#Cinta Sebening Embun
Kereta menuju Yogyakarta melaju cepat. Sudah satu jam berlalu tapi Xavian masih setia memandangi jendela yang berada di sisi kirinya. Harus dia akui, patah hatinya kali ini berpuluh kali lipat lebih menyakitkan dari yang sudah-sudah.
Sebenarnya apa dosanya pada dunia? Kenapa begitu sulit menemukan sosok yang membalas perasaannya dengan layak. Apa selama ini dia salah memahami bahwa ternyata apa yang dia berikan pada dunia tidak harus berbalik padanya. Begitupun dengan cinta.
“Nak, boleh minta tolong?” Seorang lelaki berumur tujuh puluhan dengan rambut yang sudah sempurna memutih berdiri di samping Xavian.
“Iya Pak.”
“Hp bapak tiba-tiba mati, tadi belum sempat kasih kabar kerabat di Jogja. Boleh bapak pinjam hp?”
“Boleh Pak. Silakan.”
“Nama saya Kirman, kalau njenengan siapa?” (njenengan= anda)
“Kulo Xavian, Pak.” (Saya Xavian, Pak.)
“Oh Nak Xavian, matur nuwun nggih.” (terima kasih ya)
“Nggih, Pak. Njenengan piyambak?” (Iya, Pak. Bapak sendirian?)
“Nggih. Biasanya sama istri, tapi istri sudah nggak ada dua tahun lalu.”
“Maaf, Pak.”
“Lho, kok minta maaf. Bapak nggak papa, alhamdulillah sudah lima puluh tahun sama istri. Mpun ikhlas.” (mpun ikhlas=sudah ikhlas)
Xavian mengusap wajah, hembusan napas putus asa keluar dari mulutnya. Andaikan dia juga bisa memiliki waktu berpuluh tahun bersama Adel.
“Nak Xavian ini sudah menikah apa masih bujang?”
“Sampun nikah, Pak.” (sampun= sudah)
Hening sejenak, hanya terdengar suara rel yang beradu dengan roda kereta api. Xavian memilin jemarinya, dia kembali memikirkan Adel.
“Ya sudah Nak Xavian, Bapak balik ke kursi lagi. Matur nuwun nggih.”
“Sama-sama Pak.”
Yogyakarta menyapa Xavian. Tempat dimana dia menghabiskan masa remaja. Lampu-lampu kota yang sedikit redup mengiringi langkahnya mencari tukang ojek yang menanti penumpang. Selang sepuluh menit dia melaju di atas motor menuju rumahnya di belakang Tamansari.
Rumah itu cukup luas dengan banyak jendela besar, Xavian ingat dulu dia sering membaca buku cerita bersama ayahnya di dekat jendela ruang tengah. Senyumnya terbit ketika lampu menyala, rumah itu masih sama. Dingin lantai acian semen dan beberapa ornamen kayu membangunkan kenangannya yang sudah lama tidur.
Malam itu dia habiskan bersama segelas kopi hitam dan singkong rebus. Lagu-lagu milik Ebiet G Ade mengalun lembut masuk ke telinganya. Ah, dia sedikit sembuh. Kepalanya mendadak lebih ringan. Ternyata dia hanya butuh menyingkir sebentar dari permasalahan hidup.
“Del, lagi apa?” tanyanya pada udara malam.