“Mau drive thru mcd nggak?”
“Boleh Xav, lo laper ya?”
“Nggak sih, cuma pengen minumnya aja. Sama nugget juga.”
Adel mengernyit, dia memandang wajah Xavian yang tidak berekspresi apa-apa. “Ini maksudnya gue suruh beliin?”
“Iya, ongkos jalan.”
“Dih, padahal cowok.”
“Nggak mau nih?”
Adel terkekeh, dia menepuk lengan Xavian yang hendak mengambil dompet. “Mau, biar gue aja yang bayar.”
“Mbak, dua ice lemon tea, nugget satu sama ayam spicy dua. Ayamnya dada sama paha ya mbak.”
Mobil Xavian parkir di halaman gerai mcdonals, mereka makan dalam diam. Xavian tampak tenang menikmati minuman dan nugget sedangkan Adel terburu-buru makan ayam, sejujurnya dia lapar.
“Laper banget Del?”
“Iya, kalo begadang sampe jam segini gue pasti kelaperan.” Adel menuding perutnya.
“Gue besok bakalan gendut sih, tapi yaudahlah orang laper.”
“Masih aja berpikiran gendut itu buruk.” repson Xavian heran.
“Bukan, ini bukan karena gue insecure. Takut baju pada nggak muat, sayang duit gue buat beli baju. Mending nabung, soalnya mobil gue udah minta diganti.”
“Oalah, masuk akal juga alasannya. Tapi lo masih bisa olahraga dan makan sekali dua kali dijam segini nggak bikin lo langsung gendut kok Del.”
Tadinya Xavian ingin memberikan label pada Adeline bahwa wanita itu seperti seumumnya, takut gendut dan selalu ribut masalah kalori. Tapi setelah pembicaraan itu, dia cukup paham. Kadag meributkan berat badan dan kalori adalah hal yang wajar.
“Lo besok kerja Xav?”
“Gue berangkat malem, ini tadi baru nyampe terus nganter lo.”
“Eh, kok nggak pake seragam?”
“Tadi mampir dulu ke rumah mama.”
“Oalah. Oh ya, masalah yang makan bareng Om Devan waktu itu jangan dibawa serius ya. Beneran deh, Om Devan emang hobi jodoh-jodohin gue.”
“Udah gue bawa serius sih. Mau nikah nggak Del?”