“Kemana besok?”
Xavian menghembuskan napas, dia terlihat lelah karena seminggu ini sering pulang balik Bali Jakarta. Tidak lupa ada Anna yang terus mengganggunya dengan pertanyaan tidak penting.
“Cuma Jogja sama Bangka.”
“Oalah, deket nggak perlu nginep.”
“Nginep kayaknya, gue dua hari di Bangka.”
Hendery meletakkan segelas kopi panas di meja yang memisahkan dia dan Xavian. “Gue yakin lo bukan capek kerja sih. Mikirin si switi kan?”
“Switi siapa sih anjir.”
“Weh, sok lupa. Ya gue nggak tau switi sembilan apa switi ann.”
Xavian melihat sekeliling. Di tempatnya dan Hendery bertemu hari ini banyak orang berlalu lalang. Sore ini mereka memang janji untuk menghabiskan sore bersama. Hendery hendak mengurus beberapa berkas dan butuh saran dari Xavian.
“Gue nggak deket sama Anna.”
“Terus kalo Adel?”
“Biasa aja, cuma gue kelepasan ngajak dia nikah.”
“Teler lo Xav? Itu lo nglamar dia bego.”
“Nglamar apaan? Pas itu gue kepikiran permintaan mama, katanya gue harus cepet nikah. Pusing banget anjir, tiap ketemu gue disuruh nikah. Emang kenapa sih kalo 28 tahun belum nikah?”
Hendery menggaruk kepalanya, diapun menggeleng. “Gue juga 28 tahun, belum nikah. Ya nggak gimana-gimana sih, daripada gue nikah sama sembarang orang.”
“Tapi kayaknya gue mau nikahin Adel.”
“Sumpah, lo salah makan kayaknya Xav. Pacaran enggak, pdkt enggak, kenal juga baru, masa segitu yakinnya mau lo nikahin.”
“Nggak tau, tapi dari cerita Pak Devan kayaknya Adel orang yang tepat.”
“Pikirin baik-baik deh, soalnya profesi lo aja berisiko banget.”