Bealif

drama

#Drama Pernikahan

Kepulangannya membawa banyak tanda tanya. Dia tidak mungkin jujur pada istrinya jika beberapa minggu ini dia sibuk mengurus ibu mantan kekasihnya. Sejak lama ia ingin menolak, tapi hati nuraninya berkali-kali terketuk. Mana tega dia membiarkan mantan calon mertuanya kesusahan.

“Maaf ya Sha.” gumamnya di depan pintu masuk. Dia kembali meyakinkan dirinya. Apa yang dia lakukan dalam batas wajar dan dia tidak menaruh rencana hendak mengulang hubungan dengan mantan kekasihnya.

Sepertinya cerita tidak sesederhana itu untuk Jo. Dia adalah Joandra, lelaki berumur 26 tahun yang sudah 12 bulan menikah.

“Astaga, hari ini?” pekiknya di ruang tamu ketika matanya tidak sengaja melihat tanggal pernikahan yang tercetak di foto pernikahannya.

Jo memang bodoh. Jika setelah ini Ashara mengumpatinya atau memukulnya dengan vas bunga, maka akan dia terima. Terbukti sudah, dia suami yang brengsek. Bertemu dengan mantan kekasih saat ulang tahun pernikahan? Wah, siapa yang akan memaafkan kesalahan itu.

Tapi Jo lupa. Istrinya adalah wanita berbeda. Wanita yang setahun ini satu rumah dengannya tampak santai menuruni tangga. Dia membawa gelas berwarna biru muda, tampak serasi dengan baju tidur yang digunakannya.

Jo sedang menakar, apa dia langsung minta maaf atau terus berpura-pura lupa. Sampai lima menit berlalu, tidak ada pergerakan yang dia lakukan. Ashara sudah kembali ke kamar atas. Sedangkan Jo meremas jemarinya. Dia tidak menyiapkan kejutan apa-apa.

Itu sudut pandang Jo yang sedang gundah karena sifat sembrononya. Berbeda lagi dengan Ashara.

Mari mulai bercerita dari sudut pandangnya. Biarkan dia berbicara semaunya karena tiba-tiba dia benci diwakilkan.

Aku menahan amarahku sejak tiga hari lalu. Entah Jo sadar atau tidak. Suamiku benar-benar berotak udang dan berhati batu. Dengan kekesalan yang sudah memuncak, aku masuk kamar mandi dan menendang punggungnya sampai dia hampir tersungkur. Senyumku timbul, lebih tepatnya rasa puas.

“Puas pergi sama mantan? Lupa lo kalo udah nikah?” tanyaku lantang seakan kami berjarak tiga meter lebih.

“Ashara, aku bisa jelasin.” ucapnya memelas.

Astaga, kalau dia bukan suamiku, sudah habis kuhajar.

“Jelasin? Gue juga bisa ketemuan sama Jeffery, tapi gue ngga kayak lo Jo. Gue masih bisa mikir sehat. Punya mental kok mental selingkuh.”

Dia tidak menjawab lagi. Cepat-cepat diraihnya bathrobe, memakainya lalu keluar dari kamar mandi. Aku tau dia marah. Memang dia sangat benci jika aku membawa nama Jeffery, lelaki yang hampir menikahiku.

Ah, ini memusingkan sekaligus menyakitkan. Aku menyalakan shower lalu berdiri diam disana. Kuresapi dinginnya air yang membasahi seluruh badanku. Ini cara terbaik agar aku tidak menghajar Jo, harus kutahan. Sekali lagi, aku adalah istrinya.

Jadi sekarang ini siapa yang salah? Bukankah dia?

Pukul sebelas malam. Aku belum juga bisa terlelap. Otakku sibuk memberitahu hatiku untuk segera memutuskan sesuatu. Katanya, sebaiknya pisah saja, untuk apa bertahan. Tapi hatiku berkata, sebentar lagi, dengar penjelasannya.

“Anjing. Kenapa hidup gue seberantakan ini. Nikah bukannya seneng malah diselingkuhin. Punya laki juga bodo banget. Setidaknya basa basi ngasih bunga pas anniv biar gue nggak curiga.” gumamku sambil menangis. Selain galak, aku juga mudah menangis. Bukankah paket lengkap?

“Ashara, aku jelasin dulu ya. Aku sama dia nggak ada apa-apa. Aku murni pengen nolong ibunya.” Dia memelukku dari belakang seolah-olah aku bersedia dengan itu.

“Jauhin tangan kotor lo dari badan gue. Jo lo tau, gue bisa lepas kendali hajar lo sekarang.” Benar, aku sedang mengancam lelaki kekar itu.

Karena aku tau, semarah apapun dia tidak akan main tangan. Wah, saat seperti inipun aku tau hal yang mempesona dari dirinya.

“Lo mau pisah apa gimana?”

Meja makan menjadi hening. Dia bahkan hampir tidak bernapas, matanya menatap tajam ke arahku. Tadinya aku gentar, tapi mengingat apa yang telah terjadi, aku tetap maju. Ku balas tatapan itu dengan sorot mata tak kalah mematikan.

“Bilang mau pisah kapan, gue ngga nuntut harta lo. Silakan bawa pergi semuanya. Tapi rumah ini, tolong serahin ke gue. Nanti gue kirim uang buat gantiin tanah yang lo beli.”

“Sha, aku nggak suka kamu bahas perceraian. Mulut kamu kok gampang banget ngomong gitu seakan satu tahun ini nggak ada artinya.”

Aku diam. Memangnya apa artinya pernikahan kami?

Selesai. Ashara enggan melanjutkan ceritanya. Dia naik ke kamarnya dan menangis disana. Terlalu menyakitkan katanya kalau harus bercerita lagi.

Mari berpindah ke sisi Jo. Bagaimana dia memandang masalah ini.

Gue sebel banget. Sejak dulu, gue nganggep pernikahan itu sakral. Mana berani ngucap pisah semarah apapun gue. Bagi gue, siapa yang jadi istri gue, ya dia pasangan sampai mati.

Ashara itu aneh. Aneh banget malah. Gue sering liat dia nangis padahal cuma nonton drama. Dia juga bawel banget masalah kerapian. Nggak lupa, cemburuan parah. Padahal cinta ke gue juga nggak.

Kenapa gue bisa ngomong gitu? Karena dia terpaksa nikah sama gue. Satu tahun lalu, ayah dia ngenalin kita berdua. Ashara yang aslinya gagal nikah sama Jeffery, langsung setuju waktu ditanya mau nikah sama gue atau nggak.

Aneh kan? Jelas. Kisah gue sama Ashara emang aneh banget. Nikah tanpa cinta, berasa orang tolol sih. Tapi gue nggak nyesel. Ashara adalah kado terindah dari Tuhan buat gue yang hampir putus asa nyari pasangan.

Mungkin orang bertanya-tanya kenapa gue bisa gitu padahal faktanya gue ganteng dan berduit. Astaga, gue juga bingung. Rasanya nggak ada cewek yang mau sama gue atau guenya yang pilih-pilih. Entahlah, gue juga nggak tau.

Gue masuk ke kamar. Nah bener kan, dia lagi nangis. Ya Tuhan, lucu banget bidadari di kamar gue. Dia nangis di depan jendela sambil liatin gerimis. Nggak lupa camilan coklat kesukaan dia. Ini anak emang kemakan scene di drama.

“Boleh ngomong nggak? Mau jelasin sesuatu.” tanya gue hati-hati. Jangan sampai gue dihajar kayak kemarin di kamar mandi.

Dia diem. Artinya boleh.

“Maaf ya, harusnya aku jelasin ke kamu dulu. Jadi, ibunya Vania sakit Sha. Beliau kekurangan uang dan Vania juga lagi sibuk kerja di luar kota. Beneran, ini murni aku bantu ibunya Vania. Bukan mau macem-macem sama anaknya. Tapi emang aku beberapa kali ketemu Vania, dia maksa. Katanya mau ngomong makasih.”

“Lo bego, dia modus doang!”

Sumpah, suara Ashara gede banget. Mana teriak di telinga gue. Sabarrrr ...

“Sha, maaf ya. Aku salah. Harusnya aku jelasin dulu ke kamu. Sha sumpah deh, kamu boleh ceraiin aku kalo emang ada orang ketiga diantara kita. Faktanya ngga ada Sha. Dihubungan ini cuma ada aku sama kamu.”

Dia luluh belum ya. Kayaknya gue udah melas banget deh. Gue nggak ada harga diri lagi. Ini aja gue duduk di bawah sedangkan dia enak-enakan nyender di sofa. Nggak kayak drama romantis yang abis itu ciuman terus lanjut ke kasur. Gue malah dapet tendangan pas di dada.

Sakit!

Ngilu!

Anjing. Bukan Ashara yang anjing. Gue kok, gue!

“Punya otak dipake. Lo pikir pernikahan main-main. Anjing banget lo Jo. Nggak mikirin perasaan istri. Ngeselin tau nggak. Lo harusnya ngomong. Lo harusnya nggak lupa tanggal pernikahan kita!”

Ashara nangis sambil mukul-mukul bantal. Ini artinya dia udah luluh. Yes!

Gue langsung peluk dia dan gendong dia ke kasur. Hah, lega banget.

“Sakit Sha!” teriak gue yang kaget banget. Sial! Dia gigit dada gue.

Istri siapa sih ini. Demen banget sama kekerasan.

Kenapa gue setenang ini? Karena Ashara itu unik. Kalimat apapun yang keluar waktu dia marah, itu nggak serius. Cewek yang umurnya tiga tahun lebih muda dari gue ini masih sedikit susah kendaliin emosinya. Justru disitu manisnya. Dia selalu jadi kayak bayi abis marah-marah kayak tadi.

Lucu banget. Cantik. Gemes. Gue terlalu cinta sama dia. Peduli banget orang ngomong apa. Gue cinta banget sama Ashara.

Mereka kembali berbaikan hari itu. Pada Hari Minggu yang tenang, sepertinya rasa cinta kembali mengembang. Melihat bagaimana setelah itu mereka melakukannya lebih manis dari biasanya.

“Selamat ulang tahun pernikahan ke satu. Semoga nambah seratus ya.” ucap Jo asal-asalan sambil menyajikan dua mangkok bakso.

“Bentar, jangan dimakan dulu.”

Jo berlari ke depan kulkas. Lelaki itu sibuk mengaduk-aduk isi kulkas. Ditemukannya dua bungkus es krim.

“Nih, makan ini dulu.”

Ashara menggeleng tak paham. Dia ingin bunga dan coklat. Tapi kenapa yang tersedia malah bakso dan es krim.

“Udah telat dua hari. Ngasihnya nggak jelas gini pula. Mana ada orang ngrayain anniv pake ginian.”

Jo tertawa pelan, dia menunjuk dirinya. “Ada. Aku sama kamulah Sha. Beda banget ini tuh. Spesial.”

“Terserah deh, aku laper.”

“Ya laperlah, kamu kan abis-”

“Nggak usah dibahas. Gue paling sebel bahas kayak gitu!”

“Emang aku mau bahas apa sih Sha? Hahahaha muka kamu merah.”

“Jo!”

“Iya Ashara. Nggak aku bahas, mending praktek aja. Ya kan?”

“Apasih Jo. Nggak jelas.”

“Ya makanya biar jelas.”

“Astaga. Diem deh Jo.”

“Hahahaha iya-iya Sha. Ayo dimakan.”

Setengah jam berlalu, Jo membereskan peralatan makan dan tak lupa membersihkan bekas es krim yang tercecer di atas meja. Dia sesekali melirik Ashara yang tampak sibuk dengan ponselnya.

“Hp mulu. Suami dianggurin.”

“Lagi nonton NCT.”

Jo memilih diam. Dia tidak akan menang kalau Ashara sudah melihat NCT. Jelas istrinya lebih memilih Lucas dan kawan-kawan.

“Sha, aku udah balik nama rumah, tanah sama mobil. Atas nama kamu semua. Buat tabungan kita, kamu yang pegang juga. Kalau saham-saham atas nama aku dulu nggak papa kan?”

Ashara meletakkan ponselnya. Dia mengernyit tak paham.

“Kenapa dibalik nama? Kan punya lo. Cuma rumah ini yang kita bangun berdua.”

“Nggak papa Sha. Jaga-jaga nanti kalo aku dipelet orang.” canda Jo.

“Nggak-nggak, gue nggak minta harta lo.”

“Ya terserah. Orang udah nama kamu semua. Hehehe.”

“Ngeselin lo Jo.”

“Sha, jangan ngomong pisah kayak kemaren ya? Kamu boleh maki-maki, mukul atau nyuruh aku tidur di lantai. Tapi jangan ngomong pisah ya. Kayaknya aku udah terlalu sayang sama kamu. Bayangin kita pisah rumah aja bikin nyeri. Tau nggak sih Sha, kayak nggak bisa gitu. Sejak kapan sih aku secinta ini sama kamu Sha?”

Ashara tersenyum, ayahnya benar. Joandra adalah pasangan yang tepat untuknya. Hanya Jo yang bisa mengimbanginya, hanya lelaki itu yang mampu.

“Lo lawak banget sih Jo. Alay tau nggak.”

“Sumpah, gitu balesan kamu? Nggak ngerti aku Sha. Udahlah capek. Tapi sayang banget.”