Bealif

Perjuangan

#Perjuangan Yang Percuma

Jisung sudah duduk di semester lima kuliahnya. Dia menghabiskan dua setengah tahun untuk menambah ilmu dan juga menambah luka batinnya. Bagaimana tidak, dia menjadi kecanduan Anna sejak mereka pertama kali bertemu di tempat foto kopi.

Saat itu dia menduga, perasaannya hanya sebatas kekaguman pada sosok Anna yang memiliki tutur kata baik.

“Maaf, boleh saya duluan? Ini tugas penting, harus dikumpul jam sepuluh.” ucap Anna penuh kekhawatiran.

“Silakan.”

Jisung yang hanya berkepentingan foto kopi tugas teman, segera menyingkir dari sana. Dia beralih duduk di kursi kecil sambil memainkan ponselnya.

“Cantik juga.” batinnya dalam hati ketika diam-diam melirik Anna.

“Buruan. Catetan gue mau dipinjem Alea juga.” seru Haechan dari atas motor.

“Sabar. Antri.”

“Antri darimana? Anjir, lo dateng pertama ya. Cewek depan lo tuh nyrobot antrian.” omel Haechan tanpa rem. Dia memandang tak suka ke arah Anna.

“Maaf, mulut temen saya emang seburuk-buruk yang ada di dunia.”

Anna tersenyum tipis, dia kemudian mengangguk. “Saya yang minta maaf. Temen kamu udah nungguin ya? Duh, gimana dong? Apa saya bilang ke mas foto kopiannya biar punyamu duluan?”

Jisung segera menggeleng. Dia membuat gesture menyuruh Anna tenang.

“Nggak usah dipikirin, dia lagi modus ke cewek. Oh ya, obrolan udah panjang. Rugi kalo nggak kenalan.”

“Saya Anna, semester tiga jurusan sastra indonesia.”

“Oh, sorry Kak. Kirain seangkatan.”

“Nggak papa. Nama kamu?”

“Jisung.”

“Oh iya, salam kenal.”

Jisung menelan ludah. Dia kembali melirik Anna yang sedang merapikan kertas-kertasnya.

Ngomong saya-kamu. Harusnya aku-kamu nggak sih?

“Saya duluan ya. Makasih bantuannya.”

“Iya Kak, salam buat Elsa. Tapi saya sukanya sama Anna sih. Hehehe.”

Jisung melirik jam tangannya. Seharusnya saat ini Anna sudah keluar dari cafe tempatnya melakukan kerja paruh waktu. Tadinya dia hendak masuk dan membantu Anna merapikan cafe, tapi gadis itu pasti akan marah. Katanya semua tanggung jawabnya dan dia tidak mau makan gaji buta.

Gaji buta apanya? Mana tega juga Jisung membiarkan gadis yang disukainya kelelahan seperti itu. Tapi kalau dia mengambil langkah nekat, bisa-bisa Anna tidak mau lagi bertemu dengannya.

Jisung bisa membawa mobil, tapi dia sangat suka motor. Apalagi naik motor dengan Anna. Setiap pulang dari cafe mereka akan berkeliling kota, mencari makanan enak lalu berbincang dalam keadaan perut terisi penuh. Biasanya dijam-jam itu, dia menemani Anna menulis beberapa puisi atau kalimat asal yang akan mereka diskusikan setengah jam berikutnya.

Masalahnya, meski Jisung sangat menyukai Anna. Gadis itu menganggap dirinya hanya adik angkatan yang kebetulan bersikap baik dan cocok dijadikan teman. Sedangkan Jisung menganggap Anna adalah sosok idamannya yang bertahun-tahun dia perjuangkan.

“Jisung sebentar ya? Ini Hendery mau ketemu dulu, katanya ngobrolin keuangan cafe.” ucap Anna dari telepon.

“Harus banget sekarang Kak? Ini udah malem.” jawabnya setengah protes.

“Bentar aja kok. Dia juga buru-buru. Nggak enak sama dia. Soalnya udah jauh-jauh kesini.”

“Ya udah Kak, gue tunggu di luar.”

Jisung menghitung waktu dalam gelisah. Dia tahu Hendery adalah saingan beratnya. Bukan rahasia lagi kalau Anna menaruh rasa pada lelaki itu. Sejak awal pertemuan mereka di cafe, tatapan Anna sempurna berubah. Tatapan itu baru pertama kali Jisung lihat selama mereka bertahun-tahun berteman.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Lo modus doang anjir.

Seru Jisung penuh emosi ketika melihat Hendery keluar dari cafe bersama Anna. Mereka tampak akrab. Anna sesekali tersenyum sambil melirik Hendery.

“Sialan, mentang-mentang seangkatan.” umpat Jisung penuh emosi.

“Nggak usah modus! Kak Anna maunya sama gue!” pekiknya tertahan. Di sebrang sana Hendery melepas hoodienya lalu diberikan pada Anna. Gadis pujaan Jisung menggeleng berkali-kali tapi entah bagaimana akhirnya mau juga memakai hoodie itu.

“Anjir, modus kampungan.” geram Jisung tertahan.

“Kak, pulang! Aku udah laper banget.” teriaknya dari atas motor.

“Kak, aku love love kamu 3000 masih dikali 1000 lagi.”

Ah ya, dia sudah gila. Biar saja Hendery dan Anna menganggapnya aneh. Adegan romantis mereka berakhir, itu yang terpenting.

“Bau hoodie si Hendery!” pungkasnya saat dia dan Anna berboncengan menyusuri jalanan dekat kos Anna.

“Apasih Ji, enggak kok. Hoodienya wangi. Dia kating kamu ya Ji, yang sopan.”

“Belain aja terus Kak. Gue turunin disini nih?”

“Ya turunin aja. Aku tinggal jalan ke depan. Kan kamu yang selama ini maksa jemput. Aku bisa naik go-”

“Kak, kalo gue pacaran sama Rasya gimana?”

Deg.

Anna tidak menjawab. Di sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. Iya juga, selama ini dia tidak terpikir. Bagaimana kalau Jisung punya pacar, dia pasti kehilangan adik sekaligus teman tersayangnya.

Satu minggu terlewat. Hari ini Jisung kelimpungan. Dia berlari ke kamar kos Haechan.

“Pinjem hp.” teriaknya pada Haechan yang sedang berada di kamar mandi.

“Nggak! Taroh woi, jangan pegang hp gue!”

“Orang pelit pacarannya nggak langgeng. Lo nggak usah sok, gue yang bikin lo bisa jadian sama Alea.”

“Buruan. Awas lo abisin pulsa gue.”

Jisung menelepon nomor Anna yang sudah dia hafal di luar kepala. Dua kali menelepon masih belum dijawab. Jam sembilan malam, satu jam lagi Anna pulang tapi Jisung tidak bisa menjemput. Dia ada rapat dengan anak-anak organisasi.

“Kak? Kak Anna? Ini gue, Jisung pake hp Haechan.”

“Kak, lo sakit ya? Lagi dimana, nggak kerja kan?”

“Kenapa kerja sih. Selalu deh lo itu maksain diri.”

Pukul enam pagi Jisung berkendara ke kos Anna. Dia membawa bubur yang semalam pukul dua pagi diambil dari rumahnya. Meski memakan waktu empat jam untuk bolak-balik, dia merasa itu ringan daripada melihat Anna sakit dan tidak sempat makan.

Hal gila yang Jisung lakukan adalah, dia menelepon mamanya pukul satu malam, meminta tolong dibuatkan bubur dan wedang jahe. Nama Haechan dia pinjam untuk dijadikan alasan.

“Haechan sakit Ma, kasian banget. Nggak mau makan apa-apa. Maunya bubur buatan mama sama wedang jahe yang sering mama bikin waktu aku flu.”

Dunia tidak semanis itu untuk kisah cintanya. Sial sekali. Sekarang dia baru merasakan dingin dan ngilu di relung hatinya.

Angin jam setengah tujuh pagi menerpa wajahnya. Jisung memandang nanar pemandangan pahit yang tersaji di depannya. Harusnya dia tidak usah repot-repot. Sudah ada Hendery disana, dia bahkan bisa membuat wajah pucat Anna menyunggingkan senyum.

Seperti ini ya rasanya patah hati?

Padahal belum juga dia memulai.

Jisung terkekeh, dia mengusap matanya. Ternyata dia bisa menangis karena seorang wanita.