Xavian keluar dari mobil. Dia cepat-cepat berlari menerjang hujan. Sore itu cuaca sedang muram, matahari tidak lagi terlihat dan angin kencang beberapa kali melintas.
“Baru gue mau jemput pake payung.”
“Nggak usah, deket doang.”
“Tapi baju lo basah.”
“Iya sih, dingin juga.”
“Nah itu tau.”
“Del, bikinin teh dong. Gue juga mau ngabisin satu teko.”
Adeline mendongak menatap Xavian yang kini menjulang dihadapannya. Padahal Xavian tau benar kalau teh buatannya tidak enak. Pernah satu kali saat mereka bertemu di rumah Om Devan, dengan jahil omnya itu bercerita kalau teh buatan Adel selalu hambar atau terlalu manis.
“T-tapi teh buatan gue nggak enak.” ucapnya sedikit tergagap karena sekarang angin menerbangkan rambutnya dan entah sejak kapan jemari Xavian menyingkirkan helaian rambut diwajahnya.
“Gimana kalo ngobrolnya di dalem aja Del? Lo cuma pake kaos. Dingin banget.”
“Hehehe oke, ayo.”
Adel mengigit bibirnya kuat-kuat. Sial sekali, momen remeh seperti itu bisa membuatnya berubah jadi linglung. Padahal bisa saja Xavian cuma jengah melihat rambutnya berantakan.