“Tidak, Paman. Aku tidak setuju. Kenapa ada orang asing seperti dia datang ke rumah ini?”

“Sekar, tenang dulu. Dia benar-benar anak dari sahabat ayahmu. Bahkan kalian pernah bertemu saat kecil.”

Sekar meraih tongkatnya, dia sedikit kehilangan keseimbangan saat berdiri sampai Elang membantunya.

“Paman, kau bilang ada pemberontakan yang cukup mengancam dan bisa jadi itu ulah keluarga Rajawali juga. Astaga, namanya membuatku jijik. Aku benci dia!”

Apollo, orang-orang disana memanggil si pemimpin tertinggi dengan sebutan itu. Tidak ada yang tau siapa nama aslinya kecuali Sekar. Sekar adalah satu-satunya anggota keluarga asli yang tersisa. Maka, karena itulah Apollo bahkan memberikan separuh hidupnya untuk sekedar mengikuti alur hidup Sekar yang cukup aneh.

Sekar adalah gadis berusia 22 tahun, berambut hitam pekat dengan bola mata berwarna serupa. Orang yang pertama kali melihat dia akan menilai tatapan Sekar begitu lembut dan ramah. Tapi itu hanya saat dia berada di luar rumah utama. Bila dia sudah kembali, maka pribadinya yang ganas dan beringas akan langsung nampak.

Dia adalah Sekar. Si pewaris yang menolak takdirnya.

“Nona, saya pikir Anda terlalu gegabah menilai orang tadi,” gumam Elang yang menemani Sekar duduk di kursi samping kolam renang.

“Aku benci orang yang menatapku iba hanya karena kakiku tidak normal.”

Jawaban Sekar sukses membuat mulut Elang kembali rapat.