#2021

Cerita ini akan sederhana saja. Tentang Ten yang selalu menjadi tokoh baik dan aku sosok yang berkali-kali melukai hatinya. Semua bukan tanpa alasan. Entah sejak kapan kami terjebak dalam hubungan menjemukan, zona pertemanan yang dibubuhi rasa cinta.

Kalau ada yang bertanya sejak kapan aku mulai menyukainya, jawabannya ada dalam buku harian yang kini terbuka lebar di atas tangannya. Matanya menelusuri satu demi satu kata yang sempat kutulis beberapa tahun lalu.

Sialnya, ini memang di luar kendaliku. Saat semuanya terungkap, baru kemarin aku menerima persetujuan perjodohan dengan putra teman ayahku. Mengejutkannya lagi, dia adalah Hendery, teman satu tongkrongan Ten.

Apa sudah terlambat untuk mundur dan bertanya pada Ten, apakah dia mau membawaku kabur? Kalau dia memang cinta padaku sih.

“Bagus juga tulisan lo.” gumamnya, dia berlaga menilai tulisanku. Padahal dia bukan guru bahasa indonesia.

“Nggak usah ngelawak.”

“Eh, beneran. Lo pas SMA menang lomba nulis juga 'kan? Nggak nyangka gue, ternyata buku harian lo isinya lebih oke.”

“Kenapa?”

Ten menutup buku itu, lalu fokus menatapku. “Kenapa apanya?”

“Kenapa kesini? Bukannya lo marah?”

“Ya gue marah. Tapi mau gimana lagi. Lagian lo pengen nasi padang, sakit bukannya makan yang sehat.”

“Ayo kabur, kita sama-sama saling sayang. Bawa gue lari dari sini.”

“Nggak ah, pengecut banget kalo gue kayak gitu. Buat apa, yang ada bikin malu keluarga kita.”

Kenapa ya, semua jadi begini. Aku ingin menyalahkan Ten yang tidak mengakui perasaannya sejak dulu, tapi aku sama seperti dia. Bertahun- tahun kami diam, menganggap hal seperti ini tidak akan terjadi.

“Udah baikan?”

Lelaki yang barusan bertanya adalah Hendery. Dia tunanganku, kami berencana menikah dua bulan lagi. Dia tidak jahat kok, meski terkesan seperti orang ketiga diantara aku dan Ten. Tapi dalam buku kisahnya sendiri, Ten adalah orang ketika dan aku tokoh antagonis.

“Udah. Padahal nggak kesini nggak papa. Lo pasti capek.”

Hendery menggeleng, dia membenahi selimutku.

“Gue capek, tapi dikit doang. Kalo nggak nengok kesini, tandanya gue nggak sayang lo? Iya ga sih?” tanyanya seolah sedang meminta penilaian atas rasa sayangnya.

Dengan cepat aku menggeleng, tidak mungkin rasa sayang hanya diukur dari hal itu. Kalau memang mau diukur, Hendery jelas mendapat banyak poin. Dia hampir selalu siap sedia ketika aku butuh. Pernah saat itu aku bertengkar hebat dengan ayahku, tidak sengaja aku menjelekkan Hendery dengan keluarganya. Pun membandingkan dia dengan Ten, padahal saat itu Hendery ada disana. Tapi dengan penuh kesabaran, dia memelukku, mengatakan kalau aku harus meredam emosi dan minta maaf pada ayahku.

Jika aku ada diposisi Hendery, dengan banyaknya hal buruk yang kuberikan, pasti sejak dulu aku sudah pergi. Jika sudah begini, rasanya tidak pantas kubandingkan dia dengan Ten.

Satu jam kemudian, ruangan diisi dengan cerita seru dari Hendery. Dia banyak membuatku terkikik geli karena hal-hal konyol yang dulu pernah dia lakukan.

“Lo tau nggak? Sumpah sih ini lawak banget, gue pernah bercandaan sama temen. Kayak ngunciin dari dalem gitu, biar dia nggak bisa masuk ke kelas. Udah gue tahan-tahan tuh gagang pintu, eh taunya guru matematika dong yang di luar. Sial, gara-gara itu gue masuk bk.”

Hendery menyuapi sepotong apel ke mulutku, sambil tersenyum dia melanjutkan lagi.

“Kalo ini malu banget. Gue pernah salah chat di grup yang ada wali kelasnya. Masa gue chat gini, 'bagi jawaban fisika dong, besok ulangan kimia nyontek aja, oke?' wah gila banget deh gue dulu. Ah anjir, sampe sekarang kalo gue inget-inget kayaknya itu alesan gue langganan bk.”

Aku sudah lama kenal Hendery karena dia teman Ten juga. Tapi kami biasanya hanya bertukar sapa seadanya. Benar-benar tidak kusangka dia bisa secerewet ini. Apa dia tidak menolak perjodohan kami? Kenapa dia santai sekali, padahal dia juga tidak menyukaiku. Aku tau itu karena sebulan sebelum kami bertunangan, dia putus dengan pacarnya.

“Aw!” pekikku ketika tangan Hendery tidak sengaja menekan jarum infus.

“Maaf, maaf. Gue nggak sengaja.” serunya begitu panik ketika menyadari darah mulai naik.

“Ini kenapa bisa gini? Kok darah lo keluar?”

“Nggak papa. Nanti ilang sendiri, hehehe ini tadi gue salah posisi pas tidur.”

Dia menatapku khawatir. “Lo panik ya tadi?”

Aku meringis lalu mengangguk tipis. “Iya, panik banget. Tapi nggak papa, tadi ada T-”

Sial. Aku hampir menyebut nama Ten, canggung sekali.

“Ten?”

“Iya. Marahin gue aja, jangan Ten. Gue yang minta dia dateng, soalnya tadi gue pengen banget makan nasi padang. Terus maksa dia buat bawain.”

“Gue nggak marah kok. Faktanya, emang Ten yang lebih tau lo.”

“Hendery?”

“Mama udah mau kesini. Nanti gue langsung pulang ya, ada kerjaan yang kelupaan. Gue ke kamar mandi dulu.” pamitnya lalu pergi meninggalkanku yang masih merasa tidak enak.

Aku harus bagaimana sih? Membingungkan sekali.