#Darah Milik Jonael

Jonael dan Hansen masuk ke dalam gua. Diam-diam sejak tadi Jonael merapalkan mantra untuk menutup semua akses. Dia mengangkat batu setinggi manusia dan meletakkannya di pintu masuk.

Hansen berdiri sambil menggosokkan telapak tangannya. Dia merasa kedinginan. Gua itu berada di sisi selatan lautan. Ada genangan air di sekelilingnya. Mengerikan. Mencekam dan sangat gelap.

Dia setengah manusia, rasa takutnya masih sering mendominasi. Melihat mata Jonael yang berkilat kemerahan membuatnya makin menggigil. Jubah yang kini dipakai Jonael berkibar tertiup angin. Postur Jonael yang tinggi besar berbanding terbalik dengan Hansen. Dia bagai anak kecil yang mengikuti vampir paling kuat di Dyrsn.

“Aku akan menyalakan api.” ucap Jonael. Dia menggerakkan telapak tangannya mengelilingi gua. Seketika tempat itu menjadi terang. Hansen merasa hangat dan aman.

Jonael berjalan menuju ujung gua. Sebuah tumpukkan batu hancur berkeping-keping setelah Jonael menjentikkan jemarinya. Diambilnya sebuah pisau yang memantulkan cahaya api disekitar mereka.

“Kemarilah Hansen.” perintah Jonael.

Hansen takut-takut berjalan mendekat. Dia mendongak menatap Jonael yang menjulang tinggi di hadapannya.

“Besok, lusa atau ratusan tahun lagi mungkin perang akan pecah. Bisa jadi aku lebih dulu pergi. Mungkin juga Maciel akan pergi juga. Hanya tersisa dirimu, vampir berdarah campuran yang akan diburu oleh Jacques dan Yuzo. Darahmu amat berharga bagi mereka.”

Air mata Hansen sontak mengalir. Dia membayangkan berada di sana sendirian, diburu oleh Jacques dan Yuzo.

“Carilah Juelz dan minta dia membuka portal dunia manusia. Kembali ke kehidupanmu. Jangan melihat ke belakang. Kau mengerti?”

Hansen menggeleng kuat-kuat. Dia meremas jubah miliknya. Semua kejadian itu terasa mengerikan saat melintasi imajinasinya.

Jonael mencengkram bahu Hansen. “Cari Juelz. Minta dia membuka portal, katakan rusa putih yang dia cari ada di hutan sisi utara Dyrsn. Hansen, katakan itu pada Juelz ketika aku sudah gugur. Jangan menolongku, pergi secepat mungkin.”

“K-kak, aku tidak bisa. Aku akan mati bersamamu!” teriak Hansen. Dia terisak begitu keras. Pertahanannya runtuh. Tangisannya makin kencang saat Jonael mengiris pergelangan tangan dan memaksa Hansen menghisap darah yang mengalir dari sana. Beberapa menit kemudian dia tidak sadarkan diri. Semua organ ditubuhnya seolah memberontak ingin keluar.