Bealif

Beautiful

#Beautiful Pain

“Aku udah bilang berulang kali. Nggak ada hubungan apa-apa antara aku sama Nadin!” bentak Varesh dengan emosi memuncak.

“Masa?” cuma begitu balasan Vanya. Dia tidak akan bisa membalas semua argumen Varesh. Percuma saja karena pacarnya itu pandai bicara.

“Aku nggak suka kamu ngomong macem-macem tentang temenku.”

“Macem-macem kata kamu?”

Vanya duduk di sofa apartemen Varesh. Tangannya gesit mengambil ponsel lalu membuka beberapa chat yang sengaja dia simpan sejak satu tahun lalu.

Pacarnya masih diam, dia memandang kesal ke televisi yang tak bersalah apa-apa. Beberapa saat mereka seperti perang dingin. Ada ego yang membumbung tinggi.

“Aku nggak pernah ngomong karena aku tau Nadin berjasa buat kamu. Dia yang bantu kamu sampai bisa diposisi sekarang. Dari kalian kuliah sampai kamu kerja dan mapan, dia yang ada disisi kamu.” kata Vanya setelah mendapatkan ketenangannya.

Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Seolah mempersilakan Varesh untuk melihatnya sendiri. Terpampang jelas chat dari awal hingga akhir, bagaimana teman dekat Varesh terus mengganggu Vanya. Lelaki itu membaca satu demi satu baris percakapan. Bibirnya terkatup rapat. Tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulutnya.

“Aku emang nggak sama kamu dari awal. Aku hadir pas kamu udah sukses, tapi kita buat komitmen ini Resh. Aku nahan semuanya, aku tau banget sesayang apa kamu sama Nadin. Tapi-”

“Kamu nggak bikin ini buat fitnah Nadin 'kan?”

Dada Vanya mencelos. Pertanyaan barusan dilontarkan oleh pacarnya sendiri. Semua orang meragukan dirinya, tidak ada yang percaya Nadin melakukan itu. Bahkan teman dekat Vanya juga menolak untuk percaya.

“Aku nggak tau kenapa semua orang begini. Apa aku keliatan jahat hanya karena aku dateng waktu kamu udah berkecukupan? Maaf kalo kehadiranku cuma buat masalah antara kamu sama Nadin.”

Varesh dengan cepat meletakkan ponsel yang digenggamnya. Dia menggeleng berkali-kali.

“Sayang, bukan gitu maksudku. Aku nggak permasalahin kamu dateng diwaktu apa. Aku cinta kamu. Tolong jangan ngomong yang nggak-nggak.” mohon Varesh sepenuh hati.

“Aku nggak ada apa-apanya dibandingin Nadin. Kita selesai Resh, kamu boleh kembali sama dia. Kalian bisa nglanjutin semuanya tanpa ada aku. Kita selesai Resh.”

Lalu malam itu, mereka berpisah. Vanya kembali ke kehidupan normalnya sebagai pembuat roti. Sedangkan Varesh meniti karirnya di sebuah perusahaan di Bandung. Jarak Yogyakarta dan Bandung sudah cukup untuk mematenkan perpisahan mereka.

Tanggal 15 September setelah tahun berganti.

Vanya melangkah keluar dari kereta. Tahun ini dia berhasil lolos seleksi di salah satu toko roti besar di Bogor. Keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Yogyakarta, tempat dia dan Varesh pertama bertemu. Sudah saatnya dia menghapus semua hal tentang lelaki itu. Meski terkadang ditengah malam batinnya masih ngilu membayangkan Varesh tidak mencegahnya pergi hari itu.

Hari pertama Vanya bekerja. Dia sibuk di dapur bersama dua pegawai lainnya. Mereka mengerjakan banyak pesanan kue ulang tahun. Sejak pagi hingga jam makan siang Vanya tidak beranjak dari sana. Dia bersyukur toko roti tempatnya bekerja memiliki kesibukan luar biasa. Pikirannya tidak lagi sempat mampir ke memori bersama Varesh. Itulah yang dia cari selama ini. Terbebas dari bayang-bayang mantan kekasih.

“Vanya, kamu pindah ke depan dulu ya. Ada pegawai yang sakit, jadi kurang orang.” perintah bosnya.

Sore mulai menyungkup. Vanya bersandar ke meja tempatnya melayani pembeli. Matanya sudah sedikit kabur saking mengantuknya. Jika tidak ada pembeli lagi maka dia akan sempurna tertidur.

“Mba, satu roti gulung sama tiga muffin ya. Tolong dibungkus.” pinta seorang wanita yang baru saja masuk.

Vanya mengangguk, dia tidak sempat melihat wajah customernya. Bagai linglung, dia cepat mengambil pesanan itu dan membungkusnya dalam kotak.

“Ada lagi Kak?” tanyanya ramah.

“Buat mama juga.” tambah seorang lelaki di samping wanita itu.

“Mama siapa? Mama lo udah nggak ada Resh.”

“Lo kok ngomong gitu?” protes lelaki itu tak terima.

“Varesh!” bentak si wanita penuh kekesalan. “Cukup, lo harus terima semuanya. Kalo lo nggak nekat belain Nadin, tante nggak akan pergi!”

Vanya bagai tersambar petir. Dia hendak lari tapi kakinya bak menancap di lantai. Matanya menatap tak percaya dua orang di hadapannya. Itu Varesh dan sepupunya, mereka membicarakan Tante Raina. Jangan bilang-

“Resh, gue bayar dulu. Kita ngobrol lagi nanti.”

“Sorry, gue masih belum bisa fokus. Tadi gue kelepasan.”

Varesh membuka dompetnya, dia hendak membayar namun perhatiannya teralihkan ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.

“Vanya?” panggilnya ragu-ragu pada seseorang yang kini menunduk dalam.

“Vanya?” panggilnya lagi.

Entah harus bersyukur atau mengumpat, Vanya tidak bisa memutuskan.

Beberapa bulan setelah itu, Varesh terus datang. Dia berkali-kali memohon maaf pada Vanya. Banyak hal dijelaskan olehnya. Tapi Vanya malah merasa itu semua aneh. Ketika mantan pacarnya sudah sadar akan semua salah paham diantara mereka satu tahun lalu, giliran Vanya yang merasa dunia mempermainkannya.

Hari kedua setelah pertemuan itu.

“Vanya, aku minta maaf.”

Hari kesepuluh.

“Aku udah sadar tentang semuanya. Satu tahun cukup jadi hukuman buat aku.”

Hari keduapuluh.

“Vanya, aku anter pulang ya? Aku nggak maksa kamu buat maafin aku.”

Hari ketigapuluh.

“Vanya, kamu indah dan berharga. Maaf lelaki brengsek kayak aku ngerusak jalan cerita hidup kamu.”

Hari keempatpuluh.

Varesh tidak mengatakan apa-apa. Dia menunggu Vanya di depan toko. Pakaian kerja masih melekat di tubuh tingginya. Ada raut lelah pada wajah tampan itu. Namun segera hilang ketika dia melihat Vanya berjalan keluar dari toko.

“Makan yuk Van, gue nggak akan nyinggung apa-apa kok. Kita makan terus gue anter pulang.”

Hari kelimapuluh ketika Vanya setuju menemani Varesh pergi ke makam ibunya di Bandung.

“Lo beneran nggak papa? Ini udah malem.” tanya Varesh khawatir.

“Buruan.” tegas Vanya.

“Bentar.”

Varesh kembali ke mobilnya.

“Van, lo lupa kulit lo sering jadi sasaran nyamuk-nyamuk genit?” tanya Varesh, dia berjongkok di hadapan Vanya. Jemarinya dengan lembut mengoleskan lotion anti nyamuk di kaki Vanya lalu berpindah ke tangan gadis itu. “Gue tau lo males ngolesinnya. Udah ada yang semprot sih, besok gue beliin deh.”

“Resh.”

“Kenapa? Ini produknya sama kayak yang sering lo pake dulu.” jelas Varesh.

Vanya menggeleng, dia memaksakan senyum di wajahnya.

“Maaf.” cicitnya.

“K-kenapa lo minta maaf? Lo mau pergi? Lo mau pindah lagi?” tanya Varesh panik.

Hari keseratus.

Halo Vanya, putri cantik yang selalu sempat mampir dipikiranku sesibuk apapun hari berjalan.

Sudah seratus hari aku memohon maaf. Pasti aku yang tidak sempurna ini selalu tanpa sadar menyakitimu. Karena itu, tolong terima surat dan bingkisan kecil ini sebagai bentuk rasa sesalku.

Surat ini adalah usahaku untuk berhenti dari susah tidur karena terus memikirkanmu.

Maaf ya Vanya, hari ini aku belum bisa ketemu kamu dulu. Tapi aku boleh kirim surat 'kan? Selanjutnya aku akan nulis semua kalimat paling manis di dunia ini buat kamu. Jangan lupa istirahat dan makan tepat waktu ya Van. Jangan lupa juga lepas kaca mata waktu mau tidur.

Tertanda. Varesh, manusia malang yang selalu menunggu maafmu.