#Hotel

Kalau berpikir Xavian hanya duduk di kamarnya sambil merenung, maka itu salah. Sekarang dia sedang melajukan mobilnya secepat mungkin menuju Bandung. Di tempat itu, istrinya dan salah seorang teman yang sejak dulu menaruh hati tengah bersama.

Tadinya, dia hendak menyelesaikan semuanya esok hari saat Adeline pulang. Tapi tidak bisa, perasaannya terlalu gundah.

Apa Adeline mencintainya?

Apakah yang mereka lalui selama ini sudah cukup untuk memberitahu wanita itu bahwa Xavian telah jatuh sedalam-dalamnya?

Belum. Pasti belum. Seharusnya ia berbuat lebih. Masih banyak hal-hal manis yang dia lewatkan. Adeline butuh lebih dari perhatian dan aksi.

Dia terengah keluar dari mobil. Langkahnya cepat memasuki loby hotel bintang empat yang alamatnya sempat dikirim oleh Adeline sebelum keberangkatannya.

“Saya suaminya, boleh beritahu kamar Adeline Hilary Mariana?”

“Ibu Adeline sahabat Pak Jeffery?”

“Benar.” jawab Xavian sedikit ketus. Sepertinya hotel itu salah satu yang dikelola Jeffery.

Tidak butuh waktu lama. Tampaknya membawa nama Jeffery bisa memudahkan segalanya. Terbukti saat ini dia berdiri di depan kamar yang dikatakan milik Adeline.

Xavian menelepon istrinya. Diulangnya empat kali, belum ada jawaban.

Sungguh dia tidak ingin memergoki istrinya tengah bersama Jeffery. Terus dia ketuk pintu kokoh bertuliskan nomor 415.

Bukan Adeline jika tidak ceroboh. Mendengar ketukan berkali-kali di pintu kamarnya, tanpa melihat siapa yang datang, langsung dia bukakan pintu. Matanya mengerjap mencerna siapa tamunya.

Itu Xavian. Pria itu mengenakan celana jeans warna biru tua, kaos hitam dan jaket berwarna serupa. Mata sendunya menatap lekat Adeline.

“Kok lo di sini? Gue nggak salah liat?”

“Adel.” panggil Xavian begitu rindu. Dia menyelinap masuk. Ditutupnya pintu lalu ia membawa Adeline duduk di sofa yang tersedia di kamar itu.

“Udah baikan? Lo pucet banget.”

“Masih sakit perut sama pusing.” jawab Adeline apa adanya, kondisinya memang tidak begitu baik.

“Kerjaan udah dihandle sama yang lain?”

“Iya, udah.”

“Kita pulang ya? Sama gue aja. Mau?”

Jemari Adeline memijit pelipisnya yang terasa makin pening. “Terserah aja, tapi gue belum beres-beres.”

“Biar gue. Lo tiduran aja.”

“Makasih Xav.”

“Apapun buat lo Del.”

Selang sepuluh menit Xavian selesai mengemasi barang-barang Adel. Dia duduk di tepi ranjang. Diusapnya rambut Adel sambil memanggil pelan.

“Adel.”

“Ayo pulang.”

Sepanjang perjalanan kembali, Xavian tidak berhenti mengecek kondisi Adel. Sudah lima kali mereka mampir ke pom bensin. Adel tampak susah payah keluar masuk mobil. Dia hampir terjatuh di parkiran kalau saja Xavian tidak cepat-cepat menahannya.

“Ke rumah sakit aja ya?”

“Nggak Xav, gue mau langsung ke apart. Gue cuma butuh tidur kok.”

“Bener? Kalo nggak kuat bilang ya?”

“Iya Xav.”