Bealif

Malam

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak orang bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok iya.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue dijadiin crush. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak orang bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok iya.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue dijadiin crush. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak orang bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok iya.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue dijadiin crush. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”

#Malam Minggu

Harsa turun dari motornya. Dia melepas helm kemudian berbalik menghadap Binar. Gadis itu tengah berkutat dengan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin saat perjalanan pulang.

Menunggu Binar selesai dengan penampilannya, Harsa duduk di kursi panjang dekat parkiran.

“Belum bosen sakit hati? Ini udah minggu ke-3 kita kayak oranh bego, pura-pura pacaran.”

Binar menggeleng, dia menatap kedua mata Harsa yang tengah melihatnya juga. “Berjuang, Sa.”

“Buat apa? Jevan udah punya cewek. Tingkah lo ini kayak perebut pacar orang,” ungkap Harsa sejujur-jujurnya.

Tak lupa dia menambahkan. “Kemaren Marvin dateng ke kos gue. Habis gue diintrograsi sama dia.”

“Hah? Serius? Astaga, gue nggak tau dia senekat itu.” Binar menghampiri Harsa yang sudah berdiri, bersiap masuk ke cafe.

“Dia suka lo, Bin. Jangan tutup mata.”

“Gue suka Jevan!” Binar mengatakan itu dengan tegas. Tepat saat Alea turun dari mobilnya.

Suasana menjadi canggung ketika Alea berjalan menghampiri Binar. Dia menatap dari atas ke bawah. “Lo cantik banget juga nggak, kaya juga nggak, tapi tingkah lo sok ya Bin.”

Sejak SMA memang mulut Alea itu pedas. Tapi kali ini Binar tersulut emosi mengingat yang bicara di depannya adalah pacar Jevan. Lelaki yang mati-matian dia perjuangkan.

“Percuma lo ngejar Jevan. Gue sama dia udah mau tunangan. Tau diri dong, Harsa noh urusin.”

“Udah-udah woi, stop!” Harsa melerai dua gadis itu. Jangan lupakan dia masih berstatus sebagai pacar Binar.

“Bercanda doang pacar gue. Emang kalo ngambek semua temen gue jadi tameng. Iya kan Sayang?” Harsa merangkul bahu Binar lalu mengecup pipi kirinya.

“Manis banget kalo lagi marah. Udah dong, itu Jevan sama Alea bisa salah paham.”

Akting Harsa memang luar biasa. Alea tidak berkata apa-apa lagi. Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam. Mengabaikan apa yang didengarnya tadi.

“Sialan, apaan sih lo Sa. Main cium-cium gue.”

“Akting anjir, lo mau berantem sama Alea? Gila lo, jangan nekat. Anak pejabat tuh.”

“Kambing lah, bodo amat. Mau anak presiden juga gue nggak takut!”