Bealif

Xavian

#Xavian Sinatra

Adeline duduk tegang di pinggir ranjang. Sekarang ini, Xavian sedang menerima telepon dari atasannya. Dia mondar-mandir di kamar sambil sesekali menyisir rambut menggunakan jari.

“Bisa Pak, tapi mungkin lusa.”

“Saya serahkan ke manajemen aja Pak bagaimana bagusnya. Ada Leon sama Winata juga.”

“Baik Pak.”

Suaminya selesai menelepon. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian dia duduk di samping Adeline.

“Kulitnya udah nggak papa kan?”

“Udah mendingan kok, untung aja pas acara udah nggak keliatan bekas alerginya. Gue takut banget kemaren tuh.”

“Emangnya nggak sadar makan yang ada seafoodnya?”

Adeline menggeleng, dia benar-benar tidak tau. Dia pikir Fanya juga sudah hafal kalau dia tidak bisa makan seafood.

“Yaudah lain kali hati-hati, tanya dulu sama yang ngasih misal nggak keliatan ada seafoodnya.”

Xavian menghembuskan napas pelan. Dia naik lebih dulu ke atas ranjang. “Ayo tidur, jangan kebanyakan mikir.”

“Mikir apasih, orang gue juga mau tidur.”

Lelaki itu terkekeh, dia kembali turun untuk mematikan lampu kamar. Tak lupa menyalakan air diffuser yang biasa dia nikmati setiap hendak tidur.

“Suka baunya nggak del? Kalo kurang suka ganti aja. Pilih yang lo suka.”

“Enak kok, lo sering pake?”

“Iya, pas di apart doang.” jawab Xavian yang kini sudah berbaring di atas ranjang.

“Del tenang aja, gue juga capek. Nggak kepikiran mau ngelakuin hari ini. Lo lucu banget dari tadi grogi sampe salting gitu.”

Adeline menggeram sebal. Dia memukul lengan Xavian dengan segenap tenaganya. “Nggak usah blak-blakan gitu dong. Jantung gue hampir meledak Xav.”

“Makanya, ayo tidur. Besok kita masih harus ke rumah mama, ke makam ayah sama ketemu beberapa temen.”

Adeline mengepalkan tangan. Dia menarik napas dalam-dalam lalu berbaring di samping Xavian. Matanya menatap ke langit-langit, sedangkan Xavian entah sejak kapan sudah berbaring miring menghadap Adeline. Matanya menelusuri setiap jengkal wajah Adeline yang tampak indah dalam keremangan kamar.

“Lo nggak ngajak gue ciuman lagi? Agresifnya cuma sebelum nikah ya?”

“Xav! Diem deh, katanya mau tidur tapi malah ngomong nggak jelas.” omel Adeline, dia bukan lagi salah tingkah. Seluruh tubuhnya hampir menggigil hanya karena pertanyaan itu. Xavian kurang ajar, teriaknya dalam hati.

Xavian tertawa begitu keras, ditariknya Adeline untuk mendekat, memeluknya hingga tidak ada jarak diantara mereka.

“Tidur, nggak usah mikirin macem-macem. Nanti kalo takut ambil minum, takut ke kamar mandi atau butuh sesuatu, bangunin gue aja Del.”

“Iya.” jawab Adel begitu lirih.

Xavian mengulurkan tangan, dia menyentuh dagu Adeline kemudian menelusuri garis lembut itu. Ibu jarinya memiringkan dagu Adeline, menangkup kepalanya ... lalu, tak lama kemudian Xavian sibuk mencari, mendorong dan mencicipi setiap jengkal mulut Adeline.

Adeline tidak sanggup bernapas, pikirannya membeku seketika. Begitu tatapan mereka bertemu, dia menemukan jawaban kenapa selama ini Xavian menolak melakukan itu dengannya. Benar kata Xavian, mereka hanya akan berakhir di tempat ini. Saling memandang penuh hasrat.

Xavian mencicipi, merampas, sekarang kedua tangan lelaki itu memegangi kepala Adeline. Jemarinya sibuk berada di rambut Adeline, mengurainya dalam kelembutan. Adeline terengah, dia tidak mampu mengimbangi Xavian. Tangannya bergetar hebat, diremasnya kaus hitam yang menempel ditubuhnya.

“Adeline, udah tuntas ya janji gue. Peluk sama cium yang lo minta berkali-kali. Selamat hari pertama pernikahan. Sekarang beneran tidur ya?”

Adeline seperti orang bodoh, dia hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sial, Xavian ternyata sangat lihai melakukan semua itu.