#Pengakuan Yang Tertunda

“Cantik. Semangat ujiannya.” seru Lucas dari pintu masuk. Hari ini kami sama-sama ujian kelulusan. Sayangnya ruangan kami berbeda, jadilah Lucas bolak-balik sejak tadi.

Ada-ada saja akalnya, mulai dari meminjam catatan sampai minta minum. Tidak ada yang curiga karena semua orang tahu Lucas adalah sosok seperti itu.

Hanya aku yang berbunga-bunga. Masih kuingat jelas saat kami berpelukan hari itu. Senyumku sempurna tercetak, soal matematika yang kukerjakan jadi dua kali lebih mudah.

“Hm, cuma lo sih yang abis ngerjain matik malah makin cantik.” godanya ketika kami bertemu di kantin. Dia berbisik di telingaku. “Tau nggak? Enggak ya?”

Aku terkekeh. Semua yang dia lakukan selalu lucu. Siapa yang bisa menahan pesona Lucas. Aku yakin banyak gadis di luar sana juga merasakan hal yang sama sepertiku jika berhadapan dengan Lucas.

“Ngalamunin apa sih? Bantuin bawa sotonya.” katanya setengah merajuk. “Lucas imut capek tauk.”

“Lucas!” bentakku sebal. Aku seperti ingin meledak. Tingkahnya benar-benar membuat jantungku terpacu tiga kali lebih cepat. Pasti wajahku memerah.

Ujian resmi berakhir. Kami tinggal menunggu hasilnya. Dalam jeda itu, aku sibuk belajar untuk ujian masuk universitas. Lucas tidak mengikutinya. Dia memutuskan ikut seleksi untuk masuk tentara.

Awalnya aku cukup khawatir. Pekerjaan itu terkenal memiliki seleksi ketat dan rumit. Juga, Lucas pernah mengalami cidera cukup parah di punggungnya.

“Gue nggak papa. Jangan khawatir gitu. Butuh didukung nih.” ucapnya sambil memelas.

Sore ini dia mampir ke rumah setelah satu minggu kami tidak bertemu karena dia sibuk mengurus berkas.

“Cas?”

Dia sedang makan sebungkus nasi padang. Perhatiannya tak teralihkan meski kupanggil. “Hm?” gumamnya dengan mulut penuh.

“Kapan seleksinya?”

“Bulan depan.”

“Susah ya? Emang lo nggak kepikiran jadi apa gitu, yang nggak usah pake perang segala.”

Lucas tertawa mendengar ucapanku barusan. Dia meletakkan bungkus nasi padang yang sudah kosong. “Perang darimana? Hahahaha, lo parno banget deh.”

“Cas, katanya kalo tentara sukanya sama perawat atau dokter. Gue kan-”

Dia mendengus sebal. “Tipe gue itu lo. Apapun profesi lo, ya itu tipe ideal gue. Nggak sih, profesi utama lo jadi ibu dari anak-anak gue.”

Mataku membola. Apa tadi dia melamarku?

“Gue nggak nglamar lo. Jadian aja belom.” katanya setengah marah.

“Terima cinta gue dong. Lo mah ngegantungin mulu. Kapan kita jelas statusnya?” protes Lucas sambil menggenggam kedua tanganku.

“Emangnya kita belum jadian. Kan pas itu udah pelukan.”

“Hah? Jangan bilang-” ucapannya tak berlanjut. Dia membungkam mulutnya sendiri. Matanya melotot menatap tak percaya.

“Lo tidur ya waktu kita telfonan dua bulan lalu. Gimana sih? Gue kira lo emang gantungin gue.” omelnya dibarengi kakinya yang menjejak ke udara.

“Gue nembak lo pas ditelfon. Udah gue kasih puisi paling oke. Gue bertapa di kamar mandi dua hari full. Nggak ngehargain usaha gue.”

“Cas, kenapa lo nggak ngomong paginya? Gue ketiduran pas itu. Lo juga kenapa ada orang nggak jawab bukannya ditanyain lagi malah lanjut aja.”

“Ya kirain lo butuh waktu.” belanya.

“Ya terus gimana?” tanyaku sebal.

“Yaudah tunggu. Masa iya gue nembak kayak gini. Abis makan nasi padang juga.”

“Emang kenapa kalo abis makan nasi padang?”

“Nggak bisa nyium lo!”

Ah sialan. Aku langsung salah tingkah. Dasar orang aneh. Bisa-bisanya berucap seperti itu di depanku. Dia terlalu jujur atau bagaimana sih?

Padahal, yaaaa aku tidak masalah dicium sekarang juga. Hehehehe.

September entah tahun keberapa kami saling mengenal.

Lucas mengetuk pintu rumahku. Dia janji datang saat hari liburnya. Aku membuka pintu dengan perasaan super bahagia. Akhirnya setelah sekian lama berpisah, aku bisa bertemu dengannya lagi.

“Hai, cantik.” sapa Lucas dengan senyum khasnya.

“Lama banget. Lo bilang jam satu. Ini udah jam tiga.” protesku yang sudah tidak kuat menahan rindu.

“Maaf, tadi macet. Salah gue juga bawa mobil.”

“Cas?”

“Hm?”

“Boleh peluk?” tanyaku tidak tau malu. Boleh tidak ya dia memelukku? Dia kan sedang memakai seragamnya. Siapa tau tidak boleh memeluk orang.

“Pertanyaan apasih? Gue udah lama nahan kangen. Masa iya nggak meluk lo.”

Dia membawaku ke pelukannya. Aku terkikik geli ketika dia mengendus rambutku. Lucas jadi tertawa juga, dia langsung melepas pelukan kami.

“Maaf, kelepasan.”

Ya Tuhan, kenapa Lucas malah terlihat imut begini.

“Masuk yuk, gue udah masak. Lo belum makan 'kan?”

“Belum. Spesial hari ini, gue bakalan makan apapun yang lo masak.”

Dia selalu pandai memperlakukanku. Aku merasa menjadi versi terbaik dari diriku, baik dulu saat kami masih sekolah maupun sekarang ketika kami lebih banyak komunikasi lewat ponsel.

“Gimana kuliahnya? Lancar?

“Lancar kok. Udah hampir selesai juga.”

“Bagus. Nggak salah gue suka sama lo. Selalu bikin kagum dan bangga.”

Ah ini lagi. Dia masih saja hobi menggodaku dengan kalimat-kalimat manis. Janjinya akan menyatakan perasaan lagi, tapi sampai sekarang tidak pernah dia lakukan.

“Mikirin apa? Nggak ikut makan?”

Aku melihat penampilannya. Dia sudah menjadi hebat. Lucas yang dulu terkenal main-main telah berubah jadi sosok mengagumkan. Aku sangat yakin, sekarang ini ponselnya penuh pesan dari gadis-gadis genit.

Dia masih memiliki perasaan yang sama tidak ya?

Apa aku masih menjadi orang yang ingin dia jadikan sebagai kekasih?

“Heh, lo kesambet ntar. Kenapa sih ngeliatin gue segitunya?”

Aku cepat-cepat menggeleng.

“Nggak papa. Heran aja sekarang lo botak.” kilahku untuk menyembunyikan salah tingkah.

“Hei. Lo mikirin apa? Mikirin gue sama cewek lain?”

Lucas menarik kursi yang kududuki, posisi kami jadi lebih dekat. Bahuku terbentur dadanya. Terasa begitu keras, Lucas benar-benar batu yang diberi nyawa.

“Coba liat gue.” perintahnya.

“Apa?”

Aku menoleh. Mata kami bertemu. Sorot netranya melunak, senyuman indah muncul di wajah rupawannya.

“Heh, cewek pinter. Dengerin gue ya. Kali ini lo nggak boleh ketiduran.” tegasnya.

Jemarinya terulur ke pipiku. Aku sedikit meringis ketika di memberikan sentuhan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

“Kita udah diusia dua puluhan. Gue bersyukur lo masih mau nunggu sampai sekarang. Maaf ya kalo gue lama. Maaf seakan-akan gue nggak serius.”

“Cantik, lo cantik banget sampai gue nggak ada waktu ngelirik cewek lain. Jangan khawatir lagi ya? Hari ini sampai seterusnya, gue jadi milik lo. Silakan miliki gue dan ayo kita buat cerita baru di halaman yang cuma ada gue dan lo.”

“C-cas?”

“Gue sayangggg banget sama lo.” teriaknya lantang.

Aku melambung tinggi ketika dia memberikan kecupan singkat di bibirku. Ternyata seperti ini ciuman pertama dengan orang yang kunanti-nanti. Seperti ada sengatan listrik di sekujur tubuhku. Rasanya aku bisa pingsan kalau saja dia tidak berlanjut memberikan pelukan hangat.

“Sekarang gelang dulu ya? Uang buat cincin masih gue usahain. Jangan ngelirik CEO, masih keren gue kemana-mana.” ancamnya galak.

Kali ini aku tertawa sangat keras. Dia masih Lucas teman SMA-ku. Bagaimana dia bisa berkata seperti itu padahal jam yang melingkar di pergelangan tangannya seharga mobil.

Apa kami bisa mempertahankan hubungan ini?

Ah, aku tidak tahu. Tidak peduli juga. Hari ini aku lebih memilih hanyut bersamanya. Semburat merah muncul di wajahnya saat aku mengambil langkah lebih dulu.

Lucas harus tahu aku telah lama terperangkap dalam pesonanya.