“Lo udah terlanjur ambil cuti, gue jadi nggak enak.”

“Seriusan, gue nggak papa Xav. Eh, sebel dikit sih. Hehehe gue kira kita bisa kemana gitu.” kata Adeline, dia menenggak air mineral yang baru saja diberikan oleh Xavian.

Mereka sedang berhenti di depan minimarket. Setengah jam lagi tiba di rumah Adeline. Sepanjang perjalanan tadi Adeline lebih banyak tidur. Maklum, mereka tengah malam pulang dari puncak.

“Oh ya, masalah nikah-”

“Kenapa Xav? Lo tiba-tiba ragu?”

“Bukan itu. Tapi kita sama-sama tau perasaan masing-masing.”

Hujan turun begitu deras. Adeline cepat-cepat menutup kaca jendela yang tadi dia buka.

Mata sendu Xavian menatapnya penuh keputus asaan.

“Xav, ini tuh baru berapa jam setelah gue setuju mau nikah sama lo. Seakan-akan sekarang lo itu ragu. Kalo mau batalin, yaudah sekarang aja.”

“Tapi Xav, gue nggak ngerti deh. Kok lo tiba-tiba begini.” ujar Adeline sedikit emosi. Bahkan sekarang air matanya meremang. Dia ingin sekali menangis. Merasa dipermainkan.

Xavian mengeratkan genggamannya ke setir mobil. Ingin sekali jujur pada Adeline. Dia tiba-tiba takut dimasa depan hubungan mereka penuh masalah karena waktunya yang banyak tercurah untuk perkerjaan. Apalagi malam ini dia melihat raut wajah kecewa calon istrinya.