Adeline berpikir Xavian Sinatra adalah sosok yang dingin dan acuh pada dunia. Dulu, saat awal bertemu yang paling dia ingat adalah alis tebal Xavian dan tatapan tajamnya. Sebenarnya, ini rahasia tapi Adeline ingin bercerita sebentar sebelum suaminya datang.
Xavian Sinatra, kini memikirkan nama itu bisa membuat jantung Adel berdebar lebih kencang. Ada rasa rindu, cinta dan enggan kehilangan. Setiap Xavian pergi terbang, dia selalu berdoa semoga suaminya bisa kembali memeluknya. Pelukan Xavian adalah yang ternyaman, terkadang ditambah kecupan di dahi atau lumatan singkat di bibir. Demi Tuhan, Adel begitu cinta dengan suaminya.
Tapi, dia kembali berpikir. Apakah benar keputusan mempertahankan ikatannya dengan Xavian. Bisa jadi suaminya punya mimpi yang lebih besar dan Adel tidak mampu membantu mewujudkannya. Batinnya mendadak perih. Kesimpulannya dia telah gagal. Gagal menjaga dirinya dan gagal membahagiakan Xavian.
Pintu kamar terbuka, kemudian pria itu masuk. Penampilannya banyak berubah. Tubuh Xavian lebih kurus, ada semburat kesedihan di wajahnya dan hilangnya senyuman yang biasa Adel lihat.
Adel tertegun. Dia menatap sepasang mata sendu yang berkaca-kaca.
“Hai,” sapa Xavian setengah menangis.
“Xavian,” panggil Adel begitu lemah. Bagaimana tidak, saat ini dia terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan dan alat bantu pernapasan. Semua menjadi buruk sejak kemarin. Dia hampir ingin menyerah.
“Maaf, gue terlambat dateng,” gumam Xavian di dekat telinga Adel.
“Nggak Xav, gue yang salah nggak cerita dari awal.”
Adel memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam. Rasa perih kembali menjalar di dadanya. “B-besok rahim gue diangkat, dan ... dan ...”
Xavian menghentikan ucapan Adel dengan bibirnya. Setelah beberapa saat, dia menatap Adel lamat-lamat. “Lo pasti bisa, lo harus sembuh. Kita masih punya banyak daftar destinasi wisata dan makanan enak yang harus dicoba. Besok gue tungguin di luar ya. Gue temenin lo di sini.”
“Xav, kita nggak bisa punya anak. Gue gagal jadi istri lo.”
Senyum Xavian terbit untuk pertama kali sejak dia masuk ke ruangan itu. Tak lama di tertawa pelan. Jemarinya sibuk mengusap-usap pergelangan tangan Adeline yang sedikit bengkak karena tertancap infus di sana.
“Del, tau nggak? Sebelum hari ini datang, gue udah lebih dulu dapat pemahamannya,” Xavian berhenti sebentar, dia kembali mengecup punggung tangan Adeline yang tidak terpasang infus.
“Gue baru sadar, sebelum kita pisah rumah lebih tepatnya. Malam itu di perjalanan pulang, gue lagi beli minum di kedai kopi. Ada sepasang suami istri sama dua anaknya, mereka keliatan rukun dan bahagia banget. Hati gue menghangat, pasti seru ya punya anak yang lucu-lucu. Abis itu ada sepasang suami istri lain, si istri lagi hamil dan gue ngerasa ikut bahagia. Kayaknya bakalan seru juga nurutin segala kemauan lo pas nyidam. Abis itu, di mobil gue mikir lagi. Sampai detik itu, hidup gue udah bahagia. Ada atau nggak ada anak, cinta gue ke lo nggak berubah. Gue nikah sama lo buat hidup bareng. Berdua.”
“Xav, jangan tinggalin gue ya.”
“Nggak akan Del, lo dunia gue.”
“Xav, tolong berdoa sama Tuhan. Harus gue yang meninggal duluan suatu saat nanti, gue nggak bisa hadapin dunia ini tanpa lo, Xav.”
Xavian sempurna menangis, tangis paling bahagianya selama 29 tahun dia hidup.
“Iya, Del. Lo boleh pergi duluan ketemu Tuhan. Biarin gue yang nahan rindu di sini, biarin gue yang nangisin kepergian lo. Nanti bilang ya sama Tuhan, tolong kasih ijin buat kita lanjutin kisah di atas sana.”
SELESAI
Terima kasih sudah menemani Xavian dan Adeline mencari arti cinta dan makna sebuah pernikahan.