Aku benci hujan karena selalu mengingatkanku dengan Johnny. Lebih tepatnya segala penyesalanku akan kembali timbul tatkala hujan menyambangi wilayahku. Kota yang kutempati tidak seberapa besar, disetiap sudutnya ada kenanganku bersama Johnny.
Dia selalu mengucap kalimat yang membuatku perasaanku membuncah tak terkira. Sederhananya begini.
“Tau nggak apa yang bikin aku suka hujan?”
“Apa?” tanyaku serius, karena saat itu kami baru saja selesai membicarakan masa depan.
“Hujan dan kamu itu perpaduan sempurna. Aku bisa meluk kamu sepuasnya, karena-”
“Karena kamu pasti ngeluh dingin. Aku suruh pake jaket nggak mau, pake selimut juga nggak mau. Maunya peluk.”
“Bener banget, semenjak kita pacaran kok kamu makin pinter ya? Kayaknya anak kita bakalan paket lengkap nih, good looking dan pinternya mirip kamu.”
“Hobi banget ngomongin nikah, kenapa sih?”
“Ya karena kamu, kalo bukan kamu nggak mau nikah deh.”
“Gombal banget.”
Johnny terkekeh, dia segera membawaku ke pelukannya. Kami sama-sama tersenyum melihat ke luar jendela. Memang sedikit aneh membuka jendela saat hujan, tapi kami suka itu.
Genggaman tangannya mengerat, dia menatapku penuh arti. “Lupa ya tanggal berapa sekarang?”
Aku berbata-bata. “E.. m-maaf aku lupa. Jo, hari ini-”
“Nggak papa, nggak harus selalu diinget kok. Aku udah bahagia banget kamu ada disini. Mau nerima aku yang nggak seberapa.”
Aku terpana, seluruh kilasan perjalanan hubungan kami tampil di layar televisi yang tidak kusadari kapan menyala. Foto-foto masa SMA, foto ketika awal masuk kuliah hingga foto liburan terakhir kami di Lombok. Semua itu dikemas manis dalam video bertuliskan harapan-harapan indah untuk hari esok.
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Ada kotak kayu bertuliskan namaku. Tentu saja aku bukan tipe yang akan tersipu malu. Segera kurebut kotak itu dan melihat isinya.
“Jepit rambut?”
Johnny tersenyum, dia mengambil jepit rambut itu lalu memasangkannya di poniku yang sudah lumayan panjang.
“Biar rambutnya nggak kena mata. Kasihan mata kamu, nggak salah apa-apa tapi nangis terus gara-gara rambut ini.”
Hah, tentu saja kali ini aku tersipu. Apalagi setelah itu dia berkali-kali mengecup puncak kepalaku. Gila, aku sekarang mengakui kalau Johnny itu candu. Padahal dulu aku terang-terangan menolaknya sampai dia memohon-mohon padaku untuk diterima jadi pacar.
“Can i kiss your lips?”
“Tumben nanya pake bahasa inggris?” candanya yang membuatku memerah.
“Aku nggak tau artinya.” lanjutnya.
“Jo!”
“Hehehe bercanda, kamu yakin pengen nyium? Nggak nunggu kita nikah dulu?”
Aku mendengus, pendiriannya teralu kuat untuk dirubuhkan. Tidak terhitung berapa kali aku mengajaknya melakukan itu dan dia selalu menolak. Astaga, aku menggigit bibir kuat-kuat dan kembali memeluknya. Pantas saja banyak gadis mengejar Johnny, dia memang menantang bahkan untukku yang sudah menjadi kekasihnya.
“Jo, kamu belum pernah ngelakuin itu ya?”
Dia menyisir rambutku dengan jemarinya lalu sesekali mengusap pipiku. Hujan di luar sana bertambah deras, seolah mengijinkan kami untuk mengeratkan pelukan.
“Itu apa? Kalo yang kamu maksud sama kayak yang aku pikirin, jawabannya belum. Kan kamu pacarku sembilan tahun ini, kenapa malah nanya coba?”
“Ya bisa aja kamu cari cewek lain buat-”
“Muka aku emang rada brengsek, tapi ngapain juga ngelakuin sama cewek lain. Nanti aja sama kamu.”
“Kamu normal kan?”
“Sumpah kamu nanyain itu? Ke aku? Padahal aku jawab iyapun kamu nggak tau aslinya gimana.”
“Jo! Jangan bikin takut, aku bakalan hancur banget sih kalo habis nikah nanti kamu ketauan selingkuh sama cowok. Aaaa nggak mau!”
“Hahahaha, maaf sayang. Aku harus gimana buktiinnya?” tanyanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku mendekapnya sesaat, lalu mensejajarkan wajah kami. “Kalau sekarang aku minta kamu-”
“Jawabannya nggak. Mau kamu lepas baju sekarangpun aku nggak akan lakuin itu.” tegasnya dengan suara menggelegar. Aku tahu kali ini tindakanku sedikit kelewatan.
“Tapi, aku mau Jo. Ini murni aku mau lakuin sama kamu.” ucapku tak mau kalah. Rasanya ini saat yang tepat untuk kami berunding, bukankah hubungan ini antara kami berdua, bukan hanya tentang prinsipnya saja.
“Aku nggak bisa kalo kamu gini terus. Berkali-kali aku udah jelasin ke kamu. Bukan karena aku punya kelainan atau apa, tolong percaya aku. Tunggu sampai kita nikah.”
“Kenapa?” tanyaku putus asa. Aku sudah menangis tergugu di pojok sofa. Sekarang ada jarak membentang lebar diantara kami. Dia diam, tidak menjawab pertanyaanku. Bagaimana aku tidak berpikir macam-macam.
Kegilaanku memuncak, benar kulakukan apa yang sudah kurencanakan sebulan lalu. Kulirik sebentar cicin berlian yang melingkar di jariku, kumohon semoga ini memberikan jawaban. Kulepas satu persatu kain yang menutupi tubuhku sampai tidak tersisa sehelaipun.
Johnny menggertakkan giginya, dia mendorongku hingga jatuh terlentang di atas sofa. Matanya menatap marah.
“Aku kecewa sama kamu. Buat hal ini aja kamu raguin aku. Kayaknya kita harus sendiri dulu,” sambil berucap dia menutupi tubuhku dengan selimut yang sejak tadi teronggok di bawah kakinya.
Dia pergi meninggalkanku, langkahnya mantap keluar apartemen. Tidak lepas dari penglihatanku, dia sempat melampiaskan amarahnya pada dinding di samping pintu keluar.
Maaf Jo, aku keterlaluan.
Sebulan berselang, aku masih sering menangis di depan apartemennya yang kini kosong. Baru beberapa hari lalu aku tahu dia pindah entah kemana. Bagai dihimpit batu besar, kepalaku terasa sangat pening. Penyesalan, rasa marah dan sakit hati bercampur menjadi satu.
“Pulang. Kalo Johnny tau lo mabuk disini, gue bisa dibunuh.”
“Cas, lo bisa diem dulu nggak.”
“Ya nggaklah nyet, gue nggak mau jadi samsak tinju dia. Udah cukup gue dimaki-maki sama ditonjok pas ngajak lo touring ke puncak.”
“Dia ngelakuin itu?”
Lucas menatap sekeliling, seperti memastikan tidak ada yang mendengarnya. Bar ini cukup tenang, jadi pembicaraan kami mungkin terdengar.
“Lo kalo bego, jangan banget-banget. Susah-susah cowok lo nahan diri malah lo katain belok. Dia normal, gue yakin.”
“Kok lo bisa yakin Cas?”
“Anjing, udahlah kaga usah dibahas. Risih gue bahas gituan sama lo. Ayo gue anter pulang, ngrepotin aja lo nyet.”
“Biasa aja dong, kalo nggak mau ya udah. Gue bisa pulang sendiri.”
“Gaya banget lo, udah jam sebelas. Mau lo digodain om-om?”
Aku menggeleng, bersungut-sungut kuikuti Lucas yang sudah berjalan lebih dulu keluar bar.
“Tapi dia belum pernah nyium gue Cas. Nyium sih di dahi, tapi kan gue maunya dibibir. Astaga, gue udah kayak cewek apaan aja mohon-mohon sama dia.”
Lucas mengacak-acak rambutnya. Dia berkali-kali memukul setir mobil.
“Bisa nggak jangan ngobrolin itu. Lama-lama gue yang nyium lo.”
“Nggak mau, bibir lo bekas banyak cewek. Nggak nafsu.”
“Gue resign deh jadi temen lo. Capek banget.”
“Cas, ini maksudnya gue sama Johnny udah putus ya?” tanyaku setengah menangis.
Sekali julur, tangan Lucas mencapai pucuk kepalaku. Dia mengusap pelan. “Sabar ya, gue udah usaha nanya ke temen-temen dia. Semoga dia cuma butuh waktu buat sendiri dulu.”
“Cas, apa gue nggak menarik? Apa karena gue selalu maksa dia makanya dia capek? Cas, kayaknya gue nggak kuat deh kalo harus pisah selamanya.”
“Gue nggak tau harus ngomong apa. Tapi semisal lo udah nggak mau nunggupun, gue nggak nyalahin lo. Harusnya Johnny nggak gini sih.”
Aku menggugu di depan pintu apartemenku. Lucas menghembuskan napas putus asa, aku tau dia sama pusingnya. Satu bulan ini dia pergi kesana kemari untuk mencari Johnny. Belum lagi mengurusku yang sempat jatuh sakit.
“Cas, gue sedih banget. Gue nggak bisa pisah dari dia.” raungku sambil memukuli dada yang terasa sangat sesak.
Lucas menarikku ke dekapannya, “maaf ya, gue nggak bisa ngelakuin apa-apa selain nyuruh lo bertahan sebentar lagi.”
Besok, semoga dia kembali. Aku masih setia menunggu meski dua bulan telah berlalu. Kupandangi cicin yang melingkar indah di jariku. Besok, aku tidak akan meminta ciuman atau tubuhnya. Aku hanya ingin berucap, kalau aku mencintai jiwanya yang selalu memberikan selimut hangat untuk batinku yang lebih sering mengalami musim dingin.