Kenapa aku suka menulis? Hm, sulit menjelaskannya karena jika aku menulis berarti perasaanku sedang tidak baik-baik saja. Duniaku hancur. Aku menemukan kotak beludru warna biru di atas meja kerja Winwin.
Cerita singkatnya aku dan dia adalah rekan kerja. Kami sehari-hari berada di kantor yang sama. Saling menyapa, berbagi keluhan dan terkadang makan siang di satu meja.
Tapi ada rahasia, setiap akhir pekan aku dan dia menjadi sepasang kekasih. Hanya saat itu saja. Baiklah, aku kembali mundur ke belakang. Agar semua orang yang mungkin membaca ini mengerti apa yang kurasakan,
Bulan Maret, hari itu ada acara kantor. Masing-masing dari mereka membawa pasangan, sedangkan aku dan Winwin sendirian. Tibalah acara lomba, lari karung. Bisa ditebak aku dan Winwin menjadi tim, mengenaskan sekali kalau diingat. Kami jatuh terguling, terkena debu dan sikuku sedikit terluka.
Tapi apa yang dia katakan?
“Gue baru tau lo bisa ketawa selepas tadi. Biasanya marah-marah mulu.”
“Gue kan manusia Win, ya iyalah bisa ketawa.”
“Lucu, jadi pacar gue mau nggak?”
“Hah, gila lo?”
“Sabtu Minggu aja.”
“Lo pikir gue cewek apaan, beneran nggak waras lo Win.”
“Nggak-nggak, ini cuma buat temen doang. Kita makan bareng, jalan, nonton film. Tapi pas hari kerja kita ya gini aja.”
“Lo nggak laku apa gimana?”
Saat itu aku menyimpulkan Winwin aneh dan tawaran yang dia berikan sungguh kekanakan. Tapi, satu bulan kemudian kami sudah berada di sebuah kedai kopi sambil berbincang kesana kemari.
Kali ini, aku akan mengenang satu momen paling menggetarkan hatiku. Setelah itu, kubiarkan Winwin mengejar gadis yang dia sukai. Tentu saja bukan aku.
“Lo ke mcd apa kfc dulu deh.”
“Ngapain? Gue mau balik ke apart.”
“Biar gue bersihin dulu apart lo. Udah sana, gue naik gojek aja. Ada buku di mobil, penulis kesukaan lo. Bacain ya, ntar cerita ke gue isinya apa.”
“Gue nggak ngerti deh, kenapa-”
“Karena gue pengen, apart gue udah di bersihin bibi. Jadi gue bersihin apart lo aja. Oke? Okelah.”
“Lo cerewet banget Win.”
Dia tersenyum, anehnya malah mendekat ke arahku sampai punggungku membentur pintu mobil. “Depan lo doang gue aneh gini. Jadi, rahasiain ya?”
Saat itu, mungkin pertama kalinya aku sadar. Kalau hubungan iseng-iseng yang kami ciptakan berubah jadi hal serius. Tapi aku tidak berani jujur, sejak awal langkahku sudah salah.
Malam turun. Tadi aku ijin dari kantor untuk pulang lebih awal. Memang kondisiku tiba-tiba turun, rasa mual dan pusing tidak terelakkan. Sial sekali, begitu besar pengaruh Winwin untukku. Kalau boleh jujur, aku ingin sekali membuatnya jadi milikku. Tapi apa bisa?
“Lo kenapa nggak ngomong sih, gue sibuk nyariin. Kirain lo ada urusan sama klien.”
Winwin membuka pintu kamarku dan langsung mengomel. Dia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Kemudian dibukanya kotak yang langsung kutahu adalah bubur yang biasa dia beli kalau aku sedang sakit.
“Makan dulu, udah tau lo punya maag tapi masih aja susah makan. Mana apa-apa dipendem sendiri, gue udah bilang cerita aja kalo terlalu berat.”
“Taruh situ aja. Nanti gue makan.”
“Gila lo? Ini udah jam delapan dan lo belum makan dari siang. Baju kerja aja masih lo pake.”
Aku mendengus sebal, kepalaku malah makin pening mendengar omelannya. “Lo sendiri yang bilang, kita jadi pasangan cuma weekend aja. Jadi sekarang gue sama lo bukan siapa-siapa.”
“Nggak usah bahas yang lain. Gue cuma minta lo makan, minum obat terus istirahat.” balasnya dengan nada bicara super dingin. Seperti Winwin yang kutemui saat pertama masuk kerja.
Dia duduk bersandar di atas ranjang milikku. Sedangkan aku mengambil posisi nyaman di atas sofa sambil memakan bubur yang tadi dia bawakan. Berkali-kali kulirik dia, tampilan itu sungguh panas. Winwin sibuk melihat tabletnya dengan kacamata baca dan segelas kopi panas. Matanya fokus meneliti laporan namun sesekali berpindah padaku, sekedar memastikan aku makan atau tidak.
Aku jadi terbayang, besok istrinya akan melihat pemandangan seperti ini setiap malam. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa dia tidak jujur kalau sudah punya pasangan. Jadi aku ini selingkuhan?
“Buruan tidur.”
“Iya.”
Winwin merangsek, mendekat ke arahku yang sudah berbaring di ranjang.
“Lo marah sama gue? Gue ada salah?”
“Pulang sana Win, nggak bagus malem-malem di tempat cewek.”
“Gue ada salah ya?”
“Pulang Win. Lo nggak ada salah. Gue yang salah, jadi mendingan lo pulang. Oh ya, masalah kencan kita, udahan aja ya? Sekarang nggak usah pura-pura pacaran.”
“Gue salah ngomong sama lo atau gue nggak sengaja nyakitin lo? Tolong jawab dulu, kenapa tiba-tiba jadi gini. Kita masih punya rencana ke pantai, ulang tahun lo juga sebentar lagi. Lo butuh gue buat ketemu tante sama om.”
Kupandangi wajahnya yang dipenuhi rasa panik. Saat ini jemarinya berada di lenganku. Aku tau, dia susah payah menahan amarah. Tapi aku juga susah payah menahan tangis. Ya Tuhan, ternyata aku begitu menyukainya.
“Win, tolong jangan gini! Gue pusing, pengen istirahat. Ngerti nggak sih? Gue mau istirahat, pulang sekarang!”
Dia menatapku tak percaya karena teriakanku barusan memang keras sekali.
“Oke, gue pulang. Maaf kalo gue bikin lo nggak nyaman.”
“Hm.”
“Boleh gue peluk lo dulu? Kalau ini emang yang terakhir buat kita.”
“Ngapain sih, kita juga nggak pacaran beneran. Nggak usah sok tersakiti deh.” ucapku begitu jahatnya. Biarkan saja, daripada aku terlihat lemah.
Setengah jam setelah Winwin pergi, ada dering notifikasi yang kuhafal adalah milik Winwin. Ponselnya tertinggal.
Gue tadi nitip cincin di meja lo. Simpen dulu ya. Takut ketauan sama pacar gue. Hehehe. Thanks Win.
Aku mengangkat telepon dari rekan kerjaku.
“Lo masih sakit? Bisa kesini nggak? Winwin kecelakaan di perempatan deket apartemen lo. Gue masih nunggu ambulance. Cepet ya.”
Aku ingin memohon pada Tuhan, tolong buat tiga jam yang kulewati barusan menjadi mimpi. Aku ingin ke pantai, merayakan ulang tahun dan mengakui perasaanku.