#Melindungi Jevanya

Sial. Umpat Marvin ketika film baru berjalan sepuluh menit. Dia menoleh ke barisan atas. Selang dua baris kursi darinya ada sosok Kalen bersama seorang lelaki.

Ternyata benar apa yang selama ini dia duga. Ada sesuatu yang terjadi di keluarga Jeva. Memang benar Jeva sering menginap di rumahnya, tapi tidak sesering beberapa bulan ini. Seakan Joandra memang sengaja menitipkan anaknya ke Papa Marvin.

“Jev, tau nggak kenapa gue itu Marvin?” tanyanya asal untuk menahan perhatian Jeva ke dirinya.

“Kenapa? Karena lo anak Om Tama?”

“Kok bener? Kok bisa tau?”

“Vin, tau nggak sih. Lo di sekolah jadi pujaan ciwi-ciwi, tapi kalo udah sama gue keliatan aneh gini.” desis Jeva setengah emosi. Biasanya dia akan berteriak tapi karena sedang hening jadi dia menahan mulutnya bicara lantang.

“Ya emang keren. Tapi sumpah gue keren banget.”

“Lo mirip Haidar, aneh.”

Marvin terkejut, baru kali ini Jeva menyebut nama lelaki selain Natalio. “Siapa? Haidar siapa?”

“Nggak tau, orang aneh yang sering dm gue.” jawab Jeva cuek. Dia kembali menonton film sambil memakan popcorn.

Marvin menghembuskan napas lega. Setelah fokus Jeva kembali pada film maka selesai sudah tugasnya.

Satu jam berjalan lambat. Sangat lambat malah untuk Marvin. Jantungnya berdegub tak karuan setiap Jeva hendak menolehkan kepala. Jangan sampai temannya itu membuat kekacuan.

Dia bisa menduga apa yang akan terjadi bila Jeva menangkap basah ibunya berselingkuh. Bisa-bisa lelaki itu dibunuh ditempat.

Dan-

film selesai.

“Jev, ayo. Gue kebelet.”

“Bentar, ini rapiin dulu sampahnya.”

“Udah biarin. Cepet!” seru Marvin.

Jeva bersungut-sungut mengikuti langkah cepat Marvin.

“Kenapa sih? Kebelet doang, kan tadi bisa keluar dulu terus-”

“Diem.”

“Apasih Vin?”

“Tunggu sini. Kalo lo pindah tempat dikit aja, nggak gue ajarin tugas matematika.”

Jevanya patuh. Dia berdiri disana selama beberapa menit kedepan. Tapi Marvin salah, justru membiarkan Jevanya disana malah membuat usahanya mengalihkan perhatian gadis itu jadi sia-sia.