“Udah bisa bangun? Sarapannya mau dibawa ke sini aja?”
Adeline tentu saja menggeleng, dia tidak selemah itu untuk berjalan ke meja makan. Pagi ini Xavian tampak berbeda, lelaki itu tampak sedikit berantakan dengan kumis tipis yang belum sempat dicukur.
Meja makan terasa sepi, Adeline duduk menunggu Xavian menyiapkan makanan. Pandangan matanya fokus pada sang suami yang tidak banyak bicara. Dia tidak terusik dengan tatapan Adeline yang sejak tadi mengikutinya. Namun sesekali dia melirik ke meja makan, khawatir Adel merasakan sakit seperti semalam.
Xavian benar-benar belum tidur sejak semalam. Keadaan Adel cukup buruk, tapi wanita itu enggan dibawa ke rumah sakit. Dia hampir meledak jika saja tak mengingat beberapa orang mungkin memang benci dengan rumah sakit. Entah ada pengalaman tidak mengenakkan atau terlampau takut dengan segala kemungkinan.
“Sakit.” rintih Adel malam tadi.
“Dimana yang sakit?” tanya Xavian setengah mengantuk.
“Perut.”
“Kompres pake handuk anget ya? Nanti kalau masih sakit banget, bilang ya Del. Jangan ditahan.”
Setelah itu Xavian sibuk di dapur, menyiapkan air hangat, handuk dan coklat panas untuk Adel yang belum makan sejak kemarin sore.
“Udah kompresnya, nggak nyaman.”
Xavian menuruti permintaan istrinya, dia kembali bangun dari posisinya yang semula berbaring.
“Butuh sesuatu?”
“Nggak Xav. Sekarang jam berapa?”
“Jam empat pagi.”
“Kok mataharinya lama banget.”
Xavian tersenyum, dia mengecup puncak kepala Adeline. “Nanti muncul kok, tapi lo tidur dulu.”
Tak lama setelah itu, Adeline kembali tertidur. Xavian dengan sabar mengusap-usap perut istrinya, berharap itu bisa sedikit meredakan rasa sakit yang dialami.
“Xav. Kok ngelamun?” tegur Adel dari meja makan.
“Sorry, lo lama nunggu ya?”
“Nggak kok, ayo sarapan. Mana buburnya, mau gue rasain.”
Ah, Adeline patut bersyukur. Xavian benar-benar melakukan semuanya untuk Adel.