Bealif

Penyesalan

#Penyesalan Selalu Diakhir

Jisung menarik tangan Rasya yang hampir terserempet motor. Matanya menatap tajam gadis yang kini tersenyum malu-malu.

“Lo kalo modus jangan gitu. Basi.” seru Jisung dengan emosi yang sudah dia tahan sejak tadi pagi.

“Kak, aku nggak modus kok.” kata Rasya dengan wajah seimut mungkin.

“Terserah.”

Sebulan ini dia hidup berantakan. Pagi berangkat kuliah, sore merenung di warung kopi dan malam hari selalu dia manfaatkan untuk melihat Anna dari jauh. Sekarang Hendery yang selalu bersama Anna. Lelaki itu menggantikan posisinya.

“Lo mending ngobrol sama Kak Anna. Dia juga bingung tiba-tiba lo ngilang gini.” nasihat Haechan malam itu saat Jisung bergelung dibalik selimutnya.

“Diem. Tau apa lo.”

“Njing, gue yang nemenin lo ngebucin dia dua tahun ini. Ada apa-apa tuh diobrolin. Gue yakin dia belum jadian sama si Hendery.”

“Gue keliatan peduli gitu?”

Haechan menjejak punggung Jisung sampai lelaki itu jatuh dari tempat tidur. “Bodo amat. Nyesel juga lo sendiri bukan gue.”

Entah perasaan Jisung terbuat dari apa. Sebulan ini dia sering menangis ditengah malam. Untung saja dia sendirian. Betapa malunya dia kalau Haechan atau mamanya tau dia selemah ini.

“Gue kangen. Anjing, gue kangen banget sama lo Kak.”

“Gue nggak bisa kalo harus jadi temen lo, sedangkan lo sama Hendery pacaran.”

Siang itu Jisung memberikan pesan pada Jay, adik angkatannya yang kebetulan sedang libur, supaya menolak siapapun yang datang ke kos.

“Beneran bang? Lo nggak papa kan?”

“Nggak. Gue cuma pengen tidur. Awas lo bangunin gue.”

“Iya bang.”

Anna naik ke mobil Hendery, dia meletakkan beberapa buku di kursi belakang.

“Cuma itu Ann? Kalo ada lagi gue bantu bawa.”

“Cuma ini kok Hen. Makasih ya.”

“Santai aja kali. Daripada lo naik grab car, mending duitnya disimpen.”

“Iya Hen.”

Hendery dan Anna saling diam. Mereka mendengarkan radio yang kebetulan memutar lagu Eclat berjudul Bentuk Cinta.

“Lo tau nggak bentuk cinta versi gue itu apa?” tanya Hendery tiba-tiba.

“Nggak tau.”

“Tanya coba.”

“Bentuk cinta versi lo apa Hen?”

“Lo. Bentuk cinta gue itu lo.”

Anna segera menatap mata Hendery. “Bercanda lo nggak lucu. Gue nggak suka bercandaan kayak gitu.”

“Tapi-”

“Bisa lebih cepet nggak? Udah hampir shift gue nih.”

Jelas sudah. Anna selama ini memberikan batasan untuk hubungan mereka.

Jam setengah sebelas malam. Jay sedang duduk di depan kosnya sambil bermain gitar.

Seperti kejadian yang direncanakan, Anna datang ke kos Jisung. Dia membawa sekotak kue dan camilan kesukaan temannya itu.

“Permisi, Jisung ada?”

“Nggak ada. Pulang ke rumahnya.”

“Dari kapan? Kenapa nomornya nggak aktif ya?”

“Kurang tau.” jawab Jay seadanya.

“Oh, makasih ya. Boleh titip pesen nggak, tolong bilang ke Jisung buat hubungin Anna.”

“Iya. Nanti gue bilang orangnya.”

Sayangnya sampai satu bulan kemudian, Jay lupa akan pesan itu. Setelah Anna datang, dia mendapat kabar bahwa neneknya meninggal. Jadi, pesan Anna tidak tersampaikan.

“Semester 6 bro. Kisah cinta lo udah hangus dari tiga bulan lalu. Masih galau aja.” ucap Haechan di hari pertama bertemu Jisung di kampus setelah libur cukup panjang.

“Diem. Gue males ngomong.”

“Gue bilang, temuin dia. Obrolin semuanya. Tanya dia punya rasa yang sama kayak lo apa nggak. Simpelnya lo ngaku ajalah kalo suka, masalah ditolak apa diterima pikirin nanti aja.”

“Susah.”

“Susah kalo lo nggak ngambil langkah. Lo cuma butuh nyoba. Sumpah Ji, lo bakalan nyesel kalo nggak nyoba.”

Jisung mengabaikan ucapan Haechan. Dia lebih memilih naik ke motornya lalu melaju pergi melepas rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.

Hari wisuda Anna.

Setelah serangkaian acara, Anna langsung pulang bersama kedua orang tuanya. Hari ini dia sekaligus pindah dari kos. Cerita masa kuliahnya sempurna berakhir.

“Bang, gue lupa banget!” teriak Jay di dalam kamar Jisung.

“Beneran bang, gue mohon maaf. Pas itu ada cewek nyariin lo. Namanya Anna, nitip pesen suruh hubungin dia.”

“Anjing, kapan? Dia ke kos?”

“Iya, waktu lo bilang nggak mau diganggu. Gue bilang lo pulang ke rumah. Dia titip pesen suruh hubungin tapi gue nggak sempet ngomong sama lo. Sorry bang, gue lupa.”

“Sialan. Kenapa baru ngomong sekarang.”

Jisung menyambar jaketnya. Dia berlari ke luar kamar, menyalakan motor lalu secepat mungkin menuju kos Anna.

“Please, jangan pergi dulu Kak. Tuhan, tolong kasih kesempatan buat gue ngomong ke dia.” doanya sungguh-sungguh.

Sia-sia.

Anna terlanjur pergi. Kosnya sudah kosong sejak satu jam lalu saat Jisung sampai disana. Jisung tidak menangis, dia hanya berdiri termenung di depan pintu. Kenangannya bersama Anna di tempat itu seperti diputar ulang.

“Jisung, nggak usah. Aku bisa sendiri kok.”

“Berat Kak, gue aja yang bawain ke dalem.”

“Ya udah, makasih ya.”

“Iya Kak. Lo nunggu di luar aja, jangan masuk ke dalem. Hukumnya dilarang.”

“Hah? Kenapa?”

“Karena lo dan gue adalah kita.”

Anna terkekeh, dia tidak bisa memahami ucapan Jisung.

“Kak, kok lo betah jomblo?”

“Aneh ya kalo aku jomblo?”

“Dikit sih. Lo kan cantik.”

“Biasa aja, banyak yang lebih cantik.”

“Jadi kenapa lo jomblo Kak? Naksir gue ya?”

“Ih, pede banget. Enggaklah, kamu udah kayak adekku Ji.”

“Oh, adek ya?”

“Iyaaaa!”


“Nyet, konser Tulus gaslah.” ajak Haechan siang itu.

“Males.” timpal Jisung.

“Siapa yang ngajak lo?”

“Nggak usah ganggu. Gue lagi nyicil skripsi.”

Haechan merogoh saku jaketnya. Ada tiga lembar kertas. Satu bertuliskan alamat dan dua lainnya adalah tiket konser.

“Ngeri gue, lama-lama lo bisa mati gamon.”

“Hm.”

“Liat njing.” bentak Haechan sambil menunjuk kertas di samping laptop Jisung.

“Apaan?”

“Gue susah-susah nyari alamatnya. Jangan sampe lo jadi cupu. Samperin. Jelasin semuanya!” teriak Haechan sambil berjalan keluar dari kamar Jisung.