#Ciuman Ditolak

Adeline melintasi halaman. Dia membuka pagar dengan wajah setengah mengantuk. Jam satu pagi dengan muka bantal, dia menemui Xavian yang entah sejak kapan ada disana.

“Gila, lo ngapain disini?” tanya Adeline sebal.

“Gue nggak tau harus kemana lagi Del.”

“Basi.”

“Lo kenapa bisa tau gue disini?”

“Gue baca chat lo, denger suara mobil lo. Jangan geer, gue tadi kebangun doang.”

Xavian tersenyum lebar, dia merapikan rambut Adel yang cukup berantakan. “Iya gue nggak geer. Gue percaya.”

“Yaudah sana pulang, istirahat. Udah tau capek, masih aja lakuin hal nggak guna.”

Adeline berkata jujur. Dia tadi memang bangun untuk buang air kecil setelah itu dia iseng membuka ponsel, nampaklah pesan panjang yang dikirim Xavian. Bohong jika dia tidak luluh. Tadi dia sempat menangis, lalu tak lama terdengar deru mobil milik Xavian. Perasaannya membuncah. Dia bahagia sekarang ini. Tapi gengsi.

Xavian memijat pelipis, lelaki itu menghembuskan napas berat beberapa kali. Tubuhnya lelah, beban pikirannya banyak dan dia belum makan sejak tadi siang.

“Masuk.” perintah Adeline.

“Gue pulang aja. Kalau udah siap ngobrol kasih tau gue ya Del?”

Tangan Adeline terulur untuk menahan lengan calon suaminya. “Gue udah siap ngobrol.”

Xavian menurut, dia mengikuti Adeline berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di balkon lantai dua, dekat kamar Adeline.

“Ngobrol disini aja, gue males ngidupin lampu ruang tamu. Ntar bibi keganggu.”

“Tante kemana?”

“Ke Bandung, lagi sibuk di sana.”

Xavian menatap bola mata wanita yang dia dambakan menjadi istrinya. Mungkin malam ini pertemuan terakhir mereka sebelum semuanya selesai.

“Mau nikah kapan Xav?” tanya Adeline tenang.

“Kita masih lanjut?”

“Emang salah satu dari kita ada yang ngakhirin?”

Adeline mendengus kesal lalu melanjutkan. “Lo plin plan.”

“Kita nikah bulan depan, gimana?”

“Lo udah cinta sama gue Xav?”

“Belum.”

“Gue juga belum. Jadi, gue setuju kita nikah bulan depan.”

Xavian hampir tertawa, ini aneh sekali. Mereka tidak saling mencintai tapi memutuskan menikah. Mengingat segala masalah yang timbul, dia bisa menyimpulkan ada 20% persen rasa cinta yang belum diakui. Nanti setelah menikah, semoga 80% persennya lagi hadir.

“Lo ganteng malam ini, mau ciuman nggak?”

Alis Xavian berkerut bingung. Kemudian dia menggeleng. “Nggak.”

“Lo nolak gue? Calon istri lo? Wah parah.”

“Kalo kita lakuin itu sekarang, gue yakin kita bakalan berakhir di kamar lo. Jadi, gue pulang sekarang ya Del.”

“Xav? Serius? Ciuman tipis juga nggak papa.”

“Gue tau lo habis nonton drama. Nggak usah berharap cerita kita mirip.”

“Xav? Beneran nggak mau?”

“Del, gue pamit ya. Bilang sama tante kalo gue setuju lo itu bahaya banget. Jangan ngajak ciuman cowok lain. Oke? Amankan diri lo dari pergaulan bebas.”

Sial. Adeline malu sekali. Padahal di drama yang dia tonton, percakapan barusan akan berakhir dengan ciuman yang manis.