#Kita Bisa, Pa

“Papa!” seru Jeva setelah melihat Joan turun dari mobilnya. Marvin, Jeva dan Jian sedang mengobrol di teras bersama Tama. Memang sejak awal mereka menunggu kedatangan Joan.

“Selamat ulang tahun pa.” ucap Jeva penuh rasa sayang. “Jevanya sayang banget sama papa. Lebih dari Jian pokoknya!”

“Makasih ya kakak cantik.” balas Joandra penuh syukur. “Makasih udah nungguin papa malem-malem gini. Maaf ya papa pulangnya lama.”

Jevanya menggeleng, dia masih tersenyum manis. “Santai bos, asal inget pulang. Semua bisa di diskusikan.”

Semua yang ada disana tertawa mendengar ocehan Jevanya. Jiandra sendiri masih diam, dia hanya menikmati momen milik kakak dan ayahnya. Begitu saja sudah membuat perasaannya menghangat. Kesedihan beberapa hari ini seolah menguap. Akhirnya kakaknya itu bisa tersenyum lagi.

“Jian nggak kasih ucapan ke papa?” tanya Joandra seakan sakit hati.

“Hehehe, selamat ulang tahun Pak Jo.”

“Yeeee, gitu doang. Mana doa sama kata-kata manisnya?” protes Jeva.

“Apasih kak. Nggak ah. Udah dalem ati.”

“Udah-udah. Kalian berantem terus.” seru Tama gemas. “Katanya mau kasih kado.”

“Oh iya, marvin tadi mana kado gue. Di lo kan?” tanya Jeva panik.

Marvin memberikan satu kotak berwarna abu-abu lengkap dengan hiasan pita. Ditatapnya Jevanya yang memberikan hadiah itu ke papanya. Sama seperti Jian, dia juga bahagia Jeva bisa tersenyum lagi. Meski kemarin gadis itu juga tersenyum, tapi kali ini berbeda.

“Kita bisa, Pa!” seru Jian dan Jeva. Mereka berdua sedang menyalakan lilin meski selalu gagal karena takur terbakar.

Kakak beradik itu memiliki ketakutan yang sama pada api. Ada satu cerita masa lalu penyebab ketakutan itu.

“Gue aja. Lama lo berdua. Ambil piring aja sana.” seru Marvin gemas.

Pukul tiga pagi. Anak-anak sudah tidur. Mereka memaksa tidur di ruang tamu. Katanya suasana itu seru, seperti berkumpul di rumah nenek.

Tama dan Joandra berpindah ke balkon atas. Mereka menyulut rokok sambil menikmati minuman beralkohol dengan kadar rendah. Sejak tadi belum ada yang membuka pembicaraan. Mereka masih saling diam.

“Lo nggak nikah lagi Tam?”

“Nggak. Ngapain, gue bisa gedein Marvin sendirian.”

Jo mengangguk paham. Dia menenggak lagi minumannya.

“Kalo gue pisah sama Kalen, anak-anak nerima nggak ya?”

“Mending lo ngobrol dulu sama mereka. Jelasin situasinya, gue yakin Jian sama Jeva udah bisa diajak diskusi.”

“Gue takut mereka pura-pura kuat. Dulu waktu Jian sama Kalena pulang ke Bogor, Jeva juga gitu. Dia pura-pura biasa aja depan gue. Padahal tiap malem dia nangis. Dia nggak bisa kehilangan ibunya.”

Tama mengangguk setelah mendengarkan penjelasan Joandra. Dia juga tau, Jeva adalah gadis yang terlihat butuh banyak kasih sayang secara nyata. Gadis itu tidak segan-segan meminta pelukan, pujian, dan segala hal yang menunjukkan rasa saling mengasihi.

“Tapi kalo gini, lo yang sakit Jo. Harusnya dulu lo nggak balik sama Kalen. Lebih jauh lagi, harusnya waktu kuliah lo nggak tergila-gila sama dia. Dan lebih jauh lagi, harusnya lo dulu sadar Yuda sama Kalen udah jadi racun buat satu sama lain.”

Joandra menyulut rokok kelimanya. Dia memandang langit gelap di atas sana.

Kalau semua salahnya, bolehkah dia menyalahkan orang lain? Tapi siapa?

Memang dialah yang ngotot tetap bersama Kalen meski dia sudah berkali-kali mengetahui istrinya itu berselingkuh.