Bealif

tengah

#Tengah Malam

Malam ini giliran Adeline yang pulang larut. Harinya terasa panjang. Seolah semua masalah untuk sebulan kedepan dituangkan dalam satu tanggal. Hari ini, Adeline begitu pening apalagi mengingat foto yang tadi pagi dikirim oleh nomor tidak dikenal.

Logikanya, itu bisa jadi foto masa lalu. Tapi tetap saja, meski itu foto satu atau dua tahun kemarin ada rasa kesal di benak Adel.

Dia bersandar di lorong pintu masuk. Setelah melepas sepatu, bukannya langsung masuk, dia malah melamun memandangi lampu di atas kepalanya.

“Gue bayangin Xavian selingkuh kok rasanya sakit banget ya. Lebih sakit dari pergokin Theo sama Rachel.”

Air mata Adeline berangsur turun membasahi pipi. Kenapa sih dia jadi sensitif begini, kesalnya dalam hati.

“Udah nangisnya?” suara berat Xavian menyapa telinga sang istri.

Lelaki itu sudah berada di hadapan Adeline. Jangan tanya bagaimana penampilan Adeline, dia sangat kusut dan lesu. Kalau bisa dia tidak ingin bertemu dengan Xavian, malu sekali dengan wajah jeleknya.

“Mandi dulu ya? Abis itu kita ngobrol.”

Betapa manisnya Xavian itu. Dia segera menggendong tubuh istrinya. Mereka melintasi ruang tengah, menaiki tangga dan berakhir di kamar mandi. Selama perjalanan itu, Adeline menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Xavian. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh yang mulai terasa candu.

“Bersihin muka pake micellar water 'kan?”

Adeline mengangguk.

Sebelum memulai menuang micellar water, Xavian lebih dulu memutar lagu The Man Who Can't Be Moved yang dinyanyikan The Script. Dia tahu benar, istrinya begitu menyukai band itu.

“Gue ngrasa bersalah kalo lo nangis gini. Kayaknya gue masih kurang banget jadi suami lo.” ucap Xavian di depan wajah Adeline. Lelaki itu telaten membersihkan make up yang seharian menutupi kulit wajah istrinya.

“Maaf ya, gue bikin lo marah.”

Adeline mengangguk, sejujurnya sekarang dia sudah lupa tentang semua masalah tadi. Bertemu Xavian menjadi obat manjur untuknya.

“Udah. Sana mandi.”

Xavian mencium pucuk kepala Adeline lalu keluar dari kamar mandi. Mungkin dikisah-kisah lainnya, mereka akan berakhir melakukan sesuatu. Tapi ini Xavian, dia paham benar istrinya mengalami hari yang berat.

Setengah jam kemudian, Adeline menyusul Xavian yang sedang merokok di balkon. Asap mengepul keluar dari bibir lelaki yang tadi sempat membuat Adeline meleleh seperti es krim.

“Gue baru tau lo ngerokok.”

Xavian segera mematikan rokoknya. Dia berbalik menghadap Adeline. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan satu buah permen mint. Dalam sekejap permen itu sudah berada di mulut Xavian. Barulah lelaki itu menyahut.

“Cuma pas lagi pusing aja.”

Jelas seharusnya mereka masuk ke dalam dan istirahat. Terlalu aneh berbincang di balkon saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Lampu-lampu disekitar sudah banyak yang mati. Mall di dekat apartemenpun sudah sepi sejak tadi.

Xavian duduk di kursi santai tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Tangannya terulur menarik badan Adel, ditempatkannya wanita itu di pangkuannya.

“Cerita yuk, hari ini lo kenapa?” tanya Xavian yang kini mendongak menatap Adeline.

Adeline menunduk, diusapnya pipi Xavian yang terasa dingin karena udara malam.

“Lo nggak selingkuh kan?”

“Nggak Del, kayak kata lo dulu. Kalau emang tertarik sama orang lain, akhirin dulu hubungan kita. Bener?”

“Iya bener. T-tapi ...”

“Ini yang buat lo nangis?”

“Enggak.” jawab Adel tegas.

Xavian tidak merespon, dia masih menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Adel.

“Iya tapi bukan itu aja, tadi tuh gue ke Bandung terus kerjaan malah banyak kendala. Gue sampe mumet banget. Terus gue kepikiran gimana kalo lo selingkuh sama pramugari pas kerja. Kan gue jadi malu, kalo suami gue selingkuh berarti gue banyak kurangnya. Mana gue abis nonton film, ceritanya tentang cewek cantik dan baik banget tapi diselingkuhin. Kan jahat.”

“Bisa-bisanya ngomong gitu. Gue nggak kepikiran selingkuh, gue males ribet Del. Orang selingkuh butuh trik buat beraksi.”

“Dih, kok responnya gitu. Bilang yang manis-manis dong.”

“Yupi.”

“Hah, kok yupi?”

“Manis, tau kan yupi bentuk love warna pink sama putih terus ada gulanya itu?”

“Ih, aneh. Kenapa malah ceritain yupi?”

“Katanya suruh ngomong yang manis.”

“Nggak taulah, terserah. Oh iya, lo pusing kenapa? Kok sampe ngerokok gitu, beneran baru kali ini gue liat lo ngerokok.”

“Lo nggak bilang pergi ke Bandung, gue nunggu di lobi kantor dua jam. Kirain lo cuma pulang telat aja.”

“Eh? Maaf, gue lupa banget nggak bilang sama lo.”

“Nggak papa, udah lewat juga. Lain kali bilang ya. Masuk yuk, tangan lo udah dingin banget.”

Xavian bukannya tidak marah, dia hanya berusaha mengerti Adel yang mungkin masih meraba-raba bagaimana bersikap dalam sebuah pernikahan. Xavian tetaplah Xavian, dia memilih mengesampingkan egonya untuk membuat istrinya merasa nyaman. Karena sosok itu yang kelak akan melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka.