Bealif

jeffery

#Jeffery dan Xavian

“Jeff, lo mau ngapain?” pekik Adel sambil berusaha menghindar dari Jeffery yang berusaha memeluknya.

“Tolong ijinin gue peluk lo Del, buat yang terakhir kali.”

Sesuai dugaan, Adeline langsung mendorong kuat-kuat tubuh kekar Jeffery. Dia menggertakkan gigi setelah berhasil menyimpulkan bahwa semua ini salah. Takut, terkejut dan terluka. Dia tidak menyangka Jeffery akan memaksanya melakukan ini.

“Del, gue sayang sama lo. Gue nggak bisa liat lo nikah sama Xavian. Dia orang asing buat lo Del. Gue yang selama ini ada.”

“Lo kayaknya lagi nggak waras Jeff, buat apa lo ngomong gitu dua hari sebelum gue nikah? Lo pikir gue bakalan ngaku kalo gue juga suka sama lo?”

Jangan lupakan, dia adalah Adeline. Manusia yang paling menentang perselingkuhan apapun macamnya apapun alasannya.

“Pulang aja Jeff, nggak papa kalo lo nggak dateng kenikahan gue.”

“Del.”

“Gue nggak dalam mode mau dengerin lo. Rasa suka itu bebas, siapapun berhak punya. Tapi-”

Adel lengah, lelaki itu dalam sekejap merengkuhnya. Berkali-kali mengecup pucuk kepala Adel sambil membisikkan ungkapan betapa sayangnya dia dengan sang sahabat. Suara Adel tercekat di tenggorokannya, terlampau kaget dengan semua yang terjadi.

“Lepas Jeff, dia calon istri gue.” kata Xavian dingin, entah sejak kapan dia berada di sana.

“Gue persilakan lo pergi. Adel nggak nyaman lo bersikap kayak gitu. Gue juga nggak mau nyari ribut karena lo sahabatnya Adel. Tapi setidaknya lo sadar dan tau diri, Adeline milih gue.”

Adeline menatap Xavian dalam ketegangan, sesaat dia merasa dunianya berakhir. Ini bahkan lebih parah dari pada memergoki Xavian berada di rumah sakit bersama Rachel. Bahkan Anna tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan aksi gila Jeffery barusan.

Ketakutannya bertambah menyadari calon suaminya tidak mengatakan apapun setelah Jeffery pergi.

“Mau kemana Del?”

“Ambil minum buat lo.”

“Sini dulu.”

“Jangan batalin nikahannya ya Xav? Gue nggak ada apa-apa sama Jeffery, sumpah deh. Dia lagi gila, masa tiba-tiba ngaku suka sama gue padahal selama ini biasa aja. Marah aja nggak papa tapi jangan dibatalin.”

“Siapa yang mau batalin? Emang lo menarik dan pasti banyak yang suka. Selama lo milih gue, ya udah nggak perlu diributin. Tadi gue nggak suka aja dia maksa-maksa lo.”

Adeline terperanjat.

“Lah kok nggak cemburu?”

“Maunya gimana?”

“Ya cemburu, dikittt. Tapi jangan berantem.”

“Banyak mau ya.” gumam Xavian gemas.

“Cemburu dong.”

“Nggak Del, kayak anak kecil aja dikit-dikit cemburu.”

Xavian mendudukkan Adel di sofa, dia kemudian berjongkok dibawahnya. Dilihatnya wajah Adel dengan cermat.

“Lo ada alergi Del?”

“Tadi habis makan apa?”

Adeline langsung terisak ketika merasakan kulitnya gatal disekitar leher dan tangan. Rasa mual juga perlahan muncul dan semakin parah bersamaan dengan Xavian yang terus memanggil namanya.

“Del? Dimana yang sakit?”

“Del?”

Dia kecewa. Padahal Fanya tau dia alergi sea food.