#Cinta Dan Percaya
Tidak ada yang tidak mengenal Lucas, dia adalah bintang sesungguhnya. Sosok yang dipuja-puja banyak gadis termasuk diriku. Hanya saja aku terlalu malu untuk menunjukkannya. Jadilah hanya sikap cuek dan omongan ketus yang kulontarkan padanya.
Padahal aku menyukainya. Sangat suka malah.
“Der, lo balik ke kelas kek. Sepet banget gue ngeliat lo tiap hari.” omel Lucas ketika mendapati Hendery asik bicara denganku.
Aku diam-diam tersenyum. Ini tahun ketiga sekolah kami, sebentar lagi kelulusan. Dan rasa sukaku padanya makin berkembang. Sekarang mendengar orang memanggil namanya saja bisa membuatku tersipu. Astaga, Lucas memang sangat manis meski banyak orang mengatakan lelaki itu menakutkan.
“Tumben lo senyum. Punya pacar?” tanya Lucas tiba-tiba.
“Apasih. Nggak jelas.”
“Santai. Ngegas amat jadi cewek, syukur deh kalo ada yang mau sama lo.”
Kalau sudah begini, mood-ku akan berubah dengan cepat. Begini rasanya diejek menyukai orang lain oleh lelaki yang kutaksir. Apa Lucas benar-benar tidak merasakan kalau aku menyukainya?
Haruskah kutunjukkan dengan perbuatan. Tapi aku perempuan dan juga terlalu aneh kalau melakukan pdkt padahal kami memang sudah dekat sebagai teman bertengkar.
“Balik bareng, bawa motor kan?” tanyanya ditengah-tengah jam pelajaran.
“Iya.”
“Nggak usah serius-serius, udah pinter.”
“Diem, ini materi buat ujian.”
“Liat gue dulu coba.”
Aku mendengus kesal, kualihkan pandanganku pada dirinya. Lucas tersenyum lebar, dia memberikan heartsign dengan jarinya.
“Semangat.” ucapnya tanpa rasa bersalah, hampir saja pertahananku menyembunyikan senyum luluh lantak. Sialan, umpatku yang ingin sekali menggebrak meja.
Pukul empat sore, aku menunggu di depan kelas. Lucas pamit ke ruang osis sebentar untuk memberikan koreksi proposal kegiatan perkemahan. Aku jelas menunggu dengan sabar, karena beberapa menit lagi kami akan duduk bersama di atas motor.
Aaaa...
Aku berteriak dalam hati. Sial, sejak kapan aku jadi secentil ini. Pasti organ-organ tubuhku malu, mengingat dulu saat kelas sepuluh aku banyak menghina Lucas sebagai anak nakal.
“Sorry, gue lama.”
“Nggak. Cepet gue laper.” jawabku ketus guna menutupi kegugupan.
Senyum Lucas terbit, dilepasnya jaket yang tadi dia kenakan. Tangan panjangnya mengurungkan jaket itu ke badanku, membuatku menggigit bibir kuat-kuat sambil menunduk malu. Bau parfum Lucas berbeda, hari ini dia memakai parfum baru. Jarak kami memang terlalu dekat. Oh tidak, aku lupa memakai parfum-
“Apasih lo, nggak jelas.” kataku lalu mendorong badan besarnya.
Lucas terkekeh, diambilnya jaket yang tadi terjatuh ke lantai. “Pake, udah mau ujan. Dingin.”
Aku mendongak, menatap mata bulatnya. Sangat jernih dan indah. Hingga tanpa sadar aku mendekatkan badanku, sepasang mata itu seperti menarikku untuk lebih mengenalnya dalam artian berbeda.
Lucas tidak bergeser dari posisinya, tampaknya dia juga tersihir. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa anggota osis yang sedang berkumpul di ruangan mereka. Sedangkan disekitarku benar-benar tidak ada orang. Hanya kami berdua, sekali lagi kami benar-benar berdua.
“Segitunya ngeliatin gue. Naksir lo?” ucapnya memecah keheningan.
“Standar gue tinggi. Lo bahkan nggak ada diurutan terakhir.” pekikku sebal, nada suaraku meninggi seolah apa yang Lucas ucapkan adalah kesalahan besar.
Dia menggeleng heran, mungkin emosinya sedikit memuncak karena ucapan tadi bisa jadi menyinggungnya. Aku jadi merasa bersalah. Tadi aku hanya gugup dan tidak tau harus berbuat apa.
“Ayo.”
Kami sampai di depan rumahnya. Lucas segera turun dari motor begitupun denganku.
“Makasih. Sorry ngrepotin.”
“Oke. Santai.”
“Gue mau nanya.”
“Nanya ya nanya aja kali, segala ijin.” kataku sebal.
“Lo percaya sama gue? Meski semua orang bilang gue orang nggak baik, hobi ngrokok sama balapan.”
Aku tercengang mendengar apa yang dia ucapkan. Siapa yang berkata seperti itu. Jelas-jelas Lucas anak baik- baik. Aku tau benar dia hanya sibuk main basket, organisasi, les dan terkadang main game.
“Butuh kepercayaan gue?”
Dia mengangguk.
“Nggak tau. Kenapa emang?” tanyaku santai. Padahal aku ingin sekali membombardirnya dengan banyak pujian.
“Gue tau lo kenal gue. Jadi percaya terus ya sama gue?”
Aku mendengus sebal, ada apa sebenarnya?
Suasana jadi berubah canggung.
“Gue pulang. Males mikirin gituan.”
Satu minggu berlalu. Selama tujuh hari aku seperti orang gila. Mengetahui Lucas diskors karena pelanggaran berat. Beredar fotonya di area balap liar, foto merokok dan beberapa videonya di club. Aku menggigit bibir kuat-kuat ketika membaca pesan di grup kelas. Manusia-manusia di kelasku seenaknya menghina Lucas padahal dia jelas-jelas ada digrup itu.
Kenapa Lucas tidak memberikan pembelaan. Kemana dia seminggu ini.
“Lo semua-” teriakku hilang kesabaran.
Anak-anak di kelas menoleh ke arahku. Mereka menungguku melanjutkan bicara. Umpatan-umpatan dibenakku terasa menggumpal di dada. Tidak ada yang keluar sampai guru mata pelajaran berikutnya datang.
Aku kembali duduk. Ternyata nyaliku memang ciut. Pantas saja perasaanku tiga tahun ini tidak terbalas.
“Anak-anak, ibu pesan ke kalian jangan tiru tingkah laku salah satu murid yang sekarang diskors. Kalian harus menjaga tingkah laku, bersikap baik dan tumbuh menjadi orang sukses.”
Sialan.
Dia membicarakan Lucas.
Pukul empat sore di hari Jum'at. Aku sampai di depan rumahnya. Langkahku mantap melintasi halaman. Tiga menit aku menunggu pintu dibukakan setelah memencet bel.
“Hai.” sapanya canggung.
“Gue percaya sama lo, tapi jelasin semuanya.” ucapku lantang.
Wajahnya mengeras, ada emosi baru yang timbul. Aku sedikit takut sebenarnya, tapi kulanjutkan saja menatap matanya. Dengan seluruh keberanian aku maju ke depan. Mempersempit jarak diantara kami. Tanganku terulur, kutempelkan jemariku di dahinya. Dia demam.
Lucas menggeleng, “Gue nggak sakit.”
“Kenapa nih, cewek paling pinter dan galak di kelas tiba-tiba nyamperin rumah gue.”
“Jelasin!” perintahku setengah marah karena dia malah terkekeh tidak jelas padahal aku mati-matian menahan emosi sejak tadi di dalam kelas.
“Umur lo berapa?”
“18.” jawabku tidak sabar, aku hanya ingin dia segera menjelaskan. “Lo-”
Deg.
Aku mematung ketika dia merengkuhku. Badanku sempurna menjadi kaku.
“Gue nggak salah.” ucapnya dengan suara bergetar, dia menangis. Pelukannya semakin erat, aku merasakan hangat tubuhnya.
Aku tertegun. Setelah Lucas melepas pelukannya, kami saling bertatapan. Kali ini aku tidak menahan apapun, kuijinkan mataku menunjukkan rasa sayang yang selama ini kutahan-tahan. Debur-debur jantungku kian cepat ketika tiba- tiba Lucas tersenyum. Hatiku meleleh, aku akan sangat beryukur jika hari ini Lucas menyadari apa yang selama ini kusembunyikan.
Dia mengangguk. Lalu kembali memelukku.
Apa artinya ini? Bukankah aku datang untuk minta penjelasan?