Bealif

Patah

#Patah Hati

Joandra menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Wajahnya berubah suram ketika mendapati Kalena datang ke kedai kopi bersama seorang lelaki. Sejak satu jam lalu dia sibuk berpikir cara memperbaiki hubungan dengan Kalen tapi ternyata Tuhan berkata lain.

“Pulang aja Jo, percuma lo nyamperin mereka. Kalen emang udah nggak mau sama lo.” ucap Tama putus asa. Dia yang lebih dulu menjadi duda, sedikit lebih paham tentang melepaskan.

“Lo nggak ngerasa kenal cowok itu?” tanya Jo dengan hati tersayat. Walau bagaimanapun Kalen adalah ibu dari dua anaknya.

“Lo nyuruh gue ngeliat si monyet? Anjing, males.”

“Gue familiar sama orang itu.” gumam Jo.

“Pulang. Anak-anak nunggu di rumah gue.”

Jo dan Tama berpisah mobil. Mereka menyetir sendiri-sendiri sampai ke rumah Tama. Sepanjang jalan, Jo banyak berpikir tentang saran Tama untuk berpisah dengan Kalen. Katanya buat apa mempertahankan hubungan yang sudah jelas-jelas rusak.

Benar, pernikahannya dan Kalen tidak sehat semenjak pertengkaran hebat yang hampir memisahkan Jeva dan Jian. Jika sudah mengingat masa itu, maka Jo hanya akan menangis.

Dia menghentikan mobilnya di depan minimarket. Isakan demi isakan keluar dari bibirnya. Bukan masalah hatinya, tapi perasaan anak-anak. Bagaimana kalau mereka tau tingkah laku sang ibu di luar sana?

Senyum Jo terbit ketika Jevanya berlari ke pelukannya. Gadis itu tampak mengantuk tapi memaksa tetap terjaga untuk bertemu ayahnya.

“Paaa, Jian udah tidur di dalem.” lapor Jeva sambil tetap memeluk ayahnya. “Kita pulang apa nginep? Mama udah di rumah belum?”

Jo tersenyum, dia mengusap rambut panjang Jeva. “Udah sayang, mama udah di rumah. Tapu kita nginep aja ya? Udah terlalu malem, papa juga ngantuk banget nih.” ucap Jo penuh kepalsuan.

Siapa yang di rumah? Tidak ada. Kalen selalu pulang ke apartemennya. Dia kembali ke rumah kalau Jeva dan Jian sudah bingung mencari.

Apa salah Jo sampai keluarganya jadi seperti ini?