#Tolak Atau Terima

“Adem ya disini, nggak banyak yang dateng jadi khidmat banget.” bisik Adel di dekat telinga Xavian.

Xavian yang diajak bicara hanya mengangguk singkat. Dia tidak terlalu fokus karena sejak tadi parfum yang dipakai Adeline mengganggu indra penciumannya. Aromanya ringan, manis dan cocok dengan suasana sore itu. Hasrat di dalam diri Xavian bergejolak ingin lebih dekat dan menghirum dalam-dalam aroma yang begitu candu.

“Xav, ih kok diem aja.”

“Kan tadi gue ngangguk.”

“Ya masa cuma ngangguk padahal gue susah-susah ngomong.”

“Mulai deh bawelnya, ngambekan banget.”

“Nggak ngambek.” timpal Adeline begitu ketus. Dia berpindah posisi membelakangi Xavian. Untung saja mereka sedang berdiri cukup jauh dari tempat acara.

“Kok beneran marah?” tanya Xavian dengan suara beratnya. Dia tersenyum tipis, merasa gemas pada wanita yang kini menghindarinya.

“Iya Del, acaranya bagus. Suasananya juga oke banget bikin tamu-tamu nyaman. Makanan sama minumannya enak. Konsepnya oke.”

Gagal marah, itulah yang dialami Adeline. Bagaimana Xavian dengan sabar menghadapi dirinya yang mudah berganti suasana hati, membuat Adel mau tidak mau luluh. Ah, indah sekali, dia sebenarnya hanya butuh ini. Orang yang memeluknya dengan kesabaran agar emosinya lekas reda.

“Ayo pindah tempat. Udah bebas acaranya. Leon milih tempat ini biar yang dateng bisa sekalian refreshing.”

Adeline mengangguk semangat. Dia benar-benar suka acaranya. Tidak banyak tamu yang datang dan beberapa orang menyapanya dengan ramah. Tidak disangka tadi Winata dan istrinya menyapa Adel lebih dulu, mereka bahkan sempat bertukar nomor.

Mereka duduk di bangku panjang menghadap ke hutan pinus yang lebih lebat.

“Gue cuma pake kemeja doang, nggak bisa romantis ngasih jas buat lo.”

Adeline terkekeh, entah untuk keberapa kalinya hari ini. “Santai aja Xav, orang nggak sedingin itu juga.”

“Oh ya Del, masalah yang gue ketemu sama Rachel itu udah selesai kan? Gue nanya aja, takutnya masih ada yang ganjel.”

“Udah Xav, sorry ya waktu itu gue emosi. Jujur aja gue gampang banget cemburu. Kayaknya mantan lo ngechat aja udah bisa bikin kita berantem.”

“Kok ngelamun Xav?” tegur Adel bersamaan dengan tangannya yang mengguncang bahu Xavian.

Kicauan burung dan semilir angin membuat mereka terdiam. Sialnya, pandangan mata Adeline terkunci pada Xavian yang tengah menatapnya. Sebuah sorot mata baru yang tidak pernah dia sebelumnya. Alis tebal Xavian tampak indah didukung rambutnya yang ditata rapi ke belakang. Mata yang selama ini Adeline lewatkan, ternyata begitu dalam dan menenangkan.

“Adel, gue serius ngajak lo nikah.”

Adeline menunduk memutus kontak mata yang tadi sempat terasa intim. Batinnya langsung dipenuhi rasa bimbang. Dia tau benar Xavian sejak awal bermaksud serius, begitupun hari ini. Bahkan nada suaranya berbeda dibandingkan satu jam tadi ketika masih berkumpul dengan banyak orang. Inilah Xavian yang sebenarnya.

“G-gue beneran nggak pantes buat lo Xav. Xav, gue cewek paling nyebelin. Mantan-mantan gue pergi karena itu, mereka nggak bisa bertahan lebih dari setengah tahun.”

“Kalo gue bilang bisa bertahan, lo percaya nggak?”

Adeline menggeleng.

“Jadi, ini artinya lo nolak gue ya?”

Dipejamkan matanya rapat-rapat, Adeline harus mencari jawaban. Secapatnya. Dia tidak boleh membuat keputusan yang salah. Dia sudah berkali-kali patah, kalau hari ini dia harus patah lagi-

“Gue mau Xav, ayo kita nikah.” serunya tertahan. Dia bahkan hampir berteriak, takut lelaki itu mengenyahkan tawaran barusan.

Xavian tersenyum sendiri sementara mereka berdua terdiam menikmati atmosfer aneh yang tiba-tiba datang.

“Buat sekarang gue cuma ada gelang ini.” kata Xavian, mengajak Adeline berbicara setelah sekian menit mereka diam.

Gelang itu sempurna melingkar di pergelangan tangan Adel. Ada gantungan daun maple juga ukiran huruf X.

“X itu artinya cium?” tanya Adeline, lalu dia terdiam berpikir sebentar.

“Menurut lo artinya cium?”

Adeline mengangguk.

Xavian mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum. Tangannya menepuk-nepuk lutut. Dia gemas sekali dengan Adeline yang tak menyadari arti huruf X adalah Xavian. Tapi yasudahlah, itu tidak penting.

“Mau cium sekarang atau nanti habis nikah?”

Andai saja Xavian tahu, pertanyaan barusan bukannya membuat Adeline sebal malah membangkitkan gejolak aneh. Adelime meremas dressnya, dia kemudian melempar jawaban. “Ngaco banget sih kalo nanya. Lo perlu kursus ngomong.”

Mereka kembali ke penginapan secepatnya sebelum malam turun. Di tengah perjalanan Adeline mendapat pesan singkat dari Fanya bahwa dia dan Joan akan menjalani sidang perceraian bulan depan.

Shit.

Adeline meremas ponselnya.