Bealif

Senja

#Senja Di Tanah Lot

Tidak pernah Yeona merasa sebahagia ini. Sekarang kakinya sudah menginjak bebatuan warna hitam yang sedikit berlumut. Deburan ombak yang cukup kencang dipecah oleh karang, menjadi latar belakang pura yang begitu gagah berdiri menyambutnya. Dia memandang dari kejauhan, banyak orang yang juga merasa kagum sepertinya. Kanan, kiri, depan dan belakang, semua orang mengucap kekaguman dengan bahasa masing- masing. Mereka sepertinya baru pertama kali juga melihat pemandangan ini.

Zhong Chenle, lelaki itu setia dengan kaca mata hitam dan kaos tipis berwarna putih. Airpods-nya terpasang sejak mereka berangkat dari penginapan. Yeona menatap penuh harap pada Chenle. Berdoa dalam hati, semoga lelaki itu peka kalau dia ingin mendekat ke pura. Ada beberapa hal yang dia baca di internet tentang Tanah Lot. Sehingga kakinya sudah tidak sabar untuk melangkah mendekat.

Wow, luar biasa.

Chenle mengangkat telapak tangannya, menanti Yeona menerima uluran itu. Si gadis menoleh tidak mengerti, apa Chenle sedang meminta bayaran? Tamatlah dia kalau memang benar begitu, saldo di kartunya sudah menipis sejak dia menggila berbelanja di Bali.

“Tanganmu, kau mau tersungkur? Tidak lihat bebatuan disini licin?”

Senyum terbit di wajah Yeona, dia menyatukan tangannya dengan jemari lembut milik Chenle. Terasa hangat.

“Kesana.” ucap Yeona, dia menunjuk pura.

“Kau tau apa itu Tanah Lot?” tanya Yeona ketika dia dan Chenle mulai melangkah mendekati pura sambil bergandengan tangan.

Chenle menggeleng, dia memang sedikit hemat bicara selama di Bali. Apalagi semenjak kejadian Yeona memergokinya bersama seorang wanita di kamar.

“Tanah itu artinya daratan dan Lot artinya laut. Bisa dikatakan daratan di tengah laut. Saat surut batuannya akan terlihat seperti sekarang, tapi nanti jika pasang air akan menggenang di bebatuan disini jadi pura itu seperti di tengah laut.” jelas Yeona penuh semangat.

“Sempat- sempatnya belajar seperti itu.” cetus Chenle yang terdengar tak begitu tertarik.

“Aku mungkin hanya sekali ke Bali, jadi aku berusaha mengerti semuanya. Coba saja kita disini sampai matahari terbenam pasti bagus sekali. Bali dan sunset adalah pasangan terbaik.”

“Hati- hati.” geram Chenle ketika Yeona hampir jatuh karena tidak menapak dengan benar. Gadis itu memang terlalu antusias sampai tidak memperhatikan pijakannya.

“Maaf.” gumamnya takut setelah mendengar suara keras Chenle.

Yeona asik memperhatikan beberapa orang asli Bali yang memercikkan entah air apa pada para wisatawan. Dia meninggalkan Chenle yang sedang menelepon. Langkahnya sedikit terburu- buru karena antrian itu segera habis.

Pria berpakaian putih- putih menunjuk pancuran dan memberikan instruksi dalam bahasa yang tidak Yeona mengerti. Tapi setelah melihat orang yang bersamanya mencuci muka dan meminum air itu tiga kali, Yeona turut serta. Dia menunggu gilirannya untuk dipercikkan air di kepala, diberi beras di kening dan sebuah bunga kamboja yang diselipkan ke telinga. Selesai itu semua, dia mulai menaiki tangga ke atas.

“Yaaa! Kau bisa tidak jangan asal pergi.” Chenle menarik tangan Yeona yang hendak naik lebih tinggi.

“Aku ingin melihat itu.” jawab Yeona sambil menunjuk sebuah liang, katanya ada ular suci disana.

Chenle menghela napas putus asa, jika saja bukan Yeona pasti dia sudah pergi sejak tadi dari sana. Dia tidak begitu tertarik dengan semua ini. Namun egonya luluh melihat Yeona yang seakan kehabisan waktu. Gadis itu sekarang memasang wajah memelas.

Mereka saling berpandangan. Yeona sendiri mengagumi wajah tampan Chenle yang dipadu  bunga kamboja pada telinga dan tanda putih di kening. Lelaki itu tampak luar biasa bersamaan dengan  wajah putihnya yang mulai berubah kemerahan karena udara hangat di Bali. Ketika dia termenung menatap Chenle, jemari lelaki itu membenahi posisi bunga kamboja di telinga Yeona yang hampir jatuh.

“Ayo cepat. Jangan memasang wajah memelasmu seolah hidupmu berakhir besok. Aku benci itu.”

Akhirnya dia mengalah, mengajak Yeona masuk melihat ular suci yang dimaksud teman perjalanannya.

“Puas?”

Yeona mengangguk, dia menyesap kopi panas yang tadi Chenle berikan. “Terima kasih, sunset dan kopinya.”

“Memangnya aku pembuat matahari terbenam. Setiap hari juga matahari terbenam.”

“Bukan itu. Terima kasih membuatku melihat matahari terbenam di Bali dan menjagaku selama disini.”

“Aku menjagamu? Hah, kau terlalu percaya diri.” cibir Chenle.

“Ya, aku percaya diri. Tadi kau memiliki pilihan membiarkanku naik sendirian dan kau juga bisa  membiarkanku jatuh. Tapi kau selalu menyusul dan mengulurkan tangan untukku.” balas Yeona.

Mereka terdiam, menikmati suasana magis dari siluet mengagumkan Pura Tanah Lot.

Chenle tersenyum dalam hati. Entah seperti apa senyum dalam hati itu, yang jelas dia merasakan sepercik kebahagiaan. Tanah Lot, senja dan Yeona. Dia menulis itu di jurnal pribadinya.