Bealif

#Pengakuan Yang Tertunda

“Cantik. Semangat ujiannya.” seru Lucas dari pintu masuk. Hari ini kami sama-sama ujian kelulusan. Sayangnya ruangan kami berbeda, jadilah Lucas bolak-balik sejak tadi.

Ada-ada saja akalnya, mulai dari meminjam catatan sampai minta minum. Tidak ada yang curiga karena semua orang tahu Lucas adalah sosok seperti itu.

Hanya aku yang berbunga-bunga. Masih kuingat jelas saat kami berpelukan hari itu. Senyumku sempurna tercetak, soal matematika yang kukerjakan jadi dua kali lebih mudah.

“Hm, cuma lo sih yang abis ngerjain matik malah makin cantik.” godanya ketika kami bertemu di kantin. Dia berbisik di telingaku. “Tau nggak? Enggak ya?”

Aku terkekeh. Semua yang dia lakukan selalu lucu. Siapa yang bisa menahan pesona Lucas. Aku yakin banyak gadis di luar sana juga merasakan hal yang sama sepertiku jika berhadapan dengan Lucas.

“Ngalamunin apa sih? Bantuin bawa sotonya.” katanya setengah merajuk. “Lucas imut capek tauk.”

“Lucas!” bentakku sebal. Aku seperti ingin meledak. Tingkahnya benar-benar membuat jantungku terpacu tiga kali lebih cepat. Pasti wajahku memerah.

Ujian resmi berakhir. Kami tinggal menunggu hasilnya. Dalam jeda itu, aku sibuk belajar untuk ujian masuk universitas. Lucas tidak mengikutinya. Dia memutuskan ikut seleksi untuk masuk tentara.

Awalnya aku cukup khawatir. Pekerjaan itu terkenal memiliki seleksi ketat dan rumit. Juga, Lucas pernah mengalami cidera cukup parah di punggungnya.

“Gue nggak papa. Jangan khawatir gitu. Butuh didukung nih.” ucapnya sambil memelas.

Sore ini dia mampir ke rumah setelah satu minggu kami tidak bertemu karena dia sibuk mengurus berkas.

“Cas?”

Dia sedang makan sebungkus nasi padang. Perhatiannya tak teralihkan meski kupanggil. “Hm?” gumamnya dengan mulut penuh.

“Kapan seleksinya?”

“Bulan depan.”

“Susah ya? Emang lo nggak kepikiran jadi apa gitu, yang nggak usah pake perang segala.”

Lucas tertawa mendengar ucapanku barusan. Dia meletakkan bungkus nasi padang yang sudah kosong. “Perang darimana? Hahahaha, lo parno banget deh.”

“Cas, katanya kalo tentara sukanya sama perawat atau dokter. Gue kan-”

Dia mendengus sebal. “Tipe gue itu lo. Apapun profesi lo, ya itu tipe ideal gue. Nggak sih, profesi utama lo jadi ibu dari anak-anak gue.”

Mataku membola. Apa tadi dia melamarku?

“Gue nggak nglamar lo. Jadian aja belom.” katanya setengah marah.

“Terima cinta gue dong. Lo mah ngegantungin mulu. Kapan kita jelas statusnya?” protes Lucas sambil menggenggam kedua tanganku.

“Emangnya kita belum jadian. Kan pas itu udah pelukan.”

“Hah? Jangan bilang-” ucapannya tak berlanjut. Dia membungkam mulutnya sendiri. Matanya melotot menatap tak percaya.

“Lo tidur ya waktu kita telfonan dua bulan lalu. Gimana sih? Gue kira lo emang gantungin gue.” omelnya dibarengi kakinya yang menjejak ke udara.

“Gue nembak lo pas ditelfon. Udah gue kasih puisi paling oke. Gue bertapa di kamar mandi dua hari full. Nggak ngehargain usaha gue.”

“Cas, kenapa lo nggak ngomong paginya? Gue ketiduran pas itu. Lo juga kenapa ada orang nggak jawab bukannya ditanyain lagi malah lanjut aja.”

“Ya kirain lo butuh waktu.” belanya.

“Ya terus gimana?” tanyaku sebal.

“Yaudah tunggu. Masa iya gue nembak kayak gini. Abis makan nasi padang juga.”

“Emang kenapa kalo abis makan nasi padang?”

“Nggak bisa nyium lo!”

Ah sialan. Aku langsung salah tingkah. Dasar orang aneh. Bisa-bisanya berucap seperti itu di depanku. Dia terlalu jujur atau bagaimana sih?

Padahal, yaaaa aku tidak masalah dicium sekarang juga. Hehehehe.

September entah tahun keberapa kami saling mengenal.

Lucas mengetuk pintu rumahku. Dia janji datang saat hari liburnya. Aku membuka pintu dengan perasaan super bahagia. Akhirnya setelah sekian lama berpisah, aku bisa bertemu dengannya lagi.

“Hai, cantik.” sapa Lucas dengan senyum khasnya.

“Lama banget. Lo bilang jam satu. Ini udah jam tiga.” protesku yang sudah tidak kuat menahan rindu.

“Maaf, tadi macet. Salah gue juga bawa mobil.”

“Cas?”

“Hm?”

“Boleh peluk?” tanyaku tidak tau malu. Boleh tidak ya dia memelukku? Dia kan sedang memakai seragamnya. Siapa tau tidak boleh memeluk orang.

“Pertanyaan apasih? Gue udah lama nahan kangen. Masa iya nggak meluk lo.”

Dia membawaku ke pelukannya. Aku terkikik geli ketika dia mengendus rambutku. Lucas jadi tertawa juga, dia langsung melepas pelukan kami.

“Maaf, kelepasan.”

Ya Tuhan, kenapa Lucas malah terlihat imut begini.

“Masuk yuk, gue udah masak. Lo belum makan 'kan?”

“Belum. Spesial hari ini, gue bakalan makan apapun yang lo masak.”

Dia selalu pandai memperlakukanku. Aku merasa menjadi versi terbaik dari diriku, baik dulu saat kami masih sekolah maupun sekarang ketika kami lebih banyak komunikasi lewat ponsel.

“Gimana kuliahnya? Lancar?

“Lancar kok. Udah hampir selesai juga.”

“Bagus. Nggak salah gue suka sama lo. Selalu bikin kagum dan bangga.”

Ah ini lagi. Dia masih saja hobi menggodaku dengan kalimat-kalimat manis. Janjinya akan menyatakan perasaan lagi, tapi sampai sekarang tidak pernah dia lakukan.

“Mikirin apa? Nggak ikut makan?”

Aku melihat penampilannya. Dia sudah menjadi hebat. Lucas yang dulu terkenal main-main telah berubah jadi sosok mengagumkan. Aku sangat yakin, sekarang ini ponselnya penuh pesan dari gadis-gadis genit.

Dia masih memiliki perasaan yang sama tidak ya?

Apa aku masih menjadi orang yang ingin dia jadikan sebagai kekasih?

“Heh, lo kesambet ntar. Kenapa sih ngeliatin gue segitunya?”

Aku cepat-cepat menggeleng.

“Nggak papa. Heran aja sekarang lo botak.” kilahku untuk menyembunyikan salah tingkah.

“Hei. Lo mikirin apa? Mikirin gue sama cewek lain?”

Lucas menarik kursi yang kududuki, posisi kami jadi lebih dekat. Bahuku terbentur dadanya. Terasa begitu keras, Lucas benar-benar batu yang diberi nyawa.

“Coba liat gue.” perintahnya.

“Apa?”

Aku menoleh. Mata kami bertemu. Sorot netranya melunak, senyuman indah muncul di wajah rupawannya.

“Heh, cewek pinter. Dengerin gue ya. Kali ini lo nggak boleh ketiduran.” tegasnya.

Jemarinya terulur ke pipiku. Aku sedikit meringis ketika di memberikan sentuhan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

“Kita udah diusia dua puluhan. Gue bersyukur lo masih mau nunggu sampai sekarang. Maaf ya kalo gue lama. Maaf seakan-akan gue nggak serius.”

“Cantik, lo cantik banget sampai gue nggak ada waktu ngelirik cewek lain. Jangan khawatir lagi ya? Hari ini sampai seterusnya, gue jadi milik lo. Silakan miliki gue dan ayo kita buat cerita baru di halaman yang cuma ada gue dan lo.”

“C-cas?”

“Gue sayangggg banget sama lo.” teriaknya lantang.

Aku melambung tinggi ketika dia memberikan kecupan singkat di bibirku. Ternyata seperti ini ciuman pertama dengan orang yang kunanti-nanti. Seperti ada sengatan listrik di sekujur tubuhku. Rasanya aku bisa pingsan kalau saja dia tidak berlanjut memberikan pelukan hangat.

“Sekarang gelang dulu ya? Uang buat cincin masih gue usahain. Jangan ngelirik CEO, masih keren gue kemana-mana.” ancamnya galak.

Kali ini aku tertawa sangat keras. Dia masih Lucas teman SMA-ku. Bagaimana dia bisa berkata seperti itu padahal jam yang melingkar di pergelangan tangannya seharga mobil.

Apa kami bisa mempertahankan hubungan ini?

Ah, aku tidak tahu. Tidak peduli juga. Hari ini aku lebih memilih hanyut bersamanya. Semburat merah muncul di wajahnya saat aku mengambil langkah lebih dulu.

Lucas harus tahu aku telah lama terperangkap dalam pesonanya.

#Pengakuan Yang Tertunda

“Cantik. Semangat ujiannya.” seru Lucas dari pintu masuk. Hari ini kami sama-sama ujian kelulusan. Sayangnya ruangan kami berbeda, jadilah Lucas bolak-balik sejak tadi.

Ada-ada saja akalnya, mulai dari meminjam catatan sampai minta minum. Tidak ada yang curiga karena semua orang tahu Lucas adalah sosok seperti itu.

Hanya aku yang berbunga-bunga. Masih kuingat jelas saat kami berpelukan hari itu. Senyumku sempurna tercetak, soal matematika yang kukerjakan jadi dua kali lebih mudah.

“Hm, cuma lo sih yang abis ngerjain matik malah makin cantik.” godanya ketika kami bertemu di kantin. Dia berbisik di telingaku. “Tau nggak? Enggak ya?”

Aku terkekeh. Semua yang dia lakukan selalu lucu. Siapa yang bisa menahan pesona Lucas. Aku yakin banyak gadis di luar sana juga merasakan hal yang sama sepertiku jika berhadapan dengan Lucas.

“Ngalamunin apa sih? Bantuin bawa sotonya.” katanya setengah merajuk. “Lucas imut capek tauk.”

“Lucas!” bentakku sebal. Aku seperti ingin meledak. Tingkahnya benar-benar membuat jantungku terpacu tiga kali lebih cepat. Pasti wajahku memerah.

Ujian resmi berakhir. Kami tinggal menunggu hasilnya. Dalam jeda itu, aku sibuk belajar untuk ujian masuk universitas. Lucas tidak mengikutinya. Dia memutuskan ikut seleksi untuk masuk tentara.

Awalnya aku cukup khawatir. Pekerjaan itu terkenal memiliki seleksi ketat dan rumit. Juga, Lucas pernah mengalami cidera cukup parah di punggungnya.

“Gue nggak papa. Jangan khawatir gitu. Butuh didukung nih.” ucapnya sambil memelas.

Sore ini dia mampir ke rumah setelah satu minggu kami tidak bertemu karena dia sibuk mengurus berkas.

“Cas?”

Dia sedang makan sebungkus nasi padang. Perhatiannya tak teralihkan meski kupanggil. “Hm?” gumamnya dengan mulut penuh.

“Kapan seleksinya?”

“Bulan depan.”

“Susah ya? Emang lo nggak kepikiran jadi apa gitu, yang nggak usah pake perang segala.”

Lucas tertawa mendengar ucapanku barusan. Dia meletakkan bungkus nasi padang yang sudah kosong. “Perang darimana? Hahahaha, lo parno banget deh.”

“Cas, katanya kalo tentara sukanya sama perawat atau dokter. Gue kan-”

Dia mendengus sebal. “Tipe gue itu lo. Apapun profesi lo, ya itu tipe ideal gue. Nggak sih, profesi utama lo jadi ibu dari anak-anak gue.”

Mataku membola. Apa tadi dia melamarku?

“Gue nggak nglamar lo. Jadian aja belom.” katanya setengah marah.

“Terima cinta gue dong. Lo mah ngegantungin mulu. Kapan kita jelas statusnya?” protes Lucas sambil menggenggam kedua tanganku.

“Emangnya kita belum jadian. Kan pas itu udah pelukan.”

“Hah? Jangan bilang-” ucapannya tak berlanjut. Dia membungkam mulutnya sendiri. Matanya melotot menatap tak percaya.

“Lo tidur ya waktu kita telfonan dua bulan lalu. Gimana sih? Gue kira lo emang gantungin gue.” omelnya dibarengi kakinya yang menjejak ke udara.

“Gue nembak lo pas ditelfon. Udah gue kasih puisi paling oke. Gue bertapa di kamar mandi dua hari full. Nggak ngehargain usaha gue.”

“Cas, kenapa lo nggak ngomong paginya? Gue ketiduran pas itu. Lo juga kenapa ada orang nggak jawab bukannya ditanyain lagi malah lanjut aja.”

“Ya kirain lo butuh waktu.” belanya.

“Ya terus gimana?” tanyaku sebal.

“Yaudah tunggu. Masa iya gue nembak kayak gini. Abis makan nasi padang juga.”

“Emang kenapa kalo abis makan nasi padang?”

“Nggak bisa nyium lo!”

Ah sialan. Aku langsung salah tingkah. Dasar orang aneh. Bisa-bisanya berucap seperti itu di depanku. Dia terlalu jujur atau bagaimana sih?

Padahal, yaaaa aku tidak masalah dicium sekarang juga. Hehehehe.

September entah tahun keberapa kami saling mengenal.

Lucas mengetuk pintu rumahku. Dia janji datang saat hari liburnya. Aku membuka pintu dengan perasaan super bahagia. Akhirnya setelah sekian lama berpisah, aku bisa bertemu dengannya lagi.

“Hai, cantik.” sapa Lucas dengan senyum khasnya.

“Lama banget. Lo bilang jam satu. Ini udah jam tiga.” protesku yang sudah tidak kuat menahan rindu.

“Maaf, tadi macet. Salah gue juga bawa mobil.”

“Cas?”

“Hm?”

“Boleh peluk?” tanyaku tidak tau malu. Boleh tidak ya dia memelukku? Dia kan sedang memakai seragamnya. Siapa tau tidak boleh memeluk orang.

“Pertanyaan apasih? Gue udah lama nahan kangen. Masa iya nggak meluk lo.”

Dia membawaku ke pelukannya. Aku terkikik geli ketika dia mengendus rambutku. Lucas jadi tertawa juga, dia langsung melepas pelukan kami.

“Maaf, kelepasan.”

Ya Tuhan, kenapa Lucas malah terlihat imut begini.

“Masuk yuk, gue udah masak. Lo belum makan 'kan?”

“Belum. Spesial hari ini, gue bakalan makan apapun yang lo masak.”

Dia selalu pandai memperlakukanku. Aku merasa menjadi versi terbaik dari diriku, baik dulu saat kami masih sekolah maupun sekarang ketika kami lebih banyak komunikasi lewat ponsel.

“Gimana kuliahnya? Lancar?

“Lancar kok. Udah hampir selesai juga.”

“Bagus. Nggak salah gue suka sama lo. Selalu bikin kagum dan bangga.”

Ah ini lagi. Dia masih saja hobi menggodaku dengan kalimat-kalimat manis. Janjinya akan menyatakan perasaan lagi, tapi sampai sekarang tidak pernah dia lakukan.

“Mikirin apa? Nggak ikut makan?”

Aku melihat penampilannya. Dia sudah menjadi hebat. Lucas yang dulu terkenal main-main telah berubah jadi sosok mengagumkan. Aku sangat yakin, sekarang ini ponselnya penuh pesan dari gadis-gadis genit.

Dia masih memiliki perasaan yang sama tidak ya?

Apa aku masih menjadi orang yang ingin dia jadikan sebagai kekasih?

“Heh, lo kesambet ntar. Kenapa sih ngeliatin gue segitunya?”

Aku cepat-cepat menggeleng.

“Nggak papa. Heran aja sekarang lo botak.” kilahku untuk menyembunyikan salah tingkah.

“Hei. Lo mikirin apa? Mikirin gue sama cewek lain?”

Lucas menarik kursi yang kududuki, posisi kami jadi lebih dekat. Bahuku terbentur dadanya. Terasa begitu keras, Lucas benar-benar batu yang diberi nyawa.

“Coba liat gue.” perintahnya.

“Apa?”

Aku menoleh. Mata kami bertemu. Sorot netranya melunak, senyuman indah muncul di wajah rupawannya.

“Heh, cewek pinter. Dengerin gue ya. Kali ini lo nggak boleh ketiduran.” tegasnya.

Jemarinya terulur ke pipiku. Aku sedikit meringis ketika di memberikan sentuhan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

“Kita udah diusia dua puluhan. Gue bersyukur lo masih mau nunggu sampai sekarang. Maaf ya kalo gue lama. Maaf seakan-akan gue nggak serius.”

“Cantik, lo cantik banget sampai gue nggak ada waktu ngelirik cewek lain. Jangan khawatir lagi ya? Hari ini sampai seterusnya, gue jadi milik lo. Silakan miliki gue dan ayo kita buat cerita baru di halaman yang cuma ada gue dan lo.”

“C-cas?”

“Gue sayangggg banget sama lo.” teriaknya lantang.

Aku melambung tinggi ketika dia memberikan kecupan singkat di bibirku. Ternyata seperti ini ciuman pertama dengan orang yang kunanti-nanti. Seperti ada sengatan listrik di sekujur tubuhku. Rasanya aku bisa pingsan kalau saja dia tidak berlanjut memberikan pelukan hangat.

“Sekarang gelang dulu ya? Uang buat cincin masih gue usahain. Jangan ngelirik CEO, masih keren gue kemana-mana.” ancamnya galak.

Kali ini aku tertawa sangat keras. Dia masih Lucas teman SMA-ku. Bagaimana dia bisa berkata seperti itu padahal jam yang melingkar di pergelangan tangannya seharga mobil.

Apa kami bisa mempertahankan hubungan ini?

Ah, aku tidak tahu. Tidak peduli juga. Hari ini aku lebih memilih hanyut bersamanya. Semburat merah muncul di wajahnya saat aku mengambil langkah lebih dulu.

Lucas harus tahu aku telah lama terperangkap dalam pesonanya.

#Beautiful Pain

“Aku udah bilang berulang kali. Nggak ada hubungan apa-apa antara aku sama Nadin!” bentak Varesh dengan emosi memuncak.

“Masa?” cuma begitu balasan Vanya. Dia tidak akan bisa membalas semua argumen Varesh. Percuma saja karena pacarnya itu pandai bicara.

“Aku nggak suka kamu ngomong macem-macem tentang temenku.”

“Macem-macem kata kamu?”

Vanya duduk di sofa apartemen Varesh. Tangannya gesit mengambil ponsel lalu membuka beberapa chat yang sengaja dia simpan sejak satu tahun lalu.

Pacarnya masih diam, dia memandang kesal ke televisi yang tak bersalah apa-apa. Beberapa saat mereka seperti perang dingin. Ada ego yang membumbung tinggi.

“Aku nggak pernah ngomong karena aku tau Nadin berjasa buat kamu. Dia yang bantu kamu sampai bisa diposisi sekarang. Dari kalian kuliah sampai kamu kerja dan mapan, dia yang ada disisi kamu.” kata Vanya setelah mendapatkan ketenangannya.

Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Seolah mempersilakan Varesh untuk melihatnya sendiri. Terpampang jelas chat dari awal hingga akhir, bagaimana teman dekat Varesh terus mengganggu Vanya. Lelaki itu membaca satu demi satu baris percakapan. Bibirnya terkatup rapat. Tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulutnya.

“Aku emang nggak sama kamu dari awal. Aku hadir pas kamu udah sukses, tapi kita buat komitmen ini Resh. Aku nahan semuanya, aku tau banget sesayang apa kamu sama Nadin. Tapi-”

“Kamu nggak bikin ini buat fitnah Nadin 'kan?”

Dada Vanya mencelos. Pertanyaan barusan dilontarkan oleh pacarnya sendiri. Semua orang meragukan dirinya, tidak ada yang percaya Nadin melakukan itu. Bahkan teman dekat Vanya juga menolak untuk percaya.

“Aku nggak tau kenapa semua orang begini. Apa aku keliatan jahat hanya karena aku dateng waktu kamu udah berkecukupan? Maaf kalo kehadiranku cuma buat masalah antara kamu sama Nadin.”

Varesh dengan cepat meletakkan ponsel yang digenggamnya. Dia menggeleng berkali-kali.

“Sayang, bukan gitu maksudku. Aku nggak permasalahin kamu dateng diwaktu apa. Aku cinta kamu. Tolong jangan ngomong yang nggak-nggak.” mohon Varesh sepenuh hati.

“Aku nggak ada apa-apanya dibandingin Nadin. Kita selesai Resh, kamu boleh kembali sama dia. Kalian bisa nglanjutin semuanya tanpa ada aku. Kita selesai Resh.”

Lalu malam itu, mereka berpisah. Vanya kembali ke kehidupan normalnya sebagai pembuat roti. Sedangkan Varesh meniti karirnya di sebuah perusahaan di Bandung. Jarak Yogyakarta dan Bandung sudah cukup untuk mematenkan perpisahan mereka.

Tanggal 15 September setelah tahun berganti.

Vanya melangkah keluar dari kereta. Tahun ini dia berhasil lolos seleksi di salah satu toko roti besar di Bogor. Keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Yogyakarta, tempat dia dan Varesh pertama bertemu. Sudah saatnya dia menghapus semua hal tentang lelaki itu. Meski terkadang ditengah malam batinnya masih ngilu membayangkan Varesh tidak mencegahnya pergi hari itu.

Hari pertama Vanya bekerja. Dia sibuk di dapur bersama dua pegawai lainnya. Mereka mengerjakan banyak pesanan kue ulang tahun. Sejak pagi hingga jam makan siang Vanya tidak beranjak dari sana. Dia bersyukur toko roti tempatnya bekerja memiliki kesibukan luar biasa. Pikirannya tidak lagi sempat mampir ke memori bersama Varesh. Itulah yang dia cari selama ini. Terbebas dari bayang-bayang mantan kekasih.

“Vanya, kamu pindah ke depan dulu ya. Ada pegawai yang sakit, jadi kurang orang.” perintah bosnya.

Sore mulai menyungkup. Vanya bersandar ke meja tempatnya melayani pembeli. Matanya sudah sedikit kabur saking mengantuknya. Jika tidak ada pembeli lagi maka dia akan sempurna tertidur.

“Mba, satu roti gulung sama tiga muffin ya. Tolong dibungkus.” pinta seorang wanita yang baru saja masuk.

Vanya mengangguk, dia tidak sempat melihat wajah customernya. Bagai linglung, dia cepat mengambil pesanan itu dan membungkusnya dalam kotak.

“Ada lagi Kak?” tanyanya ramah.

“Buat mama juga.” tambah seorang lelaki di samping wanita itu.

“Mama siapa? Mama lo udah nggak ada Resh.”

“Lo kok ngomong gitu?” protes lelaki itu tak terima.

“Varesh!” bentak si wanita penuh kekesalan. “Cukup, lo harus terima semuanya. Kalo lo nggak nekat belain Nadin, tante nggak akan pergi!”

Vanya bagai tersambar petir. Dia hendak lari tapi kakinya bak menancap di lantai. Matanya menatap tak percaya dua orang di hadapannya. Itu Varesh dan sepupunya, mereka membicarakan Tante Raina. Jangan bilang-

“Resh, gue bayar dulu. Kita ngobrol lagi nanti.”

“Sorry, gue masih belum bisa fokus. Tadi gue kelepasan.”

Varesh membuka dompetnya, dia hendak membayar namun perhatiannya teralihkan ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.

“Vanya?” panggilnya ragu-ragu pada seseorang yang kini menunduk dalam.

“Vanya?” panggilnya lagi.

Entah harus bersyukur atau mengumpat, Vanya tidak bisa memutuskan.

Beberapa bulan setelah itu, Varesh terus datang. Dia berkali-kali memohon maaf pada Vanya. Banyak hal dijelaskan olehnya. Tapi Vanya malah merasa itu semua aneh. Ketika mantan pacarnya sudah sadar akan semua salah paham diantara mereka satu tahun lalu, giliran Vanya yang merasa dunia mempermainkannya.

Hari kedua setelah pertemuan itu.

“Vanya, aku minta maaf.”

Hari kesepuluh.

“Aku udah sadar tentang semuanya. Satu tahun cukup jadi hukuman buat aku.”

Hari keduapuluh.

“Vanya, aku anter pulang ya? Aku nggak maksa kamu buat maafin aku.”

Hari ketigapuluh.

“Vanya, kamu indah dan berharga. Maaf lelaki brengsek kayak aku ngerusak jalan cerita hidup kamu.”

Hari keempatpuluh.

Varesh tidak mengatakan apa-apa. Dia menunggu Vanya di depan toko. Pakaian kerja masih melekat di tubuh tingginya. Ada raut lelah pada wajah tampan itu. Namun segera hilang ketika dia melihat Vanya berjalan keluar dari toko.

“Makan yuk Van, gue nggak akan nyinggung apa-apa kok. Kita makan terus gue anter pulang.”

Hari kelimapuluh ketika Vanya setuju menemani Varesh pergi ke makam ibunya di Bandung.

“Lo beneran nggak papa? Ini udah malem.” tanya Varesh khawatir.

“Buruan.” tegas Vanya.

“Bentar.”

Varesh kembali ke mobilnya.

“Van, lo lupa kulit lo sering jadi sasaran nyamuk-nyamuk genit?” tanya Varesh, dia berjongkok di hadapan Vanya. Jemarinya dengan lembut mengoleskan lotion anti nyamuk di kaki Vanya lalu berpindah ke tangan gadis itu. “Gue tau lo males ngolesinnya. Udah ada yang semprot sih, besok gue beliin deh.”

“Resh.”

“Kenapa? Ini produknya sama kayak yang sering lo pake dulu.” jelas Varesh.

Vanya menggeleng, dia memaksakan senyum di wajahnya.

“Maaf.” cicitnya.

“K-kenapa lo minta maaf? Lo mau pergi? Lo mau pindah lagi?” tanya Varesh panik.

Hari keseratus.

Halo Vanya, putri cantik yang selalu sempat mampir dipikiranku sesibuk apapun hari berjalan.

Sudah seratus hari aku memohon maaf. Pasti aku yang tidak sempurna ini selalu tanpa sadar menyakitimu. Karena itu, tolong terima surat dan bingkisan kecil ini sebagai bentuk rasa sesalku.

Surat ini adalah usahaku untuk berhenti dari susah tidur karena terus memikirkanmu.

Maaf ya Vanya, hari ini aku belum bisa ketemu kamu dulu. Tapi aku boleh kirim surat 'kan? Selanjutnya aku akan nulis semua kalimat paling manis di dunia ini buat kamu. Jangan lupa istirahat dan makan tepat waktu ya Van. Jangan lupa juga lepas kaca mata waktu mau tidur.

Tertanda. Varesh, manusia malang yang selalu menunggu maafmu.

#Senja Di Tanah Lot

Tidak pernah Yeona merasa sebahagia ini. Sekarang kakinya sudah menginjak bebatuan warna hitam yang sedikit berlumut. Deburan ombak yang cukup kencang dipecah oleh karang, menjadi latar belakang pura yang begitu gagah berdiri menyambutnya. Dia memandang dari kejauhan, banyak orang yang juga merasa kagum sepertinya. Kanan, kiri, depan dan belakang, semua orang mengucap kekaguman dengan bahasa masing- masing. Mereka sepertinya baru pertama kali juga melihat pemandangan ini.

Zhong Chenle, lelaki itu setia dengan kaca mata hitam dan kaos tipis berwarna putih. Airpods-nya terpasang sejak mereka berangkat dari penginapan. Yeona menatap penuh harap pada Chenle. Berdoa dalam hati, semoga lelaki itu peka kalau dia ingin mendekat ke pura. Ada beberapa hal yang dia baca di internet tentang Tanah Lot. Sehingga kakinya sudah tidak sabar untuk melangkah mendekat.

Wow, luar biasa.

Chenle mengangkat telapak tangannya, menanti Yeona menerima uluran itu. Si gadis menoleh tidak mengerti, apa Chenle sedang meminta bayaran? Tamatlah dia kalau memang benar begitu, saldo di kartunya sudah menipis sejak dia menggila berbelanja di Bali.

“Tanganmu, kau mau tersungkur? Tidak lihat bebatuan disini licin?”

Senyum terbit di wajah Yeona, dia menyatukan tangannya dengan jemari lembut milik Chenle. Terasa hangat.

“Kesana.” ucap Yeona, dia menunjuk pura.

“Kau tau apa itu Tanah Lot?” tanya Yeona ketika dia dan Chenle mulai melangkah mendekati pura sambil bergandengan tangan.

Chenle menggeleng, dia memang sedikit hemat bicara selama di Bali. Apalagi semenjak kejadian Yeona memergokinya bersama seorang wanita di kamar.

“Tanah itu artinya daratan dan Lot artinya laut. Bisa dikatakan daratan di tengah laut. Saat surut batuannya akan terlihat seperti sekarang, tapi nanti jika pasang air akan menggenang di bebatuan disini jadi pura itu seperti di tengah laut.” jelas Yeona penuh semangat.

“Sempat- sempatnya belajar seperti itu.” cetus Chenle yang terdengar tak begitu tertarik.

“Aku mungkin hanya sekali ke Bali, jadi aku berusaha mengerti semuanya. Coba saja kita disini sampai matahari terbenam pasti bagus sekali. Bali dan sunset adalah pasangan terbaik.”

“Hati- hati.” geram Chenle ketika Yeona hampir jatuh karena tidak menapak dengan benar. Gadis itu memang terlalu antusias sampai tidak memperhatikan pijakannya.

“Maaf.” gumamnya takut setelah mendengar suara keras Chenle.

Yeona asik memperhatikan beberapa orang asli Bali yang memercikkan entah air apa pada para wisatawan. Dia meninggalkan Chenle yang sedang menelepon. Langkahnya sedikit terburu- buru karena antrian itu segera habis.

Pria berpakaian putih- putih menunjuk pancuran dan memberikan instruksi dalam bahasa yang tidak Yeona mengerti. Tapi setelah melihat orang yang bersamanya mencuci muka dan meminum air itu tiga kali, Yeona turut serta. Dia menunggu gilirannya untuk dipercikkan air di kepala, diberi beras di kening dan sebuah bunga kamboja yang diselipkan ke telinga. Selesai itu semua, dia mulai menaiki tangga ke atas.

“Yaaa! Kau bisa tidak jangan asal pergi.” Chenle menarik tangan Yeona yang hendak naik lebih tinggi.

“Aku ingin melihat itu.” jawab Yeona sambil menunjuk sebuah liang, katanya ada ular suci disana.

Chenle menghela napas putus asa, jika saja bukan Yeona pasti dia sudah pergi sejak tadi dari sana. Dia tidak begitu tertarik dengan semua ini. Namun egonya luluh melihat Yeona yang seakan kehabisan waktu. Gadis itu sekarang memasang wajah memelas.

Mereka saling berpandangan. Yeona sendiri mengagumi wajah tampan Chenle yang dipadu  bunga kamboja pada telinga dan tanda putih di kening. Lelaki itu tampak luar biasa bersamaan dengan  wajah putihnya yang mulai berubah kemerahan karena udara hangat di Bali. Ketika dia termenung menatap Chenle, jemari lelaki itu membenahi posisi bunga kamboja di telinga Yeona yang hampir jatuh.

“Ayo cepat. Jangan memasang wajah memelasmu seolah hidupmu berakhir besok. Aku benci itu.”

Akhirnya dia mengalah, mengajak Yeona masuk melihat ular suci yang dimaksud teman perjalanannya.

“Puas?”

Yeona mengangguk, dia menyesap kopi panas yang tadi Chenle berikan. “Terima kasih, sunset dan kopinya.”

“Memangnya aku pembuat matahari terbenam. Setiap hari juga matahari terbenam.”

“Bukan itu. Terima kasih membuatku melihat matahari terbenam di Bali dan menjagaku selama disini.”

“Aku menjagamu? Hah, kau terlalu percaya diri.” cibir Chenle.

“Ya, aku percaya diri. Tadi kau memiliki pilihan membiarkanku naik sendirian dan kau juga bisa  membiarkanku jatuh. Tapi kau selalu menyusul dan mengulurkan tangan untukku.” balas Yeona.

Mereka terdiam, menikmati suasana magis dari siluet mengagumkan Pura Tanah Lot.

Chenle tersenyum dalam hati. Entah seperti apa senyum dalam hati itu, yang jelas dia merasakan sepercik kebahagiaan. Tanah Lot, senja dan Yeona. Dia menulis itu di jurnal pribadinya.

#Sunset Di Tanah Lot

Tidak pernah Yeona merasa sebahagia ini. Sekarang kakinya sudah menginjak bebatuan warna hitam yang sedikit berlumut. Deburan ombak yang cukup kencang dipecah oleh karang, menjadi latar belakang pura yang begitu gagah berdiri menyambutnya. Dia memandang dari kejauhan, banyak orang yang juga merasa kagum sepertinya. Kanan, kiri, depan dan belakang, semua orang mengucap kekaguman dengan bahasa masing- masing. Mereka sepertinya baru pertama kali juga melihat pemandangan ini.

Zhong Chenle, lelaki itu setia dengan kaca mata hitam dan kaos tipis berwarna putih. Airpods-nya terpasang sejak mereka berangkat dari penginapan. Yeona menatap penuh harap pada Chenle. Berdoa dalam hati, semoga lelaki itu peka kalau dia ingin mendekat ke pura. Ada beberapa hal yang dia baca di internet tentang Tanah Lot. Sehingga kakinya sudah tidak sabar untuk melangkah mendekat.

Wow, luar biasa.

Chenle mengangkat telapak tangannya, menanti Yeona menerima uluran itu. Si gadis menoleh tidak mengerti, apa Chenle sedang meminta bayaran? Tamatlah dia kalau memang benar begitu, saldo di kartunya sudah menipis sejak dia menggila berbelanja di Bali.

“Tanganmu, kau mau tersungkur? Tidak lihat bebatuan disini licin?”

Senyum terbit di wajah Yeona, dia menyatukan tangannya dengan jemari lembut milik Chenle. Terasa hangat.

“Kesana.” ucap Yeona, dia menunjuk pura.

“Kau tau apa itu Tanah Lot?” tanya Yeona ketika dia dan Chenle mulai melangkah mendekati pura sambil bergandengan tangan.

Chenle menggeleng, dia memang sedikit hemat bicara selama di Bali. Apalagi semenjak kejadian Yeona memergokinya bersama seorang wanita di kamar.

“Tanah itu artinya daratan dan Lot artinya laut. Bisa dikatakan daratan di tengah laut. Saat surut batuannya akan terlihat seperti sekarang, tapi nanti jika pasang air akan menggenang di bebatuan disini jadi pura itu seperti di tengah laut.” jelas Yeona penuh semangat.

“Sempat- sempatnya belajar seperti itu.” cetus Chenle yang terdengar tak begitu tertarik.

“Aku mungkin hanya sekali ke Bali, jadi aku berusaha mengerti semuanya. Coba saja kita disini sampai matahari terbenam pasti bagus sekali. Bali dan sunset adalah pasangan terbaik.”

“Hati- hati.” geram Chenle ketika Yeona hampir jatuh karena tidak menapak dengan benar. Gadis itu memang terlalu antusias sampai tidak memperhatikan pijakannya.

“Maaf.” gumamnya takut setelah mendengar suara keras Chenle.

Yeona asik memperhatikan beberapa orang asli Bali yang memercikkan entah air apa pada para wisatawan. Dia meninggalkan Chenle yang sedang menelepon. Langkahnya sedikit terburu- buru karena antrian itu segera habis.

Pria berpakaian putih- putih menunjuk pancuran dan memberikan instruksi dalam bahasa yang tidak Yeona mengerti. Tapi setelah melihat orang yang bersamanya mencuci muka dan meminum air itu tiga kali, Yeona turut serta. Dia menunggu gilirannya untuk dipercikkan air di kepala, diberi beras di kening dan sebuah bunga kamboja yang diselipkan ke telinga. Selesai itu semua, dia mulai menaiki tangga ke atas.

“Yaaa! Kau bisa tidak jangan asal pergi.” Chenle menarik tangan Yeona yang hendak naik lebih tinggi.

“Aku ingin melihat itu.” jawab Yeona sambil menunjuk sebuah liang, katanya ada ular suci disana.

Chenle menghela napas putus asa, jika saja bukan Yeona pasti dia sudah pergi sejak tadi dari sana. Dia tidak begitu tertarik dengan semua ini. Namun egonya luluh melihat Yeona yang seakan kehabisan waktu. Gadis itu sekarang memasang wajah memelas.

Mereka saling berpandangan. Yeona sendiri mengagumi wajah tampan Chenle yang dipadu  bunga kamboja pada telinga dan tanda putih di kening. Lelaki itu tampak luar biasa bersamaan dengan  wajah putihnya yang mulai berubah kemerahan karena udara hangat di Bali. Ketika dia termenung menatap Chenle, jemari lelaki itu membenahi posisi bunga kamboja di telinga Yeona yang hampir jatuh.

“Ayo cepat. Jangan memasang wajah memelasmu seolah hidupmu berakhir besok. Aku benci itu.”

Akhirnya dia mengalah, mengajak Yeona masuk melihat ular suci yang dimaksud teman perjalanannya.

“Puas?”

Yeona mengangguk, dia menyesap kopi panas yang tadi Chenle berikan. “Terima kasih, sunset dan kopinya.”

“Memangnya aku pembuat matahari terbenam. Setiap hari juga matahari terbenam.”

“Bukan itu. Terima kasih membuatku melihat matahari terbenam di Bali dan menjagaku selama disini.”

“Aku menjagamu? Hah, kau terlalu percaya diri.” cibir Chenle.

“Ya, aku percaya diri. Tadi kau memiliki pilihan membiarkanku naik sendirian dan kau juga bisa  membiarkanku jatuh. Tapi kau selalu menyusul dan mengulurkan tangan untukku.” balas Yeona.

Mereka terdiam, menikmati suasana magis dari siluet mengagumkan Pura Tanah Lot.

Chenle tersenyum dalam hati. Entah seperti apa senyum dalam hati itu, yang jelas dia merasakan sepercik kebahagiaan. Tanah Lot, senja dan Yeona. Dia menulis itu di jurnal pribadinya.

#Cinta Dan Percaya

Tidak ada yang tidak mengenal Lucas, dia adalah bintang sesungguhnya. Sosok yang dipuja-puja banyak gadis termasuk diriku. Hanya saja aku terlalu malu untuk menunjukkannya. Jadilah hanya sikap cuek dan omongan ketus yang kulontarkan padanya.

Padahal aku menyukainya. Sangat suka malah.

“Der, lo balik ke kelas kek. Sepet banget gue ngeliat lo tiap hari.” omel Lucas ketika mendapati Hendery asik bicara denganku.

Aku diam-diam tersenyum. Ini tahun ketiga sekolah kami, sebentar lagi kelulusan. Dan rasa sukaku padanya makin berkembang. Sekarang mendengar orang memanggil namanya saja bisa membuatku tersipu. Astaga, Lucas memang sangat manis meski banyak orang mengatakan lelaki itu menakutkan.

“Tumben lo senyum. Punya pacar?” tanya Lucas tiba-tiba.

“Apasih. Nggak jelas.”

“Santai. Ngegas amat jadi cewek, syukur deh kalo ada yang mau sama lo.”

Kalau sudah begini, mood-ku akan berubah dengan cepat. Begini rasanya diejek menyukai orang lain oleh lelaki  yang kutaksir. Apa Lucas benar-benar tidak merasakan kalau aku menyukainya?

Haruskah kutunjukkan dengan perbuatan. Tapi aku perempuan dan juga terlalu aneh kalau melakukan pdkt padahal kami memang sudah dekat sebagai teman bertengkar.

“Balik bareng, bawa motor kan?” tanyanya ditengah-tengah jam pelajaran.

“Iya.”

“Nggak usah serius-serius, udah pinter.”

“Diem, ini materi buat ujian.”

“Liat gue dulu coba.”

Aku mendengus kesal, kualihkan pandanganku pada dirinya. Lucas tersenyum lebar, dia memberikan heartsign dengan jarinya.

“Semangat.” ucapnya tanpa rasa bersalah, hampir saja pertahananku menyembunyikan senyum luluh lantak. Sialan, umpatku yang ingin sekali menggebrak meja.

Pukul empat sore, aku menunggu di depan kelas. Lucas pamit ke ruang osis sebentar untuk memberikan koreksi proposal kegiatan perkemahan. Aku jelas menunggu dengan sabar, karena beberapa menit lagi kami akan duduk bersama di atas motor.

Aaaa...

Aku berteriak dalam hati. Sial, sejak kapan aku jadi secentil ini. Pasti organ-organ tubuhku malu, mengingat dulu saat kelas sepuluh aku banyak menghina Lucas sebagai anak nakal.

“Sorry, gue lama.”

“Nggak. Cepet gue laper.” jawabku ketus guna menutupi kegugupan.

Senyum Lucas terbit, dilepasnya jaket yang tadi dia kenakan. Tangan panjangnya mengurungkan jaket itu ke badanku, membuatku menggigit bibir kuat-kuat sambil menunduk malu. Bau parfum Lucas berbeda, hari ini dia memakai parfum baru. Jarak kami memang terlalu dekat. Oh tidak, aku lupa memakai parfum-

“Apasih lo, nggak jelas.” kataku lalu mendorong badan besarnya.

Lucas terkekeh, diambilnya jaket yang tadi terjatuh ke lantai. “Pake, udah mau ujan. Dingin.”

Aku mendongak, menatap mata bulatnya. Sangat jernih dan indah. Hingga tanpa sadar aku mendekatkan badanku, sepasang mata itu seperti menarikku untuk lebih mengenalnya dalam artian berbeda.

Lucas tidak bergeser dari posisinya, tampaknya dia juga tersihir. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa anggota osis yang sedang berkumpul di ruangan mereka. Sedangkan disekitarku benar-benar tidak ada orang. Hanya kami berdua, sekali lagi kami benar-benar berdua.

“Segitunya ngeliatin gue. Naksir lo?” ucapnya memecah keheningan.

“Standar gue tinggi. Lo bahkan nggak ada  diurutan terakhir.” pekikku sebal, nada suaraku meninggi seolah apa yang Lucas ucapkan adalah kesalahan besar.

Dia menggeleng heran, mungkin emosinya sedikit memuncak karena ucapan tadi bisa jadi menyinggungnya. Aku jadi merasa bersalah. Tadi aku hanya gugup dan tidak tau harus berbuat apa.

“Ayo.”

Kami sampai di depan rumahnya. Lucas segera turun dari motor begitupun denganku.

“Makasih. Sorry ngrepotin.”

“Oke. Santai.”

“Gue mau nanya.”

“Nanya ya nanya aja kali, segala ijin.” kataku sebal.

“Lo percaya sama gue? Meski semua orang bilang gue orang nggak baik, hobi ngrokok sama balapan.”

Aku tercengang mendengar apa yang dia ucapkan. Siapa yang berkata seperti itu. Jelas-jelas Lucas anak baik- baik. Aku tau benar dia hanya sibuk main basket, organisasi, les dan terkadang main game.

“Butuh kepercayaan gue?”

Dia mengangguk.

“Nggak tau. Kenapa emang?” tanyaku santai. Padahal aku ingin sekali membombardirnya dengan banyak pujian.

“Gue tau lo kenal gue. Jadi percaya terus ya sama gue?”

Aku mendengus sebal, ada apa sebenarnya?

Suasana jadi berubah canggung.

“Gue pulang. Males  mikirin gituan.”

Satu minggu berlalu. Selama tujuh hari aku seperti orang gila. Mengetahui Lucas diskors karena pelanggaran berat. Beredar fotonya di area balap liar, foto merokok dan beberapa videonya di club. Aku menggigit bibir kuat-kuat ketika membaca pesan di grup kelas. Manusia-manusia di kelasku seenaknya menghina Lucas padahal dia jelas-jelas ada digrup itu.

Kenapa Lucas tidak memberikan pembelaan. Kemana dia seminggu ini.

“Lo semua-” teriakku hilang kesabaran.

Anak-anak di kelas menoleh ke arahku. Mereka menungguku melanjutkan bicara. Umpatan-umpatan dibenakku terasa menggumpal di dada. Tidak ada yang keluar sampai guru mata pelajaran berikutnya datang.

Aku kembali duduk. Ternyata nyaliku memang ciut. Pantas saja perasaanku tiga tahun ini tidak terbalas.

“Anak-anak, ibu pesan ke kalian jangan tiru tingkah laku salah satu murid yang sekarang diskors. Kalian harus menjaga tingkah laku, bersikap baik dan tumbuh menjadi orang sukses.”

Sialan.

Dia membicarakan Lucas.

Pukul empat sore di hari Jum'at. Aku sampai di depan rumahnya. Langkahku mantap melintasi halaman. Tiga menit aku menunggu pintu dibukakan setelah memencet bel.

“Hai.” sapanya canggung.

“Gue percaya sama lo, tapi jelasin semuanya.” ucapku lantang.

Wajahnya mengeras, ada emosi baru yang timbul. Aku sedikit takut sebenarnya, tapi kulanjutkan saja menatap matanya. Dengan seluruh keberanian aku maju ke depan. Mempersempit jarak diantara kami. Tanganku terulur, kutempelkan jemariku di dahinya. Dia demam.

Lucas menggeleng, “Gue nggak sakit.”

“Kenapa nih, cewek paling pinter dan galak di kelas tiba-tiba nyamperin rumah gue.”

“Jelasin!” perintahku setengah marah karena dia malah terkekeh tidak jelas padahal aku mati-matian menahan emosi sejak tadi di dalam kelas.

“Umur lo berapa?”

“18.” jawabku tidak sabar, aku hanya ingin dia segera menjelaskan. “Lo-”

Deg.

Aku mematung ketika dia merengkuhku. Badanku sempurna menjadi kaku.

“Gue nggak salah.” ucapnya dengan suara bergetar, dia menangis. Pelukannya semakin erat, aku merasakan hangat tubuhnya.

Aku tertegun. Setelah Lucas melepas pelukannya, kami saling bertatapan. Kali ini aku tidak menahan apapun, kuijinkan mataku menunjukkan rasa sayang yang selama ini kutahan-tahan. Debur-debur jantungku kian cepat ketika tiba- tiba Lucas tersenyum. Hatiku meleleh, aku akan sangat beryukur jika hari ini Lucas menyadari apa yang selama ini kusembunyikan.

Dia mengangguk. Lalu kembali memelukku.

Apa artinya ini? Bukankah aku datang untuk minta penjelasan?

#Cinta Dan Percaya

Tidak ada yang tidak mengenal Lucas, dia adalah bintang sesungguhnya. Sosok yang dipuja-puja banyak gadis termasuk diriku. Hanya saja aku terlalu malu untuk menunjukkannya. Jadilah hanya sikap cuek dan omongan ketus yang kulontarkan padanya.

Padahal aku menyukainya. Sangat suka malah.

“Der, lo balik ke kelas kek. Sepet banget gue ngeliat lo tiap hari.” omel Lucas ketika mendapati Hendery asik bicara denganku.

Aku diam-diam tersenyum. Ini tahun ketiga sekolah kami, sebentar lagi kelulusan. Dan rasa sukaku padanya makin berkembang. Sekarang mendengar orang memanggil namanya saja bisa membuatku tersipu. Astaga, Lucas memang sangat manis meski banyak orang mengatakan lelaki itu menakutkan.

“Tumben lo senyum. Punya pacar?” tanya Lucas tiba-tiba.

“Apasih. Nggak jelas.”

“Santai. Ngegas amat jadi cewek, syukur deh kalo ada yang mau sama lo.”

Kalau sudah begini, mood-ku akan berubah dengan cepat. Begini rasanya diejek menyukai orang lain oleh lelaki  yang kutaksir. Apa Lucas benar-benar tidak merasakan kalau aku menyukainya?

Haruskah kutunjukkan dengan perbuatan. Tapi aku perempuan dan juga terlalu aneh kalau melakukan pdkt padahal kami memang sudah dekat sebagai teman bertengkar.

“Balik bareng, bawa motor kan?” tanyanya ditengah-tengah jam pelajaran.

“Iya.”

“Nggak usah serius-serius, udah pinter.”

“Diem, ini materi buat ujian.”

“Liat gue dulu coba.”

Aku mendengus kesal, kualihkan pandanganku pada dirinya. Lucas tersenyum lebar, dia memberikan heartsign dengan jarinya.

“Semangat.” ucapnya tanpa rasa bersalah, hampir saja pertahananku menyembunyikan senyum luluh lantak. Sialan, umpatku yang ingin sekali menggebrak meja.

Pukul empat sore, aku menunggu di depan kelas. Lucas pamit ke ruang osis sebentar untuk memberikan koreksi proposal kegiatan perkemahan. Aku jelas menunggu dengan sabar, karena beberapa menit lagi kami akan duduk bersama di atas motor.

Aaaa...

Aku berteriak dalam hati. Sial, sejak kapan aku jadi secentil ini. Pasti organ-organ tubuhku malu, mengingat dulu saat kelas sepuluh aku banyak menghina Lucas sebagai anak nakal.

“Sorry, gue lama.”

“Nggak. Cepet gue laper.” jawabku ketus guna menutupi kegugupan.

Senyum Lucas terbit, dilepasnya jaket yang tadi dia kenakan. Tangan panjangnya mengurungkan jaket itu badanku, membuatku menggigit bibir kuat-kuat sambil menunduk malu. Bau parfum Lucas berbeda, hari ini dia memakai parfum baru. Jarak kami memang terlalu dekat. Oh tidak, aku lupa memakai parfum-

“Apasih lo, nggak jelas.” kataku lalu mendorong badan besarnya.

Lucas terkekeh, diambilnya jaket yang tadi terjatuh ke lantai. “Pake, udah mau ujan. Dingin.”

Aku mendongak, menatap mata bulatnya. Sangat jernih dan indah. Hingga tanpa sadar aku mendekatkan badanku, sepasang mata itu seperti menarikku untuk lebih mengenalnya dalam artian berbeda.

Lucas tidak bergeser dari posisinya, tampaknya dia juga tersihir. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa anggota osis yang sedang berkumpul di ruangan mereka. Sedangkan disekitarku benar-benar tidak ada orang. Hanya kami berdua, sekali lagi kami benar-benar berdua.

“Segitunya ngeliatin gue. Naksir lo?” ucapnya memecah keheningan.

“Standar gue tinggi. Lo bahkan nggak ada  diurutan terakhir.” pekikku sebal, nada suaraku meninggi seolah apa yang Lucas ucapkan adalah kesalahan besar.

Dia menggeleng heran, mungkin emosinya sedikit memuncak karena ucapan tadi bisa jadi menyinggungnya. Aku jadi merasa bersalah. Tadi aku hanya gugup dan tidak tau harus berbuat apa.

“Ayo.”

Kami sampai di depan rumahnya. Lucas segera turun dari motor begitupun denganku.

“Makasih. Sorry ngrepotin.”

“Oke. Santai.”

“Gue mau nanya.”

“Nanya ya nanya aja kali, segala ijin.” kataku sebal.

“Lo percaya sama gue? Meski semua orang bilang gue orang nggak baik, hobi ngrokok sama balapan.”

Aku tercengang mendengar apa yang dia ucapkan. Siapa yang berkata seperti itu. Jelas-jelas Lucas anak baik- baik. Aku tau benar dia hanya sibuk main basket, organisasi, les dan terkadang main game.

“Butuh kepercayaan gue?”

Dia mengangguk.

“Nggak tau. Kenapa emang?” tanyaku santai. Padahal aku ingin sekali membombardirnya dengan banyak pujian.

“Gue tau lo kenal gue. Jadi percaya terus ya sama gue?”

Aku mendengus sebal, ada apa sebenarnya?

Suasana jadi berubah canggung.

“Gue pulang. Males  mikirin gituan.”

Satu minggu berlalu. Selama tujuh hari aku seperti orang gila. Mengetahui Lucas diskors karena pelanggaran berat. Beredar fotonya di area balap liar, foto merokok dan beberapa videonya di club. Aku menggigit bibir kuat-kuat ketika membaca pesan di grup kelas. Manusia-manusia di kelasku seenaknya menghina Lucas padahal dia jelas-jelas ada digrup itu.

Kenapa Lucas tidak memberikan pembelaan. Kemana dia seminggu ini.

“Lo semua-” teriakku hilang kesabaran.

Anak-anak di kelas menoleh ke arahku. Mereka menungguku melanjutkan bicara. Umpatan-umpatan dibenakku terasa menggumpal di dada. Tidak ada yang keluar sampai guru mata pelajaran berikutnya datang.

Aku kembali duduk. Ternyata nyaliku memang ciut. Pantas saja perasaanku tiga tahun ini tidak terbalas.

“Anak-anak, ibu pesan ke kalian jangan tiru tingkah laku salah satu murid yang sekarang diskors. Kalian harus menjaga tingkah laku, bersikap baik dan tumbuh menjadi orang sukses.”

Sialan.

Dia membicarakan Lucas.

Pukul empat sore di hari Jum'at. Aku sampai di depan rumahnya. Langkahku mantap melintasi halaman. Tiga menit aku menunggu pintu dibukakan setelah memencet bel.

“Hai.” sapanya canggung.

“Gue percaya sama lo, tapi jelasin semuanya.” ucapku lantang.

Wajahnya mengeras, ada emosi baru yang timbul. Aku sedikit takut sebenarnya, tapi kulanjutkan saja menatap matanya. Dengan seluruh keberanian aku maju ke depan. Mempersempit jarak diantara kami. Tanganku terulur, kutempelkan jemariku di dahinya. Dia demam.

Lucas menggeleng, “Gue nggak sakit.”

“Kenapa nih, cewek paling pinter dan galak di kelas tiba-tiba nyamperin rumah gue.”

“Jelasin!” perintahku setengah marah karena dia malah terkekeh tidak jelas padahal aku mati-matian menahan emosi sejak tadi di dalam kelas.

“Umur lo berapa?”

“18.” jawabku tidak sabar, aku hanya ingin dia segera menjelaskan. “Lo-”

Deg.

Aku mematung ketika dia merengkuhku. Badanku sempurna menjadi kaku.

“Gue nggak salah.” ucapnya dengan suara bergetar, dia menangis. Pelukannya semakin erat, aku merasakan hangat tubuhnya.

Aku tertegun. Setelah Lucas melepas pelukannya, kami saling bertatapan. Kali ini aku tidak menahan apapun, kuijinkan mataku menunjukkan rasa sayang yang selama ini kutahan-tahan. Debur-debur jantungku kian cepat ketika tiba- tiba Lucas tersenyum. Hatiku meleleh, aku akan sangat beryukur jika hari ini Lucas menyadari apa yang selama ini kusembunyikan.

Dia mengangguk. Lalu kembali memelukku.

Apa artinya ini? Bukankah aku datang untuk minta penjelasan?

#Kita Bisa, Pa

“Papa!” seru Jeva setelah melihat Joan turun dari mobilnya. Marvin, Jeva dan Jian sedang mengobrol di teras bersama Tama. Memang sejak awal mereka menunggu kedatangan Joan.

“Selamat ulang tahun pa.” ucap Jeva penuh rasa sayang. “Jevanya sayang banget sama papa. Lebih dari Jian pokoknya!”

“Makasih ya kakak cantik.” balas Joandra penuh syukur. “Makasih udah nungguin papa malem-malem gini. Maaf ya papa pulangnya lama.”

Jevanya menggeleng, dia masih tersenyum manis. “Santai bos, asal inget pulang. Semua bisa di diskusikan.”

Semua yang ada disana tertawa mendengar ocehan Jevanya. Jiandra sendiri masih diam, dia hanya menikmati momen milik kakak dan ayahnya. Begitu saja sudah membuat perasaannya menghangat. Kesedihan beberapa hari ini seolah menguap. Akhirnya kakaknya itu bisa tersenyum lagi.

“Jian nggak kasih ucapan ke papa?” tanya Joandra seakan sakit hati.

“Hehehe, selamat ulang tahun Pak Jo.”

“Yeeee, gitu doang. Mana doa sama kata-kata manisnya?” protes Jeva.

“Apasih kak. Nggak ah. Udah dalem ati.”

“Udah-udah. Kalian berantem terus.” seru Tama gemas. “Katanya mau kasih kado.”

“Oh iya, marvin tadi mana kado gue. Di lo kan?” tanya Jeva panik.

Marvin memberikan satu kotak berwarna abu-abu lengkap dengan hiasan pita. Ditatapnya Jevanya yang memberikan hadiah itu ke papanya. Sama seperti Jian, dia juga bahagia Jeva bisa tersenyum lagi. Meski kemarin gadis itu juga tersenyum, tapi kali ini berbeda.

“Kita bisa, Pa!” seru Jian dan Jeva. Mereka berdua sedang menyalakan lilin meski selalu gagal karena takur terbakar.

Kakak beradik itu memiliki ketakutan yang sama pada api. Ada satu cerita masa lalu penyebab ketakutan itu.

“Gue aja. Lama lo berdua. Ambil piring aja sana.” seru Marvin gemas.

Pukul tiga pagi. Anak-anak sudah tidur. Mereka memaksa tidur di ruang tamu. Katanya suasana itu seru, seperti berkumpul di rumah nenek.

Tama dan Joandra berpindah ke balkon atas. Mereka menyulut rokok sambil menikmati minuman beralkohol dengan kadar rendah. Sejak tadi belum ada yang membuka pembicaraan. Mereka masih saling diam.

“Lo nggak nikah lagi Tam?”

“Nggak. Ngapain, gue bisa gedein Marvin sendirian.”

Jo mengangguk paham. Dia menenggak lagi minumannya.

“Kalo gue pisah sama Kalen, anak-anak nerima nggak ya?”

“Mending lo ngobrol dulu sama mereka. Jelasin situasinya, gue yakin Jian sama Jeva udah bisa diajak diskusi.”

“Gue takut mereka pura-pura kuat. Dulu waktu Jian sama Kalena pulang ke Bogor, Jeva juga gitu. Dia pura-pura biasa aja depan gue. Padahal tiap malem dia nangis. Dia nggak bisa kehilangan ibunya.”

Tama mengangguk setelah mendengarkan penjelasan Joandra. Dia juga tau, Jeva adalah gadis yang terlihat butuh banyak kasih sayang secara nyata. Gadis itu tidak segan-segan meminta pelukan, pujian, dan segala hal yang menunjukkan rasa saling mengasihi.

“Tapi kalo gini, lo yang sakit Jo. Harusnya dulu lo nggak balik sama Kalen. Lebih jauh lagi, harusnya waktu kuliah lo nggak tergila-gila sama dia. Dan lebih jauh lagi, harusnya lo dulu sadar Yuda sama Kalen udah jadi racun buat satu sama lain.”

Joandra menyulut rokok kelimanya. Dia memandang langit gelap di atas sana.

Kalau semua salahnya, bolehkah dia menyalahkan orang lain? Tapi siapa?

Memang dialah yang ngotot tetap bersama Kalen meski dia sudah berkali-kali mengetahui istrinya itu berselingkuh.

#Melindungi Jevanya

Sial. Umpat Marvin ketika film baru berjalan sepuluh menit. Dia menoleh ke barisan atas. Selang dua baris kursi darinya ada sosok Kalen bersama seorang lelaki.

Ternyata benar apa yang selama ini dia duga. Ada sesuatu yang terjadi di keluarga Jeva. Memang benar Jeva sering menginap di rumahnya, tapi tidak sesering beberapa bulan ini. Seakan Joandra memang sengaja menitipkan anaknya ke Papa Marvin.

“Jev, tau nggak kenapa gue itu Marvin?” tanyanya asal untuk menahan perhatian Jeva ke dirinya.

“Kenapa? Karena lo anak Om Tama?”

“Kok bener? Kok bisa tau?”

“Vin, tau nggak sih. Lo di sekolah jadi pujaan ciwi-ciwi, tapi kalo udah sama gue keliatan aneh gini.” desis Jeva setengah emosi. Biasanya dia akan berteriak tapi karena sedang hening jadi dia menahan mulutnya bicara lantang.

“Ya emang keren. Tapi sumpah gue keren banget.”

“Lo mirip Haidar, aneh.”

Marvin terkejut, baru kali ini Jeva menyebut nama lelaki selain Natalio. “Siapa? Haidar siapa?”

“Nggak tau, orang aneh yang sering dm gue.” jawab Jeva cuek. Dia kembali menonton film sambil memakan popcorn.

Marvin menghembuskan napas lega. Setelah fokus Jeva kembali pada film maka selesai sudah tugasnya.

Satu jam berjalan lambat. Sangat lambat malah untuk Marvin. Jantungnya berdegub tak karuan setiap Jeva hendak menolehkan kepala. Jangan sampai temannya itu membuat kekacuan.

Dia bisa menduga apa yang akan terjadi bila Jeva menangkap basah ibunya berselingkuh. Bisa-bisa lelaki itu dibunuh ditempat.

Dan-

film selesai.

“Jev, ayo. Gue kebelet.”

“Bentar, ini rapiin dulu sampahnya.”

“Udah biarin. Cepet!” seru Marvin.

Jeva bersungut-sungut mengikuti langkah cepat Marvin.

“Kenapa sih? Kebelet doang, kan tadi bisa keluar dulu terus-”

“Diem.”

“Apasih Vin?”

“Tunggu sini. Kalo lo pindah tempat dikit aja, nggak gue ajarin tugas matematika.”

Jevanya patuh. Dia berdiri disana selama beberapa menit kedepan. Tapi Marvin salah, justru membiarkan Jevanya disana malah membuat usahanya mengalihkan perhatian gadis itu jadi sia-sia.

#Patah Hati

Joandra menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Wajahnya berubah suram ketika mendapati Kalena datang ke kedai kopi bersama seorang lelaki. Sejak satu jam lalu dia sibuk berpikir cara memperbaiki hubungan dengan Kalen tapi ternyata Tuhan berkata lain.

“Pulang aja Jo, percuma lo nyamperin mereka. Kalen emang udah nggak mau sama lo.” ucap Tama putus asa. Dia yang lebih dulu menjadi duda, sedikit lebih paham tentang melepaskan.

“Lo nggak ngerasa kenal cowok itu?” tanya Jo dengan hati tersayat. Walau bagaimanapun Kalen adalah ibu dari dua anaknya.

“Lo nyuruh gue ngeliat si monyet? Anjing, males.”

“Gue familiar sama orang itu.” gumam Jo.

“Pulang. Anak-anak nunggu di rumah gue.”

Jo dan Tama berpisah mobil. Mereka menyetir sendiri-sendiri sampai ke rumah Tama. Sepanjang jalan, Jo banyak berpikir tentang saran Tama untuk berpisah dengan Kalen. Katanya buat apa mempertahankan hubungan yang sudah jelas-jelas rusak.

Benar, pernikahannya dan Kalen tidak sehat semenjak pertengkaran hebat yang hampir memisahkan Jeva dan Jian. Jika sudah mengingat masa itu, maka Jo hanya akan menangis.

Dia menghentikan mobilnya di depan minimarket. Isakan demi isakan keluar dari bibirnya. Bukan masalah hatinya, tapi perasaan anak-anak. Bagaimana kalau mereka tau tingkah laku sang ibu di luar sana?

Senyum Jo terbit ketika Jevanya berlari ke pelukannya. Gadis itu tampak mengantuk tapi memaksa tetap terjaga untuk bertemu ayahnya.

“Paaa, Jian udah tidur di dalem.” lapor Jeva sambil tetap memeluk ayahnya. “Kita pulang apa nginep? Mama udah di rumah belum?”

Jo tersenyum, dia mengusap rambut panjang Jeva. “Udah sayang, mama udah di rumah. Tapu kita nginep aja ya? Udah terlalu malem, papa juga ngantuk banget nih.” ucap Jo penuh kepalsuan.

Siapa yang di rumah? Tidak ada. Kalen selalu pulang ke apartemennya. Dia kembali ke rumah kalau Jeva dan Jian sudah bingung mencari.

Apa salah Jo sampai keluarganya jadi seperti ini?