“Jadi, kenapa nih lo dateng ke rumah gue?” Adeline menepikan gelas dan teko yang telah kosong. Xavian benar-benar meminum semua itu. Tak lupa memuji bahwa tehnya cocok diminum tiap pagi.
“Nggak papa sih Del, mau main aja. Keganggu ya?”
“Nggak kok, beneran enggak. Tapi heran aja, soalnya kata Om Devan, dia kalo pulang kerja tuh capek banget.”
“Oh itu, penerbangan gue akhir-akhir ini deket kok jadi ya biasa aja. Lebih capek pas sekolah.”
Adeline merasa tertarik. Dia segera memusatkan perhatiannya pada Xavian. “Kok bisa gitu? Kenapa?”
“Pas sekolah nggak dapet gaji.”
Sontak wanita itu melempar bantal yang tadi ada di pangkuannya. “Yeee kalo itu mah gue juga ngerasain.”
Ponsel Xavian berdering nyaring, lelaki itu segera mengecek nama yang tertera di layar ponselnya.
“Del, gue angkat telfon dulu ya? Disini boleh nggak?”
“Iya iya, silakan. Gue ambil minum sama cemilan dulu.”
Setelah beranjak pergi dari ruang tamu, Adeline menengok sebentar ke belakang. Dia melihat tamunya sedang tertawa, mungkin yang menelepon adalah temannya. Kemudian terlihat raut wajah bahagia muncul, Adeline menduga ada berita besar.
Dua orang itu kembali bersama di ruang tamu. Adeline masih menunggu Xavian selesai bicara. Dia melihat ke luar jendela. Menikmati rintik hujan yang tinggal tipis-tipis.
“Gue lepas diatas 800 gimana?”
“Nggaklah, diatas satu mana laku. Males gue nunggunya, keburu pengen ganti.”
“Yaelah Der, lo juga ngapain beli seri yang gue mau. Ngeselin lo ya. Gue udah berbulan-bulan pengen yang itu. Nggak asik banget kalo mobil kita samaan.”
“Lo dari dulu suka Mercy kenapa sekarang nglirik Audi. Beneran emosi gue.”
“Terserah lo. Nggak deh, lo coba tawarin ke temennya Leon. Oke gue tunggu.”
Adeline menoleh setelah Xavian mematikan telepon. “Mobil lo mau dijual?”
“Iya, tapi nggak tau juga. Mobil yang gue pengen udah keburu dibeli Dery.”
“Eh, kena berapa?”
Xavian meletakkan ponselnya. Dia menatap mata Adeline yang kini tampak berbinar. “Gue lepas 800 atau kurang dikit.”
“Hah? Itu seri 3 yang touring kan? Serius lepas harga segitu?”
“Ya nggak papa, biar cepet laku aja. Hehehe.”
“Hehehe? Lo ketawa, wah bener-bener deh. Gue aja kalo gitu yang ambil.”
Xavian terkesiap. “Serius?”
“Seriuslah, gue udah nahan-nahan nggak beli apa-apa.”
“Jual mobil lo dulu?” tanya Xavian memastikan. Dia mengambil segelas cokelat hangat yang tadi Adeline sajikan.
“Iya, selakunya juga sih. Orang udah lama banget.”
“Yaudah jual dulu aja, ntar kabarin gue kalo udah.”
“Jadi lo lepas berapa?”
“Seharga mobil lo.”
Napas Adeline tidak beraturan. Memang yang duduk di sebrangnya adalah orang gila. Bisa-bisanya santai berucap seperti itu. Padahal harganya berbeda jauh sekali. Jelas saja Xavian pasti rugi.
“Nggak ah, lo gitu. Gue beneran punya duitnya Xav.”
“Yaudah, tambah 300 aja. Sama lo temenin gue ke nikahannya Leon. Gimana?”
“Nikahannya dimana?”
“Puncak.”
“Nginep?”
“Iya.”
“Sekamar?”
“Ya nggaklah Del. Gue juga masih waras.”