#Dia Separuh, Aku Utuh
Aku bersyukur bisa melewati hari kemarin, tetap bertahan untuk hari ini dan mengharap keindahan untuk esok hari.
Aku ragu untuk menghubunginya setelah pertengkaran yang terjadi dua hari lalu . Tanpa sengaja mulut lancangku menyebut kata perpisahan. Bukan memutuskan hubungan kami, tapi aku memberinya pertimbangan apakah hubungan kami terus berlanjut atau berakhir saja.
Sial. Aku menangis lagi seperti orang bodoh.
Dia bilang, “jangan gampang minta pisah. Dipikir aku nggak bisa ninggalin kamu?”
Yaaahhh, andaikan dia mau menjalani hubungan ini secara wajar maka aku tidak akan mengucap hal-hal menyakitkan itu. Dia pikir, bagaimana seorang 'aku' yang begitu bergantung padanya bisa mengucap perpisahan lebih dulu. Itu hanya akan menghancurkanku.
Aku masih ingat benar saat langit penuh bintang dan dia merangkulku lalu mengucap satu kalimat yang membuatku jatuh sedalam-dalamnya.
“Aku bersyukur kita bertemu. Kamu itu mengagumkan, seperti mimpi yang menjadi nyata.”
Lucas datang, dia tergesa membuka pintu kamar. Matanya mencari keberadaanku yang terbalut selimut dalam gelapnya kamar kami. Aku menatap siluetnya yang tampak lebih tinggi dan kekar dibanding Doyoung, pacarku.
“Berantem lagi? Kalo gue bilang kalian putus aja, gimana?”
“Abis itu lo nikahin gue. Terus setahun kemudian gue balik sama Doyoung karena gue masih cinta.”
“Mau?” tanyanya serius.
Aku segera melempar guling yang berakhir wajahnya.
“Ya nggaklah. Kasian ntar lo jadi duda.”
“Demi lo, nggak papa deh.” jawabnya kemudian disusul tawa karena aku sudah menggeram marah.
Aku jahat ya. Jelas-jelas statusku adalah pacar Doyoung tapi saat malam hari aku lebih sering menghabiskan beberapa gelas minuman bersama Lucas. Hubungan ini rumit. Kalau harus memilih, maka aku akan memutuskan untuk sendiri saja. Doyoung setengah hatiku, Lucas setengahnya lagi dan secara utuh itu adalah aku.
“Lo pernah liat bunga padi?”
Aku menggeleng sambil melirik Lucas yang kini menggulung lengan kemejanya. Kami sudah berpindah ke balkon. Ada segelas minuman hangat di tanganku.
Perlahan dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Lalu membisikkan sesuatu yang ingin sekali kusetujui.
“Mau liat bunga padi di Bali? Kita berdua.”
Apa ini ajakan yang sama, seperti-
Mau lihat kupu-kupu di rumahku?
Hm, aku harus menjawab apa kalau setelahnya ada email masuk berisi tiket keberangkatan ke Bali. Tentu saja aku mengiyakan.
Wajahku memerah karena kesal. Tanganku mengepal erat saking tidak kuat menahan gejolak untuk menjambak rambut seorang wanita aneh yang kini duduk di hadapanku. Orang gila, sebaiknya kusebut dia begitu. Dia tiba-tiba datang lalu membicarakan pacarku dengan mulut baunya.
“Lo pernah kena pecahan gelas?”
Dia menggeleng.
Oh ternyata belum.
“Mau coba rasain nggak waktu mulut lo kena pecahan gelas?” tanyaku sambil tersenyum manis.
“Lo psikopat ya?”
“Bisa jadi?”
“Doyoung itu suami gue. Tolong, kalo lo masih punya hati. Biarin anak kami tumbuh di keluarga yang sehat. Setidaknya demi anak gue. Tolong.”
“Hahaha, lo tau nggak sih? Yang rebut Doyoung itu lo. Gue sama dia udah tiga tahun pacaran dan ditahun kedua lo dateng dengan muka menjijikan itu.”
Doyoung datang setengah jam setelah wanita itu pergi. Dia melempar senyum manis ketika mata kami bertemu. Doyoung menarik kursi lalu duduk dengan tenang. Dia memberikan buket mawar merah berserta tiga buah coklat.
“Maaf. Aku harusnya nggak semarah itu. Aku takut banget kita pisah.” ucapnya pelan, jemarinya sibuk mengait satu sama lain. Dia gugup.
“Doy, tau nggak kenapa kita bertahan?”
Dia diam.
“Kita cuma terlalu cinta sama apa yang udah kita tulis selama tiga tahun ini. Kita sekedar nunda perpisahan 'kan?” tanyaku lagi.
“Aku dateng bukan buat ngomongin ini. Aku mau minta maaf dan perbaikin hubungan kita yang sempet renggang.” tegasnya.
Aku terkekeh sambil mengangkat tanganku seolah menepis ucapannya.
“Terlambat. Udahlah, kita pisah aja. Buat apasih lo masih sama gue, mending urusin istri lo. Anak kalian udah satu tahun loh, nggak malu?”
Wajahnya memucat, dia kelabakan sampai bingung ingin mengucap apa. Aku tidak mau menunggu, kuraih tas beserta bunga dan coklat yang tadi dia berikan.
“Makasih bunga dan coklat terakhirnya. Jangan ganggu gue lagi atau keluarga besar lo tau kelakuan bejat orang yang mereka banggain selama ini.”
“Nggak usah khawatir, gue nggak bakal nangis-nangis. Sekarang gue udah bahagia.”
Bohong.
Mana bisa aku bahagia setelah mengetahui dua tahun ini kekasihku menikah diam-diam. Persetan dengan status sosial, memangnya kenapa kalau aku anak pelacur? Hahahaha, kenapa orang memandangku seperti sampah? Pacarku sendiri malu mengakuiku di depan keluarganya. Jadi aku ini selingkuhan atau yang diselingkuhi?
Pukul empat pagi di Pulau Bali.
Aku kembali menyelam ke dalam air. Kurasakan belaian lembut mengenai setiap jengkal kulitku. Menenangkan sekali mendapat pijatan gratis dari air yang kini memelukku hangat. Kami sudah bersama sejak satu jam tadi.
“Naik.” seru Lucas dari kejauhan. Dia berdiri di ambang pintu sambil melepas kaos dan celana panjangnya.
“Jangan ikut masuk. Lo bisa sakit!” seruku lalu berenang ke ketepian.
“Ya makanya lo naik.”
“Lo kenapa lepas baju?”
“Lo lepas baju juga.”
Aku mendengus sebal. Pembicaraan aneh pukul empat pagi. Jadi menurutnya aku harus berenang sambil memakai piyama?
Setengah jam kemudian kami sudah berpindah ke atas ranjang. Lucas kembali mengenakan pakaiannya dan aku mengenakan bathrobe yang terikat asal. Tangan Lucas telaten mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Lalu dia memberikan pelukan padaku dan membisikkan kalimat ini.
“Gue udah ketemu banyak cewek, tapi lo masih yang paling cantik.”
“Cas, udah deh. Gue males digombalin.”
“Ini beneran. Tau nggak sih gue sengaja pergi ke banyak negara buat buktiin lo yang paling cantik.”
“Terserah. Gue mau tidur.”
“Eh kok tidur?”
Aku menggeram sebal.
“Yaudah tidur, sambil pelukan ya?” ucapnya kemudian ketika menyadari aku memang mengantuk.
Lebih baik kuiyakan, daripada dia merengek sampai pagi.
Kutatap wajah tampannya yang tengah tertidur begitu lelap. Rasa bersalah perlahan naik ke kerongkonganku. Air mataku berjatuhan ke bantal empuk yang kini kami gunakan bersama. Bahkan sampai hari ini aku menganggapnya sebagai Doyoung dalam versi yang kuidam-idamkan. Selalu ada nama Doyoung disamping namanya. Selalu ada bayangan Doyoung setiap kali kami berpelukan hangat.
Apa aku terlalu jahat?
Semoga tidak.
Tidak lama terdengar notifikasi dari ponselnya. Aku segera meraih ponsel yang kebetulan berada di dekatku.
Sayang, kamu kerja di luar kota berapa hari? Tadi ayah nanyain, katanya mau bahas tanggal pernikahan kita.
Aku menelan ludah. Jadi, aku diselingkuhi oleh selingkuhanku?