kalian udah sedeket itu Del?”

“Ya aku harus panggil gimana Om?”

“Biasanya kamu manggil nama kayak pas ketemu Theo dulu.”

“Ih, ngapain sih bahas dia. Males.”

Dira menepuk lengan Devan, memberi kode untuk tidak membahas hal itu. Dia paham benar, butuh waktu lama untuk Adeline bangkit dari masalah itu.

“Ya udah bahas Xavian aja, jadi gimana Xav? Adel menarik nggak?”

Xavian melotot tak percaya, pertanyaan itu harus dijawab apa?

“Menariklah, iya kali aku nggak menarik.” celetuk Adeline yang langsung membuat suasana tegang kembali cair. Diam-diam lelaki yang duduk di sampingnya mengucap syukur, jawabannya Adeline menarik tapi dia terlalu cupu untuk mengatakannya.

“Del, Xavian ini asli Jogja terus ngerantau ke sini.” jelas Devan.

“Oh orang sana. Deket Tamansari nggak Mas?”

Xavian mengangguk. “Deket, belakang Tamansari. Tinggal jalan aja kalau mau kesana.”

“Ih seru, pengen banget kesana. Dulu pernah pas study tour doang.”

“Kesana aja Mbak, nanti bisa mampir ke rumah saya. Tapi ibu saya kadang di rumah yang disini sih.”

“O, ada rumah juga disini? Berarti masih tinggal sama ibunya Mas Xavan?”

“Nggak sih Mbak, saya di apart. Nyari yang deket bandara.”

“Oh, iya sih mending gitu daripada kejauhan.”

Mereka asik berbincang sedangkan Dira dan Devan merasa misi mempertemukan dua orang itu berhasil.

#Maciel dan Hansen

“Serius, kau berjalan seperti siput.” teriak Maciel dari atas bukit.

Kemudian dia berjalan turun, menghampiri Hansen dan menarik tangan pemuda itu. “Kau tampak segar hari ini.”

Hansen terkekeh, dia mengistirahatkan badannya di batuan besar dekat pohon. Matanya menatap sekeliling, dari sana terlihat hamparan hutan dan beberapa rusa yang sedang berlarian.

“Rusa-rusa itu milik Kak Jonael atau Kak Juelz?”

Maciel tampak berpikir, dia menunjuk satu rusa dengan pedar warna biru ditanduknya.

“Seingatku yang memiliki cahaya biru milik Jonael. Kalau Juelz bertemu rusa, dia hanya akan memangsa mereka.”

“Itu sebabnya Kak Jonael selalu marah?”

Maciel terkekeh. Dia menepuk-nepuk punggung Hansen. “Ya, benar. Mereka tidak pernah akur sejak dulu.”

Beberapa waktu setelahnya Maciel diam, dia mencabuti rumput di samping kakinya.

“Hansen, berikan padaku. Ramuan yang berada di kantongmu.”

Hansen merogoh ramuan yang sejak tiga hari lalu tidak berpindah dari kantong celananya.

“Kenapa semua orang disini saling tahu rahasia satu sama lain. Hanya aku yang paling bodoh.” gerutu Hansen, dia menyodorkan botol itu.

“Kembalilah ke duniamu. Aku serius tentang perang yang akan pecah.” gumam Maciel. Dia memutar-mutar botol berisi ramuan berwarna ungu.

“Aku tidak punya siapa-siapa disana. Lagipula di dunia manusia umurku sudah hampir tujuh puluh tahun. Semua kawan lamaku sudah tua.”

“Disana aman, putri keturunan Vynr hidup tenang. Pasti Jonael sudah bicara padamu.”

“Tidak, aku tidak pernah mendengar Vynr sebelumnya.”

Maciel menggeleng. “Maksudku tentang kembalimu ke dunia manusia. Ingat ini, nanti setelah kau tiba disana ada wanita tua bernama Shavana dan suaminya yang bernama Daniel. Mereka akan menyambutmu. Ikutlah bersama mereka dan habiskan waktumu di dunia itu.”

Hansen menghentikan gerakan tangannya yang semula hendak meraih ranting kering. “Aku tidak berniat kembali ke sana Kak.”

Hening sebentar.

“Hansen, kau tau tidak? Gadis yang dikorbankan tempo hari adalah orang yang kucintai. Sejak pertemuan pertama kami dua puluh tahun lalu, aku merasa dialah seluruh hidupku.”

Maciel membuka botol yang sejak tadi berada di tangannya. Tanpa berpikir panjang, dia menengguk isinya. Wajahnya tampak tenang. Malah setelah itu dia tersenyum.

“Aku yang memilih meminum ini. Jangan salahkan dirimu. Hansen, aku memang mendambakan kematian. Semoga ratusan atau ribuan tahun lagi kita kembali bertemu.”

Hansen menangis tergugu. Bukannya mendapat jawaban siapa pembunuh Talon, dia malah melepas kepergian Maciel.

Senyum Maciel tidak luntur sampai napas terakhirnya. Dia menggenggam tangan dingin Hansen sambil terus menerus mengucap, “bukan salahmu. Ini pilihanku.”

#Darah Milik Jonael

Jonael dan Hansen masuk ke dalam gua. Diam-diam sejak tadi Jonael merapalkan mantra untuk menutup semua akses. Dia mengangkat batu setinggi manusia dan meletakkannya di pintu masuk.

Hansen berdiri sambil menggosokkan telapak tangannya. Dia merasa kedinginan. Gua itu berada di sisi selatan lautan. Ada genangan air di sekelilingnya. Mengerikan. Mencekam dan sangat gelap.

Dia setengah manusia, rasa takutnya masih sering mendominasi. Melihat mata Jonael yang berkilat kemerahan membuatnya makin menggigil. Jubah yang kini dipakai Jonael berkibar tertiup angin. Postur Jonael yang tinggi besar berbanding terbalik dengan Hansen. Dia bagai anak kecil yang mengikuti vampir paling kuat di Dyrsn.

“Aku akan menyalakan api.” ucap Jonael. Dia menggerakkan telapak tangannya mengelilingi gua. Seketika tempat itu menjadi terang. Hansen merasa hangat dan aman.

Jonael berjalan menuju ujung gua. Sebuah tumpukkan batu hancur berkeping-keping setelah Jonael menjentikkan jemarinya. Diambilnya sebuah pisau yang memantulkan cahaya api disekitar mereka.

“Kemarilah Hansen.” perintah Jonael.

Hansen takut-takut berjalan mendekat. Dia mendongak menatap Jonael yang menjulang tinggi di hadapannya.

“Besok, lusa atau ratusan tahun lagi mungkin perang akan pecah. Bisa jadi aku lebih dulu pergi. Mungkin juga Maciel akan pergi juga. Hanya tersisa dirimu, vampir berdarah campuran yang akan diburu oleh Jacques dan Yuzo. Darahmu amat berharga bagi mereka.”

Air mata Hansen sontak mengalir. Dia membayangkan berada di sana sendirian, diburu oleh Jacques dan Yuzo.

“Carilah Juelz dan minta dia membuka portal dunia manusia. Kembali ke kehidupanmu. Jangan melihat ke belakang. Kau mengerti?”

Hansen menggeleng kuat-kuat. Dia meremas jubah miliknya. Semua kejadian itu terasa mengerikan saat melintasi imajinasinya.

Jonael mencengkram bahu Hansen. “Cari Juelz. Minta dia membuka portal, katakan rusa putih yang dia cari ada di hutan sisi utara Dyrsn. Hansen, katakan itu pada Juelz ketika aku sudah gugur. Jangan menolongku, pergi secepat mungkin.”

“K-kak, aku tidak bisa. Aku akan mati bersamamu!” teriak Hansen. Dia terisak begitu keras. Pertahanannya runtuh. Tangisannya makin kencang saat Jonael mengiris pergelangan tangan dan memaksa Hansen menghisap darah yang mengalir dari sana. Beberapa menit kemudian dia tidak sadarkan diri. Semua organ ditubuhnya seolah memberontak ingin keluar.

#Rain

Aku benci hujan karena selalu mengingatkanku dengan Johnny. Lebih tepatnya segala penyesalanku akan kembali timbul tatkala hujan menyambangi wilayahku. Kota yang kutempati tidak seberapa besar, disetiap sudutnya ada kenanganku bersama Johnny.

Dia selalu mengucap kalimat yang membuatku perasaanku membuncah tak terkira. Sederhananya begini.

“Tau nggak apa yang bikin aku suka hujan?”

“Apa?” tanyaku serius, karena saat itu kami baru saja selesai membicarakan masa depan.

“Hujan dan kamu itu perpaduan sempurna. Aku bisa meluk kamu sepuasnya, karena-”

“Karena kamu pasti ngeluh dingin. Aku suruh pake jaket nggak mau, pake selimut juga nggak mau. Maunya peluk.”

“Bener banget, semenjak kita pacaran kok kamu makin pinter ya? Kayaknya anak kita bakalan paket lengkap nih, good looking dan pinternya mirip kamu.”

“Hobi banget ngomongin nikah, kenapa sih?”

“Ya karena kamu, kalo bukan kamu nggak mau nikah deh.”

“Gombal banget.”

Johnny terkekeh, dia segera membawaku ke pelukannya. Kami sama-sama tersenyum melihat ke luar jendela. Memang sedikit aneh membuka jendela saat hujan, tapi kami suka itu.

Genggaman tangannya mengerat, dia menatapku penuh arti. “Lupa ya tanggal berapa sekarang?”

Aku berbata-bata. “E.. m-maaf aku lupa. Jo, hari ini-”

“Nggak papa, nggak harus selalu diinget kok. Aku udah bahagia banget kamu ada disini. Mau nerima aku yang nggak seberapa.”

Aku terpana, seluruh kilasan perjalanan hubungan kami tampil di layar televisi yang tidak kusadari kapan menyala. Foto-foto masa SMA, foto ketika awal masuk kuliah hingga foto liburan terakhir kami di Lombok. Semua itu dikemas manis dalam video bertuliskan harapan-harapan indah untuk hari esok.

Dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ada kotak kayu bertuliskan namaku. Tentu saja aku bukan tipe yang akan tersipu malu. Segera kurebut kotak itu dan melihat isinya.

“Jepit rambut?”

Johnny tersenyum, dia mengambil jepit rambut itu lalu memasangkannya di poniku yang sudah lumayan panjang.

“Biar rambutnya nggak kena mata. Kasihan mata kamu, nggak salah apa-apa tapi nangis terus gara-gara rambut ini.”

Hah, tentu saja kali ini aku tersipu. Apalagi setelah itu dia berkali-kali mengecup puncak kepalaku. Gila, aku sekarang mengakui kalau Johnny itu candu. Padahal dulu aku terang-terangan menolaknya sampai dia memohon-mohon padaku untuk diterima jadi pacar.

“Can i kiss your lips?”

“Tumben nanya pake bahasa inggris?” candanya yang membuatku memerah.

“Aku nggak tau artinya.” lanjutnya.

“Jo!”

“Hehehe bercanda, kamu yakin pengen nyium? Nggak nunggu kita nikah dulu?”

Aku mendengus, pendiriannya teralu kuat untuk dirubuhkan. Tidak terhitung berapa kali aku mengajaknya melakukan itu dan dia selalu menolak. Astaga, aku menggigit bibir kuat-kuat dan kembali memeluknya. Pantas saja banyak gadis mengejar Johnny, dia memang menantang bahkan untukku yang sudah menjadi kekasihnya.

“Jo, kamu belum pernah ngelakuin itu ya?”

Dia menyisir rambutku dengan jemarinya lalu sesekali mengusap pipiku. Hujan di luar sana bertambah deras, seolah mengijinkan kami untuk mengeratkan pelukan.

“Itu apa? Kalo yang kamu maksud sama kayak yang aku pikirin, jawabannya belum. Kan kamu pacarku sembilan tahun ini, kenapa malah nanya coba?”

“Ya bisa aja kamu cari cewek lain buat-”

“Muka aku emang rada brengsek, tapi ngapain juga ngelakuin sama cewek lain. Nanti aja sama kamu.”

“Kamu normal kan?”

“Sumpah kamu nanyain itu? Ke aku? Padahal aku jawab iyapun kamu nggak tau aslinya gimana.”

“Jo! Jangan bikin takut, aku bakalan hancur banget sih kalo habis nikah nanti kamu ketauan selingkuh sama cowok. Aaaa nggak mau!”

“Hahahaha, maaf sayang. Aku harus gimana buktiinnya?” tanyanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Aku mendekapnya sesaat, lalu mensejajarkan wajah kami. “Kalau sekarang aku minta kamu-”

“Jawabannya nggak. Mau kamu lepas baju sekarangpun aku nggak akan lakuin itu.” tegasnya dengan suara menggelegar. Aku tahu kali ini tindakanku sedikit kelewatan.

“Tapi, aku mau Jo. Ini murni aku mau lakuin sama kamu.” ucapku tak mau kalah. Rasanya ini saat yang tepat untuk kami berunding, bukankah hubungan ini antara kami berdua, bukan hanya tentang prinsipnya saja.

“Aku nggak bisa kalo kamu gini terus. Berkali-kali aku udah jelasin ke kamu. Bukan karena aku punya kelainan atau apa, tolong percaya aku. Tunggu sampai kita nikah.”

“Kenapa?” tanyaku putus asa. Aku sudah menangis tergugu di pojok sofa. Sekarang ada jarak membentang lebar diantara kami. Dia diam, tidak menjawab pertanyaanku. Bagaimana aku tidak berpikir macam-macam.

Kegilaanku memuncak, benar kulakukan apa yang sudah kurencanakan sebulan lalu. Kulirik sebentar cicin berlian yang melingkar di jariku, kumohon semoga ini memberikan jawaban. Kulepas satu persatu kain yang menutupi tubuhku sampai tidak tersisa sehelaipun.

Johnny menggertakkan giginya, dia mendorongku hingga jatuh terlentang di atas sofa. Matanya menatap marah.

“Aku kecewa sama kamu. Buat hal ini aja kamu raguin aku. Kayaknya kita harus sendiri dulu,” sambil berucap dia menutupi tubuhku dengan selimut yang sejak tadi teronggok di bawah kakinya.

Dia pergi meninggalkanku, langkahnya mantap keluar apartemen. Tidak lepas dari penglihatanku, dia sempat melampiaskan amarahnya pada dinding di samping pintu keluar.

Maaf Jo, aku keterlaluan.

Sebulan berselang, aku masih sering menangis di depan apartemennya yang kini kosong. Baru beberapa hari lalu aku tahu dia pindah entah kemana. Bagai dihimpit batu besar, kepalaku terasa sangat pening. Penyesalan, rasa marah dan sakit hati bercampur menjadi satu.

“Pulang. Kalo Johnny tau lo mabuk disini, gue bisa dibunuh.”

“Cas, lo bisa diem dulu nggak.”

“Ya nggaklah nyet, gue nggak mau jadi samsak tinju dia. Udah cukup gue dimaki-maki sama ditonjok pas ngajak lo touring ke puncak.”

“Dia ngelakuin itu?”

Lucas menatap sekeliling, seperti memastikan tidak ada yang mendengarnya. Bar ini cukup tenang, jadi pembicaraan kami mungkin terdengar.

“Lo kalo bego, jangan banget-banget. Susah-susah cowok lo nahan diri malah lo katain belok. Dia normal, gue yakin.”

“Kok lo bisa yakin Cas?”

“Anjing, udahlah kaga usah dibahas. Risih gue bahas gituan sama lo. Ayo gue anter pulang, ngrepotin aja lo nyet.”

“Biasa aja dong, kalo nggak mau ya udah. Gue bisa pulang sendiri.”

“Gaya banget lo, udah jam sebelas. Mau lo digodain om-om?”

Aku menggeleng, bersungut-sungut kuikuti Lucas yang sudah berjalan lebih dulu keluar bar.

“Tapi dia belum pernah nyium gue Cas. Nyium sih di dahi, tapi kan gue maunya dibibir. Astaga, gue udah kayak cewek apaan aja mohon-mohon sama dia.”

Lucas mengacak-acak rambutnya. Dia berkali-kali memukul setir mobil.

“Bisa nggak jangan ngobrolin itu. Lama-lama gue yang nyium lo.”

“Nggak mau, bibir lo bekas banyak cewek. Nggak nafsu.”

“Gue resign deh jadi temen lo. Capek banget.”

“Cas, ini maksudnya gue sama Johnny udah putus ya?” tanyaku setengah menangis.

Sekali julur, tangan Lucas mencapai pucuk kepalaku. Dia mengusap pelan. “Sabar ya, gue udah usaha nanya ke temen-temen dia. Semoga dia cuma butuh waktu buat sendiri dulu.”

“Cas, apa gue nggak menarik? Apa karena gue selalu maksa dia makanya dia capek? Cas, kayaknya gue nggak kuat deh kalo harus pisah selamanya.”

“Gue nggak tau harus ngomong apa. Tapi semisal lo udah nggak mau nunggupun, gue nggak nyalahin lo. Harusnya Johnny nggak gini sih.”

Aku menggugu di depan pintu apartemenku. Lucas menghembuskan napas putus asa, aku tau dia sama pusingnya. Satu bulan ini dia pergi kesana kemari untuk mencari Johnny. Belum lagi mengurusku yang sempat jatuh sakit.

“Cas, gue sedih banget. Gue nggak bisa pisah dari dia.” raungku sambil memukuli dada yang terasa sangat sesak.

Lucas menarikku ke dekapannya, “maaf ya, gue nggak bisa ngelakuin apa-apa selain nyuruh lo bertahan sebentar lagi.”

Besok, semoga dia kembali. Aku masih setia menunggu meski dua bulan telah berlalu. Kupandangi cicin yang melingkar indah di jariku. Besok, aku tidak akan meminta ciuman atau tubuhnya. Aku hanya ingin berucap, kalau aku mencintai jiwanya yang selalu memberikan selimut hangat untuk batinku yang lebih sering mengalami musim dingin.