Bealif

Gerimis

#Gerimis Malam Hari

Anna memasuki area konser. Dia membawa selembar tiket yang diberikan Jisung beberapa hari lalu. Wajahnya menahan senyum takala mengingat bagaimana Jisung datang ke rumahnya membawa banyak makanan. Katanya untuk calon mertua.

Cara Jisung bercanda masih sama. Lelaki itu gemar melempar kalimat asal yang terkadang mengetuk perasaan Anna untuk berkembang menjadi cinta.

Konser sudah dimulai. Tulus selesai menyanyikan lagu 1000 Tahun Lamanya.

“Kak.” sapa Jisung pada Anna yang masih di berada di luar.

“Maaf, tadi macet banget. Kenapa nggak masuk duluan?”

Anna menggeleng. Dia mengulurkan sebotol air minum. Dilihatnya peluh Jisung bercucuran, pasti tadi dia berlari kesini.

“Enggak. Nunggu kamu aja, aku takut juga kalo masuk sendirian. Nih, minum dulu.”

“Makasih Kak. Yaudah yuk, keburu ketinggalan banyak lagu.”

Jisung mengepalkan jemarinya saat sudah berada di dalam tempat konser. Lampu panggung tampak terang benderang. Tulus terlihat mudah menyanyikan lagu Sepatu. Jisung jadi teringat masa-masa kuliah saat dia dan Anna sering kemana-mana berdua. Dia jadi gugup, ditambah penampilan Anna malam ini yang sangat cantik.

“Tau lagunya?” tanya Jisung di telinga Anna.

“Tau beberapa.” jawab Anna setengah berteriak.

Jisung mendengarkan lagu-lagu berikutnya dengan gelisah.

Sekarang Tulus menyanyikan lagu Sewindu. Bagai sindiran, Anna dan Jisung menjadi canggung. Mereka diam-diam saling melirik.

“Udah jam sembilan.”

Anna mengangguk. “Iya, kamu besok ke kampus? Kalo iya, kita pulang sekarang aja. Takutnya macet.”

“Nggak kok Kak, aku udah jarang ke kampus.”

“Oh, oke deh.”

Tempat mereka berdiri minim pencahayaan. Orang-orang berusaha mendekat ke panggung. Sedangkan Anna dan Jisung memilih tempat yang nyaman untuk berdiri sambil menikmati lagu.

Tak disangka, malam itu gerimis yang cukup lebat turun ditengah-tengah konser. Tulus sedang menyanyikan Teman Hidup ketika banyak orang mencari tempat berteduh agar tidak basah oleh air hujan.

Jisung melepas jaket yang dia kenakan. Segera dia bentangkan jaket itu untuk melindungi kepala mereka dadi gerimis. Jantungnya berdegub kencang ketika lirik demi lirik Tulus nyanyikan.

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku.

“Kak?”

Anna menoleh. Jarak mereka begitu dekat.

“Ya?”

Satu tangan Jisung meraih bunga mawar yang sejak satu jam lalu dia selipkan di saku belakang.

Berdua kita hadapi dunia.

“Kak, maaf. Tapi perasaan gue ke lo lebih dari temen. Silakan tampar gue setelah ini.”

Kau milikku ku milikmu. Kita satukan tuju. Bersama arungi derasnya waktu.

Jisung bersyukur disekelilingnya cukup gelap. Bibirnya tidak berhenti tersenyum saat Anna membalas ciumannya. Dia membiarkan jaketnya terjatuh. Mereka melanjutkan kegiatan itu dalam rintik hujan yang semakin deras.

Anna terhanyut, dia tidak tau kalau Jisung bisa sangat candu. Badan kekar lelaki itu merengkuh tubuhnya. Dia sempurna berada didekapan Jisung. Tangannya gelisah, dia meremas setangkai mawar yang tadi diberikan kekasihnya.

Malam itu mereka meresmikan status baru.

“Merah banget mukanya.” komentar Jisung saat mereka sudah di dalam mobil.

“Apasih. Ngledek terus.”

“Boleh kan Ann?”

“Ih, kok Anna. Nggak pake Kak.”

“Males ah, bertahun-tahun manggil Kak jadi kejebak kakak-adik zone.”

“Yaudah deh, silakan aja.”

“Marah?”

Anna menggeleng.

“Marah ya sayang?”

“Enggak Ji!”

“Mukanya makin merah. Jadi pengen cium lagi.”

“Jisung! Siapa sih yang ngajarin.”

“Hahahaha, bercanda Kak. Maaf.”

“Kok Kak lagi?”

“Maunya apa? Yaudahlah sayang aja. Gimana sayang mau pulang ke kosku apa ke rumahmu?”

“Jisung! Pikirannya ih!”

“Emang apaan? Siapa tau mau mampir ke kosku ketemu Haechan atau Jay. Hayooo mikir apa tadi?”

Wajah Anna kembali memerah. Dia menunduk malu. Sial sekali, Jisung ternyata pintar menggoda.

“Hahahaha, malu banget ya sayang? Maaf deh, maaf.” Jisung kembali memeluk Anna.