Xavian membuka pintu kamar. Matanya menangkap pemandangan indah. Adel sedang duduk di depan cermin, jemari lentiknya asik mengoleskan krim ke wajah.

“Kok nggak bilang pulang malem ini? Gue kira besok pagi.”

“Tadi belum pasti jadwalnya, gue kira juga besok pagi. Jadi nggak gue kabarin dulu takut lo nunggu.”

“Siniin tasnya, gue beresin. Ada baju kotor kan?”

Xavian menahan tangan Adel yang hendak berdiri. Dia memegang pundak Adel, ditatapnya wanita itu melalui cermin.

“Nggak usah, besok pagi aja. Tadi pulang jam berapa?”

Adeline bukannya menjawab pertanyaan, malah sibuk dengan pikirannya yang sudah berkelana kemana-mana.

“Del?” panggil Xavian karena tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya.

“Adeline, tadi pulang kerja jam berapa?”

“Oh iya, sorry sorry tadi gue nggak fokus. Jam lima nyampe sini.”

“Lo tidur disini? Bukan di rumah mama?”

“Kemaren di rumah mama, hari ini mau disini. Katanya istri harus jaga rumah kalo suami nggak ada.”

Xavian sontak tertawa, dia mengusap-usap kepala Adeline. “Gue nggak minta lo lakuin itu. Di rumah mama aja misal gue nggak pulang. Lagian apartnya juga udah aman.”

“Xav?”

Tangan Xavian yang hendak membuka kancing baju menjadi urung. Dia menoleh ke belakang, menemukan Adel yang ragu-ragu berjalan ke arahnya.

“Mau gue bukain nggak?”

“Apanya?” tanya Xavian yang sepenuhnya terkejut.

“Itu loh, kayak di film. Tiap suami pulang kerja dibantu buka baju.”

“Kurangin nonton gituan Del, gue masih punya dua tangan.”

Adeline mendengus sebal. Gagal susah rencananya untuk romantis dengan sang suami. Entahlah bagaimana jalan pikiran orang itu.

“Jangan marah. Yaudah sini kalo mau bukain. Terserah deh lo mau apa.”

“Nggak jadi! Males!”

Mulai lagi, Adeline dan kebiasaan ngambeknya.