#Varesh dan Alasannya

“Pak, ini jaket dan rokok yang saya temukan di mobil Mbak Eliana.” kata Gilang yang baru saja masuk ke ruangan Varesh.

“Tapi Pak-”

“Saya nggak nyuruh kamu ngasih pendapat atau saran ya Lang. Antar mobilnya besok pagi. Bilang saya ada urusan ke luar kota.”

Gilang mengangguk patuh. Dia segera pergi dari ruangan itu. Bosnya tidak dalam keadaan baik untuk menerima laporannya. Selama bertahun-tahun dia mengabdi, baru kali ini emosi Varesh tidak terkendali.

Biasanya, Varesh adalah orang yang tenang. Fokusnya tidak mudah terpecah. Tapi beberapa hari ini, hanya karena sebuah jaket dan rokok, Varesh bisa uring-uringan tidak jelas.

“Sialan!” umpat Varesh dari balik laptopnya.

Dia sedang mengukur sejauh mana Tiar akan bertindak setelah menghilang delapan tahun. Ternyata semua diluar perkiraannya. Rivalnya itu dengan percaya diri kembali menemui Eliana.

Seolah pengorbanan Varesh menjaga Eliana tidak ada artinya.

Jadi, mari tanyakan apakah semua hal yang telah dia usahakan untuk Ana masih kurang?

Varesh mendengus sebal, dia menutup laptop itu lalu melangkah menuju ruang pribadinya.

Ukurannya delapan kali delapan meter, penerangan minim mirip film suram yang menakutkan, dan tidak ada isian apapun. Hanya ada satu sofa, beberapa bungkus rokok dan ratusan foto yang menggantung indah di memenuhi ruangan itu.

Varesh selalu datang kesana setelah hari yang panjang. Hanya saja dua tahun ini dia absen demi menjawab satu pertanyaan.

Benarkah dia mencintai Eliana?

Bernakah Samira Eliana pantas untuk dia perjuangkan?

Pertanyaan bodoh bukan, padahal dia disisi Eliana sejak mereka duduk di bangku SMA. Melewati berbagai kegiatan osis, belajar bersama untuk masuk universitas, melewati pasang surut hubungan pertemanan dan berpisah sebentar untuk mengejar mimpi masing-masing.

Varesh melihat satu foto yang kebetulan nampak dimatanya. Foto itu menghadirkan sejuta kenangan. Dia mengambil potret tersebut saat Eliana berada di pemakaman ayahnya.

Hari itu begitu terik, Eliana tidak menangis. Gadis itu hampir terlihat puas.

“Semua udah selesai Resh.” gumam Eliana di depan makam ayahnya.

“Na, lo boleh nangis.” bujuk Varesh yang khawatir karena temannya sibuk menahan kepedihan.

“Nggak Resh, gue lega.”

“Na?”

“Hehehehe, gue sedihlah Resh. Gila aja kalo gue biasa aja. Tapi Resh, banyak orang berdoa sama Tuhan biar diambil nyawanya saking udah nggak kuat sama dunia ini. Ayah capek Resh.”

Batin Varesh ikut nyeri ketika akhirnya Eliana menangis habis-habisan dipelukannya. Temannya itu menahan ratapan ketika semua orang menangis tersedu-sedu. Maka setelah satu persatu pelayat pergi, barulah dia merapalkan semua kehilangannya dalam bentuk raungan yang terdengar menyayat hati.

Dia harus kokoh seperti batu yang tidak mudah hancur.

Eliana harus begitu, menjadi pelindung untuk ibu dan adiknya. Karena dia anak perempuan pertama, pengganti sosok sang ayah.

“Tenang aja Na, ada gue.” ucapnya dalam hati.

Entah sejak kapan dia mulai suka menjadi tempat bersandar Eliana.