Bealif

Mbak

#Mbak Sweetynine

Adeline sudah dua jam berada di rumah Devan. Dia sedang sibuk mengedit foto untuk diposting ketika seorang lelaki mengetuk pintu masuk. Sontak Dira, istri Devan segera bangkit dari duduknya.

“Nak Xavian, udah lama banget nggak main ke sini.”

Xavian tersenyum canggung, dia tidak menduga ada orang lain disana. Seorang wanita yang memakai topi dan kini sedang menatapnya dari atas hingga bawah. Dia tidak tahu saja, Adeline sedang menduga-duga apakah dia pernah bertemu dengan sosok itu sebelumnya. Tidak asing tapi Adeline juga tidak merasa mengenalnya.

“Xavian, apa kabar?” sapa Devan yang baru saja selesai menuruni tangga.

“Baik Pak.”

“Ayo duduk, makan malamnya baru disiapin sama Dira.”

“Om aku ke dapur ya, bantuin tante.”

“Eh, nggak nggak. Kamu kesini aja Del, temenin Xavian. Biar om yang bantuin tante di dapur.”

“Tumben.” celetuk Adel, dia lalu duduk di sebrang Xavian.

Tidak ada yang membuka pembicaraan. Kalau Adeline, dia memang enggan mengakrabkan diri lebih dulu. Apalagi melihat tampilan Xavan yang terlihat kaku.

“Kerja Mbak?” tanya Xavan basa basi.

“Iya Mas.”

“Di penerbangan juga?”

“Bukan, saya di kantor. Cuma staff keuangan.”

“Oh.”

Hanya diakhiri kata itu, mereka kembali dalam keheningan. Adeline menangkap om dan tantenya mengintip dari ruangan makan. Mereka tersenyum senang saat melihat dua orang itu kembali memulai pembicaraan.

“Mbak sweety kan ya?” tanya Xavan sok tau.

“Hah? Sweety?”

“Sweetynine?”

Adeline terkekeh kecil, dia tidak menyangka ternyata yang sejak tadi berada dihadapannya adalah pemilik akun Xavians. Pantas saja dia tidak asing dengan wajahnya yang sempat dia duga sebagai anak band.

“Iya Mas, itu saya. Sempit banget ya dunia ini, bisa-bisanya kita ketemu di rumah Om Devan.”

“Iya Mbak, saya minta maaf ya kemarin sempet bikin ribut masalah uname.”

“Hehehe nggak papa mas, santai aja. Lagian emang mirip kok unamenya meski dn beda jauh.”

“Iyasih mbak, saya juga heran kenapa bisa berkali-kali gitu. Sampe Dery kepoin akun Mbak Adeline.”

“Oh yang lucu itu ya? Hehehe saya udah mutualan sama dia. Isi akunnya cuma lawakan.”

“Mau mutualan sama saya nggak Mbak?”

Adeline terkikik dalam hati, jarang-jarang ada orang yang langsung klik dengan dia. Maksudnya dalam perbincangan ringan seperti malam ini.

Lima belas menit kemudian Devan, Dira, Adeline dan Xavan makan bersama. Mereka menikmati ayam bakar saus madu, semur daun singkong dan sambal goreng kentang.

“Del tau nggak, semua masakan ini kesukaan Xavian.”

“Nggak tau Tante, kan baru ini ketemu Mas Xavian.”

Devan melongo. “Kok manggilnya Mas, kalian udah sedeket itu Del?”

“Ya aku harus panggil gimana Om?”

“Biasanya kamu manggil nama kayak pas ketemu Theo dulu.”

“Ih, ngapain sih bahas dia. Males.”

Dira menepuk lengan Devan, memberi kode untuk tidak membahas hal itu. Dia paham benar, butuh waktu lama untuk Adeline bangkit dari masalah itu.

“Ya udah bahas Xavian aja, jadi gimana Xav? Adel menarik nggak?”

Xavian melotot tak percaya, pertanyaan itu harus dijawab apa?

“Menariklah, iya kali aku nggak menarik.” celetuk Adeline yang langsung membuat suasana tegang kembali cair. Diam-diam lelaki yang duduk di sampingnya mengucap syukur, jawabannya Adeline menarik tapi dia terlalu cupu untuk mengatakannya.

“Del, Xavian ini asli Jogja terus ngerantau ke sini.” jelas Devan.

“Oh orang sana. Deket Tamansari nggak Mas?”

Xavian mengangguk. “Deket, belakang Tamansari. Tinggal jalan aja kalau mau kesana.”

“Ih seru, pengen banget kesana. Dulu pernah pas study tour doang.”

“Kesana aja Mbak, nanti bisa mampir ke rumah saya. Tapi ibu saya kadang di rumah yang disini sih.”

“O, ada rumah juga disini? Berarti masih tinggal sama ibunya Mas Xavan?”

“Nggak sih Mbak, saya di apart. Nyari yang deket bandara.”

“Oh, iya sih mending gitu daripada kejauhan.”

Mereka asik berbincang sedangkan Dira dan Devan merasa misi mempertemukan dua orang itu berhasil.

#Mbak Sweetynine

Adeline sudah dua jam berada di rumah Devan. Dia sedang sibuk mengedit foto untuk diposting ketika seorang lelaki mengetuk pintu masuk. Sontak Dira, istri Devan segera bangkit dari duduknya.

“Nak Xavian, udah lama banget nggak main ke sini.”

Xavian tersenyum canggung, dia tidak menduga ada orang lain disana. Seorang wanita yang memakai topi dan kini sedang menatapnya dari atas hingga bawah. Dia tidak tahu saja, Adeline sedang menduga-duga apakah dia pernah bertemu dengan sosok itu sebelumnya. Tidak asing tapi Adeline juga tidak merasa mengenalnya.

“Xavian, apa kabar?” sapa Devan yang baru saja selesai menuruni tangga.

“Baik Pak.”

“Ayo duduk, makan malamnya baru disiapin sama Dira.”

“Om aku ke dapur ya, bantuin tante.”

“Eh, nggak nggak. Kamu kesini aja Del, temenin Xavian. Biar om yang bantuin tante di dapur.”

“Tumben.” celetuk Adel, dia lalu duduk di sebrang Xavian.

Tidak ada yang membuka pembicaraan. Kalau Adeline, dia memang enggan mengakrabkan diri lebih dulu. Apalagi melihat tampilan Xavan yang terlihat kaku.

“Kerja Mbak?” tanya Xavan basa basi.

“Iya Mas.”

“Di penerbangan juga?”

“Bukan, saya di kantor. Cuma staff keuangan.”

“Oh.”

Hanya diakhiri kata itu, mereka kembali dalam keheningan. Adeline menangkap om dan tantenya mengintip dari ruangan makan. Mereka tersenyum senang saat melihat dua orang itu kembali memulai pembicaraan.

“Mbak sweety kan ya?” tanya Xavan sok tau.

“Hah? Sweety?”

“Sweetynine?”

Adeline terkekeh kecil, dia tidak menyangka ternyata yang sejak tadi berada dihadapannya adalah pemilik akun Xavians. Pantas saja dia tidak asing dengan wajahnya yang sempat dia duga sebagai anak band.

“Iya Mas, itu saya. Sempit banget ya dunia ini, bisa-bisanya kita ketemu di rumah Om Devan.”

“Iya Mbak, saya minta maaf ya kemarin sempet bikin ribut masalah uname.”

“Hehehe nggak papa mas, santai aja. Lagian emang mirip kok unamenya meski dn beda jauh.”

“Iyasih mbak, saya juga heran kenapa bisa berkali-kali gitu. Sampe Dery kepoin akun Mbak Adeline.”

“Oh yang lucu itu ya? Hehehe saya udah mutualan sama dia. Isi akunnya cuma lawakan.”

“Mau mutualan sama saya nggak Mbak?”

Adeline terkikik dalam hati, jarang-jarang ada orang yang langsung klik dengan dia. Maksudnya dalam perbincangan ringan seperti malam ini.

Lima belas menit kemudian Devan, Dira, Adeline dan Xavan makan bersama. Mereka menikmati ayam bakar saus madu, semur daun singkong dan sambal goreng kentang.

“Del tau nggak, semua masakan ini kesukaan Xavian.”

“Nggak tau Tante, kan baru ini ketemu Mas Xavian.”

Devan melongo. “Kok manggilnya Mas, kalian udah sedeket itu Del?”

“Ya aku harus panggil gimana Om?”

“Biasanya kamu manggil nama kayak pas ketemu Theo dulu.”

“Ih, ngapain sih bahas dia. Males.”

Dira menepuk lengan Devan, memberi kode untuk tidak membahas hal itu. Dia paham benar, butuh waktu lama untuk Adeline bangkit dari masalah itu.

“Ya udah bahas Xavian aja, jadi gimana Xav? Adel menarik nggak?”

Xavian melotot tak percaya, pertanyaan itu harus dijawab apa?

“Menariklah, iya kali aku nggak menarik.” celetuk Adeline yang langsung membuat suasana tegang kembali cair. Diam-diam lelaki yang duduk di sampingnya mengucap syukur, jawabannya Adeline menarik tapi dia terlalu cupu untuk mengatakannya.

“Del, Xavian ini asli Jogja terus ngerantau ke sini.” jelas Devan.

“Oh orang sana. Deket Tamansari nggak Mas?”

Xavian mengangguk. “Deket, belakang Tamansari. Tinggal jalan aja kalau mau kesana.”

“Ih seru, pengen banget kesana. Dulu pernah pas study tour doang.”

“Kesana aja Mbak, nanti bisa mampir ke rumah saya. Tapi ibu saya kadang di rumah yang disini sih.”

“O, ada rumah juga disini? Berarti masih tinggal sama ibunya Mas Xavan?”

“Nggak sih Mbak, saya di apart. Nyari yang deket bandara.”

“Oh, iya sih mending gitu daripada kejauhan.”

Mereka asik berbincang sedangkan Dira dan Devan merasa misi mempertemukan dua orang itu berhasil.