Bealif

#Weekend

Kenapa aku suka menulis? Hm, sulit menjelaskannya karena jika aku menulis berarti perasaanku sedang tidak baik-baik saja. Duniaku hancur. Aku menemukan kotak beludru warna biru di atas meja kerja Winwin.

Cerita singkatnya aku dan dia adalah rekan kerja. Kami sehari-hari berada di kantor yang sama. Saling menyapa, berbagi keluhan dan terkadang makan siang di satu meja.

Tapi ada rahasia, setiap akhir pekan aku dan dia menjadi sepasang kekasih. Hanya saat itu saja. Baiklah, aku kembali mundur ke belakang. Agar semua orang yang mungkin membaca ini mengerti apa yang kurasakan,

Bulan Maret, hari itu ada acara kantor. Masing-masing dari mereka membawa pasangan, sedangkan aku dan Winwin sendirian. Tibalah acara lomba, lari karung. Bisa ditebak aku dan Winwin menjadi tim, mengenaskan sekali kalau diingat. Kami jatuh terguling, terkena debu dan sikuku sedikit terluka.

Tapi apa yang dia katakan?

“Gue baru tau lo bisa ketawa selepas tadi. Biasanya marah-marah mulu.”

“Gue kan manusia Win, ya iyalah bisa ketawa.”

“Lucu, jadi pacar gue mau nggak?”

“Hah, gila lo?”

“Sabtu Minggu aja.”

“Lo pikir gue cewek apaan, beneran nggak waras lo Win.”

“Nggak-nggak, ini cuma buat temen doang. Kita makan bareng, jalan, nonton film. Tapi pas hari kerja kita ya gini aja.”

“Lo nggak laku apa gimana?”

Saat itu aku menyimpulkan Winwin aneh dan tawaran yang dia berikan sungguh kekanakan. Tapi, satu bulan kemudian kami sudah berada di sebuah kedai kopi sambil berbincang kesana kemari.

Kali ini, aku akan mengenang satu momen paling menggetarkan hatiku. Setelah itu, kubiarkan Winwin mengejar gadis yang dia sukai. Tentu saja bukan aku.

“Lo ke mcd apa kfc dulu deh.”

“Ngapain? Gue mau balik ke apart.”

“Biar gue bersihin dulu apart lo. Udah sana, gue naik gojek aja. Ada buku di mobil, penulis kesukaan lo. Bacain ya, ntar cerita ke gue isinya apa.”

“Gue nggak ngerti deh, kenapa-”

“Karena gue pengen, apart gue udah di bersihin bibi. Jadi gue bersihin apart lo aja. Oke? Okelah.”

“Lo cerewet banget Win.”

Dia tersenyum, anehnya malah mendekat ke arahku sampai punggungku membentur pintu mobil. “Depan lo doang gue aneh gini. Jadi, rahasiain ya?”

Saat itu, mungkin pertama kalinya aku sadar. Kalau hubungan iseng-iseng yang kami ciptakan berubah jadi hal serius. Tapi aku tidak berani jujur, sejak awal langkahku sudah salah.

Malam turun. Tadi aku ijin dari kantor untuk pulang lebih awal. Memang kondisiku tiba-tiba turun, rasa mual dan pusing tidak terelakkan. Sial sekali, begitu besar pengaruh Winwin untukku. Kalau boleh jujur, aku ingin sekali membuatnya jadi milikku. Tapi apa bisa?

“Lo kenapa nggak ngomong sih, gue sibuk nyariin. Kirain lo ada urusan sama klien.”

Winwin membuka pintu kamarku dan langsung mengomel. Dia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Kemudian dibukanya kotak yang langsung kutahu adalah bubur yang biasa dia beli kalau aku sedang sakit.

“Makan dulu, udah tau lo punya maag tapi masih aja susah makan. Mana apa-apa dipendem sendiri, gue udah bilang cerita aja kalo terlalu berat.”

“Taruh situ aja. Nanti gue makan.”

“Gila lo? Ini udah jam delapan dan lo belum makan dari siang. Baju kerja aja masih lo pake.”

Aku mendengus sebal, kepalaku malah makin pening mendengar omelannya. “Lo sendiri yang bilang, kita jadi pasangan cuma weekend aja. Jadi sekarang gue sama lo bukan siapa-siapa.”

“Nggak usah bahas yang lain. Gue cuma minta lo makan, minum obat terus istirahat.” balasnya dengan nada bicara super dingin. Seperti Winwin yang kutemui saat pertama masuk kerja.

Dia duduk bersandar di atas ranjang milikku. Sedangkan aku mengambil posisi nyaman di atas sofa sambil memakan bubur yang tadi dia bawakan. Berkali-kali kulirik dia, tampilan itu sungguh panas. Winwin sibuk melihat tabletnya dengan kacamata baca dan segelas kopi panas. Matanya fokus meneliti laporan namun sesekali berpindah padaku, sekedar memastikan aku makan atau tidak.

Aku jadi terbayang, besok istrinya akan melihat pemandangan seperti ini setiap malam. Aku mengumpat dalam hati. Kenapa dia tidak jujur kalau sudah punya pasangan. Jadi aku ini selingkuhan?

“Buruan tidur.”

“Iya.”

Winwin merangsek, mendekat ke arahku yang sudah berbaring di ranjang.

“Lo marah sama gue? Gue ada salah?”

“Pulang sana Win, nggak bagus malem-malem di tempat cewek.”

“Gue ada salah ya?”

“Pulang Win. Lo nggak ada salah. Gue yang salah, jadi mendingan lo pulang. Oh ya, masalah kencan kita, udahan aja ya? Sekarang nggak usah pura-pura pacaran.”

“Gue salah ngomong sama lo atau gue nggak sengaja nyakitin lo? Tolong jawab dulu, kenapa tiba-tiba jadi gini. Kita masih punya rencana ke pantai, ulang tahun lo juga sebentar lagi. Lo butuh gue buat ketemu tante sama om.”

Kupandangi wajahnya yang dipenuhi rasa panik. Saat ini jemarinya berada di lenganku. Aku tau, dia susah payah menahan amarah. Tapi aku juga susah payah menahan tangis. Ya Tuhan, ternyata aku begitu menyukainya.

“Win, tolong jangan gini! Gue pusing, pengen istirahat. Ngerti nggak sih? Gue mau istirahat, pulang sekarang!”

Dia menatapku tak percaya karena teriakanku barusan memang keras sekali.

“Oke, gue pulang. Maaf kalo gue bikin lo nggak nyaman.”

“Hm.”

“Boleh gue peluk lo dulu? Kalau ini emang yang terakhir buat kita.”

“Ngapain sih, kita juga nggak pacaran beneran. Nggak usah sok tersakiti deh.” ucapku begitu jahatnya. Biarkan saja, daripada aku terlihat lemah.

Setengah jam setelah Winwin pergi, ada dering notifikasi yang kuhafal adalah milik Winwin. Ponselnya tertinggal.

Gue tadi nitip cincin di meja lo. Simpen dulu ya. Takut ketauan sama pacar gue. Hehehe. Thanks Win.

Aku mengangkat telepon dari rekan kerjaku.

“Lo masih sakit? Bisa kesini nggak? Winwin kecelakaan di perempatan deket apartemen lo. Gue masih nunggu ambulance. Cepet ya.”

Aku ingin memohon pada Tuhan, tolong buat tiga jam yang kulewati barusan menjadi mimpi. Aku ingin ke pantai, merayakan ulang tahun dan mengakui perasaanku.

#2021

Cerita ini akan sederhana saja. Tentang Ten yang selalu menjadi tokoh baik dan aku sosok yang berkali-kali melukai hatinya. Semua bukan tanpa alasan. Entah sejak kapan kami terjebak dalam hubungan menjemukan, zona pertemanan yang dibubuhi rasa cinta.

Kalau ada yang bertanya sejak kapan aku mulai menyukainya, jawabannya ada dalam buku harian yang kini terbuka lebar di atas tangannya. Matanya menelusuri satu demi satu kata yang sempat kutulis beberapa tahun lalu.

Sialnya, ini memang di luar kendaliku. Saat semuanya terungkap, baru kemarin aku menerima persetujuan perjodohan dengan putra teman ayahku. Mengejutkannya lagi, dia adalah Hendery, teman satu tongkrongan Ten.

Apa sudah terlambat untuk mundur dan bertanya pada Ten, apakah dia mau membawaku kabur? Kalau dia memang cinta padaku sih.

“Bagus juga tulisan lo.” gumamnya, dia berlaga menilai tulisanku. Padahal dia bukan guru bahasa indonesia.

“Nggak usah ngelawak.”

“Eh, beneran. Lo pas SMA menang lomba nulis juga 'kan? Nggak nyangka gue, ternyata buku harian lo isinya lebih oke.”

“Kenapa?”

Ten menutup buku itu, lalu fokus menatapku. “Kenapa apanya?”

“Kenapa kesini? Bukannya lo marah?”

“Ya gue marah. Tapi mau gimana lagi. Lagian lo pengen nasi padang, sakit bukannya makan yang sehat.”

“Ayo kabur, kita sama-sama saling sayang. Bawa gue lari dari sini.”

“Nggak ah, pengecut banget kalo gue kayak gitu. Buat apa, yang ada bikin malu keluarga kita.”

Kenapa ya, semua jadi begini. Aku ingin menyalahkan Ten yang tidak mengakui perasaannya sejak dulu, tapi aku sama seperti dia. Bertahun- tahun kami diam, menganggap hal seperti ini tidak akan terjadi.

“Udah baikan?”

Lelaki yang barusan bertanya adalah Hendery. Dia tunanganku, kami berencana menikah dua bulan lagi. Dia tidak jahat kok, meski terkesan seperti orang ketiga diantara aku dan Ten. Tapi dalam buku kisahnya sendiri, Ten adalah orang ketika dan aku tokoh antagonis.

“Udah. Padahal nggak kesini nggak papa. Lo pasti capek.”

Hendery menggeleng, dia membenahi selimutku.

“Gue capek, tapi dikit doang. Kalo nggak nengok kesini, tandanya gue nggak sayang lo? Iya ga sih?” tanyanya seolah sedang meminta penilaian atas rasa sayangnya.

Dengan cepat aku menggeleng, tidak mungkin rasa sayang hanya diukur dari hal itu. Kalau memang mau diukur, Hendery jelas mendapat banyak poin. Dia hampir selalu siap sedia ketika aku butuh. Pernah saat itu aku bertengkar hebat dengan ayahku, tidak sengaja aku menjelekkan Hendery dengan keluarganya. Pun membandingkan dia dengan Ten, padahal saat itu Hendery ada disana. Tapi dengan penuh kesabaran, dia memelukku, mengatakan kalau aku harus meredam emosi dan minta maaf pada ayahku.

Jika aku ada diposisi Hendery, dengan banyaknya hal buruk yang kuberikan, pasti sejak dulu aku sudah pergi. Jika sudah begini, rasanya tidak pantas kubandingkan dia dengan Ten.

Satu jam kemudian, ruangan diisi dengan cerita seru dari Hendery. Dia banyak membuatku terkikik geli karena hal-hal konyol yang dulu pernah dia lakukan.

“Lo tau nggak? Sumpah sih ini lawak banget, gue pernah bercandaan sama temen. Kayak ngunciin dari dalem gitu, biar dia nggak bisa masuk ke kelas. Udah gue tahan-tahan tuh gagang pintu, eh taunya guru matematika dong yang di luar. Sial, gara-gara itu gue masuk bk.”

Hendery menyuapi sepotong apel ke mulutku, sambil tersenyum dia melanjutkan lagi.

“Kalo ini malu banget. Gue pernah salah chat di grup yang ada wali kelasnya. Masa gue chat gini, 'bagi jawaban fisika dong, besok ulangan kimia nyontek aja, oke?' wah gila banget deh gue dulu. Ah anjir, sampe sekarang kalo gue inget-inget kayaknya itu alesan gue langganan bk.”

Aku sudah lama kenal Hendery karena dia teman Ten juga. Tapi kami biasanya hanya bertukar sapa seadanya. Benar-benar tidak kusangka dia bisa secerewet ini. Apa dia tidak menolak perjodohan kami? Kenapa dia santai sekali, padahal dia juga tidak menyukaiku. Aku tau itu karena sebulan sebelum kami bertunangan, dia putus dengan pacarnya.

“Aw!” pekikku ketika tangan Hendery tidak sengaja menekan jarum infus.

“Maaf, maaf. Gue nggak sengaja.” serunya begitu panik ketika menyadari darah mulai naik.

“Ini kenapa bisa gini? Kok darah lo keluar?”

“Nggak papa. Nanti ilang sendiri, hehehe ini tadi gue salah posisi pas tidur.”

Dia menatapku khawatir. “Lo panik ya tadi?”

Aku meringis lalu mengangguk tipis. “Iya, panik banget. Tapi nggak papa, tadi ada T-”

Sial. Aku hampir menyebut nama Ten, canggung sekali.

“Ten?”

“Iya. Marahin gue aja, jangan Ten. Gue yang minta dia dateng, soalnya tadi gue pengen banget makan nasi padang. Terus maksa dia buat bawain.”

“Gue nggak marah kok. Faktanya, emang Ten yang lebih tau lo.”

“Hendery?”

“Mama udah mau kesini. Nanti gue langsung pulang ya, ada kerjaan yang kelupaan. Gue ke kamar mandi dulu.” pamitnya lalu pergi meninggalkanku yang masih merasa tidak enak.

Aku harus bagaimana sih? Membingungkan sekali.

#Drama Pernikahan

Kepulangannya membawa banyak tanda tanya. Dia tidak mungkin jujur pada istrinya jika beberapa minggu ini dia sibuk mengurus ibu mantan kekasihnya. Sejak lama ia ingin menolak, tapi hati nuraninya berkali-kali terketuk. Mana tega dia membiarkan mantan calon mertuanya kesusahan.

“Maaf ya Sha.” gumamnya di depan pintu masuk. Dia kembali meyakinkan dirinya. Apa yang dia lakukan dalam batas wajar dan dia tidak menaruh rencana hendak mengulang hubungan dengan mantan kekasihnya.

Sepertinya cerita tidak sesederhana itu untuk Jo. Dia adalah Joandra, lelaki berumur 26 tahun yang sudah 12 bulan menikah.

“Astaga, hari ini?” pekiknya di ruang tamu ketika matanya tidak sengaja melihat tanggal pernikahan yang tercetak di foto pernikahannya.

Jo memang bodoh. Jika setelah ini Ashara mengumpatinya atau memukulnya dengan vas bunga, maka akan dia terima. Terbukti sudah, dia suami yang brengsek. Bertemu dengan mantan kekasih saat ulang tahun pernikahan? Wah, siapa yang akan memaafkan kesalahan itu.

Tapi Jo lupa. Istrinya adalah wanita berbeda. Wanita yang setahun ini satu rumah dengannya tampak santai menuruni tangga. Dia membawa gelas berwarna biru muda, tampak serasi dengan baju tidur yang digunakannya.

Jo sedang menakar, apa dia langsung minta maaf atau terus berpura-pura lupa. Sampai lima menit berlalu, tidak ada pergerakan yang dia lakukan. Ashara sudah kembali ke kamar atas. Sedangkan Jo meremas jemarinya. Dia tidak menyiapkan kejutan apa-apa.

Itu sudut pandang Jo yang sedang gundah karena sifat sembrononya. Berbeda lagi dengan Ashara.

Mari mulai bercerita dari sudut pandangnya. Biarkan dia berbicara semaunya karena tiba-tiba dia benci diwakilkan.

Aku menahan amarahku sejak tiga hari lalu. Entah Jo sadar atau tidak. Suamiku benar-benar berotak udang dan berhati batu. Dengan kekesalan yang sudah memuncak, aku masuk kamar mandi dan menendang punggungnya sampai dia hampir tersungkur. Senyumku timbul, lebih tepatnya rasa puas.

“Puas pergi sama mantan? Lupa lo kalo udah nikah?” tanyaku lantang seakan kami berjarak tiga meter lebih.

“Ashara, aku bisa jelasin.” ucapnya memelas.

Astaga, kalau dia bukan suamiku, sudah habis kuhajar.

“Jelasin? Gue juga bisa ketemuan sama Jeffery, tapi gue ngga kayak lo Jo. Gue masih bisa mikir sehat. Punya mental kok mental selingkuh.”

Dia tidak menjawab lagi. Cepat-cepat diraihnya bathrobe, memakainya lalu keluar dari kamar mandi. Aku tau dia marah. Memang dia sangat benci jika aku membawa nama Jeffery, lelaki yang hampir menikahiku.

Ah, ini memusingkan sekaligus menyakitkan. Aku menyalakan shower lalu berdiri diam disana. Kuresapi dinginnya air yang membasahi seluruh badanku. Ini cara terbaik agar aku tidak menghajar Jo, harus kutahan. Sekali lagi, aku adalah istrinya.

Jadi sekarang ini siapa yang salah? Bukankah dia?

Pukul sebelas malam. Aku belum juga bisa terlelap. Otakku sibuk memberitahu hatiku untuk segera memutuskan sesuatu. Katanya, sebaiknya pisah saja, untuk apa bertahan. Tapi hatiku berkata, sebentar lagi, dengar penjelasannya.

“Anjing. Kenapa hidup gue seberantakan ini. Nikah bukannya seneng malah diselingkuhin. Punya laki juga bodo banget. Setidaknya basa basi ngasih bunga pas anniv biar gue nggak curiga.” gumamku sambil menangis. Selain galak, aku juga mudah menangis. Bukankah paket lengkap?

“Ashara, aku jelasin dulu ya. Aku sama dia nggak ada apa-apa. Aku murni pengen nolong ibunya.” Dia memelukku dari belakang seolah-olah aku bersedia dengan itu.

“Jauhin tangan kotor lo dari badan gue. Jo lo tau, gue bisa lepas kendali hajar lo sekarang.” Benar, aku sedang mengancam lelaki kekar itu.

Karena aku tau, semarah apapun dia tidak akan main tangan. Wah, saat seperti inipun aku tau hal yang mempesona dari dirinya.

“Lo mau pisah apa gimana?”

Meja makan menjadi hening. Dia bahkan hampir tidak bernapas, matanya menatap tajam ke arahku. Tadinya aku gentar, tapi mengingat apa yang telah terjadi, aku tetap maju. Ku balas tatapan itu dengan sorot mata tak kalah mematikan.

“Bilang mau pisah kapan, gue ngga nuntut harta lo. Silakan bawa pergi semuanya. Tapi rumah ini, tolong serahin ke gue. Nanti gue kirim uang buat gantiin tanah yang lo beli.”

“Sha, aku nggak suka kamu bahas perceraian. Mulut kamu kok gampang banget ngomong gitu seakan satu tahun ini nggak ada artinya.”

Aku diam. Memangnya apa artinya pernikahan kami?

Selesai. Ashara enggan melanjutkan ceritanya. Dia naik ke kamarnya dan menangis disana. Terlalu menyakitkan katanya kalau harus bercerita lagi.

Mari berpindah ke sisi Jo. Bagaimana dia memandang masalah ini.

Gue sebel banget. Sejak dulu, gue nganggep pernikahan itu sakral. Mana berani ngucap pisah semarah apapun gue. Bagi gue, siapa yang jadi istri gue, ya dia pasangan sampai mati.

Ashara itu aneh. Aneh banget malah. Gue sering liat dia nangis padahal cuma nonton drama. Dia juga bawel banget masalah kerapian. Nggak lupa, cemburuan parah. Padahal cinta ke gue juga nggak.

Kenapa gue bisa ngomong gitu? Karena dia terpaksa nikah sama gue. Satu tahun lalu, ayah dia ngenalin kita berdua. Ashara yang aslinya gagal nikah sama Jeffery, langsung setuju waktu ditanya mau nikah sama gue atau nggak.

Aneh kan? Jelas. Kisah gue sama Ashara emang aneh banget. Nikah tanpa cinta, berasa orang tolol sih. Tapi gue nggak nyesel. Ashara adalah kado terindah dari Tuhan buat gue yang hampir putus asa nyari pasangan.

Mungkin orang bertanya-tanya kenapa gue bisa gitu padahal faktanya gue ganteng dan berduit. Astaga, gue juga bingung. Rasanya nggak ada cewek yang mau sama gue atau guenya yang pilih-pilih. Entahlah, gue juga nggak tau.

Gue masuk ke kamar. Nah bener kan, dia lagi nangis. Ya Tuhan, lucu banget bidadari di kamar gue. Dia nangis di depan jendela sambil liatin gerimis. Nggak lupa camilan coklat kesukaan dia. Ini anak emang kemakan scene di drama.

“Boleh ngomong nggak? Mau jelasin sesuatu.” tanya gue hati-hati. Jangan sampai gue dihajar kayak kemarin di kamar mandi.

Dia diem. Artinya boleh.

“Maaf ya, harusnya aku jelasin ke kamu dulu. Jadi, ibunya Vania sakit Sha. Beliau kekurangan uang dan Vania juga lagi sibuk kerja di luar kota. Beneran, ini murni aku bantu ibunya Vania. Bukan mau macem-macem sama anaknya. Tapi emang aku beberapa kali ketemu Vania, dia maksa. Katanya mau ngomong makasih.”

“Lo bego, dia modus doang!”

Sumpah, suara Ashara gede banget. Mana teriak di telinga gue. Sabarrrr ...

“Sha, maaf ya. Aku salah. Harusnya aku jelasin dulu ke kamu. Sha sumpah deh, kamu boleh ceraiin aku kalo emang ada orang ketiga diantara kita. Faktanya ngga ada Sha. Dihubungan ini cuma ada aku sama kamu.”

Dia luluh belum ya. Kayaknya gue udah melas banget deh. Gue nggak ada harga diri lagi. Ini aja gue duduk di bawah sedangkan dia enak-enakan nyender di sofa. Nggak kayak drama romantis yang abis itu ciuman terus lanjut ke kasur. Gue malah dapet tendangan pas di dada.

Sakit!

Ngilu!

Anjing. Bukan Ashara yang anjing. Gue kok, gue!

“Punya otak dipake. Lo pikir pernikahan main-main. Anjing banget lo Jo. Nggak mikirin perasaan istri. Ngeselin tau nggak. Lo harusnya ngomong. Lo harusnya nggak lupa tanggal pernikahan kita!”

Ashara nangis sambil mukul-mukul bantal. Ini artinya dia udah luluh. Yes!

Gue langsung peluk dia dan gendong dia ke kasur. Hah, lega banget.

“Sakit Sha!” teriak gue yang kaget banget. Sial! Dia gigit dada gue.

Istri siapa sih ini. Demen banget sama kekerasan.

Kenapa gue setenang ini? Karena Ashara itu unik. Kalimat apapun yang keluar waktu dia marah, itu nggak serius. Cewek yang umurnya tiga tahun lebih muda dari gue ini masih sedikit susah kendaliin emosinya. Justru disitu manisnya. Dia selalu jadi kayak bayi abis marah-marah kayak tadi.

Lucu banget. Cantik. Gemes. Gue terlalu cinta sama dia. Peduli banget orang ngomong apa. Gue cinta banget sama Ashara.

Mereka kembali berbaikan hari itu. Pada Hari Minggu yang tenang, sepertinya rasa cinta kembali mengembang. Melihat bagaimana setelah itu mereka melakukannya lebih manis dari biasanya.

“Selamat ulang tahun pernikahan ke satu. Semoga nambah seratus ya.” ucap Jo asal-asalan sambil menyajikan dua mangkok bakso.

“Bentar, jangan dimakan dulu.”

Jo berlari ke depan kulkas. Lelaki itu sibuk mengaduk-aduk isi kulkas. Ditemukannya dua bungkus es krim.

“Nih, makan ini dulu.”

Ashara menggeleng tak paham. Dia ingin bunga dan coklat. Tapi kenapa yang tersedia malah bakso dan es krim.

“Udah telat dua hari. Ngasihnya nggak jelas gini pula. Mana ada orang ngrayain anniv pake ginian.”

Jo tertawa pelan, dia menunjuk dirinya. “Ada. Aku sama kamulah Sha. Beda banget ini tuh. Spesial.”

“Terserah deh, aku laper.”

“Ya laperlah, kamu kan abis-”

“Nggak usah dibahas. Gue paling sebel bahas kayak gitu!”

“Emang aku mau bahas apa sih Sha? Hahahaha muka kamu merah.”

“Jo!”

“Iya Ashara. Nggak aku bahas, mending praktek aja. Ya kan?”

“Apasih Jo. Nggak jelas.”

“Ya makanya biar jelas.”

“Astaga. Diem deh Jo.”

“Hahahaha iya-iya Sha. Ayo dimakan.”

Setengah jam berlalu, Jo membereskan peralatan makan dan tak lupa membersihkan bekas es krim yang tercecer di atas meja. Dia sesekali melirik Ashara yang tampak sibuk dengan ponselnya.

“Hp mulu. Suami dianggurin.”

“Lagi nonton NCT.”

Jo memilih diam. Dia tidak akan menang kalau Ashara sudah melihat NCT. Jelas istrinya lebih memilih Lucas dan kawan-kawan.

“Sha, aku udah balik nama rumah, tanah sama mobil. Atas nama kamu semua. Buat tabungan kita, kamu yang pegang juga. Kalau saham-saham atas nama aku dulu nggak papa kan?”

Ashara meletakkan ponselnya. Dia mengernyit tak paham.

“Kenapa dibalik nama? Kan punya lo. Cuma rumah ini yang kita bangun berdua.”

“Nggak papa Sha. Jaga-jaga nanti kalo aku dipelet orang.” canda Jo.

“Nggak-nggak, gue nggak minta harta lo.”

“Ya terserah. Orang udah nama kamu semua. Hehehe.”

“Ngeselin lo Jo.”

“Sha, jangan ngomong pisah kayak kemaren ya? Kamu boleh maki-maki, mukul atau nyuruh aku tidur di lantai. Tapi jangan ngomong pisah ya. Kayaknya aku udah terlalu sayang sama kamu. Bayangin kita pisah rumah aja bikin nyeri. Tau nggak sih Sha, kayak nggak bisa gitu. Sejak kapan sih aku secinta ini sama kamu Sha?”

Ashara tersenyum, ayahnya benar. Joandra adalah pasangan yang tepat untuknya. Hanya Jo yang bisa mengimbanginya, hanya lelaki itu yang mampu.

“Lo lawak banget sih Jo. Alay tau nggak.”

“Sumpah, gitu balesan kamu? Nggak ngerti aku Sha. Udahlah capek. Tapi sayang banget.”

#Ujung Perjalanan

Merasa bodoh karena kali ini aku tidak membelanya.

Batinku nyeri mendengar banyak siswa di kelas tengah berbicara lantang mengenai sosok di sampingku. Namanya Lucas, aku baru akrab beberapa minggu setelah tahun ajaran baru. Tidak disangka dia yang terkenal berprestasi harus menghadapi beberapa masalah, entah harus kusebut masalah besar atau kecil.

Helaan napasku terdengar olehnya. Dengan cepat dia memberikan sebungkus permen manis dari merk yang artinya cium. Hm, aku malah makin kesal, karena aku tau dia sedang menggodaku.

“Nggak papa, gue baik-baik aja kok. Lagian tinggal setahun di sekolah disini.” jelasnya tanpa kuminta.

“Gue masih belum paham. Mendingan lo keluar dari sekolah ini. Buat apa sekolah bagus tapi siswanya brengsek semua.”

“Eh, semua? Kita juga?”

Aku mengendikkan bahu. Sikapku memang tidak terlalu baik, saat marah aku suka merusak barang. Seperti kali ini, sudah dua buku kusobek-sobek.

Prinsipku, merusak barang lebih baik daripada melontarkan kalimat-kalimat yang membuat orang lain sakit hati.

“Makasih ya, udah mau temenan sama gue.”

Ya Tuhan, kenapa Lucas merasa rendah diri. Dia memang berbeda, tapi bukan berarti orang bisa membencinya. Kenapa orang suka sekali menghakimi orang lain hanya karena berbeda? Apa yang salah dari perbedaan?

“Jangan ngomong itu, gue terpaksa. Emang kebagian tempat duduk bareng lo.”

“Lo nggak pinter bohong.”

“Lo juga Cas, lo nggak pinter nyembunyiin sakit hati yang lagi lo rasain. Cerita aja sama gue, yaaa tapi cuma gue dengerin aja sih.”

Lucas menyunggingkan senyum. Dia menepuk pundakku, membuatku segera menoleh.

“Tau nggak? Gue selalu yakin masalah adalah cara Tuhan mendidik gue jadi dewasa.”

“Besok kalau kita udah lebih baik, jangan lupain masa-masa ini ya? Kita tunjukkin sama dunia, kita bisa.”

Terkadang aku menyesal juga. Sejak awal aku sadar sekolah bergengsi ini akan membawaku ke dalam masalah ke depannya. Bangunan megah, siswa dari kalangan atas, peraturan ketat, tuntutan menjadi sempurna dan perlombaan manjadi sosok nomor satu menjadi tekanan untukku.

Baru kemarin aku kembali dari ruang bimbingan bersama empat temanku yang menjadi ranking lima terbawah.

Kalimat yang paling kuingat.

“Kalian kalau tidak serius belajar, dimasa depan tidak akan jadi apa-apa. Berhenti main-main, jangan karena kalian kaya jadi bisa seenaknya. Hidup tidak selamanya diatas.”

Aku tidak menyalahkan perkataan itu. Tapi bila kulihat lagi nilai raporku, angka 88 membuat kepalaku pening. Enam bulan aku belajar siang malam, les sana sini sampai aku tidak lagi kenal siapa diriku. Tapi apa? Ini masih kurang untuk mereka yang hanya memandang peringkat.

“88? Ranking dua puluh tujuh? Kamu dan teman-temanmu makan makanan yang sama, sekolah di sekolah yang sama, punya fasilitas yang sama, memang kamu yang nggak serius.” ucap ayahku hari itu. Hari paling menyebalkan, apalagi ada Lucas yang sedang belajar kelompok denganku.

Jemari Lucas terulur untuk mengambil buku tugas dan ponselku. Tampaknya dia tau, sasaran kemarahanku setelah ini adalah dua barang itu.

“Lo kenapa nyontek waktu ujian kemarin?” tanyaku lantang. Lucas cukup terkejut, tampaknya dia tidak menyangka akhirnya aku membahas itu.

Masalah itulah yang membuatnya dikucilkan, harus melakukan ujian ulang dan mendapat pengurangan nilai kepribadian.

“Gue sengaja.”

Astaga, itu hal paling menjijikan di sekolahku. Martabat kami akan turun bila ketauan melakukan itu.

“Satu jam sebelum ujian, Juna cerita semua masalahnya. Dia harus jadi ranking satu. Kalau gagal, orang tuanya nggak mau ngakuin dia.”

“Kenapa gitu? Astaga.” pekikku tak percaya.

“Karena selama ini ranking satunya gue. J-jadi ... gue-”

Aku mengusap punggung Lucas yang sudah bergetar. Jangan menangis, kalau kali ini dia menangis, maka aku juga sama. Rasanya, kami tidak punya siapa-siapa untuk bersandar.

Kubantu Lucas bangun, dengan sigap kuambil tongkat di pojok sofa.

“Makasih.”

“Sama-sama Cas, oh ya lo dijemput supir kan? Kok belum dateng?”

“Enggak, gue naik taksi. Fasilitas gue ditarik, kan ranking gue turun.”

Aku mengusap lengan Lucas. Ingin sekali memarahinya, tapi hatinya memang selembut itu. Dia tidak mungkin menolak permohonan Juna. Akhirnya hanya senyuman dan pelukan singkat yang kuberikan padanya.

“Hati-hati di jalan ya.”

“Iya, makasih. Gue pulang ya.” pamitnya lalu berjalan perlahan dengan tongkat yang dua tahun ini membantunya berjalan.

Pasti ada yang bertanya, aku menyukai Lucas atau tidak.

Jawabannya sudah jelas, aku suka dengannya. Tapi bertepuk sebelah tangan. Sejauh yang kutau, Lucas hanya fokus pada tujuannya. Wajah rupawan itu seperti dia sia-siakan. Lebih baik dia sukses menjadi model. Ya ya ya, hidup tidak ada yang tau. Bisa jadi Lucas punya alasan lain.

Satu tahun setelah kami lulus sekolah. Aku mengantarnya ke rumah sakit, hari ini jadwalnya untuk pemeriksaan. Dia tampak sedikit gusar karena kali ini ada aku bersamanya.

Setelah kemarin aku menyatakan perasaan, jarak kami terasa jauh meski sekarang duduk bersebelahan. Dia lebih banyak diam padahal biasanya sering menebar senyum cerah jika kebetulan mata kami bertemu.

“Ayah gue butuh donor hati. Operasinya bulan depan.” jelasnya.

Aku menahan tangis. Batinku mengumpati ayah Lucas, dia paling brengsek dari semua orang yang kutemui. Belasan tahun meninggalkan Lucas dan ibunya, lalu saat kembali hanya ingin minta organ anaknya.

“Operasinya termasuk besar, tapi ini gue yang mau kok. Lo jangan benci ayah gue ya.”

“Ngomong apasih Cas.” tegurku. “Lo berasa bikin wasiat.”

“Hehehe nggak gitu, lo kayak punya seribu dendam sama ayah.”

“Hm, sebel dikit.”

“Kalau gue nggak selamat-”

“Kenapa ngomong gitu? Ini rumah sakit paling bagus di negara kita. Dokternya juga berpengalaman. Jangan ngomong macem-macem deh Cas. Nyebelin tau nggak.”

Lucas menghembuskan napas. Dia bersandar ke kursi sambil melepas cardigannya. Kemudian cardigan itu berakhir di pangkuanku.

“Suka banget pake rok pendek. Gue nggak jago berantem, gimana kalo lo kenapa-kenapa?”

“Gue bisa jaga diri Cas. Sabuk hitam taekwondo kalo lo lupa.”

“Iya juga. Yaudah, gue ganti. Gue pengen hajar cowok yang curi-curi pandang sama lo.”

Aku menggenggam jemarinya.

“Lo nggak bisa ngelak. Kali ini gue yakin, kita punya rasa yang sama. Kenapa lo nolak gue?” tanyaku serius.

“Nanti lagi ya, nama gue udah dipanggil.”

Menyebalkan.

Mengelak saja terus.

12 September ditahun yang menyenangkan

Gue bukan lelaki yang sempurna dan kalau dia berakhir sama gue, diapun jadi perempuan yang nggak sempurna.

Betul, rasa cinta gue mungkin lebih besar dari Juna. Tapi gue memutuskan, cukup gue dan Tuhan yang tau.

Tenang. Gue nggak marah sama dunia, gue bahagia bisa terus sahabatan sama dia. Dan akhirnya gue yang nemenin dia sampai saat ini.

12 September, dia resmi jadi istri Juna dan gue tetap jadi sahabat baik mereka.

12 September

Aku melihat Lucas pergi dari tempat resepsi. Dia berjalan cepat menjauhi kerumunan. Selang beberapa langkah, dia menoleh ke belakang kemudian tersenyum ke arahku. Itu senyum terakhir yang dia berikan sebelum menghilang bertahun-tahun.

#Varesh dan Alasannya

“Pak, ini jaket dan rokok yang saya temukan di mobil Mbak Eliana.” kata Gilang yang baru saja masuk ke ruangan Varesh.

“Tapi Pak-”

“Saya nggak nyuruh kamu ngasih pendapat atau saran ya Lang. Antar mobilnya besok pagi. Bilang saya ada urusan ke luar kota.”

Gilang mengangguk patuh. Dia segera pergi dari ruangan itu. Bosnya tidak dalam keadaan baik untuk menerima laporannya. Selama bertahun-tahun dia mengabdi, baru kali ini emosi Varesh tidak terkendali.

Biasanya, Varesh adalah orang yang tenang. Fokusnya tidak mudah terpecah. Tapi beberapa hari ini, hanya karena sebuah jaket dan rokok, Varesh bisa uring-uringan tidak jelas.

“Sialan!” umpat Varesh dari balik laptopnya.

Dia sedang mengukur sejauh mana Tiar akan bertindak setelah menghilang delapan tahun. Ternyata semua diluar perkiraannya. Rivalnya itu dengan percaya diri kembali menemui Eliana.

Seolah pengorbanan Varesh menjaga Eliana tidak ada artinya.

Jadi, mari tanyakan apakah semua hal yang telah dia usahakan untuk Ana masih kurang?

Varesh mendengus sebal, dia menutup laptop itu lalu melangkah menuju ruang pribadinya.

Ukurannya delapan kali delapan meter, penerangan minim mirip film suram yang menakutkan, dan tidak ada isian apapun. Hanya ada satu sofa, beberapa bungkus rokok dan ratusan foto yang menggantung indah di memenuhi ruangan itu.

Varesh selalu datang kesana setelah hari yang panjang. Hanya saja dua tahun ini dia absen demi menjawab satu pertanyaan.

Benarkah dia mencintai Eliana?

Bernakah Samira Eliana pantas untuk dia perjuangkan?

Pertanyaan bodoh bukan, padahal dia disisi Eliana sejak mereka duduk di bangku SMA. Melewati berbagai kegiatan osis, belajar bersama untuk masuk universitas, melewati pasang surut hubungan pertemanan dan berpisah sebentar untuk mengejar mimpi masing-masing.

Varesh melihat satu foto yang kebetulan nampak dimatanya. Foto itu menghadirkan sejuta kenangan. Dia mengambil potret tersebut saat Eliana berada di pemakaman ayahnya.

Hari itu begitu terik, Eliana tidak menangis. Gadis itu hampir terlihat puas.

“Semua udah selesai Resh.” gumam Eliana di depan makam ayahnya.

“Na, lo boleh nangis.” bujuk Varesh yang khawatir karena temannya sibuk menahan kepedihan.

“Nggak Resh, gue lega.”

“Na?”

“Hehehehe, gue sedihlah Resh. Gila aja kalo gue biasa aja. Tapi Resh, banyak orang berdoa sama Tuhan biar diambil nyawanya saking udah nggak kuat sama dunia ini. Ayah capek Resh.”

Batin Varesh ikut nyeri ketika akhirnya Eliana menangis habis-habisan dipelukannya. Temannya itu menahan ratapan ketika semua orang menangis tersedu-sedu. Maka setelah satu persatu pelayat pergi, barulah dia merapalkan semua kehilangannya dalam bentuk raungan yang terdengar menyayat hati.

Dia harus kokoh seperti batu yang tidak mudah hancur.

Eliana harus begitu, menjadi pelindung untuk ibu dan adiknya. Karena dia anak perempuan pertama, pengganti sosok sang ayah.

“Tenang aja Na, ada gue.” ucapnya dalam hati.

Entah sejak kapan dia mulai suka menjadi tempat bersandar Eliana.

#Dia Separuh, Aku Utuh

Aku bersyukur bisa melewati hari kemarin, tetap bertahan untuk hari ini dan mengharap keindahan untuk esok hari.

Aku ragu menghubunginya setelah pertengkaran yang terjadi dua hari lalu . Tanpa sengaja mulut lancangku menyebut kata perpisahan. Bukan memutuskan hubungan kami, tapi aku memberinya pertimbangan apakah hubungan kami terus berlanjut atau berakhir saja.

Sial. Aku menangis lagi seperti orang bodoh.

Dia bilang, “jangan gampang minta pisah. Dipikir aku nggak bisa ninggalin kamu?”

Yaaahhh, andaikan dia mau menjalani hubungan ini secara wajar maka aku tidak akan mengucap hal-hal menyakitkan itu. Dia pikir, bagaimana seorang 'aku' yang begitu bergantung padanya bisa mengucap perpisahan lebih dulu. Itu hanya akan menghancurkanku.

Aku masih ingat benar saat langit penuh bintang dan dia merangkulku lalu mengucap satu kalimat yang membuatku jatuh sedalam-dalamnya.

“Aku bersyukur kita bertemu. Kamu itu mengagumkan, seperti mimpi yang menjadi nyata.”

Lucas datang, dia tergesa membuka pintu kamar. Matanya mencari keberadaanku yang terbalut selimut dalam gelapnya kamar kami. Aku menatap siluetnya yang tampak lebih tinggi dan kekar dibanding Doyoung, pacarku.

“Berantem lagi? Kalo gue bilang kalian putus aja, gimana?”

“Abis itu lo nikahin gue. Terus setahun kemudian gue balik sama Doyoung karena gue masih cinta.”

“Mau?” tanyanya serius.

Aku segera melempar guling yang berakhir wajahnya.

“Ya nggaklah. Kasian ntar lo jadi duda.”

“Demi lo, nggak papa deh.” jawabnya kemudian disusul tawa karena aku sudah menggeram marah.

Aku jahat ya. Jelas-jelas statusku adalah pacar Doyoung tapi saat malam hari aku lebih sering menghabiskan beberapa gelas minuman bersama Lucas. Hubungan ini rumit. Kalau harus memilih, maka aku akan memutuskan untuk sendiri saja. Doyoung setengah hatiku, Lucas setengahnya lagi dan secara utuh itu adalah aku.

“Lo pernah liat bunga padi?”

Aku menggeleng sambil melirik Lucas yang kini menggulung lengan kemejanya. Kami sudah berpindah ke balkon. Ada segelas minuman hangat di tanganku.

Perlahan dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Lalu membisikkan sesuatu yang ingin sekali kusetujui.

“Mau liat bunga padi di Bali? Kita berdua.”

Apa ini ajakan yang sama, seperti-

Mau lihat kupu-kupu di rumahku?

Hm, aku harus menjawab apa kalau setelahnya ada email masuk berisi tiket keberangkatan ke Bali. Tentu saja aku mengiyakan.

Wajahku memerah karena kesal. Tanganku mengepal erat saking tidak kuat menahan gejolak untuk menjambak rambut seorang wanita aneh yang kini duduk di hadapanku. Orang gila, sebaiknya kusebut dia begitu. Dia tiba-tiba datang lalu membicarakan pacarku dengan mulut baunya.

“Lo pernah kena pecahan gelas?”

Dia menggeleng.

Oh ternyata belum.

“Mau coba rasain nggak waktu mulut lo kena pecahan gelas?” tanyaku sambil tersenyum manis.

“Lo psikopat ya?”

“Bisa jadi?”

“Doyoung itu suami gue. Tolong, kalo lo masih punya hati. Biarin anak kami tumbuh di keluarga yang sehat. Setidaknya demi anak gue. Tolong.”

“Hahaha, lo tau nggak sih? Yang rebut Doyoung itu lo. Gue sama dia udah tiga tahun pacaran dan ditahun kedua lo dateng dengan muka menjijikan itu.”

Doyoung datang setengah jam setelah wanita itu pergi. Dia melempar senyum manis ketika mata kami bertemu. Doyoung menarik kursi lalu duduk dengan tenang. Dia memberikan buket mawar merah berserta tiga buah coklat.

“Maaf. Aku harusnya nggak semarah itu. Aku takut banget kita pisah.” ucapnya pelan, jemarinya sibuk mengait satu sama lain. Dia gugup.

“Doy, tau nggak kenapa kita bertahan?”

Dia diam.

“Kita cuma terlalu cinta sama apa yang udah kita tulis selama tiga tahun ini. Kita sekedar nunda perpisahan 'kan?” tanyaku lagi.

“Aku dateng bukan buat ngomongin ini. Aku mau minta maaf dan perbaikin hubungan kita yang sempet renggang.” tegasnya.

Aku terkekeh sambil mengangkat tanganku seolah menepis ucapannya.

“Terlambat. Udahlah, kita pisah aja. Buat apasih lo masih sama gue, mending urusin istri lo. Anak kalian udah satu tahun loh, nggak malu?”

Wajahnya memucat, dia kelabakan sampai bingung ingin mengucap apa. Aku tidak mau menunggu, kuraih tas beserta bunga dan coklat yang tadi dia berikan.

“Makasih bunga dan coklat terakhirnya. Jangan ganggu gue lagi atau keluarga besar lo tau kelakuan bejat orang yang mereka banggain selama ini.”

“Nggak usah khawatir, gue nggak bakal nangis-nangis. Sekarang gue udah bahagia.”

Bohong.

Mana bisa aku bahagia setelah mengetahui dua tahun ini kekasihku menikah diam-diam. Persetan dengan status sosial, memangnya kenapa kalau aku anak pelacur? Hahahaha, kenapa orang memandangku seperti sampah? Pacarku sendiri malu mengakuiku di depan keluarganya. Jadi aku ini selingkuhan atau yang diselingkuhi?

Pukul empat pagi di Pulau Bali.

Aku kembali menyelam ke dalam air. Kurasakan belaian lembut mengenai setiap jengkal kulitku. Menenangkan sekali mendapat pijatan gratis dari air yang kini memelukku hangat. Kami sudah bersama sejak satu jam tadi.

“Naik.” seru Lucas dari kejauhan. Dia berdiri di ambang pintu sambil melepas kaos dan celana panjangnya.

“Jangan ikut masuk. Lo bisa sakit!” seruku lalu berenang ke ketepian.

“Ya makanya lo naik.”

“Lo kenapa lepas baju?”

“Lo lepas baju juga.”

Aku mendengus sebal. Pembicaraan aneh pukul empat pagi. Jadi menurutnya aku harus berenang sambil memakai piyama?

Setengah jam kemudian kami sudah berpindah ke atas ranjang. Lucas kembali mengenakan pakaiannya dan aku mengenakan bathrobe yang terikat asal. Tangan Lucas telaten mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Lalu dia memberikan pelukan padaku dan membisikkan kalimat ini.

“Gue udah ketemu banyak cewek, tapi lo masih yang paling cantik.”

“Cas, udah deh. Gue males digombalin.”

“Ini beneran. Tau nggak sih gue sengaja pergi ke banyak negara buat buktiin lo yang paling cantik.”

“Terserah. Gue mau tidur.”

“Eh kok tidur?”

Aku menggeram sebal.

“Yaudah tidur, sambil pelukan ya?” ucapnya kemudian ketika menyadari aku memang mengantuk.

Lebih baik kuiyakan, daripada dia merengek sampai pagi.

Kutatap wajah tampannya yang tengah tertidur begitu lelap. Rasa bersalah perlahan naik ke kerongkonganku. Air mataku berjatuhan ke bantal empuk yang kini kami gunakan bersama. Bahkan sampai hari ini aku menganggapnya sebagai Doyoung dalam versi yang kuidam-idamkan. Selalu ada nama Doyoung disamping namanya. Selalu ada bayangan Doyoung setiap kali kami berpelukan hangat.

Apa aku terlalu jahat?

Semoga tidak.

Tidak lama terdengar notifikasi dari ponselnya. Aku segera meraih ponsel yang kebetulan berada di dekatku.

Sayang, kamu kerja di luar kota berapa hari? Tadi ayah nanyain, katanya mau bahas tanggal pernikahan kita.

Aku menelan ludah. Jadi, aku diselingkuhi oleh selingkuhanku?

#Dia Separuh, Aku Utuh

Aku bersyukur bisa melewati hari kemarin, tetap bertahan untuk hari ini dan mengharap keindahan untuk esok hari.

Aku ragu untuk menghubunginya setelah pertengkaran yang terjadi dua hari lalu . Tanpa sengaja mulut lancangku menyebut kata perpisahan. Bukan memutuskan hubungan kami, tapi aku memberinya pertimbangan apakah hubungan kami terus berlanjut atau berakhir saja.

Sial. Aku menangis lagi seperti orang bodoh.

Dia bilang, “jangan gampang minta pisah. Dipikir aku nggak bisa ninggalin kamu?”

Yaaahhh, andaikan dia mau menjalani hubungan ini secara wajar maka aku tidak akan mengucap hal-hal menyakitkan itu. Dia pikir, bagaimana seorang 'aku' yang begitu bergantung padanya bisa mengucap perpisahan lebih dulu. Itu hanya akan menghancurkanku.

Aku masih ingat benar saat langit penuh bintang dan dia merangkulku lalu mengucap satu kalimat yang membuatku jatuh sedalam-dalamnya.

“Aku bersyukur kita bertemu. Kamu itu mengagumkan, seperti mimpi yang menjadi nyata.”

Lucas datang, dia tergesa membuka pintu kamar. Matanya mencari keberadaanku yang terbalut selimut dalam gelapnya kamar kami. Aku menatap siluetnya yang tampak lebih tinggi dan kekar dibanding Doyoung, pacarku.

“Berantem lagi? Kalo gue bilang kalian putus aja, gimana?”

“Abis itu lo nikahin gue. Terus setahun kemudian gue balik sama Doyoung karena gue masih cinta.”

“Mau?” tanyanya serius.

Aku segera melempar guling yang berakhir wajahnya.

“Ya nggaklah. Kasian ntar lo jadi duda.”

“Demi lo, nggak papa deh.” jawabnya kemudian disusul tawa karena aku sudah menggeram marah.

Aku jahat ya. Jelas-jelas statusku adalah pacar Doyoung tapi saat malam hari aku lebih sering menghabiskan beberapa gelas minuman bersama Lucas. Hubungan ini rumit. Kalau harus memilih, maka aku akan memutuskan untuk sendiri saja. Doyoung setengah hatiku, Lucas setengahnya lagi dan secara utuh itu adalah aku.

“Lo pernah liat bunga padi?”

Aku menggeleng sambil melirik Lucas yang kini menggulung lengan kemejanya. Kami sudah berpindah ke balkon. Ada segelas minuman hangat di tanganku.

Perlahan dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Lalu membisikkan sesuatu yang ingin sekali kusetujui.

“Mau liat bunga padi di Bali? Kita berdua.”

Apa ini ajakan yang sama, seperti-

Mau lihat kupu-kupu di rumahku?

Hm, aku harus menjawab apa kalau setelahnya ada email masuk berisi tiket keberangkatan ke Bali. Tentu saja aku mengiyakan.

Wajahku memerah karena kesal. Tanganku mengepal erat saking tidak kuat menahan gejolak untuk menjambak rambut seorang wanita aneh yang kini duduk di hadapanku. Orang gila, sebaiknya kusebut dia begitu. Dia tiba-tiba datang lalu membicarakan pacarku dengan mulut baunya.

“Lo pernah kena pecahan gelas?”

Dia menggeleng.

Oh ternyata belum.

“Mau coba rasain nggak waktu mulut lo kena pecahan gelas?” tanyaku sambil tersenyum manis.

“Lo psikopat ya?”

“Bisa jadi?”

“Doyoung itu suami gue. Tolong, kalo lo masih punya hati. Biarin anak kami tumbuh di keluarga yang sehat. Setidaknya demi anak gue. Tolong.”

“Hahaha, lo tau nggak sih? Yang rebut Doyoung itu lo. Gue sama dia udah tiga tahun pacaran dan ditahun kedua lo dateng dengan muka menjijikan itu.”

Doyoung datang setengah jam setelah wanita itu pergi. Dia melempar senyum manis ketika mata kami bertemu. Doyoung menarik kursi lalu duduk dengan tenang. Dia memberikan buket mawar merah berserta tiga buah coklat.

“Maaf. Aku harusnya nggak semarah itu. Aku takut banget kita pisah.” ucapnya pelan, jemarinya sibuk mengait satu sama lain. Dia gugup.

“Doy, tau nggak kenapa kita bertahan?”

Dia diam.

“Kita cuma terlalu cinta sama apa yang udah kita tulis selama tiga tahun ini. Kita sekedar nunda perpisahan 'kan?” tanyaku lagi.

“Aku dateng bukan buat ngomongin ini. Aku mau minta maaf dan perbaikin hubungan kita yang sempet renggang.” tegasnya.

Aku terkekeh sambil mengangkat tanganku seolah menepis ucapannya.

“Terlambat. Udahlah, kita pisah aja. Buat apasih lo masih sama gue, mending urusin istri lo. Anak kalian udah satu tahun loh, nggak malu?”

Wajahnya memucat, dia kelabakan sampai bingung ingin mengucap apa. Aku tidak mau menunggu, kuraih tas beserta bunga dan coklat yang tadi dia berikan.

“Makasih bunga dan coklat terakhirnya. Jangan ganggu gue lagi atau keluarga besar lo tau kelakuan bejat orang yang mereka banggain selama ini.”

“Nggak usah khawatir, gue nggak bakal nangis-nangis. Sekarang gue udah bahagia.”

Bohong.

Mana bisa aku bahagia setelah mengetahui dua tahun ini kekasihku menikah diam-diam. Persetan dengan status sosial, memangnya kenapa kalau aku anak pelacur? Hahahaha, kenapa orang memandangku seperti sampah? Pacarku sendiri malu mengakuiku di depan keluarganya. Jadi aku ini selingkuhan atau yang diselingkuhi?

Pukul empat pagi di Pulau Bali.

Aku kembali menyelam ke dalam air. Kurasakan belaian lembut mengenai setiap jengkal kulitku. Menenangkan sekali mendapat pijatan gratis dari air yang kini memelukku hangat. Kami sudah bersama sejak satu jam tadi.

“Naik.” seru Lucas dari kejauhan. Dia berdiri di ambang pintu sambil melepas kaos dan celana panjangnya.

“Jangan ikut masuk. Lo bisa sakit!” seruku lalu berenang ke ketepian.

“Ya makanya lo naik.”

“Lo kenapa lepas baju?”

“Lo lepas baju juga.”

Aku mendengus sebal. Pembicaraan aneh pukul empat pagi. Jadi menurutnya aku harus berenang sambil memakai piyama?

Setengah jam kemudian kami sudah berpindah ke atas ranjang. Lucas kembali mengenakan pakaiannya dan aku mengenakan bathrobe yang terikat asal. Tangan Lucas telaten mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Lalu dia memberikan pelukan padaku dan membisikkan kalimat ini.

“Gue udah ketemu banyak cewek, tapi lo masih yang paling cantik.”

“Cas, udah deh. Gue males digombalin.”

“Ini beneran. Tau nggak sih gue sengaja pergi ke banyak negara buat buktiin lo yang paling cantik.”

“Terserah. Gue mau tidur.”

“Eh kok tidur?”

Aku menggeram sebal.

“Yaudah tidur, sambil pelukan ya?” ucapnya kemudian ketika menyadari aku memang mengantuk.

Lebih baik kuiyakan, daripada dia merengek sampai pagi.

Kutatap wajah tampannya yang tengah tertidur begitu lelap. Rasa bersalah perlahan naik ke kerongkonganku. Air mataku berjatuhan ke bantal empuk yang kini kami gunakan bersama. Bahkan sampai hari ini aku menganggapnya sebagai Doyoung dalam versi yang kuidam-idamkan. Selalu ada nama Doyoung disamping namanya. Selalu ada bayangan Doyoung setiap kali kami berpelukan hangat.

Apa aku terlalu jahat?

Semoga tidak.

Tidak lama terdengar notifikasi dari ponselnya. Aku segera meraih ponsel yang kebetulan berada di dekatku.

Sayang, kamu kerja di luar kota berapa hari? Tadi ayah nanyain, katanya mau bahas tanggal pernikahan kita.

Aku menelan ludah. Jadi, aku diselingkuhi oleh selingkuhanku?

#Gerimis Malam Hari

Anna memasuki area konser. Dia membawa selembar tiket yang diberikan Jisung beberapa hari lalu. Wajahnya menahan senyum takala mengingat bagaimana Jisung datang ke rumahnya membawa banyak makanan. Katanya untuk calon mertua.

Cara Jisung bercanda masih sama. Lelaki itu gemar melempar kalimat asal yang terkadang mengetuk perasaan Anna untuk berkembang menjadi cinta.

Konser sudah dimulai. Tulus selesai menyanyikan lagu 1000 Tahun Lamanya.

“Kak.” sapa Jisung pada Anna yang masih di berada di luar.

“Maaf, tadi macet banget. Kenapa nggak masuk duluan?”

Anna menggeleng. Dia mengulurkan sebotol air minum. Dilihatnya peluh Jisung bercucuran, pasti tadi dia berlari kesini.

“Enggak. Nunggu kamu aja, aku takut juga kalo masuk sendirian. Nih, minum dulu.”

“Makasih Kak. Yaudah yuk, keburu ketinggalan banyak lagu.”

Jisung mengepalkan jemarinya saat sudah berada di dalam tempat konser. Lampu panggung tampak terang benderang. Tulus terlihat mudah menyanyikan lagu Sepatu. Jisung jadi teringat masa-masa kuliah saat dia dan Anna sering kemana-mana berdua. Dia jadi gugup, ditambah penampilan Anna malam ini yang sangat cantik.

“Tau lagunya?” tanya Jisung di telinga Anna.

“Tau beberapa.” jawab Anna setengah berteriak.

Jisung mendengarkan lagu-lagu berikutnya dengan gelisah.

Sekarang Tulus menyanyikan lagu Sewindu. Bagai sindiran, Anna dan Jisung menjadi canggung. Mereka diam-diam saling melirik.

“Udah jam sembilan.”

Anna mengangguk. “Iya, kamu besok ke kampus? Kalo iya, kita pulang sekarang aja. Takutnya macet.”

“Nggak kok Kak, aku udah jarang ke kampus.”

“Oh, oke deh.”

Tempat mereka berdiri minim pencahayaan. Orang-orang berusaha mendekat ke panggung. Sedangkan Anna dan Jisung memilih tempat yang nyaman untuk berdiri sambil menikmati lagu.

Tak disangka, malam itu gerimis yang cukup lebat turun ditengah-tengah konser. Tulus sedang menyanyikan Teman Hidup ketika banyak orang mencari tempat berteduh agar tidak basah oleh air hujan.

Jisung melepas jaket yang dia kenakan. Segera dia bentangkan jaket itu untuk melindungi kepala mereka dadi gerimis. Jantungnya berdegub kencang ketika lirik demi lirik Tulus nyanyikan.

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku.

“Kak?”

Anna menoleh. Jarak mereka begitu dekat.

“Ya?”

Satu tangan Jisung meraih bunga mawar yang sejak satu jam lalu dia selipkan di saku belakang.

Berdua kita hadapi dunia.

“Kak, maaf. Tapi perasaan gue ke lo lebih dari temen. Silakan tampar gue setelah ini.”

Kau milikku ku milikmu. Kita satukan tuju. Bersama arungi derasnya waktu.

Jisung bersyukur disekelilingnya cukup gelap. Bibirnya tidak berhenti tersenyum saat Anna membalas ciumannya. Dia membiarkan jaketnya terjatuh. Mereka melanjutkan kegiatan itu dalam rintik hujan yang semakin deras.

Anna terhanyut, dia tidak tau kalau Jisung bisa sangat candu. Badan kekar lelaki itu merengkuh tubuhnya. Dia sempurna berada didekapan Jisung. Tangannya gelisah, dia meremas setangkai mawar yang tadi diberikan kekasihnya.

Malam itu mereka meresmikan status baru.

“Merah banget mukanya.” komentar Jisung saat mereka sudah di dalam mobil.

“Apasih. Ngledek terus.”

“Boleh kan Ann?”

“Ih, kok Anna. Nggak pake Kak.”

“Males ah, bertahun-tahun manggil Kak jadi kejebak kakak-adik zone.”

“Yaudah deh, silakan aja.”

“Marah?”

Anna menggeleng.

“Marah ya sayang?”

“Enggak Ji!”

“Mukanya makin merah. Jadi pengen cium lagi.”

“Jisung! Siapa sih yang ngajarin.”

“Hahahaha, bercanda Kak. Maaf.”

“Kok Kak lagi?”

“Maunya apa? Yaudahlah sayang aja. Gimana sayang mau pulang ke kosku apa ke rumahmu?”

“Jisung! Pikirannya ih!”

“Emang apaan? Siapa tau mau mampir ke kosku ketemu Haechan atau Jay. Hayooo mikir apa tadi?”

Wajah Anna kembali memerah. Dia menunduk malu. Sial sekali, Jisung ternyata pintar menggoda.

“Hahahaha, malu banget ya sayang? Maaf deh, maaf.” Jisung kembali memeluk Anna.

#Penyesalan Selalu Diakhir

Jisung menarik tangan Rasya yang hampir terserempet motor. Matanya menatap tajam gadis yang kini tersenyum malu-malu.

“Lo kalo modus jangan gitu. Basi.” seru Jisung dengan emosi yang sudah dia tahan sejak tadi pagi.

“Kak, aku nggak modus kok.” kata Rasya dengan wajah seimut mungkin.

“Terserah.”

Sebulan ini dia hidup berantakan. Pagi berangkat kuliah, sore merenung di warung kopi dan malam hari selalu dia manfaatkan untuk melihat Anna dari jauh. Sekarang Hendery yang selalu bersama Anna. Lelaki itu menggantikan posisinya.

“Lo mending ngobrol sama Kak Anna. Dia juga bingung tiba-tiba lo ngilang gini.” nasihat Haechan malam itu saat Jisung bergelung dibalik selimutnya.

“Diem. Tau apa lo.”

“Njing, gue yang nemenin lo ngebucin dia dua tahun ini. Ada apa-apa tuh diobrolin. Gue yakin dia belum jadian sama si Hendery.”

“Gue keliatan peduli gitu?”

Haechan menjejak punggung Jisung sampai lelaki itu jatuh dari tempat tidur. “Bodo amat. Nyesel juga lo sendiri bukan gue.”

Entah perasaan Jisung terbuat dari apa. Sebulan ini dia sering menangis ditengah malam. Untung saja dia sendirian. Betapa malunya dia kalau Haechan atau mamanya tau dia selemah ini.

“Gue kangen. Anjing, gue kangen banget sama lo Kak.”

“Gue nggak bisa kalo harus jadi temen lo, sedangkan lo sama Hendery pacaran.”

Siang itu Jisung memberikan pesan pada Jay, adik angkatannya yang kebetulan sedang libur, supaya menolak siapapun yang datang ke kos.

“Beneran bang? Lo nggak papa kan?”

“Nggak. Gue cuma pengen tidur. Awas lo bangunin gue.”

“Iya bang.”

Anna naik ke mobil Hendery, dia meletakkan beberapa buku di kursi belakang.

“Cuma itu Ann? Kalo ada lagi gue bantu bawa.”

“Cuma ini kok Hen. Makasih ya.”

“Santai aja kali. Daripada lo naik grab car, mending duitnya disimpen.”

“Iya Hen.”

Hendery dan Anna saling diam. Mereka mendengarkan radio yang kebetulan memutar lagu Eclat berjudul Bentuk Cinta.

“Lo tau nggak bentuk cinta versi gue itu apa?” tanya Hendery tiba-tiba.

“Nggak tau.”

“Tanya coba.”

“Bentuk cinta versi lo apa Hen?”

“Lo. Bentuk cinta gue itu lo.”

Anna segera menatap mata Hendery. “Bercanda lo nggak lucu. Gue nggak suka bercandaan kayak gitu.”

“Tapi-”

“Bisa lebih cepet nggak? Udah hampir shift gue nih.”

Jelas sudah. Anna selama ini memberikan batasan untuk hubungan mereka.

Jam setengah sebelas malam. Jay sedang duduk di depan kosnya sambil bermain gitar.

Seperti kejadian yang direncanakan, Anna datang ke kos Jisung. Dia membawa sekotak kue dan camilan kesukaan temannya itu.

“Permisi, Jisung ada?”

“Nggak ada. Pulang ke rumahnya.”

“Dari kapan? Kenapa nomornya nggak aktif ya?”

“Kurang tau.” jawab Jay seadanya.

“Oh, makasih ya. Boleh titip pesen nggak, tolong bilang ke Jisung buat hubungin Anna.”

“Iya. Nanti gue bilang orangnya.”

Sayangnya sampai satu bulan kemudian, Jay lupa akan pesan itu. Setelah Anna datang, dia mendapat kabar bahwa neneknya meninggal. Jadi, pesan Anna tidak tersampaikan.

“Semester 6 bro. Kisah cinta lo udah hangus dari tiga bulan lalu. Masih galau aja.” ucap Haechan di hari pertama bertemu Jisung di kampus setelah libur cukup panjang.

“Diem. Gue males ngomong.”

“Gue bilang, temuin dia. Obrolin semuanya. Tanya dia punya rasa yang sama kayak lo apa nggak. Simpelnya lo ngaku ajalah kalo suka, masalah ditolak apa diterima pikirin nanti aja.”

“Susah.”

“Susah kalo lo nggak ngambil langkah. Lo cuma butuh nyoba. Sumpah Ji, lo bakalan nyesel kalo nggak nyoba.”

Jisung mengabaikan ucapan Haechan. Dia lebih memilih naik ke motornya lalu melaju pergi melepas rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.

Hari wisuda Anna.

Setelah serangkaian acara, Anna langsung pulang bersama kedua orang tuanya. Hari ini dia sekaligus pindah dari kos. Cerita masa kuliahnya sempurna berakhir.

“Bang, gue lupa banget!” teriak Jay di dalam kamar Jisung.

“Beneran bang, gue mohon maaf. Pas itu ada cewek nyariin lo. Namanya Anna, nitip pesen suruh hubungin dia.”

“Anjing, kapan? Dia ke kos?”

“Iya, waktu lo bilang nggak mau diganggu. Gue bilang lo pulang ke rumah. Dia titip pesen suruh hubungin tapi gue nggak sempet ngomong sama lo. Sorry bang, gue lupa.”

“Sialan. Kenapa baru ngomong sekarang.”

Jisung menyambar jaketnya. Dia berlari ke luar kamar, menyalakan motor lalu secepat mungkin menuju kos Anna.

“Please, jangan pergi dulu Kak. Tuhan, tolong kasih kesempatan buat gue ngomong ke dia.” doanya sungguh-sungguh.

Sia-sia.

Anna terlanjur pergi. Kosnya sudah kosong sejak satu jam lalu saat Jisung sampai disana. Jisung tidak menangis, dia hanya berdiri termenung di depan pintu. Kenangannya bersama Anna di tempat itu seperti diputar ulang.

“Jisung, nggak usah. Aku bisa sendiri kok.”

“Berat Kak, gue aja yang bawain ke dalem.”

“Ya udah, makasih ya.”

“Iya Kak. Lo nunggu di luar aja, jangan masuk ke dalem. Hukumnya dilarang.”

“Hah? Kenapa?”

“Karena lo dan gue adalah kita.”

Anna terkekeh, dia tidak bisa memahami ucapan Jisung.

“Kak, kok lo betah jomblo?”

“Aneh ya kalo aku jomblo?”

“Dikit sih. Lo kan cantik.”

“Biasa aja, banyak yang lebih cantik.”

“Jadi kenapa lo jomblo Kak? Naksir gue ya?”

“Ih, pede banget. Enggaklah, kamu udah kayak adekku Ji.”

“Oh, adek ya?”

“Iyaaaa!”


“Nyet, konser Tulus gaslah.” ajak Haechan siang itu.

“Males.” timpal Jisung.

“Siapa yang ngajak lo?”

“Nggak usah ganggu. Gue lagi nyicil skripsi.”

Haechan merogoh saku jaketnya. Ada tiga lembar kertas. Satu bertuliskan alamat dan dua lainnya adalah tiket konser.

“Ngeri gue, lama-lama lo bisa mati gamon.”

“Hm.”

“Liat njing.” bentak Haechan sambil menunjuk kertas di samping laptop Jisung.

“Apaan?”

“Gue susah-susah nyari alamatnya. Jangan sampe lo jadi cupu. Samperin. Jelasin semuanya!” teriak Haechan sambil berjalan keluar dari kamar Jisung.

#Perjuangan Yang Percuma

Jisung sudah duduk di semester lima kuliahnya. Dia menghabiskan dua setengah tahun untuk menambah ilmu dan juga menambah luka batinnya. Bagaimana tidak, dia menjadi kecanduan Anna sejak mereka pertama kali bertemu di tempat foto kopi.

Saat itu dia menduga, perasaannya hanya sebatas kekaguman pada sosok Anna yang memiliki tutur kata baik.

“Maaf, boleh saya duluan? Ini tugas penting, harus dikumpul jam sepuluh.” ucap Anna penuh kekhawatiran.

“Silakan.”

Jisung yang hanya berkepentingan foto kopi tugas teman, segera menyingkir dari sana. Dia beralih duduk di kursi kecil sambil memainkan ponselnya.

“Cantik juga.” batinnya dalam hati ketika diam-diam melirik Anna.

“Buruan. Catetan gue mau dipinjem Alea juga.” seru Haechan dari atas motor.

“Sabar. Antri.”

“Antri darimana? Anjir, lo dateng pertama ya. Cewek depan lo tuh nyrobot antrian.” omel Haechan tanpa rem. Dia memandang tak suka ke arah Anna.

“Maaf, mulut temen saya emang seburuk-buruk yang ada di dunia.”

Anna tersenyum tipis, dia kemudian mengangguk. “Saya yang minta maaf. Temen kamu udah nungguin ya? Duh, gimana dong? Apa saya bilang ke mas foto kopiannya biar punyamu duluan?”

Jisung segera menggeleng. Dia membuat gesture menyuruh Anna tenang.

“Nggak usah dipikirin, dia lagi modus ke cewek. Oh ya, obrolan udah panjang. Rugi kalo nggak kenalan.”

“Saya Anna, semester tiga jurusan sastra indonesia.”

“Oh, sorry Kak. Kirain seangkatan.”

“Nggak papa. Nama kamu?”

“Jisung.”

“Oh iya, salam kenal.”

Jisung menelan ludah. Dia kembali melirik Anna yang sedang merapikan kertas-kertasnya.

Ngomong saya-kamu. Harusnya aku-kamu nggak sih?

“Saya duluan ya. Makasih bantuannya.”

“Iya Kak, salam buat Elsa. Tapi saya sukanya sama Anna sih. Hehehe.”

Jisung melirik jam tangannya. Seharusnya saat ini Anna sudah keluar dari cafe tempatnya melakukan kerja paruh waktu. Tadinya dia hendak masuk dan membantu Anna merapikan cafe, tapi gadis itu pasti akan marah. Katanya semua tanggung jawabnya dan dia tidak mau makan gaji buta.

Gaji buta apanya? Mana tega juga Jisung membiarkan gadis yang disukainya kelelahan seperti itu. Tapi kalau dia mengambil langkah nekat, bisa-bisa Anna tidak mau lagi bertemu dengannya.

Jisung bisa membawa mobil, tapi dia sangat suka motor. Apalagi naik motor dengan Anna. Setiap pulang dari cafe mereka akan berkeliling kota, mencari makanan enak lalu berbincang dalam keadaan perut terisi penuh. Biasanya dijam-jam itu, dia menemani Anna menulis beberapa puisi atau kalimat asal yang akan mereka diskusikan setengah jam berikutnya.

Masalahnya, meski Jisung sangat menyukai Anna. Gadis itu menganggap dirinya hanya adik angkatan yang kebetulan bersikap baik dan cocok dijadikan teman. Sedangkan Jisung menganggap Anna adalah sosok idamannya yang bertahun-tahun dia perjuangkan.

“Jisung sebentar ya? Ini Hendery mau ketemu dulu, katanya ngobrolin keuangan cafe.” ucap Anna dari telepon.

“Harus banget sekarang Kak? Ini udah malem.” jawabnya setengah protes.

“Bentar aja kok. Dia juga buru-buru. Nggak enak sama dia. Soalnya udah jauh-jauh kesini.”

“Ya udah Kak, gue tunggu di luar.”

Jisung menghitung waktu dalam gelisah. Dia tahu Hendery adalah saingan beratnya. Bukan rahasia lagi kalau Anna menaruh rasa pada lelaki itu. Sejak awal pertemuan mereka di cafe, tatapan Anna sempurna berubah. Tatapan itu baru pertama kali Jisung lihat selama mereka bertahun-tahun berteman.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Lo modus doang anjir.

Seru Jisung penuh emosi ketika melihat Hendery keluar dari cafe bersama Anna. Mereka tampak akrab. Anna sesekali tersenyum sambil melirik Hendery.

“Sialan, mentang-mentang seangkatan.” umpat Jisung penuh emosi.

“Nggak usah modus! Kak Anna maunya sama gue!” pekiknya tertahan. Di sebrang sana Hendery melepas hoodienya lalu diberikan pada Anna. Gadis pujaan Jisung menggeleng berkali-kali tapi entah bagaimana akhirnya mau juga memakai hoodie itu.

“Anjir, modus kampungan.” geram Jisung tertahan.

“Kak, pulang! Aku udah laper banget.” teriaknya dari atas motor.

“Kak, aku love love kamu 3000 masih dikali 1000 lagi.”

Ah ya, dia sudah gila. Biar saja Hendery dan Anna menganggapnya aneh. Adegan romantis mereka berakhir, itu yang terpenting.

“Bau hoodie si Hendery!” pungkasnya saat dia dan Anna berboncengan menyusuri jalanan dekat kos Anna.

“Apasih Ji, enggak kok. Hoodienya wangi. Dia kating kamu ya Ji, yang sopan.”

“Belain aja terus Kak. Gue turunin disini nih?”

“Ya turunin aja. Aku tinggal jalan ke depan. Kan kamu yang selama ini maksa jemput. Aku bisa naik go-”

“Kak, kalo gue pacaran sama Rasya gimana?”

Deg.

Anna tidak menjawab. Di sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. Iya juga, selama ini dia tidak terpikir. Bagaimana kalau Jisung punya pacar, dia pasti kehilangan adik sekaligus teman tersayangnya.

Satu minggu terlewat. Hari ini Jisung kelimpungan. Dia berlari ke kamar kos Haechan.

“Pinjem hp.” teriaknya pada Haechan yang sedang berada di kamar mandi.

“Nggak! Taroh woi, jangan pegang hp gue!”

“Orang pelit pacarannya nggak langgeng. Lo nggak usah sok, gue yang bikin lo bisa jadian sama Alea.”

“Buruan. Awas lo abisin pulsa gue.”

Jisung menelepon nomor Anna yang sudah dia hafal di luar kepala. Dua kali menelepon masih belum dijawab. Jam sembilan malam, satu jam lagi Anna pulang tapi Jisung tidak bisa menjemput. Dia ada rapat dengan anak-anak organisasi.

“Kak? Kak Anna? Ini gue, Jisung pake hp Haechan.”

“Kak, lo sakit ya? Lagi dimana, nggak kerja kan?”

“Kenapa kerja sih. Selalu deh lo itu maksain diri.”

Pukul enam pagi Jisung berkendara ke kos Anna. Dia membawa bubur yang semalam pukul dua pagi diambil dari rumahnya. Meski memakan waktu empat jam untuk bolak-balik, dia merasa itu ringan daripada melihat Anna sakit dan tidak sempat makan.

Hal gila yang Jisung lakukan adalah, dia menelepon mamanya pukul satu malam, meminta tolong dibuatkan bubur dan wedang jahe. Nama Haechan dia pinjam untuk dijadikan alasan.

“Haechan sakit Ma, kasian banget. Nggak mau makan apa-apa. Maunya bubur buatan mama sama wedang jahe yang sering mama bikin waktu aku flu.”

Dunia tidak semanis itu untuk kisah cintanya. Sial sekali. Sekarang dia baru merasakan dingin dan ngilu di relung hatinya.

Angin jam setengah tujuh pagi menerpa wajahnya. Jisung memandang nanar pemandangan pahit yang tersaji di depannya. Harusnya dia tidak usah repot-repot. Sudah ada Hendery disana, dia bahkan bisa membuat wajah pucat Anna menyunggingkan senyum.

Seperti ini ya rasanya patah hati?

Padahal belum juga dia memulai.

Jisung terkekeh, dia mengusap matanya. Ternyata dia bisa menangis karena seorang wanita.