Lima belas hari sebelum pernikahan Xavian dan Adeline. Undangan telah diberikan untuk orang-orang terdekat. Semua memberi ucapan selamat, termasuk ketiga teman Adeline yang kini menjadi asing.

Hari ini Adeline datang ke dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan rutin pada rahimnya.

“Gabut banget astaga. Tumben nggak rame.” gumam Adeline yang kini sibuk menscroll twitternya.

“Pak Xavian selamat siang. Kondisi Bu Rachel sudah membaik. Bisa dibawa pulang hari ini.”

Adeline yang barusan iseng berjalan di sekitar lorong tidak sengaja mendengar suara suster yang kini berjalan menjauhinya. Dia tampak berbelok ke lorong lain bersama lelaki yang dia hafal benar siapa itu.

Melupakan pemeriksaannya, Adeline bergegas mengikuti dua orang tadi. Dia berjalan cukup jauh melintasi lorong, berbelok dua kali dan akhirnya sampai di sebuah ruang rawat inap yang pintunya sedikit terbuka

“Apa gue kurang tegas bilang sama lo? Gue nggak suka lo ketemu sama mantan pacar lo Xav!” teriak Adel lantang.

Rachel dan Xavian terperanjat, wajah mereka memucat seketika. Adeline berjalan mendekat.

“Lo hamil anak siapa? Theo?”

“Lo waras masih minta tolong sama Xavian setelah semua yang lo lakuin?”

Adeline berada di puncak kemarahannya. Dia tidak menjambak atau menampar wajah Rachel. Tapi yang dilakukannya adalah menatap mata Rachel lekat-lekat lalu berucap pelan di wajah wanita itu.

“Tolong sadar diri, kasian anak lo punya ibu penganggu hubungan orang. Hidup yang bener Chel, lo nggak tau kapan karma dateng.”

Hendery terengah masuk ke ruangan. Dia menepuk-nepuk dadanya yang kesusahan mengambil napas.

“Gue kira udah perang dunia. Ternyata belum mulai.” katanya terbata-bata.

“Oke, Xav lo mending ajak Adeline pulang terus minta maaf. Biar Rachel sama gue dulu.”

Ah, dibalik sifat anehnya ternyata Hendery begitu pengertian.