“Adel, kenapa nyusul ke sini?”

Jangan tanya betapa khawatirnya Xavian. Dia lekas mengambil koper milik Adel lalu menggandeng tangan istrinya.

“Ayo masuk dulu. Harusnya lo ngomong kalo mau nyusul, gue bisa balik ke sana. Tadi di kereta nggak papa kan? Nggak ada yang macem-macem?”

Adel menggeleng. Dia menunduk malu, Xavian memang sebaik itu. Semarah apapun Xavian, lelaki itu selalu lebih mengutamakan Adel.

“Xav, gue minta maaf.”

“Lo istirahat dulu, ngobrolnya bisa nanti atau besok. Nggak usah mikir macem-macem.”

“T-tapi ...”

“Mau sekamar sama gue apa pisah? Ada empat kamar di sini.”

“Sekamar sama lo.”

“Oke. Itu kamarnya.” Xavian menunjuk kamar dekat ruang tengah.

“Bersih-bersih dulu sana. Gue siapin minum sama camilan.”

Adeline menatap punggung Xavian yang semakin menjauh. Apa dia pantas mendapatkan perlakuan ini? Kenapa Xavian semudah itu memaafkannya?