Bealif

ujung

#Ujung Perjalanan

Merasa bodoh karena kali ini aku tidak membelanya.

Batinku nyeri mendengar banyak siswa di kelas tengah berbicara lantang mengenai sosok di sampingku. Namanya Lucas, aku baru akrab beberapa minggu setelah tahun ajaran baru. Tidak disangka dia yang terkenal berprestasi harus menghadapi beberapa masalah, entah harus kusebut masalah besar atau kecil.

Helaan napasku terdengar olehnya. Dengan cepat dia memberikan sebungkus permen manis dari merk yang artinya cium. Hm, aku malah makin kesal, karena aku tau dia sedang menggodaku.

“Nggak papa, gue baik-baik aja kok. Lagian tinggal setahun di sekolah disini.” jelasnya tanpa kuminta.

“Gue masih belum paham. Mendingan lo keluar dari sekolah ini. Buat apa sekolah bagus tapi siswanya brengsek semua.”

“Eh, semua? Kita juga?”

Aku mengendikkan bahu. Sikapku memang tidak terlalu baik, saat marah aku suka merusak barang. Seperti kali ini, sudah dua buku kusobek-sobek.

Prinsipku, merusak barang lebih baik daripada melontarkan kalimat-kalimat yang membuat orang lain sakit hati.

“Makasih ya, udah mau temenan sama gue.”

Ya Tuhan, kenapa Lucas merasa rendah diri. Dia memang berbeda, tapi bukan berarti orang bisa membencinya. Kenapa orang suka sekali menghakimi orang lain hanya karena berbeda? Apa yang salah dari perbedaan?

“Jangan ngomong itu, gue terpaksa. Emang kebagian tempat duduk bareng lo.”

“Lo nggak pinter bohong.”

“Lo juga Cas, lo nggak pinter nyembunyiin sakit hati yang lagi lo rasain. Cerita aja sama gue, yaaa tapi cuma gue dengerin aja sih.”

Lucas menyunggingkan senyum. Dia menepuk pundakku, membuatku segera menoleh.

“Tau nggak? Gue selalu yakin masalah adalah cara Tuhan mendidik gue jadi dewasa.”

“Besok kalau kita udah lebih baik, jangan lupain masa-masa ini ya? Kita tunjukkin sama dunia, kita bisa.”

Terkadang aku menyesal juga. Sejak awal aku sadar sekolah bergengsi ini akan membawaku ke dalam masalah ke depannya. Bangunan megah, siswa dari kalangan atas, peraturan ketat, tuntutan menjadi sempurna dan perlombaan manjadi sosok nomor satu menjadi tekanan untukku.

Baru kemarin aku kembali dari ruang bimbingan bersama empat temanku yang menjadi ranking lima terbawah.

Kalimat yang paling kuingat.

“Kalian kalau tidak serius belajar, dimasa depan tidak akan jadi apa-apa. Berhenti main-main, jangan karena kalian kaya jadi bisa seenaknya. Hidup tidak selamanya diatas.”

Aku tidak menyalahkan perkataan itu. Tapi bila kulihat lagi nilai raporku, angka 88 membuat kepalaku pening. Enam bulan aku belajar siang malam, les sana sini sampai aku tidak lagi kenal siapa diriku. Tapi apa? Ini masih kurang untuk mereka yang hanya memandang peringkat.

“88? Ranking dua puluh tujuh? Kamu dan teman-temanmu makan makanan yang sama, sekolah di sekolah yang sama, punya fasilitas yang sama, memang kamu yang nggak serius.” ucap ayahku hari itu. Hari paling menyebalkan, apalagi ada Lucas yang sedang belajar kelompok denganku.

Jemari Lucas terulur untuk mengambil buku tugas dan ponselku. Tampaknya dia tau, sasaran kemarahanku setelah ini adalah dua barang itu.

“Lo kenapa nyontek waktu ujian kemarin?” tanyaku lantang. Lucas cukup terkejut, tampaknya dia tidak menyangka akhirnya aku membahas itu.

Masalah itulah yang membuatnya dikucilkan, harus melakukan ujian ulang dan mendapat pengurangan nilai kepribadian.

“Gue sengaja.”

Astaga, itu hal paling menjijikan di sekolahku. Martabat kami akan turun bila ketauan melakukan itu.

“Satu jam sebelum ujian, Juna cerita semua masalahnya. Dia harus jadi ranking satu. Kalau gagal, orang tuanya nggak mau ngakuin dia.”

“Kenapa gitu? Astaga.” pekikku tak percaya.

“Karena selama ini ranking satunya gue. J-jadi ... gue-”

Aku mengusap punggung Lucas yang sudah bergetar. Jangan menangis, kalau kali ini dia menangis, maka aku juga sama. Rasanya, kami tidak punya siapa-siapa untuk bersandar.

Kubantu Lucas bangun, dengan sigap kuambil tongkat di pojok sofa.

“Makasih.”

“Sama-sama Cas, oh ya lo dijemput supir kan? Kok belum dateng?”

“Enggak, gue naik taksi. Fasilitas gue ditarik, kan ranking gue turun.”

Aku mengusap lengan Lucas. Ingin sekali memarahinya, tapi hatinya memang selembut itu. Dia tidak mungkin menolak permohonan Juna. Akhirnya hanya senyuman dan pelukan singkat yang kuberikan padanya.

“Hati-hati di jalan ya.”

“Iya, makasih. Gue pulang ya.” pamitnya lalu berjalan perlahan dengan tongkat yang dua tahun ini membantunya berjalan.

Pasti ada yang bertanya, aku menyukai Lucas atau tidak.

Jawabannya sudah jelas, aku suka dengannya. Tapi bertepuk sebelah tangan. Sejauh yang kutau, Lucas hanya fokus pada tujuannya. Wajah rupawan itu seperti dia sia-siakan. Lebih baik dia sukses menjadi model. Ya ya ya, hidup tidak ada yang tau. Bisa jadi Lucas punya alasan lain.

Satu tahun setelah kami lulus sekolah. Aku mengantarnya ke rumah sakit, hari ini jadwalnya untuk pemeriksaan. Dia tampak sedikit gusar karena kali ini ada aku bersamanya.

Setelah kemarin aku menyatakan perasaan, jarak kami terasa jauh meski sekarang duduk bersebelahan. Dia lebih banyak diam padahal biasanya sering menebar senyum cerah jika kebetulan mata kami bertemu.

“Ayah gue butuh donor hati. Operasinya bulan depan.” jelasnya.

Aku menahan tangis. Batinku mengumpati ayah Lucas, dia paling brengsek dari semua orang yang kutemui. Belasan tahun meninggalkan Lucas dan ibunya, lalu saat kembali hanya ingin minta organ anaknya.

“Operasinya termasuk besar, tapi ini gue yang mau kok. Lo jangan benci ayah gue ya.”

“Ngomong apasih Cas.” tegurku. “Lo berasa bikin wasiat.”

“Hehehe nggak gitu, lo kayak punya seribu dendam sama ayah.”

“Hm, sebel dikit.”

“Kalau gue nggak selamat-”

“Kenapa ngomong gitu? Ini rumah sakit paling bagus di negara kita. Dokternya juga berpengalaman. Jangan ngomong macem-macem deh Cas. Nyebelin tau nggak.”

Lucas menghembuskan napas. Dia bersandar ke kursi sambil melepas cardigannya. Kemudian cardigan itu berakhir di pangkuanku.

“Suka banget pake rok pendek. Gue nggak jago berantem, gimana kalo lo kenapa-kenapa?”

“Gue bisa jaga diri Cas. Sabuk hitam taekwondo kalo lo lupa.”

“Iya juga. Yaudah, gue ganti. Gue pengen hajar cowok yang curi-curi pandang sama lo.”

Aku menggenggam jemarinya.

“Lo nggak bisa ngelak. Kali ini gue yakin, kita punya rasa yang sama. Kenapa lo nolak gue?” tanyaku serius.

“Nanti lagi ya, nama gue udah dipanggil.”

Menyebalkan.

Mengelak saja terus.

12 September ditahun yang menyenangkan

Gue bukan lelaki yang sempurna dan kalau dia berakhir sama gue, diapun jadi perempuan yang nggak sempurna.

Betul, rasa cinta gue mungkin lebih besar dari Juna. Tapi gue memutuskan, cukup gue dan Tuhan yang tau.

Tenang. Gue nggak marah sama dunia, gue bahagia bisa terus sahabatan sama dia. Dan akhirnya gue yang nemenin dia sampai saat ini.

12 September, dia resmi jadi istri Juna dan gue tetap jadi sahabat baik mereka.

12 September

Aku melihat Lucas pergi dari tempat resepsi. Dia berjalan cepat menjauhi kerumunan. Selang beberapa langkah, dia menoleh ke belakang kemudian tersenyum ke arahku. Itu senyum terakhir yang dia berikan sebelum menghilang bertahun-tahun.