“Lo gila Del? Masih bisa mikir pake otak?”
“Lo kenapa sih tiba-tiba marah.”
Dery menggertakkan giginya. Sumpah, kalau Adel ini istrinya sudah sejak lama dia tinggalkan. Memang Xavian terlalu baik. Entah baik atau bodoh.
“Maksud lo apa batalin ke Jogja demi bajingan itu. Mikir Del. Xavian susah-susah ngambil cuti buat lo. Tau nggak, dia susah payah berjuang demi pernikahan kalian”
“Der, itu masalah keluarga gue.”
“Masalah keluarga lo bilang? Terus kenapa lo biarin Jeffery ikutan? Kenapa lo biarin Xavian ngerasa dia cowok paling nggak berguna di dunia ini!”
Dery hilang kesabaran. Sungguh dia tidak bisa lebih sabar. Cukup selama ini Xavian menyalahkan diri sendiri setelah ditinggalkan orang yang dia sayangi.
“Terus gue harus apa? Jeffery tadi bilang dia kecelakaan. Tapi ternyata dia cuma mau ngasih kejutan buat gue. Gue juga nggak tau Der, tadi gue panik banget.”
“Lo susul Xavian, sekarang. Silakan lo liat gimana kondisi suami lo.”
“Gue nggak tau alamat rumahnya.” Adel menunduk malu. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.
“Nanti gue kirim. Kita ke stasiun dulu.”