Bealif

“Widih, Nyonya Sinatra dateng. Makin kalem lo sekarang.” sapa Jeffery begitu heboh, sebenarnya dia mau mengatakan kalau Adel makin cantik. Tapi tentu saja itu menyalahi aturan.

Aturannya, jangan rusak keluarga orang lain. Boleh cinta, bodoh jangan. Walau hati berdarah-darah tapi Jeffery mencoba menunjukkan pada Adel kalau dia baik-baik saja. Dia sudah lupa dengan semua yang terjadi sebelum pernikahan Adel. Biarkan Adel menganggap begitu.

“Hai Yud, capek nggak lo nyopirin Nyonya?”

Yuda menggeleng sambil menjabat tangan Jeffery.

“Nggak, udah biasa. Eh, gue ngerokok dulu.”

“Oke oke, sono.”

“Lo kenapa deh Del, diem mulu. Males lo ketemu gue?”

“Nggak, perut gue sakit. Duh, tanggalnya nih. Mana gue lupa bawa pembalut.” keluhnya penuh penyesalan. Perutnya terasa diremas-remas, pinggangnya juga sangat pegal.

“Kebiasaan, gue dari dulu bilang. Mending bawa buat jaga-jaga dari pada gini.” Jaehyun menarik Adel untuk duduk di kursi. Tapi urung setelah melihat noda merah di rok yang Adel kenakan.

“Del, koper lo ada di mobil kan? Lo ke mobil gue dulu nggak papa?”

Adel mengangguk, dia tau maksud Jaehyun.

“Gue beliin bentar, nanti sekalian anter koper lo. Ke kamar mandinya nanti aja nunggu gue balik. Lo udah pucet gitu, sakit banget ya?”

“Ya iya, lo tau sendiri gue kalo lagi mens gimana. Pake nanya segala, temen gue bukan sih?”

“Santai aja woi, ngegas amat. Udah sana masuk mobil.”

Adeline menghentikan langkahnya. “Kalo gue di mobil lo. Lo belinya pake apa?”

“O iya, hehehe yaudah ayo lo ikut juga. Ntar nggak usah turun.”

“Woalah Jeffery, jan-”

“Cuk.” potong Jeffery sambil tersenyum penuh arti. Sudah lama sekali dia merindukan kebersamaannya dengan Adel.

#Adeline Hilary Mariana

“Selamat tidur cantik.” bisik Xavian di telinga Adeline. Wanita itu sudah terlelap, mengarungi mimpi yang sedang asik ia jelajahi.

Xavian baru saja selesai mandi, dia langsung menyusul istrinya. Mengambil posisi nyaman lalu merengkuh badan Adeline untuk dia peluk sepanjang malam.

Masih terlalu segar untuk tidur. Lelahnya hilang setelah memandangi wajah cantik Adeline. Dia paling suka bagian pipi, sangat lembut dan lucu. Tiap Adeline salah tingkah maka pipinya akan berubah merah.

“Udahan ya ngambeknya, gue kangen Del.”

“Tidur lo kebo banget, gue ngomong apa juga nggak akan denger kan?” gumamnya di depan wajah Adeline. Kemudian dia mengambil kesempatan untuk mengecup tiap inci kulit yang terasa sangat lembut di bibirnya.

“Cinta itu sederhana ya Del, perkara nyaman dan percaya. Makasih ya, lo selalu berusaha nerima gue yang nggak jago jadi cowok keren. Padahal banyak yang lebih ganteng, kaya dan bisa ngasih perhatian lebih baik dari gue.”

Xavian tertawa sendirian, dia sejenak berpikir. Perjalanannya bersama Adeline sudah cukup jauh. Bila menengok kembali ke belakang, mereka ini sama-sama orang yang berhasil bangkit dari pengkhianatan.

Karena Xavian sudah hafal benar rasa sakit karena dikhianati, dia tidak pernah berpikir untuk mencari sosok lain. Baginya Adel sudah cukup, paket lengkap. Dia sudah lama meletakkan dunianya di bawah kaki Adel.

Xavian Sinatra resmi jatuh dalam pesona Adeline Hilary Mariana.

“Hmm, lo kenapa sih Xav pegang-pegang kepala gue. Ganggu orang tidur.” protes Adeline yang merasa terusik.

Bukannya menjauh, wanita itu malah mengeratkan pelukan ke tubuh Xavian. Tak lupa membenamkan wajahnya di dada bidang yang aromanya begitu candu. Tidurnya malah makin lelap. Dia tidak sadar, suaminya sudah salah tingkah atas perlakuan itu. Lebih tepatnya dia merasakan geli di sekujur tubuhnya.

“Del?”

“Adeline?”

Tidak ada jawaban. Baguslah, Xavian bisa mencuri cium sekali lagi.

#Adeline Hilary Mariana

“Selamat tidur cantik.” bisik Xavian di telinga Adeline. Wanita itu sudah terlelap, mengarungi mimpi yang sedang asik ia jelajahi.

Xavian baru saja selesai mandi, dia langsung menyusul istrinya. Mengambil posisi nyaman lalu merengkuh badan Adeline untuk dia peluk sepanjang malam.

Masih terlalu segar untuk tidur. Lelahnya hilang setelah memandangi wajah cantik Adeline. Dia paling suka bagian pipi, sangat lembut dan lucu. Tiap Adeline salah tingkah maka pipinya akan berubah merah.

“Udahan ya ngambeknya, gue kangen Del.”

“Tidur lo kebo banget, gue ngomong apa juga nggak akan denger kan?” gumamnya di depan wajah Adeline. Kemudian dia mengambil kesempatan untuk mengecup tiap inci kulit yang terasa sangat lembut di bibirnya.

“Cinta itu sederhana ya Del, perkara nyaman dan percaya. Makasih ya, lo selalu berusaha nerima gue yang nggak jago jadi cowok keren. Padahal banyak yang lebih ganteng, kaya dan bisa ngasih perhatian lebih baik dari gue.”

Xabian tertawa sendirian, dia sejenak berpikir. Perjalanannya bersama Adeline sudah cukup jauh. Bila menengok kembali ke belakang, mereka ini sama-sama orang yang berhasil bangkit dari pengkhianatan.

Karena Xavian sudah hafal benar rasa sakit karena dikhianati, dia tidak pernah berpikir untuk mencari sosok lain. Baginya Adel sudah cukup, paket lengkap. Dia sudah lama meletakkan dunianya di bawah kaki Adel.

Xavian Sinatra resmi jatuh dalam pesona Adeline Hilary Mariana.

“Hmm, lo kenapa sih Xav pegang-pegang kepala gue. Ganggu orang tidur.” protes Adeline yang merasa terusik.

Bukannya menjauh, wanita itu malah mengeratkan pelukan ke tubuh Xavian. Tak lupa membenamkan wajahnya di dada bidang yang aromanya begitu candu. Tidurnya malah makin lelap. Dia tidak sadar, suaminya sudah salah tingkah atas perlakuan itu. Lebih tepatnya dia merasakan geli di sekujur tubuhnya.

“Del?”

“Adeline?”

Tidak ada jawaban. Baguslah, Xavian bisa mencuri cium sekali lagi.

#Tengah Malam

Malam ini giliran Adeline yang pulang larut. Harinya terasa panjang. Seolah semua masalah untuk sebulan kedepan dituangkan dalam satu tanggal. Hari ini, Adeline begitu pening apalagi mengingat foto yang tadi pagi dikirim oleh nomor tidak dikenal.

Logikanya, itu bisa jadi foto masa lalu. Tapi tetap saja, meski itu foto satu atau dua tahun kemarin ada rasa kesal di benak Adel.

Dia bersandar di lorong pintu masuk. Setelah melepas sepatu, bukannya langsung masuk, dia malah melamun memandangi lampu di atas kepalanya.

“Gue bayangin Xavian selingkuh kok rasanya sakit banget ya. Lebih sakit dari pergokin Theo sama Rachel.”

Air mata Adeline berangsur turun membasahi pipi. Kenapa sih dia jadi sensitif begini, kesalnya dalam hati.

“Udah nangisnya?” suara berat Xavian menyapa telinga sang istri.

Lelaki itu sudah berada di hadapan Adeline. Jangan tanya bagaimana penampilan Adeline, dia sangat kusut dan lesu. Kalau bisa dia tidak ingin bertemu dengan Xavian, malu sekali dengan wajah jeleknya.

“Mandi dulu ya? Abis itu kita ngobrol.”

Betapa manisnya Xavian itu. Dia segera menggendong tubuh istrinya. Mereka melintasi ruang tengah, menaiki tangga dan berakhir di kamar mandi. Selama perjalanan itu, Adeline menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Xavian. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh yang mulai terasa candu.

“Bersihin muka pake micellar water 'kan?”

Adeline mengangguk.

Sebelum memulai menuang micellar water, Xavian lebih dulu memutar lagu The Man Who Can't Be Moved yang dinyanyikan The Script. Dia tahu benar, istrinya begitu menyukai band itu.

“Gue ngrasa bersalah kalo lo nangis gini. Kayaknya gue masih kurang banget jadi suami lo.” ucap Xavian di depan wajah Adeline. Lelaki itu telaten membersihkan make up yang seharian menutupi kulit wajah istrinya.

“Maaf ya, gue bikin lo marah.”

Adeline mengangguk, sejujurnya sekarang dia sudah lupa tentang semua masalah tadi. Bertemu Xavian menjadi obat manjur untuknya.

“Udah. Sana mandi.”

Xavian mencium pucuk kepala Adeline lalu keluar dari kamar mandi. Mungkin dikisah-kisah lainnya, mereka akan berakhir melakukan sesuatu. Tapi ini Xavian, dia paham benar istrinya mengalami hari yang berat.

Setengah jam kemudian, Adeline menyusul Xavian yang sedang merokok di balkon. Asap mengepul keluar dari bibir lelaki yang tadi sempat membuat Adeline meleleh seperti es krim.

“Gue baru tau lo ngerokok.”

Xavian segera mematikan rokoknya. Dia berbalik menghadap Adeline. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan satu buah permen mint. Dalam sekejap permen itu sudah berada di mulut Xavian. Barulah lelaki itu menyahut.

“Cuma pas lagi pusing aja.”

Jelas seharusnya mereka masuk ke dalam dan istirahat. Terlalu aneh berbincang di balkon saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Lampu-lampu disekitar sudah banyak yang mati. Mall di dekat apartemenpun sudah sepi sejak tadi.

Xavian duduk di kursi santai tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Tangannya terulur menarik badan Adel, ditempatkannya wanita itu di pangkuannya.

“Cerita yuk, hari ini lo kenapa?” tanya Xavian yang kini mendongak menatap Adeline.

Adeline menunduk, diusapnya pipi Xavian yang terasa dingin karena udara malam.

“Lo nggak selingkuh kan?”

“Nggak Del, kayak kata lo dulu. Kalau emang tertarik sama orang lain, akhirin dulu hubungan kita. Bener?”

“Iya bener. T-tapi ...”

“Ini yang buat lo nangis?”

“Enggak.” jawab Adel tegas.

Xavian tidak merespon, dia masih menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Adel.

“Iya tapi bukan itu aja, tadi tuh gue ke Bandung terus kerjaan malah banyak kendala. Gue sampe mumet banget. Terus gue kepikiran gimana kalo lo selingkuh sama pramugari pas kerja. Kan gue jadi malu, kalo suami gue selingkuh berarti gue banyak kurangnya. Mana gue abis nonton film, ceritanya tentang cewek cantik dan baik banget tapi diselingkuhin. Kan jahat.”

“Bisa-bisanya ngomong gitu. Gue nggak kepikiran selingkuh, gue males ribet Del. Orang selingkuh butuh trik buat beraksi.”

“Dih, kok responnya gitu. Bilang yang manis-manis dong.”

“Yupi.”

“Hah, kok yupi?”

“Manis, tau kan yupi bentuk love warna pink sama putih terus ada gulanya itu?”

“Ih, aneh. Kenapa malah ceritain yupi?”

“Katanya suruh ngomong yang manis.”

“Nggak taulah, terserah. Oh iya, lo pusing kenapa? Kok sampe ngerokok gitu, beneran baru kali ini gue liat lo ngerokok.”

“Lo nggak bilang pergi ke Bandung, gue nunggu di lobi kantor dua jam. Kirain lo cuma pulang telat aja.”

“Eh? Maaf, gue lupa banget nggak bilang sama lo.”

“Nggak papa, udah lewat juga. Lain kali bilang ya. Masuk yuk, tangan lo udah dingin banget.”

Xavian bukannya tidak marah, dia hanya berusaha mengerti Adel yang mungkin masih meraba-raba bagaimana bersikap dalam sebuah pernikahan. Xavian tetaplah Xavian, dia memilih mengesampingkan egonya untuk membuat istrinya merasa nyaman. Karena sosok itu yang kelak akan melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka.

Xavian membuka pintu kamar. Matanya menangkap pemandangan indah. Adel sedang duduk di depan cermin, jemari lentiknya asik mengoleskan krim ke wajah.

“Kok nggak bilang pulang malem ini? Gue kira besok pagi.”

“Tadi belum pasti jadwalnya, gue kira juga besok pagi. Jadi nggak gue kabarin dulu takut lo nunggu.”

“Siniin tasnya, gue beresin. Ada baju kotor kan?”

Xavian menahan tangan Adel yang hendak berdiri. Dia memegang pundak Adel, ditatapnya wanita itu melalui cermin.

“Nggak usah, besok pagi aja. Tadi pulang jam berapa?”

Adeline bukannya menjawab pertanyaan, malah sibuk dengan pikirannya yang sudah berkelana kemana-mana.

“Del?” panggil Xavian karena tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya.

“Adeline, tadi pulang kerja jam berapa?”

“Oh iya, sorry sorry tadi gue nggak fokus. Jam lima nyampe sini.”

“Lo tidur disini? Bukan di rumah mama?”

“Kemaren di rumah mama, hari ini mau disini. Katanya istri harus jaga rumah kalo suami nggak ada.”

Xavian sontak tertawa, dia mengusap-usap kepala Adeline. “Gue nggak minta lo lakuin itu. Di rumah mama aja misal gue nggak pulang. Lagian apartnya juga udah aman.”

“Xav?”

Tangan Xavian yang hendak membuka kancing baju menjadi urung. Dia menoleh ke belakang, menemukan Adel yang ragu-ragu berjalan ke arahnya.

“Mau gue bukain nggak?”

“Apanya?” tanya Xavian yang sepenuhnya terkejut.

“Itu loh, kayak di film. Tiap suami pulang kerja dibantu buka baju.”

“Kurangin nonton gituan Del, gue masih punya dua tangan.”

Adeline mendengus sebal. Gagal susah rencananya untuk romantis dengan sang suami. Entahlah bagaimana jalan pikiran orang itu.

“Jangan marah. Yaudah sini kalo mau bukain. Terserah deh lo mau apa.”

“Nggak jadi! Males!”

Mulai lagi, Adeline dan kebiasaan ngambeknya.

#Xavian Sinatra

Adeline duduk tegang di pinggir ranjang. Sekarang ini, Xavian sedang menerima telepon dari atasannya. Dia mondar-mandir di kamar sambil sesekali menyisir rambut menggunakan jari.

“Bisa Pak, tapi mungkin lusa.”

“Saya serahkan ke manajemen aja Pak bagaimana bagusnya. Ada Leon sama Winata juga.”

“Baik Pak.”

Suaminya selesai menelepon. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian dia duduk di samping Adeline.

“Kulitnya udah nggak papa kan?”

“Udah mendingan kok, untung aja pas acara udah nggak keliatan bekas alerginya. Gue takut banget kemaren tuh.”

“Emangnya nggak sadar makan yang ada seafoodnya?”

Adeline menggeleng, dia benar-benar tidak tau. Dia pikir Fanya juga sudah hafal kalau dia tidak bisa makan seafood.

“Yaudah lain kali hati-hati, tanya dulu sama yang ngasih misal nggak keliatan ada seafoodnya.”

Xavian menghembuskan napas pelan. Dia naik lebih dulu ke atas ranjang. “Ayo tidur, jangan kebanyakan mikir.”

“Mikir apasih, orang gue juga mau tidur.”

Lelaki itu terkekeh, dia kembali turun untuk mematikan lampu kamar. Tak lupa menyalakan air diffuser yang biasa dia nikmati setiap hendak tidur.

“Suka baunya nggak del? Kalo kurang suka ganti aja. Pilih yang lo suka.”

“Enak kok, lo sering pake?”

“Iya, pas di apart doang.” jawab Xavian yang kini sudah berbaring di atas ranjang.

“Del tenang aja, gue juga capek. Nggak kepikiran mau ngelakuin hari ini. Lo lucu banget dari tadi grogi sampe salting gitu.”

Adeline menggeram sebal. Dia memukul lengan Xavian dengan segenap tenaganya. “Nggak usah blak-blakan gitu dong. Jantung gue hampir meledak Xav.”

“Makanya, ayo tidur. Besok kita masih harus ke rumah mama, ke makam ayah sama ketemu beberapa temen.”

Adeline mengepalkan tangan. Dia menarik napas dalam-dalam lalu berbaring di samping Xavian. Matanya menatap ke langit-langit, sedangkan Xavian entah sejak kapan sudah berbaring miring menghadap Adeline. Matanya menelusuri setiap jengkal wajah Adeline yang tampak indah dalam keremangan kamar.

“Lo nggak ngajak gue ciuman lagi? Agresifnya cuma sebelum nikah ya?”

“Xav! Diem deh, katanya mau tidur tapi malah ngomong nggak jelas.” omel Adeline, dia bukan lagi salah tingkah. Seluruh tubuhnya hampir menggigil hanya karena pertanyaan itu. Xavian kurang ajar, teriaknya dalam hati.

Xavian tertawa begitu keras, ditariknya Adeline untuk mendekat, memeluknya hingga tidak ada jarak diantara mereka.

“Tidur, nggak usah mikirin macem-macem. Nanti kalo takut ambil minum, takut ke kamar mandi atau butuh sesuatu, bangunin gue aja Del.”

“Iya.” jawab Adel begitu lirih.

Xavian mengulurkan tangan, dia menyentuh dagu Adeline kemudian menelusuri garis lembut itu. Ibu jarinya memiringkan dagu Adeline, menangkup kepalanya ... lalu, tak lama kemudian Xavian sibuk mencari, mendorong dan mencicipi setiap jengkal mulut Adeline.

Adeline tidak sanggup bernapas, pikirannya membeku seketika. Begitu tatapan mereka bertemu, dia menemukan jawaban kenapa selama ini Xavian menolak melakukan itu dengannya. Benar kata Xavian, mereka hanya akan berakhir di tempat ini. Saling memandang penuh hasrat.

Xavian mencicipi, merampas, sekarang kedua tangan lelaki itu memegangi kepala Adeline. Jemarinya sibuk berada di rambut Adeline, mengurainya dalam kelembutan. Adeline terengah, dia tidak mampu mengimbangi Xavian. Tangannya bergetar hebat, diremasnya kaus hitam yang menempel ditubuhnya.

“Adeline, udah tuntas ya janji gue. Peluk sama cium yang lo minta berkali-kali. Selamat hari pertama pernikahan. Sekarang beneran tidur ya?”

Adeline seperti orang bodoh, dia hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sial, Xavian ternyata sangat lihai melakukan semua itu.

Adeline duduk tegang di pinggir ranjang. Sekarang ini, Xavian sedang menerima telepon dari atasannya. Dia mondar-mandir di kamar sambil sesekali menyisir rambut menggunakan jari.

“Bisa Pak, tapi mungkin lusa.”

“Saya serahkan ke manajemen aja Pak bagaimana bagusnya. Ada Leon sama Winata juga.”

“Baik Pak.”

Suaminya selesai menelepon. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian dia duduk di samping Adeline.

“Kulitnya udah nggak papa kan?”

“Udah mendingan kok, untung aja pas acara udah nggak keliatan bekas alerginya. Gue takut banget kemaren tuh.”

“Emangnya nggak sadar makan yang ada seafoodnya?”

Adeline menggeleng, dia benar-benar tidak tau. Dia pikir Fanya juga sudah hafal kalau dia tidak bisa makan seafood.

“Yaudah lain kali hati-hati, tanya dulu sama yang ngasih misal nggak keliatan ada seafoodnya.”

Xavian menghembuskan napas pelan. Dia naik lebih dulu ke atas ranjang. “Ayo tidur, jangan kebanyakan mikir.”

“Mikir apasih, orang gue juga mau tidur.”

Lelaki itu terkekeh, dia kembali turun untuk mematikan lampu kamar. Tak lupa menyalakan air diffuser yang biasa dia nikmati setiap hendak tidur.

“Suka baunya nggak del? Kalo kurang suka ganti aja. Pilih yang lo suka.”

“Enak kok, lo sering pake?”

“Iya, pas di apart doang.” jawab Xavian yang kini sudah berbaring di atas ranjang.

“Del tenang aja, gue juga capek. Nggak kepikiran mau ngelakuin hari ini. Lo lucu banget dari tadi grogi sampe salting gitu.”

Adeline menggeram sebal. Dia memukul lengan Xavian dengan segenap tenaganya. “Nggak usah blak-blakan gitu dong. Jantung gue hampir meledak Xav.”

“Makanya, ayo tidur. Besok kita masih harus ke rumah mama, ke makam ayah sama ketemu beberapa temen.”

Adeline mengepalkan tangan. Dia menarik napas dalam-dalam lalu berbaring di samping Xavian. Matanya menatap ke langit-langit, sedangkan Xavian entah sejak kapan sudah berbaring miring menghadap Adeline. Matanya menelusuri setiap jengkal wajah Adeline yang tampak indah dalam keremangan kamar.

“Lo nggak ngajak gue ciuman lagi? Agresifnya cuma sebelum nikah ya?”

“Xav! Diem deh, katanya mau tidur tapi malah ngomong nggak jelas.” omel Adeline, dia bukan lagi salah tingkah. Seluruh tubuhnya hampir menggigil hanya karena pertanyaan itu. Xavian kurang ajar, teriaknya dalam hati.

Xavian tertawa begitu keras, ditariknya Adeline untuk mendekat, memeluknya hingga tidak ada jarak diantara mereka.

“Tidur, nggak usah mikirin macem-macem. Nanti kalo takut ambil minum, takut ke kamar mandi atau butuh sesuatu, bangunin gue aja Del.”

“Iya.” jawab Adel begitu lirih.

Xavian mengulurkan tangan, dia menyentuh dagu Adeline kemudian menelusuri garis lembut itu. Ibu jarinya memiringkan dagu Adeline, menangkup kepalanya ... lalu, tak lama kemudian Xavian sibuk mencari, mendorong dan mencicipi setiap jengkal mulut Adeline.

Adeline tidak sanggup bernapas, pikirannya membeku seketika. Begitu tatapan mereka bertemu, dia menemukan jawaban kenapa selama ini Xavian menolak melakukan itu dengannya. Benar kata Xavian, mereka hanya akan berakhir di tempat ini. Saling memandang penuh hasrat.

Xavian mencicipi, merampas, sekarang kedua tangan lelaki itu memegangi kepala Adeline. Jemarinya sibuk berada di rambut Adeline, mengurainya dalam kelembutan. Adeline terengah, dia tidak mampu mengimbangi Xavian. Tangannya bergetar hebat, diremasnya kaus hitam yang menempel ditubuhnya.

“Adeline, udah tuntas ya janji gue. Peluk sama cium yang lo minta berkali-kali. Selamat hari pertama pernikahan. Sekarang beneran tidur ya?”

Adeline seperti orang bodoh, dia hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sial, Xavian ternyata sangat lihai melakukan semua itu.

#Jeffery dan Xavian

“Jeff, lo mau ngapain?” pekik Adel sambil berusaha menghindar dari Jeffery yang berusaha memeluknya.

“Tolong ijinin gue peluk lo Del, buat yang terakhir kali.”

Sesuai dugaan, Adeline langsung mendorong kuat-kuat tubuh kekar Jeffery. Dia menggertakkan gigi setelah berhasil menyimpulkan bahwa semua ini salah. Takut, terkejut dan terluka. Dia tidak menyangka Jeffery akan memaksanya melakukan ini.

“Del, gue sayang sama lo. Gue nggak bisa liat lo nikah sama Xavian. Dia orang asing buat lo Del. Gue yang selama ini ada.”

“Lo kayaknya lagi nggak waras Jeff, buat apa lo ngomong gitu dua hari sebelum gue nikah? Lo pikir gue bakalan ngaku kalo gue juga suka sama lo?”

Jangan lupakan, dia adalah Adeline. Manusia yang paling menentang perselingkuhan apapun macamnya apapun alasannya.

“Pulang aja Jeff, nggak papa kalo lo nggak dateng kenikahan gue.”

“Del.”

“Gue nggak dalam mode mau dengerin lo. Rasa suka itu bebas, siapapun berhak punya. Tapi-”

Adel lengah, lelaki itu dalam sekejap merengkuhnya. Berkali-kali mengecup pucuk kepala Adel sambil membisikkan ungkapan betapa sayangnya dia dengan sang sahabat. Suara Adel tercekat di tenggorokannya, terlampau kaget dengan semua yang terjadi.

“Lepas Jeff, dia calon istri gue.” kata Xavian dingin, entah sejak kapan dia berada di sana.

“Gue persilakan lo pergi. Adel nggak nyaman lo bersikap kayak gitu. Gue juga nggak mau nyari ribut karena lo sahabatnya Adel. Tapi setidaknya lo sadar dan tau diri, Adeline milih gue.”

Adeline menatap Xavian dalam ketegangan, sesaat dia merasa dunianya berakhir. Ini bahkan lebih parah dari pada memergoki Xavian berada di rumah sakit bersama Rachel. Bahkan Anna tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan aksi gila Jeffery barusan.

Ketakutannya bertambah menyadari calon suaminya tidak mengatakan apapun setelah Jeffery pergi.

“Mau kemana Del?”

“Ambil minum buat lo.”

“Sini dulu.”

“Jangan batalin nikahannya ya Xav? Gue nggak ada apa-apa sama Jeffery, sumpah deh. Dia lagi gila, masa tiba-tiba ngaku suka sama gue padahal selama ini biasa aja. Marah aja nggak papa tapi jangan dibatalin.”

“Siapa yang mau batalin? Emang lo menarik dan pasti banyak yang suka. Selama lo milih gue, ya udah nggak perlu diributin. Tadi gue nggak suka aja dia maksa-maksa lo.”

Adeline terperanjat.

“Lah kok nggak cemburu?”

“Maunya gimana?”

“Ya cemburu, dikittt. Tapi jangan berantem.”

“Banyak mau ya.” gumam Xavian gemas.

“Cemburu dong.”

“Nggak Del, kayak anak kecil aja dikit-dikit cemburu.”

Xavian mendudukkan Adel di sofa, dia kemudian berjongkok dibawahnya. Dilihatnya wajah Adel dengan cermat.

“Lo ada alergi Del?”

“Tadi habis makan apa?”

Adeline langsung terisak ketika merasakan kulitnya gatal disekitar leher dan tangan. Rasa mual juga perlahan muncul dan semakin parah bersamaan dengan Xavian yang terus memanggil namanya.

“Del? Dimana yang sakit?”

“Del?”

Dia kecewa. Padahal Fanya tau dia alergi sea food.

Lima belas hari sebelum pernikahan Xavian dan Adeline. Undangan telah diberikan untuk orang-orang terdekat. Semua memberi ucapan selamat, termasuk ketiga teman Adeline yang kini menjadi asing.

Hari ini Adeline datang ke dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan rutin pada rahimnya.

“Gabut banget astaga. Tumben nggak rame.” gumam Adeline yang kini sibuk menscroll twitternya.

“Pak Xavian selamat siang. Kondisi Bu Rachel sudah membaik. Bisa dibawa pulang hari ini.”

Adeline yang barusan iseng berjalan di sekitar lorong tidak sengaja mendengar suara suster yang kini berjalan menjauhinya. Dia tampak berbelok ke lorong lain bersama lelaki yang dia hafal benar siapa itu.

Melupakan pemeriksaannya, Adeline bergegas mengikuti dua orang tadi. Dia berjalan cukup jauh melintasi lorong, berbelok dua kali dan akhirnya sampai di sebuah ruang rawat inap yang pintunya sedikit terbuka

“Apa gue kurang tegas bilang sama lo? Gue nggak suka lo ketemu sama mantan pacar lo Xav!” teriak Adel lantang.

Rachel dan Xavian terperanjat, wajah mereka memucat seketika. Adeline berjalan mendekat.

“Lo hamil anak siapa? Theo?”

“Lo waras masih minta tolong sama Xavian setelah semua yang lo lakuin?”

Adeline berada di puncak kemarahannya. Dia tidak menjambak atau menampar wajah Rachel. Tapi yang dilakukannya adalah menatap mata Rachel lekat-lekat lalu berucap pelan di wajah wanita itu.

“Tolong sadar diri, kasian anak lo punya ibu penganggu hubungan orang. Hidup yang bener Chel, lo nggak tau kapan karma dateng.”

Hendery terengah masuk ke ruangan. Dia menepuk-nepuk dadanya yang kesusahan mengambil napas.

“Gue kira udah perang dunia. Ternyata belum mulai.” katanya terbata-bata.

“Oke, Xav lo mending ajak Adeline pulang terus minta maaf. Biar Rachel sama gue dulu.”

Ah, dibalik sifat anehnya ternyata Hendery begitu pengertian.

#Perhatian Kecil

“Pagi Del.” sapa Xavian yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu rumah Adel.

“Hai, pagi-pagi banget datengnya. Tidur dulu nggak papa tauk, semalem lo nyampe jam sebelas. Masih capek 'kan?”

“Del, gue bukan kerja yang pake banyak tenaga. Biasa aja kok. Masih bisa kalo buat ketemu lo.”

Jemari Adel berhenti bergerak, dia yang semula sedang mengerjakan laporan untuk akhir tahun segera menoleh ke arah Xavian. “Gombalin gue ya?”

“Gue ketemu lo buat bahas nikahan, emang itu gombal?”

“Oalah, nggak jadi deh.” gumam Adel malas. Mereka malah lebih mirip orang WO yang sedang rapat. Biasanya kalau pasangan umumnya akan menambahkan bumbu-bumbu cinta, lain halnya dengan mereka yang sibuk berdiskusi. Serius sekali. Adel merasa itu seperti meeting untuk membahas akan melepas saham atau tidak.

“Buat lo.” kata Xavian setelah mengulurkan sebuah paper bag.

“Wow, hal manis!” seru Adel bahagia. Dia mengambil paper bag itu dan melihat isinya.

“Vitamin? Slime?”

“Iya, jaga kesehatan. Lo sibuk banget, berat badan lo turun kan? Makan yang bener Del, masa gue harus ingetin? Nggak usah diet, lo udah oke banget. Kalo mau diet, makan sayur sama buah yang banyak. Nggak lucu lo tumbang pas hari H.”

“Gue makan kok, cuma ini kerjaan nyita pikiran banget. Nggak usah diingetin, kalo laper ya makan. Oh ya, slimenya buat apa?”

“Nggak usah menutupi fakta kalo lo sering liat video orang main slime di youtube.”

Adeline menjerit dalam hati, bisa tidak sih Xavian biasa saja. Dia yang tadinya duduk di lantai, berpindah ke sisi Xavian. Dilihatnya lekat-lekat wajah lelaki itu.

“Ciuman yuk Xav?”

Xavian mendorong dahi Adeline menggunakan telunjuknya. “Jadi gimana, udah final ya keputusannya? Biar gue urus undangan buat temen kerja.”

“Xav ...”

“Kalau MUA udah ada Del? Perlu gue tanyain kenalan gue nggak?”

“Xav, gue mau nyium lo! Kalo nggak peluk aja deh. Aduh, kalo nggak peluk ya pegang tangan gue coba. Xav! Jangan ketawa!”

“Xav, lo tuh ngeselin banget sih. Pelukkkk!”

“Nggak nggak, jangan deket-deket. Udah sana kerja lagi. Gue pesenin jco nih.”

“Aaaa jco? Oke gue kelarin kerjaan dulu abis itu kita makan jco sambil liat hometown cha cha cha.”