#Mobil Atau Selingkuh?

Satu minggu berselang, selama hari-hari itu Xavian tidak tenang dengan segala yang dia lakukan. Pikirannya diliputi rasa bersalah. Dia mengakui ini semua salah, sejak awal tidak ada ketegasan.

Seharusnya dia memberikan kepastian pada Adeline, entah wanita itu mau menikah dengannya atau tidak yang pasti dia harus mengatakan bahwa Adeline yang dipilihnya.

Seharusnya dia mengatakan dengan tegas pada Rachel. Mereka tidak lagi ada ikatan, semua selesai setelah Rachel memilih Theo.

Seharusnya dia mengatakan pada Anna bahwa apa yang dilakukannya selama ini hanya bentuk perhatian sesama teman. Dia memiliki wanita pilihannya sendiri yaitu Adeline.

Akhirnya, dia hanya bisa menghela napas dalam-dalam sambil memandangi langit malam dari parkiran bandara. Sudah pukul sembilan, Xavian belum mau beranjak. Kopi panas dan udara malam menemaninya merenung.

Pernikahan Leon seminggu lagi. Kalau tetap begini, mungkin keinginannya membawa Adeline ke puncak bisa gagal. Dia tidak menghubungi Adel setelah kejadian itu. Mungkin akan sangat mengganggu bila dia terus menerus mengirim pesan.

“Xavian.”

Bukannya menoleh, si pemilik nama malah makin terlihat sendu. Dia merasa bahkan saat ini suara Adeline sudah menjelma menjadi halusinasinya. Bagaimana bisa suaranya terdengar di bandara pada malam hari pula.

“Xavian?”

Lagi, terdengar suara nyaring khas Adeline.

“Lo tidur ya?”

Akhirnya Adeline menepuk bahu Xavian yang masih mendongak menatap langit. Lelaki itu sangat terkejut, dia hampir melompat. Mirip orang yang baru saja melihat hantu.

“Adeline? Ini beneran lo?”

“Ya iya ini gue, masa hantu!”

“Ngapain disini? Sama siapa? Mau flight?”

“Mau ketemu lo.”

“G-gue? Serius?”

Adeline mengangguk, dia lalu bersandar di mobil Xavian. Lebih tepatnya mobil yang sebentar lagi menjadi miliknya.

“Kok lo kenal Rachel? Kalian deket? Pacaran? Pdkt?”

Pertanyaan itu akhirnya Adel tanyakan setelah berhari-hari menahan. Sejujurnya dia penasaran juga.

“Rachel mantan gue Del, putus waktu dia selingkuh sama Theo. Kemarin dia ngajak ketemu, katanya ada masalah. Gue nggak tega jadi gue setuju buat ketemu. Tapi sumpah, gue nggak maksud gimana-gimana.”

Xavian meletakkan kopinya di kap mobil. Kedua tangannya terangkat. “Demi Tuhan, beneran Del gue itu serius sama lo. Gue sama Rachel udah nggak ada apa-apa. Gue sama Anna sekedar rekan kerja dan gue nggak tau kenapa dia bikin tweet kayak gitu.”

“Lo udah ngomong sama Anna kalo kalian sebatas temen?”

“Belum.”

“Pantes, dia juga mana tau kalo lo nggak suka digituin.”

“Del masih mau temenin gue ke nikahannya Leon kan?”

“Hm, ya. Tapi mobil lo beneran jual ke gue ya?”

“Bawa aja dari sekarang kalo lo ragu.”

“Terus ke puncaknya pake apa?”

“Gue udah pesen yang baru. Paling tiga hari lagi nyampe.”

“Beli apa?”

“Tebak.”

“Mercy?”

“Bukan.”

“Jeep Wrangler?”

Xavian tampak berpikir. “Itu keren juga ya Del, gue malah nggak kepikiran.”

“Serius nih Xav, lo beli mobil apa?”

“Gue bilang tebak, kalo bener ntar lo orang pertama yang gue ajak nyobain.”

“Audi?”

“Betul.” jawab Xavian sambil memberikan dua jempol.

“Jangan bilang RS4 Avant? Lo pesen dari kapan kalo beneran itu?”

Adeline terbengong-bengong, dia menatap tidak percaya sosok di sampingnya.

“Dery yang pesen, dia tiba-tiba pengen ganti. Jadi ya ke gue akhirnya.”

“Eh jawab dulu, beneran? Itu gue nyebut jenisnya udah lengkap ya.”

“Iya Del, beneran.”

“Gue nggak jadi marah kalo gini. Asem banget lo Xav, kenapa model yang lo pilih kesukaan gue semua.”

Xavian terkekeh, dia heran juga kenapa Adeline bisa secepat itu melupakan pembicaraan mereka barusan.

“Del, nikah yuk?”

“Ih, kenapa sih malah ngajakin nikah. Yang tadi aja belum selesai, lo mau apain Rachel sama Anna?”

Hah, ternyata Adel tidak lupa. Dia hanya sebentar mengesampingkan masalah itu. Setelahnya kembali marah-marah menyalahkan Xavian yang tidak tegas. Tapi Xavian bertanya-tanya juga, kenapa Adel semarah tadi?