Bealif

“Nih!”

“Makasih, Harsa. Lo baik banget sih.”

“Tugas Keuangan Publik, gue liat ya.”

Melihat Harsa sudah mengeluarkan laptop dan buku catatan, Binar langsung kembali ke dalam kos untuk mengambil barang yang sama. Untung saja saling menguntungkan, dia paling malas bila tugasnya dilihat orang lain. Hasil kerja kerasnya menganalisis banyak kasus dan berakhir dibagi-bagi ke kawan lain.

“Mau lo apain hp gue?”

“Mau chat Jevan.”

“Gila lo? Jangan!”

“Kenapa Sa?” Binar bertanya seolah tidak terima.

“Gue sama dia emang temenan, tapi nggak seakrab itu. Lagian-”

“Sa, tolong.”

Harsa kembali menghadap laptopnya. Lagi-lagi dia luluh.

“Yaudah, tapi jangan ngetik sembarangan.”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak orang bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok iya.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue dijadiin crush. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak orang bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok iya.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue dijadiin crush. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak orang bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok iya.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue dijadiin crush. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak oranh bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok ya Bin.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue jadi tameng. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

“Tidak, Paman. Aku tidak setuju. Kenapa ada orang asing seperti dia datang ke rumah ini?”

“Sekar, tenang dulu. Dia benar-benar anak dari sahabat ayahmu. Bahkan kalian pernah bertemu saat kecil.”

Sekar meraih tongkatnya, dia sedikit kehilangan keseimbangan saat berdiri sampai Elang membantunya.

“Paman, kau bilang ada pemberontakan yang cukup mengancam dan bisa jadi itu ulah keluarga Rajawali juga. Astaga, namanya membuatku jijik. Aku benci dia!”

Apollo, orang-orang disana memanggil si pemimpin tertinggi dengan sebutan itu. Tidak ada yang tau siapa nama aslinya kecuali Sekar. Sekar adalah satu-satunya anggota keluarga asli yang tersisa. Maka, karena itulah Apollo bahkan memberikan separuh hidupnya untuk sekedar mengikuti alur hidup Sekar yang cukup aneh.

Sekar adalah gadis berusia 22 tahun, berambut hitam pekat dengan bola mata berwarna serupa. Orang yang pertama kali melihat dia akan menilai tatapan Sekar begitu lembut dan ramah. Tapi itu hanya saat dia berada di luar rumah utama. Bila dia sudah kembali, maka pribadinya yang ganas dan beringas akan langsung nampak.

Dia adalah Sekar. Si pewaris yang menolak takdirnya.

“Nona, saya pikir Anda terlalu gegabah menilai orang tadi,” gumam Elang yang menemani Sekar duduk di kursi samping kolam renang.

“Aku benci orang yang menatapku iba hanya karena kakiku tidak normal.”

Jawaban Sekar sukses membuat mulut Elang kembali rapat.

#Penerimaan

Adeline berpikir Xavian Sinatra adalah sosok yang dingin dan acuh pada dunia. Dulu, saat awal bertemu yang paling dia ingat adalah alis tebal Xavian dan tatapan tajamnya. Sebenarnya, ini rahasia tapi Adeline ingin bercerita sebentar sebelum suaminya datang.

Xavian Sinatra, kini memikirkan nama itu bisa membuat jantung Adel berdebar lebih kencang. Ada rasa rindu, cinta dan enggan kehilangan. Setiap Xavian pergi terbang, dia selalu berdoa semoga suaminya bisa kembali memeluknya. Pelukan Xavian adalah yang ternyaman, terkadang ditambah kecupan di dahi atau lumatan singkat di bibir. Demi Tuhan, Adel begitu cinta dengan suaminya.

Tapi, dia kembali berpikir. Apakah benar keputusan mempertahankan ikatannya dengan Xavian. Bisa jadi suaminya punya mimpi yang lebih besar dan Adel tidak mampu membantu mewujudkannya. Batinnya mendadak perih. Kesimpulannya dia telah gagal. Gagal menjaga dirinya dan gagal membahagiakan Xavian.

Pintu kamar terbuka, kemudian pria itu masuk. Penampilannya banyak berubah. Tubuh Xavian lebih kurus, ada semburat kesedihan di wajahnya dan hilangnya senyuman yang biasa Adel lihat.

Adel tertegun. Dia menatap sepasang mata sendu yang berkaca-kaca.

“Hai,” sapa Xavian setengah menangis.

“Xavian,” panggil Adel begitu lemah. Bagaimana tidak, saat ini dia terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan dan alat bantu pernapasan. Semua menjadi buruk sejak kemarin. Dia hampir ingin menyerah.

“Maaf, gue terlambat dateng,” gumam Xavian di dekat telinga Adel.

“Nggak Xav, gue yang salah nggak cerita dari awal.”

Adel memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam. Rasa perih kembali menjalar di dadanya. “B-besok rahim gue diangkat, dan ... dan ...”

Xavian menghentikan ucapan Adel dengan bibirnya. Setelah beberapa saat, dia menatap Adel lamat-lamat. “Lo pasti bisa, lo harus sembuh. Kita masih punya banyak daftar destinasi wisata dan makanan enak yang harus dicoba. Besok gue tungguin di luar ya. Gue temenin lo di sini.”

“Xav, kita nggak bisa punya anak. Gue gagal jadi istri lo.”

Senyum Xavian terbit untuk pertama kali sejak dia masuk ke ruangan itu. Tak lama di tertawa pelan. Jemarinya sibuk mengusap-usap pergelangan tangan Adeline yang sedikit bengkak karena tertancap infus di sana.

“Del, tau nggak? Sebelum hari ini datang, gue udah lebih dulu dapat pemahamannya,” Xavian berhenti sebentar, dia kembali mengecup punggung tangan Adeline yang tidak terpasang infus.

“Gue baru sadar, sebelum kita pisah rumah lebih tepatnya. Malam itu di perjalanan pulang, gue lagi beli minum di kedai kopi. Ada sepasang suami istri sama dua anaknya, mereka keliatan rukun dan bahagia banget. Hati gue menghangat, pasti seru ya punya anak yang lucu-lucu. Abis itu ada sepasang suami istri lain, si istri lagi hamil dan gue ngerasa ikut bahagia. Kayaknya bakalan seru juga nurutin segala kemauan lo pas nyidam. Abis itu, di mobil gue mikir lagi. Sampai detik itu, hidup gue udah bahagia. Ada atau nggak ada anak, cinta gue ke lo nggak berubah. Gue nikah sama lo buat hidup bareng. Berdua.”

“Xav, jangan tinggalin gue ya.”

“Nggak akan Del, lo dunia gue.”

“Xav, tolong berdoa sama Tuhan. Harus gue yang meninggal duluan suatu saat nanti, gue nggak bisa hadapin dunia ini tanpa lo, Xav.”

Xavian sempurna menangis, tangis paling bahagianya selama 29 tahun dia hidup.

“Iya, Del. Lo boleh pergi duluan ketemu Tuhan. Biarin gue yang nahan rindu di sini, biarin gue yang nangisin kepergian lo. Nanti bilang ya sama Tuhan, tolong kasih ijin buat kita lanjutin kisah di atas sana.”

SELESAI

Terima kasih sudah menemani Xavian dan Adeline mencari arti cinta dan makna sebuah pernikahan.

#Penerimaan

Adeline berpikir Xavian Sinatra adalah sosok yang dingin dan acuh pada dunia. Dulu, saat awal bertemu yang paling dia ingat adalah alis tebal Xavian dan tatapan tajamnya. Sebenarnya, ini rahasia tapi Adeline ingin bercerita sebentar sebelum suaminya datang.

Xavian Sinatra, kini memikirkan nama itu bisa membuat jantung Adel berdebar lebih kencang. Ada rasa rindu, cinta dan enggan kehilangan. Setiap Xavian pergi terbang, dia selalu berdoa semoga suaminya bisa kembali memeluknya. Pelukan Xavian adalah yang ternyaman, terkadang ditambah kecupan di dahi atau lumatan singkat di bibir. Demi Tuhan, Adel begitu cinta dengan suaminya.

Tapi, dia kembali berpikir. Apakah benar keputusan mempertahankan ikatannya dengan Xavian. Bisa jadi suaminya punya mimpi yang lebih besar dan Adel tidak mampu membantu mewujudkannya. Batinnya mendadak perih. Kesimpulannya dia telah gagal. Gagal menjaga dirinya dan gagal membahagiakan Xavian.

Pintu kamar terbuka, kemudian pria itu masuk. Penampilannya banyak berubah. Tubuh Xavian lebih kurus, ada semburat kesedihan di wajahnya dan hilangnya senyuman yang biasa Adel lihat.

Adel tertegun. Dia menatap sepasang mata sendu yang berkaca-kaca.

“Hai,” sapa Xavian setengah menangis.

“Xavian,” panggil Adel begitu lemah. Bagaimana tidak, saat ini dia terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan dan alat bantu pernapasan. Semua menjadi buruk sejak kemarin. Dia hampir ingin menyerah.

“Maaf, gue terlambat dateng,” gumam Xavian di dekat telinga Adel.

“Nggak Xav, gue yang salah nggak cerita dari awal.”

Adel memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam. Rasa perih kembali menjalar di dadanya. “B-besok rahim gue diangkat, dan ... dan ...”

Xavian menghentikan ucapan Adel dengan bibirnya. Setelah beberapa saat, dia menatap Adel lamat-lamat. “Lo pasti bisa, lo harus sembuh. Kita masih punya banyak daftar destinasi wisata dan makanan enak yang harus dicoba. Besok gue tungguin di luar ya. Gue temenin lo di sini.”

“Xav, kita nggak bisa punya anak. Gue gagal jadi istri lo.”

Senyum Xavian terbit untuk pertama kali sejak dia masuk ke ruangan itu. Tak lama di tertawa pelan. Jemarinya sibuk mengusap-usap pergelangan tangan Adeline yang sedikit bengkak karena tertancap infus di sana.

“Del, tau nggak? Sebelum hari ini datang, gue udah lebih dulu dapat pemahamannya,” Xavian berhenti sebentar, dia kembali mengecup punggung tangan Adeline yang tidak terpasang infus.

“Gue baru sadar, sebelum kita pisah rumah lebih tepatnya. Malam itu di perjalanan pulang, gue lagi beli minum di kedai kopi. Ada sepasang suami istri sama dua anaknya, mereka keliatan rukun dan bahagia banget. Hati gue menghangat, pasti seru ya punya anak yang lucu-lucu. Abis itu ada sepasang suami istri lain, si istri lagi hamil dan gue ngerasa ikut bahagia. Kayaknya bakalan seru juga nurutin segala kemauan lo pas nyidam. Abis itu, di mobil gue mikir lagi. Sampai detik itu, hidup gue udah bahagia. Ada atau nggak ada anak, cinta gue ke lo nggak berubah. Gue nikah sama lo buat hidup bareng. Berdua.”

“Xav, jangan tinggalin gue ya.”

“Nggak akan Del, lo dunia gue.”

“Xav, tolong berdoa sama Tuhan. Harus gue yang meninggal duluan suatu saat nanti, gue nggak bisa hadapin dunia ini tanpa lo, Xav.”

Xavian sempurna menangis, tangis paling bahagianya selama 29 tahun dia hidup.

“Iya, Del. Lo boleh pergi duluan ketemu Tuhan. Biarin gue yang nahan rindu di sini, biarin gue yang nangisin kepergian lo. Nanti bilang ya sama Tuhan, tolong kasih ijin buat kita lanjutin kisah di atas sana.”

SELESAI

Terima kasih sudah menemani Xavian dan Adeline mencari arti cinta dan makna sebuah pernikahan.

#Penerimaan

Adeline berpikir Xavian Sinatra adalah sosok yang dingin dan acuh pada dunia. Dulu, saat awal bertemu yang paling dia ingat adalah alis tebal Xavian dan tatapan tajamnya. Sebenarnya, ini rahasia tapi Adeline ingin bercerita sebentar sebelum suaminya datang.

Xavian Sinatra, kini memikirkan nama itu bisa membuat jantung Adel berdebar lebih kencang. Ada rasa rindu, cinta dan enggan kehilangan. Setiap Xavian pergi terbang, dia selalu berdoa semoga suaminya bisa kembali memeluknya. Pelukan Xavian adalah yang ternyaman, terkadang ditambah kecupan di dahi atau lumatan singkat di bibir. Demi Tuhan, Adel begitu cinta dengan suaminya.

Tapi, dia kembali berpikir. Apakah benar keputusan mempertahankan ikatannya dengan Xavian. Bisa jadi suaminya punya mimpi yang lebih besar dan Adel tidak mampu membantu mewujudkannya. Batinnya mendadak perih. Kesimpulannya dia telah gagal. Gagal menjaga dirinya dan gagal membahagiakan Xavian.

Pintu kamar terbuka, kemudian pria itu masuk. Penampilannya banyak berubah. Tubuh Xavian lebih kurus, ada semburat kesedihan di wajahnya dan hilangnya senyuman yang biasa Adel lihat.

Adel tertegun. Dia menatap sepasang mata sendu yang berkaca-kaca.

“Hai,” sapa Xavian setengah menangis.

“Xavian,” panggil Adel begitu lemah. Bagaimana tidak, saat ini dia terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan dan alat bantu pernapasan. Semua menjadi buruk sejak kemarin. Dia hampir ingin menyerah.

“Maaf, gue terlambat dateng,” gumam Xavian di dekat telinga Adel.

“Nggak Xav, gue yang salah nggak cerita dari awal.”

Adel memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam. Rasa perih kembali menjalar di dadanya. “B-besok rahim gue diangkat, dan ... dan ...”

Xavian menghentikan ucapan Adel dengan bibirnya. Setelah beberapa saat, dia menatap Adel lamat-lamat. “Lo pasti bisa, lo harus sembuh. Kita masih punya banyak daftar destinasi wisata dan makanan enak yang harus dicoba. Besok gue tungguin di luar ya. Gue temenin lo di sini.”

“Xav, kita nggak bisa punya anak. Gue gagal jadi istri lo.”

Senyum Xavian terbit untuk pertama kali sejak dia masuk ke ruangan itu. Tak lama di tertawa pelan. Jemarinya sibuk mengusap-usap pergelangan tangan Adeline yang sedikit bengkak karena tertancap infus di sana.

“Del, tau nggak? Sebelum hari ini datang, gue udah lebih dulu dapat pemahamannya,” Xavian berhenti sebentar, dia kembali mengecup punggung tangan Adeline yang tidak terpasang infus.

“Gue baru sadar, sebelum kita pisah rumah lebih tepatnya. Malam itu di perjalanan pulang, gue lagi beli minum di kedai kopi. Ada sepasang suami istri sama dua anaknya, mereka keliatan rukun dan bahagia banget. Hati gue menghangat, pasti seru ya punya anak yang lucu-lucu. Abis itu ada sepasang suami istri lain, si istri lagi hamil dan gue ngerasa ikut bahagia. Kayaknya bakalan seru juga nurutin segala kemauan lo pas nyidam. Abis itu, di mobil gue mikir lagi. Sampai detik itu, hidup gue udah bahagia. Ada atau nggak ada anak, cinta gue ke lo nggak berubah. Gue nikah sama lo buat hidup bareng. Berdua.”

“Xav, jangan tinggalin gue ya.”

“Nggak akan Del, lo dunia gue.”

“Xav, tolong berdoa sama Tuhan. Harus gue yang meninggal duluan suatu saat nanti, gue nggak bisa hadapin dunia ini tanpa lo, Xav.”

Xavian sempurna menangis, tangis paling bahagianya selama 29 tahun dia hidup.

“Iya, Del. Lo boleh pergi duluan ketemu Tuhan. Biarin gue yang nahan rindu di sini, biarin gue yang nangisin kepergian lo. Nanti bilang ya sama Tuhan, tolong kasih ijin buat kita lanjutin kisah di atas sana.”

#Adeline

Adeline terpaksa membatalkan keberangkatannya ke Surabaya. Sejak pukul tiga pagi perut dan pinggangnya mengalami sakit yang teramat sangat. Dia mengepalkan jemarinya sambil mencari ponselnya yang tidak diingatnya ada dimana. Rasa sakit itu semakin menjadi ketika dia berusaha bangun dari ranjang. Indranya bak mati rasa tak lagi mampu menahan nyeri di perutnya.

Pukul sembilan pagi di rumah sakit. Adeline sudah dua kali bangun dari tidurnya. Dia melihat suster kembali datang untuk kali kedua.

“Ibu Adeline, setengah jam lagi dokter kandungan menengok ke sini.”

“Iya Sus, terima kasih. Mama saya di luar?”

“Iya Bu, tadi pamit menelepon sebentar.”

Pemeriksaan itu cukup panjang. Jantung Adeline seperti berpacu dengan waktu, detaknya tak beraturan. Dia takut, sangat takut malah. Dua tahun lebih dia absen memeriksakan diri ke dokter kandungan dan hari ini adalah puncaknya.

Bukannya Adeline tidak menyadari hal yang aneh terjadi pada tubuhnya. Tapi dia memilih mengabaikan itu. Masih diingatnya hari dimana dia memberanikan diri pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan datang bulan tak beraturan dan pendarahan tak wajar. Disusul sakit pinggang yang lebih sering dari sebelumnya. Namun hari itu, dia bertemu dengan Xavian sehingga dia terlanjur lupa tentang apa yang harus dia waspadai.

“Del. Ada Fanya,” kata mamanya dari balik pintu ruang rawat inap.

“Iya Ma, suruh masuk aja.”

Fanya, sahabat Adel beberapa tahun terakhir. Hubungan mereka baik-baik saja sampai Fanya dan Joan bercerai. Entah atas dasar apa Fanya berubah menjadi menyebalkan.

“Sakit lo?”

Adel mendengus sebal, dia melempar tatapan membunuh. “Jangan cari masalah deh.”

“Gue jenguk lo.”

“Siapa yang ngabarin gue ada di sini?”

“Tante,” jawab Fanya singkat. Dia meletakkan sekeranjang buah dan seikat bunga mawar merah. Batin Adel mencelos, Fanya masih ingat bunga dan buah kesukaannya.

“Lo kenapa jadi nyebelin sih Nya?”

“Bosen sama idup, berantakan banget. Hidup lo kan berjalan mulus Del.”

“Sinting, ya terus lo jadi gangguin gue gitu?”

“Iya.”

Adel melempar kotak susu yang sudah kosong ke wajah Fanya. “Gila lo!”

“Tante tadi nangis-nangis pas telfon gue. Lagian lo kenapa deh?”

“Diem lo, banyak omong. Ini gue juga nungguin dokternya jelasin.”

“Lama.”

“Lo jangan banyak tingkah deh Nya, ntar kena karma.”

“Mulut lo Del. Tante mana sih nggak balik-balik?”

“Eh, gue belum ngabarin Xavian. Udah pulang belum orangnya?”

Adel panik, dia menoleh kesana-kemari mencari letak handphonenya. Tidak ada dimanapun.

“Telfonin hp gue njir.”

Fanya melotot sebal. “Dih, nyuruh-nyuruh.”

Setelah dokter selesai menjelaskan semuanya, tidak ada satupun yang bersuara. Adeline menatap kosong pada televisi yang kini memberitakan tentang hujan deras di daerah Jakarta dan sekitarnya. Selanjutnya acara tentang gosip para artis menemani Adeline dan Fanya yang sama-sama saling menutup mulut.

“Nya, tolong keluar dulu.”

Fanya mengerti, dia mengambil tasnya lalu berjalan keluar sambil sesekali menoleh ke arah Adel. Kasihan, ternyata hidup Adel tidak sesempurna itu.