#Aku Ingin

“Xavian?”

“Apa Del?”

Adel beringsut mendekati Xavian yang kini berbaring di atas ranjang.

“Xav, gue sekali lagi minta maaf ya. Kemarin kurang ajar banget sama lo,” Adel memberikan sebuah kotak berwarna hitam, “selamat ulang tahun. Ini hadiahnya. Maaf telat banget.”

Mustahil Xavian tidak tersenyum. Perasaannya mendadak berbunga-bunga. Hal seperti ini saja mampu membuatnya mendeklarasikan diri, dia cinta Adel setengah mati.

“Makasih, nggak papa telat. Tapi lain kali utamain gue dulu ya baru cowok lain.”

“Maaf.”

“Iya, udah gue maafin.”

Xavian bersandar ke kepala ranjang, dia menarik Adel untuk mendekat. Mengerti maksud suaminya, Adel langsung meringkuk nyaman di pelukan Xavian. Tangan Xavian memutar-mutar kotak hitam yang tadi Adel berikan.

“Isinya apa Del?”

“Kok malah nanya, ya dibuka dong.”

Jemari Xavian gesit membuka kotak itu. Nampak sebuah jam tangan berwarna silver. Desainnya luar biasa, sangat cocok dengan image Xavian yang dingin namun manis.

“Tabungan lo aman?” tanya Xavian to the point, harga jam itu cukup mahal dan tentu saja Adel mengeluarkan banyak uangnya.

“Ih, kok malah bahas harga sih. Bukannya makasih apa muji gitu.”

Xavian mengecup puncak kepala Adel. “Makasih ya Adeline, jamnya bagus banget. Gue suka merk ini. Modelnya juga udah lama gue pengen. Tapi, ini mahal.”

“Bentuk keseriusan gue sama lo!”

“Manisnya, istri siapa sih?”

“Inget umur. Udah, nggak usah sok manis.”

“Hahahaha bener juga. Udah tua ya kita?”

“Lumayan, hampir tiga puluh.”

Xavian meletakkan jam di nakas samping tempat tidur. Sekarang kedua tangannya merangkul Adel, mereka berpelukan dalam diam. Hanya ada suara napas dan beberapa kali kikikan Adel yang merasa geli karena jari Xavian iseng menari-nari di punggungnya.

“Xav, cinta itu apa?”

“Gue juga nggak tau Del. Tapi gue punya puisi indah dari penulis yang buat gue nggak lagi mikirin makna cinta.”

“Gimana puisinya?”

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Adel mendongak menatap mata Xavian. “Itu nggak sederhana Xav, kita harus siap menghadapi ketiadaan. Kita harus siap hilang tepat setelah memutuskan buat mencintai.”

“Del, lo takut?”

Adel menggeleng, dia menggenggam jemari Xavian. “Nggak Xav, gue nggak takut buat jatuh cinta sama lo.”

“Wah, sekarang jantung gue rasanya mau meledak. Gue deg-degan banget. Hahahaha.”

“Sama Xav, hehehe cringe juga ya.”