#Adeline Hilary Mariana

“Selamat tidur cantik.” bisik Xavian di telinga Adeline. Wanita itu sudah terlelap, mengarungi mimpi yang sedang asik ia jelajahi.

Xavian baru saja selesai mandi, dia langsung menyusul istrinya. Mengambil posisi nyaman lalu merengkuh badan Adeline untuk dia peluk sepanjang malam.

Masih terlalu segar untuk tidur. Lelahnya hilang setelah memandangi wajah cantik Adeline. Dia paling suka bagian pipi, sangat lembut dan lucu. Tiap Adeline salah tingkah maka pipinya akan berubah merah.

“Udahan ya ngambeknya, gue kangen Del.”

“Tidur lo kebo banget, gue ngomong apa juga nggak akan denger kan?” gumamnya di depan wajah Adeline. Kemudian dia mengambil kesempatan untuk mengecup tiap inci kulit yang terasa sangat lembut di bibirnya.

“Cinta itu sederhana ya Del, perkara nyaman dan percaya. Makasih ya, lo selalu berusaha nerima gue yang nggak jago jadi cowok keren. Padahal banyak yang lebih ganteng, kaya dan bisa ngasih perhatian lebih baik dari gue.”

Xabian tertawa sendirian, dia sejenak berpikir. Perjalanannya bersama Adeline sudah cukup jauh. Bila menengok kembali ke belakang, mereka ini sama-sama orang yang berhasil bangkit dari pengkhianatan.

Karena Xavian sudah hafal benar rasa sakit karena dikhianati, dia tidak pernah berpikir untuk mencari sosok lain. Baginya Adel sudah cukup, paket lengkap. Dia sudah lama meletakkan dunianya di bawah kaki Adel.

Xavian Sinatra resmi jatuh dalam pesona Adeline Hilary Mariana.

“Hmm, lo kenapa sih Xav pegang-pegang kepala gue. Ganggu orang tidur.” protes Adeline yang merasa terusik.

Bukannya menjauh, wanita itu malah mengeratkan pelukan ke tubuh Xavian. Tak lupa membenamkan wajahnya di dada bidang yang aromanya begitu candu. Tidurnya malah makin lelap. Dia tidak sadar, suaminya sudah salah tingkah atas perlakuan itu. Lebih tepatnya dia merasakan geli di sekujur tubuhnya.

“Del?”

“Adeline?”

Tidak ada jawaban. Baguslah, Xavian bisa mencuri cium sekali lagi.