Adeline terpaksa membatalkan keberangkatannya ke Surabaya. Sejak pukul tiga pagi perut dan pinggangnya mengalami sakit yang teramat sangat. Dia mengepalkan jemarinya sambil mencari ponselnya yang tidak diingatnya ada dimana. Rasa sakit itu semakin menjadi ketika dia berusaha bangun dari ranjang. Indranya bak mati rasa tak lagi mampu menahan nyeri di perutnya.
Pukul sembilan pagi di rumah sakit. Adeline sudah dua kali bangun dari tidurnya. Dia melihat suster kembali datang untuk kali kedua.
“Ibu Adeline, setengah jam lagi dokter kandungan menengok ke sini.”
“Iya Sus, terima kasih. Mama saya di luar?”
“Iya Bu, tadi pamit menelepon sebentar.”
Pemeriksaan itu cukup panjang. Jantung Adeline seperti berpacu dengan waktu, detaknya tak beraturan. Dia takut, sangat takut malah. Dua tahun lebih dia absen memeriksakan diri ke dokter kandungan dan hari ini adalah puncaknya.
Bukannya Adeline tidak menyadari hal yang aneh terjadi pada tubuhnya. Tapi dia memilih mengabaikan itu. Masih diingatnya hari dimana dia memberanikan diri pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan datang bulan tak beraturan dan pendarahan tak wajar. Disusul sakit pinggang yang lebih sering dari sebelumnya. Namun hari itu, dia bertemu dengan Xavian sehingga dia terlanjur lupa tentang apa yang harus dia waspadai.
“Del. Ada Fanya,” kata mamanya dari balik pintu ruang rawat inap.
“Iya Ma, suruh masuk aja.”
Fanya, sahabat Adel beberapa tahun terakhir. Hubungan mereka baik-baik saja sampai Fanya dan Joan bercerai. Entah atas dasar apa Fanya berubah menjadi menyebalkan.
“Sakit lo?”
Adel mendengus sebal, dia melempar tatapan membunuh. “Jangan cari masalah deh.”
“Gue jenguk lo.”
“Siapa yang ngabarin gue ada di sini?”
“Tante,” jawab Fanya singkat. Dia meletakkan sekeranjang buah dan seikat bunga mawar merah. Batin Adel mencelos, Fanya masih ingat bunga dan buah kesukaannya.
“Lo kenapa jadi nyebelin sih Nya?”
“Bosen sama idup, berantakan banget. Hidup lo kan berjalan mulus Del.”
“Sinting, ya terus lo jadi gangguin gue gitu?”
“Iya.”
Adel melempar kotak susu yang sudah kosong ke wajah Fanya. “Gila lo!”
“Tante tadi nangis-nangis pas telfon gue. Lagian lo kenapa deh?”
“Diem lo, banyak omong. Ini gue juga nungguin dokternya jelasin.”
“Lama.”
“Lo jangan banyak tingkah deh Nya, ntar kena karma.”
“Mulut lo Del. Tante mana sih nggak balik-balik?”
“Eh, gue belum ngabarin Xavian. Udah pulang belum orangnya?”
Adel panik, dia menoleh kesana-kemari mencari letak handphonenya. Tidak ada dimanapun.
“Telfonin hp gue njir.”
Fanya melotot sebal. “Dih, nyuruh-nyuruh.”
Setelah dokter selesai menjelaskan semuanya, tidak ada satupun yang bersuara. Adeline menatap kosong pada televisi yang kini memberitakan tentang hujan deras di daerah Jakarta dan sekitarnya. Selanjutnya acara tentang gosip para artis menemani Adeline dan Fanya yang sama-sama saling menutup mulut.
“Nya, tolong keluar dulu.”
Fanya mengerti, dia mengambil tasnya lalu berjalan keluar sambil sesekali menoleh ke arah Adel. Kasihan, ternyata hidup Adel tidak sesempurna itu.