#Maciel dan Hansen
“Serius, kau berjalan seperti siput.” teriak Maciel dari atas bukit.
Kemudian dia berjalan turun, menghampiri Hansen dan menarik tangan pemuda itu. “Kau tampak segar hari ini.”
Hansen terkekeh, dia mengistirahatkan badannya di batuan besar dekat pohon. Matanya menatap sekeliling, dari sana terlihat hamparan hutan dan beberapa rusa yang sedang berlarian.
“Rusa-rusa itu milik Kak Jonael atau Kak Juelz?”
Maciel tampak berpikir, dia menunjuk satu rusa dengan pedar warna biru ditanduknya.
“Seingatku yang memiliki cahaya biru milik Jonael. Kalau Juelz bertemu rusa, dia hanya akan memangsa mereka.”
“Itu sebabnya Kak Jonael selalu marah?”
Maciel terkekeh. Dia menepuk-nepuk punggung Hansen. “Ya, benar. Mereka tidak pernah akur sejak dulu.”
Beberapa waktu setelahnya Maciel diam, dia mencabuti rumput di samping kakinya.
“Hansen, berikan padaku. Ramuan yang berada di kantongmu.”
Hansen merogoh ramuan yang sejak tiga hari lalu tidak berpindah dari kantong celananya.
“Kenapa semua orang disini saling tahu rahasia satu sama lain. Hanya aku yang paling bodoh.” gerutu Hansen, dia menyodorkan botol itu.
“Kembalilah ke duniamu. Aku serius tentang perang yang akan pecah.” gumam Maciel. Dia memutar-mutar botol berisi ramuan berwarna ungu.
“Aku tidak punya siapa-siapa disana. Lagipula di dunia manusia umurku sudah hampir tujuh puluh tahun. Semua kawan lamaku sudah tua.”
“Disana aman, putri keturunan Vynr hidup tenang. Pasti Jonael sudah bicara padamu.”
“Tidak, aku tidak pernah mendengar Vynr sebelumnya.”
Maciel menggeleng. “Maksudku tentang kembalimu ke dunia manusia. Ingat ini, nanti setelah kau tiba disana ada wanita tua bernama Shavana dan suaminya yang bernama Daniel. Mereka akan menyambutmu. Ikutlah bersama mereka dan habiskan waktumu di dunia itu.”
Hansen menghentikan gerakan tangannya yang semula hendak meraih ranting kering. “Aku tidak berniat kembali ke sana Kak.”
Hening sebentar.
“Hansen, kau tau tidak? Gadis yang dikorbankan tempo hari adalah orang yang kucintai. Sejak pertemuan pertama kami dua puluh tahun lalu, aku merasa dialah seluruh hidupku.”
Maciel membuka botol yang sejak tadi berada di tangannya. Tanpa berpikir panjang, dia menengguk isinya. Wajahnya tampak tenang. Malah setelah itu dia tersenyum.
“Aku yang memilih meminum ini. Jangan salahkan dirimu. Hansen, aku memang mendambakan kematian. Semoga ratusan atau ribuan tahun lagi kita kembali bertemu.”
Hansen menangis tergugu. Bukannya mendapat jawaban siapa pembunuh Talon, dia malah melepas kepergian Maciel.
Senyum Maciel tidak luntur sampai napas terakhirnya. Dia menggenggam tangan dingin Hansen sambil terus menerus mengucap, “bukan salahmu. Ini pilihanku.”